
Ruangan itu kini telah bersih dan rapi kembali. Rayan mengajak pemuda itu untuk membersihkan ruangan yang mereka buat kacau agar kembali bersih dan indah dipandang mata. Pasalnya, sebagai gadis yang terobsesi akan keindahan pantang bagi Rayan melihat sesuatu yang merusak pandangan matanya. Jadilah, membuat segalanya indah lebih dulu baru memulai tujuan adalah cara paling efektif untuk melancarkan segala sesuatunya. Karena, apa yang kita senangi biasanya dapat memicu kesuksesan dalam melakukan sesuatu.
Seperti halnya, Rayan yang cinta keindahan membuatnya tak bisa bekerja bila disekitarnya penuh dengan kekacauan belum lagi ada bau-bau yang tidak sedap untuk dihirup.
Itu sungguh mengganggu.
Prok!
Prok!
"Selesai!" riang Rayan seraya menepuk-nepuk telapak tangannya sebagai isyarat setiap kali telah selesai mengerjakan sesuatu pekerjaan. Terutama pekerjaan rumah yang cenderung kepada bersih-bersih.
Jun Jiu Han mengangguk seraya memandangi ruangan yang ia dan Hong Tan pakai sudah kembali seperti semula. Sedang Hong Tan dan Ruobin hanya diam usai membantu membersihkan ruangan tersebut.
Yang satunya tak tahu harus apa dan satunya lebih kepada patuh yang acuh tak acuh.
"Baik! Sekarang, mari kita mulai!" seru Rayan mengarahkan. "Beritahu aku, mulai dari mana?" tanya Rayan kemudian sambil menatap kedua pemuda seusia pemilik tubuhnya secara bergantian.
Hong Tan menatap dalam sosok Rayan lebih lama dengan tatapan sulit. Sejujurnya, ia tak ingin membocorkan tugas mereka pada orang asing. Tapi, disisi lain yang dikatakan Jun Jiu Han benar, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Bereksperimen itu perlu waktu. Meskipun tugas ujian yang diberikan tidak di tuntut oleh waktu, tetap saja sebagai pelajar yang sudah diperintahkan menghafal puluhan buku tentang jenis-jenis herbal dan belajar cara bereksperimen dengan semua itu menggunakan kekuatan internal mereka sudah seharusnya mereka lebih pintar menggunakan semua sumber daya yang mereka punya juga memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
"Berapa yang kau minta untuk membantu kami?" tanya Hong Tan tiba-tiba dengan nada dingin yang terkesan memberi berjarak, seolah-olah menegaskan pada siapapun yang diajak bicara bahwa orang itu tidak boleh melewati batas.
Juga, ia bertindak seolah-olah tahu kalau Rayan akan meminta biaya untuk bantuan yang gadis itu berikan.
Rayan tertegun mendengar itu dan Ruobin lantas mengernyitkan keningnya tak menduga akan mendengar pertanyaan seperti itu. Jun Jiu Han bahkan terhenyak meringis mendengar apa yang baru saja sahabatnya lakukan.
Merasa tak enak hati pada tamu yang harus mendengar kalimat tersebut.
"Hong Tan, apa yang kau lakukan..." batin Jun Jiu Han menjerit tak nyaman.
"Kau bilang apa? 'Eee... Berapa yang ku minta? Apa aku tidak salah dengar?" menoleh kearah Ruobin dengan ekspresi takjubnya kala mendengar apa yang baru saja didengarnya. Takjub dalam artian tak menyangka. "Bin-bin, kau juga mendengarnya?" tanyanya pada Ruobin untuk memastikan.
Ruobin tidak menjawab pertanyaan Rayan, melainkan melangkah mendekati pemuda bernama Hong Tan hingga jarak mereka tinggal selangkah lagi.
"Kau tahu, kenapa kau selalu gagal dalam melakukan tugas-tugas mu terlebih pada tugas yang sekarang kau kerjakan?" tanya Ruobin tak kalah dingin, suaranya bahkan terdengar cukup berat dan dalam dengan aura suram yang menguar. Siluman rubah perak itu amat tak senang dengan cara Hong Tan berbicara pada Rayan-nya. Terutama pad kalimat yang dilontarkannya.
Jelas ia tidak senang. Ia tahu Rayan seperti apa. Meski terdengar sia-sia dan terlalu sembarang kala memilih berbagi ilmu pada siapapun yang membutuhkannya. Bukan berarti Rayan tak tahu resiko apa yang akan ia tanggung karena hal itu.
Itulah mengapa, ia tak menghalangi apa yang sahabat manusianya lakukan.
