
Klak!
Klak!
Klak!
Terus, ia terus melaju tanpa mau berhenti. Suasana hatinya begitu suram, kegelisahan, ketakutan, dan kecemasan memupuk jadi satu di hatinya. Dalam pikirannya hanya ada satu nama, yaitu...
Ryura.
Menembus kedalaman hutan dengan jalan setapak yang kecil pada dasarnya tidak terlalu sukar untuk dilewati. Akan tetapi, dalam keadaannya yang seperti ini membuat segalanya bagai penghalang untuknya. Karena, yang ia inginkan saat ini adalah menemukan Ryura dan meminta maaf padanya serta memohon agar tidak ditinggalkan.
Dia, Furby...
Begitu takut ditinggalkan oleh sahabat manusianya yang sudah sangat berarti dalam hidupnya.
"Ryura... Kau dimana... Maaf. Maafkan aku... Kumohon dengarkanlah suara ku dan kembalilah. Aku yang bodoh karena tidak mempercayai mu. Ryura..." batinnya berseru lirih dan sedih, ia sampai nyaris menangis karena hal ini.
Memang benar, kalau perjalanan kebersamaan antara Furby dan Ryura belumlah berlangsung lama seperti halnya ketiga gadis itu yang sudah melewati banyak tahun bersama, belum lagi perpindahan mereka kedunia kuno ini pun tak lepas dari kata bersama.
Namun, sebagaimana hubungan persahabatan pada umumnya, pasti ada kesalahpahaman yang akan sesekali terjadi. Tapi, bila sudah saling mengenal pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut.
Hanya saja, kasus Furby sedikit berbeda. Dia sudah lama berpisah dari keluarganya yang sesama Kuda Bulan. Sudah lama melewati hari dalam kewaspadaan dan terancam. Hingga tidak mudah baginya menganggap enteng mengenai hal-hal yang berkaitan itu, bahkan sampai takdir mempertemukan keduanya pun ia belum terbebas dari kecemasan masa lalu.
Mengenal Ryura adalah anugerah bagi Furby. Ia tak memungkiri hal itu. Walaupun, Ryura berkepribadian datar, kosong, cuek, dan lainnya yang sama sekali tidak berwarna. Bagai kertas hitam dan putih.
Tapi, Ryura sudah menjadi segalanya bagi Furby. Kini ia melakukan kesalahan karena meragukan tindakan Ryura yang mana malah membuatnya menyalahkan gadis itu hingga menghilang entah kemana. Sekarang, malah dia menyesalinya.
Furby berlari sekuat tenaga melewati hutan yang sama seperti saat sebelumnya ia dan Ryura lewati. Matahari bahkan sudah mulai tampak terbenam. Jingga di ujung barat langit memancarkan sinar yang tersisa.
Seolah tak punya rasa lelah. Furby berlari menantang angin yang berhembus. Hingga tak terasa sampai juga di Kota Shuwen. Tapi, itupun tidak membuatnya berhenti sebelum menemukan apa yang bisa menjadi petunjuknya.
Lajunya berbelok ke arah penginapan. Saat itu, tanpa sengaja matanya menangkap sepasang sosok yang amat dikenalinya tengah berjalan menuju penginapan. Ia tak tahu apa yang mereka lakukan hingga baru saja tiba di depan penginapan. Memilih mengabaikan hal yang bukan urusannya, Furby bergerak mendekati keduanya.
Zruuugh...
Bunyi gesekan tapak kaki kuda dengan tanah saat ia mengerem laju larinya tepat di hadapan Rayan dan Ruobin yang baru saja pulang dari pemandian air panas.
Mereka sudah tampak segar dan bersih.
Melihat kemunculan Furby yang tak biasa dan ketidakhadiran Ryura di punggung Furby berhasil menumbuhkan tanda tanya di benak Rayan.
"Ada apa? Kau terlihat cemas?!" tanya Rayan, lalu celingak-celinguk mencari Ryura yang tidak ada disana. "Ryura mana?" sambungnya lagi.
Furby diam untuk sesaat sambil menstabilkan nafasnya. Lalu, menoleh kearah Ruobin untuk membantunya menerjemahkan apa yang akan ia katakan.
Menerima permintaan itu, Ruobin memilih setuju saja. Karena, kalau diperhatikan sepertinya sesuatu telah terjadi.
__ADS_1
"Aku akan menerjemahkannya padamu." seru Ruobin memberitahu.
