
Menyodorkan segenggam rambutnya ke hadapan Rayan, Ryura, dan yang lainnya bergiliran dengan riang. Di bawah tatapan tak sedap para penumpang kapal, Reychu dengan bangga memamerkan model rambut barunya.
"Lihat, lihat, lihat... Aku memotong rambut ku dan aku merasa ini baru benar. Jadi, selain karena aku lebih nyaman menggunakan rambut pendek. Hal ini kulakukan juga sebagai bentuk penyambutan ku pada kebebasan untuk kehidupan ku mendatang." mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan penuh semangat. Tak sedikitpun peduli pada pandangan orang-orang yang ada di atas kapal yang memandangnya sinis dan jijik karena kelakuannya yang tidak tahu malu itu.
Rayan tak bisa apa-apa selain menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sangat malu dibuatnya.
"Reychuuuuu, kau sungguh memalukan!" geramnya menggumam.
Tapi, meskipun Rayan merasa malu pada tingkah laku sahabatnya. Itu bukan berarti dia tak mau bersahabat lagi dengan Reychu, rasa malunya hanya sekedar malu di permukaan tanpa di bawa kehati.
Ryura hanya membuka sedikit matanya kala Reychu menunjukkan segenggam rambut miliknya yang sudah di potong. Ryura tak menunjukkan reaksi apapun selain mengintip sekilas sebelum akhirnya kembali tidur. Posisinya bahkan tak berubah. Berbeda dengan Furby yang mendengus dalam raut wajah aneh melihat itu. Cukup tahu segila apa sahabat Ryura-nya.
Duan Xi yang mendapat giliran hanya menatap malas Reychu sambil batinnya berseru bangga. "Sudah tepat. Sangat tepat. Aku benar-benar pintar memilih yang tepat. Haha!"
Hanya Chi-chi yang bertindak sama bahagianya dengan Reychu. Ia bahkan melompat-lompat riang menyambutnya. Sedang Ruobin memilih tak ikut-ikutan. Dia sudah cukup lelah dibuatnya oleh bertengkar yang tiada akhir antara Reychu dan Rayan setiap waktu, ia tak ingin menambah beban pikiran lagi untuk yang lainnya. Jadilah, dia hanya melihat sambil lalu.
"Apa-apaan itu? Dia benar-benar tidak tahu sopan santun! Apa dia masih seorang gadis?!"
"Apa dia sudah tidak waras sampai bersikap seperti itu? Wajah saja yang cantik, tapi perilakunya sungguh memalukan. Siapa orang tuanya? Kenapa tidak mengajarinya dengan benar?"
"Ya ampun, tidak tahu malu sekali dia. Bagaimana bisa dia bersikap liar seperti itu? Apa dia tidak malu?!"
"Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai putraku menyukai perempuan seperti itu. Benar-benar malapetaka!"
"Aku yang melihatnya saja sangat malu. Bagaimana dia bisa sesantai itu?!"
"Haruskah dia kota keluarkan dari kapal? Merusak pemandangan saja!"
Sarkasme dan hinaan terus menerus di lemparkan para penumpang pada Reychu yang acuh tak acuh. Gadis itu bahkan tetap pada kegembiraannya.
Yang lebih parhanya lagi, ia sampai berani menghampiri satu persatu penumpang kecuali rombongannya hanya untuk membagikan setiap helaian rambut miliknya yang sudah di potong. Katanya...
"Silakan! Silakan diterima! Ini adalah cinderamata dari ku yang asli dari Negara Api. Kalian harus memilikinya sebagai kenang-kenangan dari ku. Hahaha..." sambil terus menjejalkan perhelai rambutnya ke telapak tangan setiap orang dengan gerakan cepat, sehingga mereka yang menerimanya tidak sempat menghindar.
Setelahnya semua orang segera membuang sehelai rambut yang mereka terima dengan menunjukkan ekspresi jijiknya. Semua itu tak lepas dari pengawasan Rayan dan teman-teman.