"Itu karena pikiran mu terlalu kotor!" tandasnya, kemudian berjalan mundur kembali ke posisi semula.
Hong Tan tercengang mendengarnya, orang yang baru saja ia temui benar-benar lancang menurutnya. Itu membuat ia tak senang juga tersinggung. Hanya karena ia adalah seorang siluman tingkat menengah, yang artinya memiliki kekuatan lebih tinggi dari dirinya. Bukan berarti bisa sombong.
__ADS_1
Akan tetapi, apa yang dikatakannya sedikit banyaknya membuatnya bertanya-tanya. Benarkah hal itu yang membuatnya lebih sering gagal?
Perkataan itu membuatnya teringat akan pelajaran yang pernah ia pelajari, yaitu tentang ketenangan batin dan pikiran dimana semua itu sangat mempengaruhi kesempurnaan manusia dalam kultivasinya.
Rayan mulai tersenyum sambil memainkan rambut panjangnya, menatap Hong Tan dengan tatapan geli. "Tuan Muda Hong Tan. Kau lucu sekali..." nadanya genit. "Inikah yang selalu kau katakan pada semua orang yang kau temui, apabila mereka memberikan bantuan padamu? Tidak bisakah kau membedakan antara bantuan dengan pamrih dan tanpa pamrih? Huh... Itu tidak nyaman sama sekali... Pantas saja, kau tidak terlihat seperti orang yang memiliki pergaulan yang luas." tuturnya santai namun menohok.
Jlep!
Hong Tan cukup bisa merasakannya.
Melangkah mendekati pemuda itu, lalu berjalan mengelilinginya sebelum akhirnya berhenti tepat di depannya. Jarak keduanya cukup dekat sampai Hong Tan dapat merasakan aroma bunga segar dari tubuh Rayan.
Mendongak menatap langsung wajah tampan Hong Tan yang kini menunduk membalas tatapannya. "Jangan terlalu sering berprasangka buruk. Kau harus menggunakan instingmu bila ingin melihat seperti apa baik buruknya seseorang. Itu juga yang menjadi alasan kau tidak kunjung meningkatkan kemampuan mu. Seorang alkimia harus memiliki ketenangan jiwa yang tinggi. Tahu kenapa? Karena kita butuh konsentrasi tinggi. Juga, lebih sering menyatu dengan alam, memainkan berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan, meraciknya menjadi obat-obatan, atau bahkan merusaknya menjadi racun. Bisa juga langsung menggunakan tanaman beracun. Tapi, bila pikiran seorang alkimia tidak bisa tenang kau hanya akan gagal." tutur Rayan setenang air danau tanpa riak.
"Mental seorang alkimia harus kuat dan tak mudah goyah. Yang artinya, haruslah memiliki konsentrasi yang tinggi dan kokoh. Bila kau sering menggunakan semua emosimu tanpa bisa mengendalikannya disertai dengan pikiran mu yang tidak bersih. Pelajaran yang kau pelajari selama ini hanya akan sia-sia. Tak peduli sedalam apa minat mu dalam bidang ini." sambungnya.
Mundur beberapa langkah memberi jarak, mengabaikan wajah tertegun Hong Tan yang seperti telah menyadari sesuatu. Wajah itu kini sedikit memucat. Mata pemuda itu, bergerak kaku menatap Rayan.
Seperti habis di pukul dengan palu raksasa yang mampu memecahkan sesuatu, Hong Tan merasa telah disadarkan pada suatu hal.
Rayan hanya memberinya senyum manis namun tipis yang sarat akan makna.
"Ehem. Baiklah, bisa kita mulai sekarang?" tanyanya mengalihkan, seolah ketegangan yang baru saja terjadi tidak pernah terjadi sama sekali.
Sejak tadi ia hanya menonton, karena tak tahu harus berbuat apa pada sahabatnya yang tengah di nasehati oleh orang asing. Terlebih oleh seorang gadis yang ia sendiri tak tahu seberapa tinggi kemampuannya dalam dunia alkimia.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari... Apa tugas yang diberikan pada kalian?" tanya Rayan lagi. Berhubung ini adalah tugas sekolah. sudah pasti tidak bisa dikatakan sembarangan memilih.
"Hm... Ini..." Jun Jiu Han masih gugup untuk benar-benar jujur, pasalnya ia sungguh tak ingin membuat sahabatnya salah paham hanya karena ia mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dia, meski sebenarnya Jun Jiu Han juga punya hak atas tugas itu. Itu dikarenakan ia ingat betul seberapa sulitnya menaklukkan hati pemuda yang satu itu.
"Merusak bahan herbal menjadi racun!" tukas Hong Tan tiba-tiba, membuat semua mata yang ada disana memandangnya.
