
"Sudah siap?" tanya Reychu pada kedua sahabatnya yang kini berdiri didepannya.
Malam ini ketiganya sudah siap dengan pakaian longgar yang membungkus tubuh mereka. Pakaian yang tidak akan menimbulkan kecurigaan pada saat ketiganya keluar dari rumah.
Pakaian kasual seperti Hoodie dan celana panjang training serta sepatu kets, adalah apa yang dikenakan oleh Reychu. Sweater besar dan rok plisket panjang serta sepatu kets, adalah apa yang dikenakan oleh Rayan. Terakhir, jaket longgar panjang dan celana kain panjang serta sepatu kets, adalah apa yang Ryura kenakan malam ini.
Tak lupa masing-masing membawa ransel yang isinya keperluan mereka dalam menjalankan tugas yang dibayar mahal oleh klien mereka malam ini.
"Siap! Kita berangkat sekarang!" Rayan menjawab serta memimpin jalan.
Ketiganya keluar pada jam 8 malam dengan santai hingga orang-orang yang tinggal disekitar mereka juga mengenal mereka tidak berpikir bahwa mereka keluar sebenarnya untuk melakukan sesuatu yang bahkan mereka sendiri tak pernah bayangkan sedikitpun akan menjadi profesi ketiga gadis yang tampak baik dan polos itu.
Menuju tempat parkir, Reychu berjalan kearah pintu bagian kemudi sambil memutar kunci ditangannya. Membuka pintunya dan masuk bersamaan dengan yang lain. Rayan duduk di samping kemudi dan Ryura duduk di kursi belakang.
Melihat semuanya sudah masuk, Reychu pun menyalakan mesin mobil untuk segera dijalankan. "Sudah siap semuanya..." seruannya seperti anak gadis yang mau pergi bertamasya.
"Siaaappp...!" Rayan rupanya tak mau kalah, hanya Ryura yang diam saja sambil memandang keluar jendela.
"Kalau begitu, mari berangkat...!!!"
Bruumm...
Mobil yang dikendarai ketiganya pun melaju keluar dari tempat parkir dan langsung bergerak keluar lingkungan tempat tinggal mereka.
Mereka tidak tahu kalau malam ini akan menjadi akhir dari perjalanan mereka dalam menjalani kehidupan pembunuh bayaran.
Tap...
Tap...
Tap...
Sepasang kaki jenjang berbalut celana jeans hitam bergerak melangkah dengan elegan dan gagah hingga dapat dipastikan bila tidak mudah untuk menirunya jika tanpa bakat bawaan atau pelatihan yang khusus.
Dan pemilik kaki jenjang yang bagus itu adalah Bai Gikwang alias Bai Liam.
Bai Liam sejak lahir memang sudah di bekali dengan penampilan yang baik bahkan luar biasa baik, hanya saja aura yang dimiliki pemilik sebelumnya masih kurang dan bisa jadi tidak cocok dengan tubuhnya yang bagus hingga tidak menonjolkan semua kelebihan yang diberikan sang pencipta.
Karena itu, kini saat jiwa telah diganti, maka seluruh orang menjadi memiliki penampilan yang sempurna. Tubuh dan temperamen sesuai.
Dia berjalan mendekati Chang Bin yang sudah menunggu didekat mobil yang rencananya akan digunakan malam ini. Yaitu, Jeep warna merah.
Tanpa bicara lagi, Chang Bin membuka pintu mobil untuk Bos-nya. Menunggunya masuk lalu menutup pintu sebelum dia berjalan kedepan untuk ambil bagian kemudi.
Jika bertanya mengapa Chang Bin ikut. Itu karena Bai Gikwang mengantisipasi kemungkinan bila kekasihnya mengalami sesuatu. Mengingat cerita saat Reychu masih di kehidupan masa lalu, malam ini seharusnya menjadi malam yang mendebarkan untuk tiga pria tampan itu. Jadi, Bai Gikwang membawa serta Chang Bin agar nanti bila benar sesuatu yang tak diinginkan itu terjadi, Bai Gikwang tidak akan kewalahan mengendarai mobil sambil memegang kekasihnya.
Sampai kesana dia berpikir. Tapi, sebagai anak buah, Chang Bin tidak punya alasan untuk menolak. Lagipula, dia juga sudah penasaran untuk bertemu dengan calon Nyonyanya yang selama ini bertahan bertahta dihati Bos-nya.
Dalam hati dia salut dengan kesetiaan Bos-nya yang bisa bertahan selama itu tanpa menodai cintanya sedikitpun sampai dia bertemu kembali dengan pemilik hatinya. Padahal, Bos-nya adalah orang berpengaruh, kaya, disegani, dan tampan. Bila ingin memiliki banyak wanita disekelilingnya pun ia bisa melakukannya.
Namun, itu tidak dilakukan karena cintanya yang terlalu kuat untuk seorang gadis yang akan menjadi satu-satunya pendamping Bos-nya itu.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang, Tuan?" sambil menyalakan mesin mobil.