"Oh iya. Aku tidak bisa mendengar suara Furby bila dalam wujud aslinya. Kalau begitu langsung saja. Aku jadi penasaran mengapa Ryura tidak bersamamu, Furby?" kata Rayan saat menyadari ketidakmampuannya berdialog dengan Furby.
"Aku melakukan kesalahan! Ryura pergi!" telepati Furby kepada Ruobin.
"Dia berkata, kalau dia sudah melakukan kesalahan sehingga Ryura pergi!" ujar Ruobin mengulang kalimat Furby kepada Rayan yang begitu mendengarnya ia tercengang tak percaya.
"Kalian bertengkar?" pertanyaan itu diangguki oleh Furby.
"Hmm... Kurasa itu tidak mungkin!" yakin Rayan yang sudah sangat lama mengenal Ryura si manekin hidup itu.
"Apanya yang tidak mungkin?! Sesuatu terjadi sebelumnya. Dia mengantarkan aku kembali ke tempat asal ku yang ternyata sudah di lindungi dengan mantra dinding pelindung yang kuat. Aku tidak tahu apa yang Ryura lakukan sehingga ia bisa mengajakku menembus dinding yang kuat itu. Kami masuk dan aku yang takut Ryura merusak mantranya menyalahkannya. Kini dia pergi. Kau masih bisa berkata itu tidak mungkin! Aku mengecewakannya, karena tidak mempercayainya!" sungut Furby marah. Tak terima kalau masalahnya dianggap sepele. Dia kehilangan Ryura dan itu masalah yang besar baginya.
Ruobin agak bingung sesaat ketika hendak menerjemahkannya. Tapi, kemudian dia mempersingkat langsung keintinya.
"Dia bilang. Tadi, mereka datang mengunjungi tempat dimana klan Kuda Bulan berada. Ternyata demi perlindungan, seseorang sudah memasangkan mantra pelindung disana. Ryura entah bagaimana bisa menembusnya dan mengajak Furby ikut menembusnya agar dapat masuk. Jadi, karena itulah Furby yang takut mantranya rusak menyalahkan Ryura dan kini Ryura menghilang." jelasnya.
Tapi, setelah mendengar penjelasan itu pun wajah Rayan tidak banyak berubah. Dia tidak sedikitpun cemas mendengar Ryura menghilang.
"Hanya karena itu?!" pertanyaan itu membuat Furby jengkel. "Kau terlalu membesar-besarkan masalah." lanjutnya seraya menggelengkan kepala tak habis pikir.
Menurut Rayan, sudah bukan hal baru lagi kalau bicara soal hilangnya Ryura.
"Dengar ini. Kurasa kau masih belum jelas tentang siapa itu Ryura. Tahukah kau, Ryura itu tak punya emosi. Kau mengamuk pun dia tidak akan peduli. Tentu saja, asal hal itu tidak membuat dia benar-benar terganggu, kau aman. Hanya kesalahpahaman ini, Ryura tak akan ambil pusing. Paling-paling kepergiannya hanya untuk membuatmu tenang, nanti juga dia kembali. Ryura, meski kedatarannya begitu menyebalkan dia tidak kekanak-kanakan. Dia tak akan semudah itu marah lalu menghilang. Malahan, kalau dia marah aku hanya punya 1 kepastian... Yaitu, kau akan mati ditangannya. Jadi, tunggu saja dia pulang. Jangan khawatir. Kau pikir, hanya kau saja yang mengalaminya. Aku dan Reychu sudah tak terhitung berapa kali kami mengalami perselisihan. Kalau soal hilangnya Ryura, itu sudah menjadi hal biasa. Kalau dia tidak menghilang aku justru memberinya tanda tanya besar." usai mengeluarkan apa yang ingin ia katakan, Rayan mengedikan bahunya tak terlalu ambil pusing.
"Sudahkan?! Kalau begitu istirahatlah. Nanti saat kau bertemu dengan Ryura lagi. Baru kau selesaikan masalah mu dengannya. Karena, kau tak akan pernah menemukan jawabannya bila bertanya. Takkan ada yang tahu keberadaannya. Kalau ada, aku akan memberinya penghargaan!" gurau Rayan diakhir kalimatnya.
Setelahnya mereka pun kembali ketempat semula. Mengistirahatkan tubuh untuk kembali bergerak dikemudian hari. Sedang Furby masih dalam ketidaktenangannya.
Malam datang.
Semuanya keluar dari kamar mereka untuk mencari makanan. Mereka lapar dan perlu untuk segera di isi.
Kedai makan terbuka menjadi pilihan mereka. Duduk dan memesan, lalu makan.
