
Rayan muncul dari pintu masuk bersama Shin Da Ming. Dari kejauhan keduanya sudah bisa melihat percekcokan antara Ye Zi Xian dan Reychu.
Diam-diam Rayan memutar bola matanya jengah melihat tingkah laku sahabatnya yang rada gila itu. bila tidak membuat orang kesal benar-benar bukan Reychu namanya.
"Sekarang kau tidak sendirian lagi." celetuk Shin Mo Lan yang menghadirkan kernyitan bingung di kening Rayan.
"Maksudnya?"
Mata Shin Mo Lan tidak lepas dari perseteruan didepannya sana.
"Itu. Selain kau, kini ada Ye Zi Xian yang ikut mendapatkan perlakuan khusus dari Nona Reychu. Kau tidak lelah sendirian lagi sekarang. Selamat, istriku sayang."
Rayan ikut tertawa renyah campur geli saat mendengar pernyataan tak berperasaan suaminya tentang kemalangan sahabatnya.
"Tidak takut didengar olehnya? Nanti kalian akan berkelahi jadinya."
"Tidak perlu pikirkan soal itu. berkelahi diantara kami sudah menjadi hal yang biasa. Selama tidak ada unsur pengkhianatan didalamnya, semuanya akan tetap baik-baik saja." Rayan mengangguk mengerti.
Keduanya terus berjalan mendekat dan suara adu mulut ala Reychu dan Ye Zi Xian semakin terdengar jelas sampai suara Bai Gikwang menghentikan aksi tersebut.
"Oh, hai. Tiba juga akhirnya."
"Kau semakin terlihat seperti orang modern, Yang Mulia." ada unsur ledekan didalam perkataan Shin Mo Lan.
Yang di maksud hanya mendengus pongah dan menjawab. "Itu harus. Toh, kita tak akan kembali lagi ke masa lalu. Jadi, sudah seharusnya."
Shin Mo Lan mengangguk setuju. Lalu, menoleh menatap Ye Zi Xian dan berkata. "Aku pulang bersamamu saja. Akan lebih cepat sampai ke rumah sakit daripada menggunakan mobil."
"Bukan masalah. Berangkat sekarang?" Ye Zi Xian menerimanya saja dengan santai. Bukan masalah mengantar sahabatnya sampai tujuan sembari dia kembali ke perusahaannya.
"Aku kabari sopir ku dulu agar dia pulang lebih dulu." kata Shin Mo Lan sembari mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan telepon ke bawahannya.
"Aku ikut denganmu juga." sembur Bai Gikwang sukses membuat Ye Zi Xian menatapnya datar. Seolah mengatakan, kemana perginya wibawa seorang kaisar hebat di masa lalu?.
Mengabaikan tatapan sahabatnya, Bai Gikwang juga melakukan hal yang sama seperti Shin Mo Lan. Yaitu, mengabari bawahannya agar mengurus sisanya.
__ADS_1
meninggalkan dialog para pria, kini beralih ke para wanita.
"Kalian datang cukup awal." celetuk Rayan.
"Tidak. Aku yang lebih awal datang. Ryura belum lama tiba darimu." balas Reychu tanpa turun dari mobil golfnya. Itu juga berlaku untuk calon suaminya.
Dua-duanya sama saja.
"Rajin sekali kau datang lebih awal. Biasanya kau yang paling sulit tepat waktu kalau bukan karena kami yang menyeret mu untuk on time." nyinyir Rayan pada Reychu.
"Sirik saja kau. Kau mana tahu, sepasang kekasih seperti aku dan Gikwang itu sedang berada di momen cinta yang menggelora. Sedang lengket-lengketnya memadu kasih. Jadi, selalu ingin menyempatkan waktu untuk berdua saja. Memangnya kau, usai menikah langsung ditinggal kerja. Hahaha..." balas Reychu tak kalah sadis.
"Si*lan kau! Awas kau, ya! Lihat bagaimana aku akan membuktikan padamu kalau kami lebih mesra daripada kau dan pasangan mu itu!" sungut Rayan tak selalu mudah terpancing bila mulut tajam Reychu mengarah padanya.
"Oke, siapa takut. Apa perlu aku juga akan memperlihatkan momen malam pertama kami agar bisa kau bandingkan dengan kalian?" kalimat tanpa sensor mulai bermunculan. Alhasil, sebelum mulut tak tahu diri Reychu menjadi hilang kendali. Jadilah...
Tak!
"Auch!" Reychu mengaduh seraya mengusap area yang sakit sembari melihat siapa pelakunya kekerasan yang dia alami. Ternyata...
"Simpan tenaga mu untuk nanti." tutur Ryura yang langsung menyadarkan Reychu juga Rayan akan sesuatu.