Tak tahan melihat sahabatnya menjadi bahan ejekan, meski selama ini ia pun sering mengejeknya. Tapi, itu jelas berbeda. Jadilah, Rayan bergerak maju untuk menghampiri Reychu dan menghentikan kegilaannya.
Bisik-bisik sinis kembali terdengar. Benar-benar tak sedap di telinga.
Sedang Reychu, tak sedikitpun peduli. Dia bahkan memikirkan akan dibawa kemana sisa rambut yang masih ada. Hingga sebuah ide melintas.
"Haha... Aku tahu!"
Segera ia berjalan menuju pinggir kapal tepat di pembatasnya. Lalu, melempar sisa helaian rambutnya ke udara di lautan lepas kemudian berteriak dengan lantang serta mengabaikan banyaknya pasang mata di belakangnya yang terus menatap menghina kearahnya.
"DUNIAAA...! AKU REYCHU AKAN PERGI MENJELAJAHI MU! KAU TUNGGU SAJA KEDATANGAN KU DI SETIAP INCI DIRIMU! AKU PASTI TAK AKAN MELEWATKANNYA SEDIKITPUN! TAPI... PASTIKAN KAU AKAN MEMBERIKAN AKU HIBURAN YANG MENARIK... Tentu saja, dengan adanya darah didalamnya... Hehehehe...!" intonasinya kembali normal di bait terakhir ucapannya dengan kekehan aneh khas dirinya.
Itupun ternyata dapat didengar sebagai penumpang kapal hingga mereka tidak bisa tidak tersentak mendengarnya. Kemudian saling pandang hanya untuk memastikan kalau semua orang mendengar kalimat yang sama.
Tak lama mereka pun bergidik ngeri karenanya.
Setelahnya Rayan pun tiba di samping Reychu dan langsung menariknya untuk kembali ke rombongan. Sambil berlalu Rayan dengan sopan meminta maaf atas nama Reychu.
"Maaf semua. Tolong jangan di ambil hati atas apa yang ia lakukan. Dia memang sedikit... Yah, kalian pasti mengerti... Hehe... Kalau begitu kami permisi..." menoleh kearah Reychu dengan jengkel. "Ikut aku. Dasar kau pembuat onar!" lanjutnya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh keduanya saja.
__ADS_1
Reychu yang mendengar sebutan untuknya hanya menampilkan cengiran polos bak anak kecil yang belum tahu apa itu rasa bersalah.
Melihat itu Rayan spontan memutar bola matanya jengah.
Ini bukan kali pertama sahabat gilanya seperti itu.
Tak terasa sudah sehari mereka melewati perjalanan ini di atas kapal.
Pagi ini, dengan bekal yang di bawa 3Ry dan lainnya mulai menyiapkan sarapan pagi mereka. Saat itu Rayan pamit pada yang lainnya untuk pergi ke kamar mandi yang tersedia di kapal tersebut.
Dia butuh membuang kotoran diperutnya yang sudah menumpuk sejak kemarin. Tak mau sampai mengeras didalam atau bahkan sampai memberinya rasa sakit akibat sembelit. Itu akan merusak citranya sebagai gadis cantik, imut, dan menawan.
"Huh. Akhirnya..." leganya tak tertahankan.
Usai mengurus panggilan alam itu, Rayan segera kembali. Ia tak mau sampai membuat yang lainnya menunggu. Akan tetapi, di pertengahan jalan sesuatu memasuki penciumannya.
Refleks dia menghentikan langkahnya. Tanpa pikir panjang, Rayan pun mulai mengendus aroma yang tercium olehnya. Aroma itu sangat ia kenali dan menggugah minatnya untuk mengetahui darimana asal aroma tersebut dan kenapa bisa ada aroma seperti itu di atas kapal penyeberangan.
Mungkinkah ada yang membawanya?