"Hm."
Mobil pun melaju keluar dari halaman kediaman Bai Gikwang atau Bai Liam.
Ditempat lain, dua pria yang tersisa juga sudah mulai bergerak. Seperti halnya Bai Gikwang, Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan juga tak lupa membawa serta bawahan mereka menggunakan Jeep.
Mereka memiliki pemikiran yang sama tentang memilih kendaraan. Itu dikarenakan, Jeep memang cocok digunakan untuk menjelajahi alam juga memiliki ruang yang besar hingga mudah untuk digunakan.
Jalan lumayan panjang ditempuh bagi mereka yang memiliki tujuan kesana.
Sesampainya disana -Fun Box Night Club- Bai Gikwang sudah dapat melihat dua sahabatnya yang tiba lebih dulu di tempat tersebut. Begitu mobil berhenti, dia lantas keluar dan langsung bergabung dengan sahabatnya yang juga bersama bawahan mereka.
Saat itu jam masih menunjukkan pukul 10 malam. Mereka tiba sebelum 3Ry tiba nanti pukul 11 malam.
Ini tidak bisa dikatakan larut, karena semakin malam tempat hiburan tersebut akan semakin ramai dan hidup bak aktivitas orang-orang disiang hari.
"Aku tidak pernah berpikir akan masuk ketempat menjijikkan ini." seru Ye Zi Xian sambil menatap jijik bangunan kotak tanpa celah itu.
Dua lainnya setuju.
"Mau bagaimana lagi. Ditempat inilah kita bisa menjemput mereka. Jadi, tahan saja." kata Shin Mo Lan masuk akal.
"Kalau begitu, kita langsung saja masuk. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan untuk melihat mereka karena kehilangan jejak." usul Bai Gikwang yang kedua sahabatnya setujui juga.
Mereka pun melangkah mendekati kotak hiburan malam itu untuk masuk.
Sebagai orang luar biasa berpengaruh, bukan perkara sulit untuk mendapatkan kartu akses untuk masuk kedalam sana.
Siapa sangka dalamnya akan jadi semarak seperti ini.
"Aku bersumpah. Ini akan jadi terakhir kalinya aku masuk!" tutur Ye Zi Xian sudah mulai tak tahan.
"Hm... Apa yang disukai dari tempat seperti ini?! Bahkan yang sudah berkeluarga pun ada di sini." celetuk Bai Gikwang kian tak suka saat matanya menangkap beberapa orang yang dikenalnya atau bisa dikatakan ada kolega bisnis mereka tak jauh disana sedang menikmati tubuh molek wanita ditangannya.
Yang dia tahu pria-pria disana itu sudah ada yang memiliki istri dan anak.
Dia tak habis pikir dengan kelakuan pria seperti itu. Sudah punya istri yang dia tahu tidak jelek juga, tapi masih haus untuk mencari yang lain diluar rumah.
"Ini tempat yang sesat!" umpat Shin Mo Lan sama tak sukanya. Apalagi mengingat istrinya yang cantik akan masuk kedalam sini. Dia tak bisa membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk apa yang dapat terjadi.
Ketiganya masuk tanpa menarik perhatian. Karena, penampilan mereka diatur agar tidak terlalu dikenali seperti, Bai Gikwang atau Bai Liam yang mengenakan sweater merah pas body dibungkus dalam jaket kulit hitam dipadu dengan celana panjang dan sepatu boot hitam kulit yang alasnya tebal hingga mampu meremukkan tulang seseorang bila mengenainya.
Rambut merahnya masih diikat tinggi namun ditutupi dengan topi guna mengurangi jejak kehadirannya. Ini cukup untuk bersembunyi dalam gemerlap tempat hiburan malam yang remang-remang hingga sulit untuk memandang bagi yang belum pernah kesana atau tidak terbiasa. Untungnya, tiga pria itu masih memiliki kemampuan mental yang bagus hingga penglihatan mereka tetap tajam meski dalam kondisi seperti saat ini.
Beralih ke Ye Zi Xian, dia mengenakan Hoodie abu-abu berbahan rajut yang memiliki tudung hingga dapat digunakan untuk menutupi rambut putihnya yang tetap mencolok meski keadaan tempat itu remang-remang. Belum lagi rambutnya panjang, untungnya saat ini dia mengepang satu rambutnya hingga tak mudah dilihat karena disembunyikan dalam Hoodie sweater yang dikenakannya.
Dikakinya, dia juga mengenakan jeans hitam berbalut sepatu boot senada. Ini cocok untuk mengurangi keberadaan karena mudah menyatu dalam kegelapan.
Begitu juga dengan Shin Mo Lan. Dia mengenakan mantel panjang hitam selutut ditubuhnya dengan dalaman kaos dan celana jeans senada warna. Jadi, Shin Mo Lan penuh dengan hitam-hitam malam ini. Tapi, dia tak kesulitan dengan rambutnya karena memang tidak dipelihara hingga panjang seperti kedua sahabatnya.