"Aha! Kau benar. Aku harus berenergi dan tetap fit untuk acara perjamuan ini!" ada yang aneh dengan ucapan Reychu yang penuh semangat.
"Semuanya sudah siap?" tanya Rayan pada Ryura mengabaikan Reychu yang kelebihan semangat.
Ryura hanya mengangguk sambil berdeham mengiyakan.
"Aku tidak sabar." kata Rayan dengan suara rendah disertai seringainya.
Waktu berlalu begitu cepat. Kini saatnya para pria kembali ke rutinitas mereka meninggalkan pujaan hati pada kegiatan baru mereka.
Saat ini, ketiganya saling berpamitan.
__ADS_1
Reychu dan Bai Gikwang.
"Jaga dirimu. Pastikan kau pulang dengan utuh dan baik-baik saja. Lakukan saja apapun yang kau mau. Ada aku dibelakang mu. Jadi, jangan khawatirkan apapun. Kekasih ku harus bahagia, hmmm." ucapnya sambil menakup wajah Reychu dengan kedua tangannya hingga bibir Reychu mengerucut yang langsung di kecupi oleh Bai Gikwang tanpa peduli sekitar.
Reychu tertawa senang saja dengan sama-sama tanpa mempedulikan sekitar mereka. "Iya, iya. Jangan khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja hingga pesta pernikahan kita berjalan dengan lancar tanpa gangguan sedikit pun."
Rayan dan Shin Mo Lan.
"Sampai jumpa beberapa hari lagi. Aku akan sangat merindukanmu." tutur manja Rayan seraya memeluk pinggang suaminya yang di balas melingkarkan kedua lengannya dipundak Rayan.
Perbedaan tinggi badan membuat salah satunya mendongak dan satunya lagi menunduk.
Dengan senyum memanjakan, Shin Mo Lan menjawab. "Iya, aku juga sama. Baik-baiklah disini, jaga pandangan mu, sayang. Ingat selalu kalau suami mu seribu kali lipat lebih tampan daripada pria-pria tampan lainnya di luaran sana. Jadi, jangan diri mu untuk ku. Oke?!"
Rayan mengulas senyum lebar yang sarat akan kebahagiaan mendengar kalimat bernada posesif dari suaminya. Dengan mengangguk manja Rayan mengiyakan semua ingin suaminya.
"Jangan khawatir. Aku hanya milikmu." kemudian Rayan menyambar bibir Shin Mo Lan hingga kakinya menjinjit.
Ryura dan Ye Zi Xian.
Kalau yang ini, tak ada banyak tutur kata. Semuanya hanya di ekspresikan lewat sikap. Yang mana saat ini keduanya berpelukan erat seperti tak mau dipisahkan.
Eum. Mungkin tepatnya, Ye Zi Xian yang mengurung Ryura dalam pelukan eratnya. Ryura hanya bisa mengusap-usap punggung kekar suaminya dengan penuh kasih dan membiarkan Ye Zi Xian berpuas-puas memeluknya.
"Ini akan menjadi terakhir kalinya kita berjauhan dalam kurun waktu yang lama. Setelah ini aku tak ingin lagi. Janji padaku ya, sayang?" pinta Ye Zi Xian dengan berbisik di ceruk leher Ryura hingga hanya terdengar oleh Ryura.
"Apapun untuk mu." kalimat ampuh yang semua pasangan pasti akan selalu senang begitu mendengarnya.
Dan itu juga berlaku untuk Ye Zi Xian saat ini. Apalagi, memiliki pasangan yang tidak begitu ekspresif mengharuskan dirinya untuk bergerak duluan. Lagipula, tak ada salahnya suami bersikap manja pada istrinya.
Setelah dipikir-pikir, sekalipun suami adalah kepala keluarga yang harus punya wibawa dan sikap seorang kepala keluarga tetap tak menghalanginya bila ingin menjadi suami yang manja pada istri melebihi istri yang manja pada suaminya. Karena, tak semua perempuan itu suka bermanja-manja. Kalau mendapatkan istri seperti itu, tak masalah bila gantian sang suami yang bermanja-manja.
Bukankah itu cara terbaik mengeratkan keharmonisan pasangan suami istri.
Oleh sebab itu, Ye Zi Xian tak malu bersikap manja pada Ryura. Karena, dia tahu Ryura bukan Rayan yang akan dengan senang hati bergelayut manja di tubuh pasangannya. Tapi, setidaknya Ryura adalah sosok istri yang tak pernah menolak inginnya sebagai suami tak peduli dimana dan kapanpun itu. Jadi, bertukar posisi dalam bermanja-manja tak masalah bagi pasangan yang satu ini.
__ADS_1