Melangkah pasti dengan dipandu oleh indera penciumannya yang amat tajam, ia menuju salah satu ruangan yang ada di kapal. Meski samar ia jelas akan keyakinannya bahwa aroma itu nyata dan pastinya ada di dalam ruangan yang terpampang di hadapannya.
Demi memenuhi minatnya, Rayan bisa dengan mudah membuang rasa sungkannya. Alhasil, dia mengangkat salah satu tangannya dan mengetuk pintu yang tertutup itu.
Tok!
Tok!
Tok!
Ceklek!
Krieet...
Tampaknya pemuda tampan seumuran pemilik tubuh Rayan. Walaupun ketampanannya tidak mencapai nilai 8 -menurut penilaian Rayan- itu tetap tergolong tampan.
"Umm... Maaf, ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu agak kikuk. Pasalnya, ada gadis imut di luar pintu.
Mengabaikan gelagat canggung pemuda didepannya, Rayan sedikit menggerakkan kepalanya guna untuk mengintip sedikit apa yang ada didalam ruangan itu. Karena, saat pintu dibuka aroma yang sangat ia kenali dan ia sukai berbaur ke udara lebih jelas. Walau kenyataannya aroma itu tak mudah di tangkap oleh indera penciuman orang normal.
Pemuda yang melihat kelakuan Rayan yang terkesan ingin mengintip, sekilas menoleh kebelakang sebelum akhirnya bergerak untuk menghalau pandangan Rayan.
Menyadari kalau dirinya sudah lancang, segera Rayan mengambil sikap dan berdeham sejenak.
"Ehem... Maaf mengganggu. Begini... Bolehkah saya tahu apa yang sedang anda lakukan didalam sana?" pemuda didepannya langsung mengernyitkan dahinya curiga dan mulai berpikir negatif.
Rayan yang merasa perkataannya kurang jelas pun kembali berseru. "Ehm... Jangan salah paham dulu. Jadi, begini... Saya seperti mencium sesuatu yang berasal dari dalam ruangan ini. Itu seperti aroma herbal dan ada beberapa jenis. Sebenarnya, saya punya pengetahuan tentang pengobatan herbal. Itulah mengapa saya jadi sangat menyukainya sampai cukup tajam bila menyangkut bebauan. Eumm... Kalau tidak keberatan... Bolehkah saya masuk untuk melihat apa yang sedang anda lakukan. Siapa tahu saya bisa membantu sedikit bila diperlukan?! Sungguh! Saya sangat menyukainya dan memiliki minat yang sangat kuat untuk hal yang satu itu. Bagaimana apakah bisa?" jelas Rayan lugas dan hati-hati, namun cukup meyakinkan.
Sejenak pemuda itu diam berpikir. Lalu, berkata. "Kalau begitu tunggu sebentar... Sebelum itu boleh saya tahu siapa nama anda?"
Rayan tersentak menyadari keteledorannya yang melupakan bagian perkenalan hingga ia tak bisa tidak tertawa tertahan dengan bibir terkatup rapat.
"Maaf-maaf... Saya lupa... Perkenalkan nama saya Rayan Mo."
__ADS_1
"Oh.. saya Jun Jiu Han." balasnya dan berpikir sejenak sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sepertinya kita seumuran! Bagaimana kalau bicaranya santai saja. Tadi itu, benar-benar agak canggung." ragu-ragu pemuda yang baru diketahui namanya adalah Jun Jiu Han berkata.
Rayan tersenyum manis yang mana malah menambah kadar keimutannya begitu mendengar apa yang baru saja di katakan pemuda didepannya. Jun Jiu Han sampai bersemu merah dibuatnya.
"Tentu! Kenapa tidak! Jadi, apa aku boleh bergabung?" tanya Rayan lagi, tapi kali ini lebih santai.
"Oh ya... Tunggu sebentar." begitu selesai mengatakan kalimat pendek itu, Jun Jiu Han kembali masuk dan tak lupa menutup pintunya lagi.
Tak sampai 5 menit. Orangnya kembali keluar.