Sementara tiga anak buah mereka. Ketiganya tak jauh berbeda, hanya saja lebih kasual dan santai seperti anak muda karena meskipun mereka terkenal karena bekerja untuk tiga pria tampan itu, kehadiran mereka tak terlalu diinginkan oleh orang-orang. Jadi, masih bisa berjalan santai di kerumunan.
__ADS_1
Mereka berjalan menembus kerumunan orang-orang yang dianggap menjijikkan dengan sabar dan mengambil tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk. Itu berguna untuk melihat 3Ry saat mereka muncul.
Kenapa begitu yakin akan muncul melalui pintu masuk? Karena, kotak hiburan ini tidak memiliki akses lain selain pintu masuk kecuali pintu darurat yang akan terbuka bila sesuatu yang buruk terjadi.
Ketiganya duduk dengan tenang tanpa memesan apapun dan hanya duduk diam sambil memandangi pintu masuk sementara tiga bawahan mereka seperti biasa, bertugas untuk menghalau orang-orang yang ingin mendekati Bos mereka. Pegawai club malam atau PSK maksudnya.
Selain sekretaris, mereka juga merangkap menjadi pengawal pribadi.
Susana ditempat mereka hening dan hanya diisi oleh suara musik yang memekakkan telinga.
Meski tak suka suasana Club malam ini, ketiganya hanya bisa bersabar sampai dapat menemukan pujaan hati mereka untuk dibawa pulang.
Setelahnya, mereka pasti tak akan pernah ketempat terkutuk ini lagi.
Satu jam berlalu tanpa mengalihkan sedikitpun pandangan mereka dari pintu masuk, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul.
Tiga gadis berpakaian serba hitam dengan model yang sama dan jelas berbeda dengan penampilan mereka sebelum tiba disini.
Nyatanya mereka berganti pakaian dalam mobil saat perjalanan kemari.
Tatapan tiga pria itu terpaku pada 3Ry tanpa ragu. Tak perlu diperiksa lagi, tiga gadis itu harus menjadi pujaan hati mereka.
"Mereka memiliki aura yang sama saat bersikap begitu." celetuk Shin Mo Lan tapi matanya hanya tertuju pada Rayan, istrinya.
Bunga-bunga yang sebelumnya hanya berupa kuncup segera bermekaran begitu pemicunya datang.
"Hm... Itu sudah jelas mereka." timpal Ye Zi Xian juga sama, hanya ada Ryura dimatanya.
Tempat mengerikan baginya itu segera berubah sunyi dimatanya dan hanya menyisakan dia dan Ryura saja saking istimewanya Ryura di mata dan hatinya.
"Kita harus membawa mereka pulang malam ini juga!" tukas Bai Gikwang dengan tatapan hanya pada Reychu, namun kata-katanya masih disetujui oleh dua sahabatnya yang juga tengah menatap pasangan masing-masing di sana.
Tak pernah bergeser sedikitpun. Mereka melihat 3Ry berpencar melakukan apa yang mereka inginkan seperti Rayan yang mampir ke bar dulu dan menggoda bartender tampan disana sampai membuat Shin Mo Lan panas dingin.
Sedang, Ryura hanya berjalan lurus entah kemana namun gerakannya terlihat jelas bila dia tahu kemana dia akan melangkah. Ye Zi Xian memandangi terus istrinya yang tak menoleh untuk melihat gemerlap dunia malam dalam Club ini. Melihat itu, dia tersenyum puas karena tahu ternyata istrinya persis seperti di kehidupan sebelumnya. Datar dan tanpa emosi. Ini membuatnya tak khawatir akan melihat Ryura melakukan sesuatu yang tidak dia sukai, juga dia tak sabar untuk mendapatkannya segera dan membawanya pulang.
Berbeda dengan Bai Gikwang yang cemberut melihat antusiasme yang terpancar diwajah kekasihnya -Reychu- saat dia melihat-lihat seluruh tempat yang ada di bangunan ini dengan sumringah membuat Bai Gikwang memiliki keinginan untuk menghancurkan club malam ini.
"Beraninya membuat kekasih ku senang dengan tempat menjijikkan ini!" gumamnya tak suka yang tak bisa di dengar oleh siapapun karena tempatnya terlalu berisik.
Meskipun ada rasa tak senang melihat pujaan hati mereka tampak terbiasa dengan tempat seperti ini, mereka tetap tak berniat beranjak dari tempat mereka duduk saat ini. Karena, mereka tak ingin mengganggu pujaan hati mereka menjalankan pekerjaannya yang diam-diam dalam hati para pria itu bersumpah kalau ini akan menjadi pekerjaan terakhir 3Ry karena mereka akan dibawa pulang oleh pria-pria itu.
Tapi, 3Ry tidak tahu akan hal itu.
ini mobil yang digunakan pria2 itu waktu mengekor 3Ry.
__ADS_1
(sumber dari google)
Alhamdulillah up lagi. kalian senang???🤓🤓🤓