Meski tidak sambil melihat kearah Rayan yang bertanya, tapi Rayan tahu kalau pemuda itu sudah menemukan jawaban dari apa yang harus ia putuskan.
Karena itu, Rayan tersenyum tipis nan indah untuknya.
Ctak!
Menjentikkan jarinya antusias. "Itu perkara mudah. Tapi, juga sulit disaat bersamaan. Hehe..." ungkapnya jujur.
Jun Jiu Han dan Hong Tan segera menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa Rayan berkata tugas itu mudah.
"Semampu itukah dia?" tanya mereka dalam hati.
__ADS_1
Berjalan menuju meja yang ada di ruangan tersebut. "Jadi, bahan herbal apa yang kalian gunakan untuk membuat racun?" tanya Rayan seraya menopang tubuhnya dengan kedua tangannya ditekan ke atas meja. Menatap Jun Jiu Han dan Hong Tan secara bergantian.
Sadar dari keterkejutannya, Jun Jiu Han segera menjawab. "Ini... Kami di beri tugas untuk mengumpulkan bahan obat untuk penyakit batuk berdarah. Dari bahan-bahan herbal itu, kami di tugaskan untuk mencari tahu... Racun apa yang bisa di hasilkan." terangnya tanpa ragu-ragu, entah ia sadar atau tidak yang pasti di akhir pengucapannya ia tertegun hingga spontan menoleh kearah Hong Tan.
Takut kalau pemuda satunya tidak senang dengan yang dia lakukan.
Tapi, ternyata itu tidak terjadi. Jun Jiu Han justru melihatnya mengangguk sebagai bentuk kerjasamanya.
Helaan nafas pun keluar tanda lega melihatnya.
Jujur Rayan tidak mengerti mengapa Jun Jiu Han terlihat takut pada Hong Tan. Akan tetapi, itu tidak terlalu penting untuknya. Yang lebih penting ada didepan matanya saat ini.
Rayan mengangguk paham mendengarnya. "Bahan herbal untuk mengobati penyakit batuk berdarah, ya... Hmm?" berpikir sejenak. "Tunjukkan padaku bahan yang kalian sudah kumpulkan. Apa masih ada?" tanya Rayan.
"Oh tentu." bergerak mengambil bahan obat dari dalam ruang dimensi miliknya. Tepatnya ada di dalam cincin ruang.
Rayan yang melihatnya itu, tak bisa menahan raut wajah meringis. Karena ia tak memiliki cincin ruang yang banyak di gunakan oleh kultivator-kultivator di dunia kuno ini. Bukan apa, itu karena dia dan kedua sahabatnya belum bisa membelinya. Meskipun Ruobin pernah akan memberikan miliknya, tapi Rayan jelas menolak. Itu bukan dari hasil kerjanya, jelas tak bisa ia terima.
"Ini dia." katanya usai menaruh 6 bahan herbal yang mereka butuhkan di atas meja.
Kembali fokus pada tugas. Rayan melihat ke atas meja dimana semua bahan herbal di letakkan. Kemudian dia mengangguk membenarkan.
"Bahan-bahannya sudah benar. Kalian ternyata tidak melakukan kesalahan pada langkah pertama." sedikit memuji. Karena, sebelumnya Rayan sempat berpikir kalau mereka gagal karena telah salah dalam mengumpulkan bahan obat yang dibutuhkan.
"Tentu, kami sudah di kelas 3, kalau itu saja masih salah. Ku rasa kami tak perlu melanjutkan sekolah lagi." celetuk Jun Jiu Han dengan nada jenaka.
"Hahaha... Kau benar." tawa Rayan renyah.
Setelahnya. "Baik, mari kita mulai. Akan aku beritahukan padamu, apa yang bisa di lakukan oleh ke 6 bahan herbal ini. Tapi, setelah ku pikir-pikir. Karena ini adalah tugas kalian. Maka, aku tidak akan ikut menyentuh tugas kalian. Kalian hanya perlu mendengarkan arahan dari ku dan lakukanlah sendiri. Anggap ini juga sebagai pelajaran baru dari guru yang baru." kekehnya imut dengan senyum termanisnya, tak lupa pula ia menyibakkan rambutnya dengan bangga.
Meski tak terbiasa melihatnya, Jun Jiu Han dan Hong Tan memilih tak mengatakan apa-apa.
Kemudian, mereka pun mulai bekerja dibawah arahan Rayan dengan di awasi oleh Ruobin.
Keduanya tampak seperti pengawas ujian yang profesional.
maaf menunggu lama.
Thor lagi berusaha buat crazy up ya. jadi mohon di tunggu saja.
๐
__ADS_1