"Kau boleh bergabung. Lagipula, aku tidak sendiri. Ada temanku didalam. Namanya Hong Tan. Dia sudah setuju. Apa kau mau masuk sekarang?" terang Jun Jiu Han diakhir pertanyaan sambil membuka lebar pintu ruangannya.
Saat hendak menjawab, barulah Rayan tersadar kalau dia sudah ditunggu teman-temannya.
Dengan santai namun tetap sopan, Rayan memilih menolak untuk saat ini sambil tersenyum. "Nanti saja. Aku juga disini bersama teman-teman ku. Aku harus memberitahu mereka dulu. Aku tidak mau mereka sampai kebingungan mencari ku kalau tiba-tiba aku menghilang. Hehe..." kekehnya. "Bagaimana kalau nanti siang? Bisakah?" tanya Rayan untuk memastikan.
Tanpa pikir panjang, Jun Jiu Han langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Tentu, tidak masalah."
"Baiklah, nanti siang aku akan datang kesini lagi. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti." pamit Rayan, lalu segera beranjak dari sana usai mendengar jawaban dari Jun Jiu Han.
Setelah dirasa bayangan punggung Rayan sudah tak lagi terlihat, Jun Jiu Han kembali masuk dan menutup pintunya rapat.
"Tan! Ada seseorang ingin bergabung?" kata Jun Jiu Han begitu ia masuk untuk meminta persetujuan.
"Apa?"
Mengangguk membenarkan. "Iya, ada seorang gadis yang sangat menggemaskan diluar, namanya Rayan Mo. Dia yang mengetuk pintu tadi. Dia tiba-tiba muncul, katanya karena dia mencium bau herbal kita." jelasnya singkat.
Mengernyitkan keningnya penuh kecurigaan.
"Benarkah? Kau tidak sedang ditipu bukan? Ingat ini adalah tugas kita. Ini juga sebagai bentuk ujian yang harus kita selesaikan sebelum kembali ke perguruan. Jangan hanya karena ada yang bilang begitu kau langsung percaya." ragu pemuda yang dipanggil Tan itu. Ia tak yakin orang yang datang bermaksud baik.
"Kau ini... Sesekali pikirkan yang baik-baik. Positif lah. Kau pikir ada orang yang dengan mudah mengetahui aroma herbal yang bahkan belum di hancurkan. Setahuku, selain Pimpinan belum ada lagi yang sehebat beliau. Sedang gadis diluar itu, entah darimana ia sebelumnya... Yang pasti dia datang begitu saja hanya untuk menawarkan diri agar dapat bergabung. Dia juga bilang kalau dia memiliki pengetahuan tentang herbal. Siapa tahu gadis itu mengerti dan bisa membantu kita mengatasi masalah yang belum terpecahkan ini. Kita juga tak bisa lebih lama lagi di sini. Kita harus segera pulang. Coba kau pikirkan itu..." bujuk Jun Jiu Han sebisanya.
Temannya ini memang cenderung suka berburuk sangka. Bukan tanpa alasan, pengalaman hidupnya membuat dia seperti itu. Jun Jiu Han sendiri, sudah mengalami betapa sulitnya mendapatkan kepercayaan pemuda bernama lengkap Hong Tan itu.
Oleh karena itu, dia selalu berusaha untuk menjaga hubungan persahabatan mereka agar selalu baik. Dia juga tak bisa memaksa Hong Tan agar tidak lagi memiliki sifat buruk itu atau memintanya berubah. Bagaimanapun sebuah trauma bukanlah sesuatu yang mudah untuk di hilangkan. Terlebih kalua itu sudah teramat sangat membekas.
Hening sejenak.
"Baiklah. Dia boleh bergabung." katanya mengizinkan meski dengan keraguan yang kuat.
lagiii.
visualnya Thor taruh di laman sebelumnya ya. biar gk berserakan di mna2. hihi.
tunggu lanjutannya...
๐
__ADS_1