"Ini, silakan di nikmati!" kata pelayannya.
"Tentu! Terimakasih!" balas Rayan dengan senyum seadanya.
Mereka pun segera menyantap makanan yang sudah di pesan.
Di sana hanya ada Rayan, Reychu, Chi-chi, Ruobin, dan Duan Xi. Sepasang lagi tidak ada. Yang satunya belum kembali dan satunya tidak merubah wujudnya juga mungkin karena tengah dirundung suasana hati yang buruk.
"Kemana Ryura dan Furby? Kenapa mereka tidak kelihatan? Menghilang lagi?" tanya Reychu usai menelan makanannya.
__ADS_1
"Ryura seperti biasa. Tapi, kalau alasan kali ini aku pun kurang tahu. Mereka terlibat masalah tadi sehingga Furby kembali sendirian..." belum usai Rayan menjelaskan, Duan Xi sudah menyela lebih dulu.
"Ryura menghilang?! Astaga! Apa yang terjadi sampai seperti ini?! Aku berencana untuk segera menuju ke Kerajaan Langit besok agar bisa sampai lebih awal untuk memesan penginapan. Kenapa malah seperti ini?" panik Duan Xi mendengarnya.
Hal utama yang dipikirkannya adalah kompetisi dan taruhan nanti. Jelas ia tak ingin mundur, apalagi Ryura sudah setuju. Sekarang, entah apa yang terjadi antara Furby dan Ryura, malah membuat Ryura menghilang.
Jelas ini masalah besar.
Meski terdengar egois, Duan Xi tidak lagi sungkan karena Ryura sudah setuju.
"Hei, Pak Tua! Jangan terlalu banyak berpikir. Kau akan cepat botak nanti. Santai saja... Ryura tak akan semudah itu untuk marah lalu menghilang. Dia hanya melakukan apa yang menjadi kebiasaannya. Menghilang tiba-tiba dan kembali tiba-tiba juga. Tidak akan memburuk lebih dari itu. Kecuali, sesuatu memicunya." gamblang Reychu berkata.
"Kau ini tau apa?! Kompetisi kali ini penting. Ryura sudah berjanji untuk melakukannya. Jadi, dia tidak bisa menghilang begitu saja saat ini." sungut Duan Xi.
"Aku paham. Ryura juga tak akan mengingkari janjinya. Meskipun dia diam dan acuh seperti itu, dia orang yang paling bisa diandalkan." timpal Reychu tak peduli sudah semerah apa wajah Duan Xi lantaran kesal dengannya.
"Benar. Tak perlu mengkhawatirkan Ryura dia akan muncul saat waktunya tiba. Besok kita tetap melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Langit. Dia akan menyusul kita nanti." lugas Rayan menengahi.
"Kau yakin?" tanya Duan Xi memastikan.
"Tak perlu percaya. Guru, cukup meyakininya saja. Ryura itu memang seperti itu. Tapi, dia tak pernah mengecewakan." tukas Rayan dengan bangga kala mengatakan betapa dapat diandalkannya Ryura dalam banyak hal.
Sementara yang sedang dibicarakan tengah berada di ujung tebing salah satu gunung tertinggi di Kerajaan Bulan. ia berdiri menghadap Utara dan memandang lurus kesana, serta membiarkan tubuhnya menerima hembusan angin malam yang dingin.
Bila Furby sedang pusing memikirkan kesalahannya, maka Ryura justru tidak memikirkannya sedikitpun. Dia diam disana seperti yang sudah-sudah.
Setelah lama diam, tanpa mengalihkan pandangannya Ryura menggerakkan tangannya guna mengeluarkan pedangnya dari sarung tersebut.
Dengan tegas mengacungkan ujungnya ke arah depan seolah tengah menghunus langit utara.
Sorot matanya seperti biasa, kosong dan tak bisa di baca. Gerakannya tenang dan tertata, ia tak menunjukkan suasana hati apapun seperti dirinya selama ini.
Akan tetapi...
Ia memiliki firasat bahwa sebentar lagi, sesuatu terjadi padanya. Hanya saja, yang tak dapat ia pastikan adalah apakah baik atau buruk firasat kali ini.
Tetap saja, ia menantikan hal itu.
"Datang dan tunjukkan padaku tujuanmu!" lugasnya di tengah-tengah keheningan malam.
hwaaaa. Thor ngebut. Krena belum nemu waktu buat crazy up. Thor usahakan bisa up tiap hari. semoga kalian suka...
πππππππ
__ADS_1