3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
R-V VS L-H


__ADS_3

Greek...


Terhenyak akan gerakan tiba-tiba yang dibuat oleh Ryura saat ia secara mendadak bangkit dari duduknya hingga kursi yang didudukinya bergeser menyebabkan bunyi gesekan antara kaki kursi dan lantai. Padahal, belum lama gadis manekin hidup itu memejamkan matanya dan dengan tenang beristirahat.


"Kau mau kemana?" tanya Reychu seraya pandangannya mengikuti kemana Ryura bergerak. Mengetahui kalau pertanyaan mudahnya tidak dijawab artinya ia akan menjawabnya dengan sesuatu.


Benar saja. Kala ia melihat kemana sahabatnya itu melangkah dan ternyata pergi kearah lemari kecil yang ada di samping meja riasnya. Baru ia ketahui kalau Ryura meletakkan barang-barang miliknya yang dia bawa kedalam lemari kecil setinggi pinggang orang dewasa, terlihat dari saat Ryura membuka pintu lemari tersebut kemudian menarik sebuah bungkusan memanjang yang panjangnya hanya satu hasta.


Barang itu tampak terbungkus dengan sangat rapi dalam bungkusan kain satin berwarna biru laut.


Tanpa diminta, otak Reychu sudah mulai menebak-nebak apa sekiranya yang ada dibalik bungkusan tersebut.


Apakah makanan? Ataukah batang tebu? Soalnya, Reychu suka rasa tebu. Atau mungkin harta?


Ia jadi tidak sabar untuk mengetahuinya.


Ryura kembali berjalan kearah meja sebelumnya dan kali ini dengan membawa sebuah barang ditangannya.


Didudukkan lagi bokongnya ke kursi yang ia tempati sebelumnya disusul dengan meletakkan barang bungkusan itu ke atas meja. Setelah duduk dengan nyaman, baru setelahnya barang yang diletakkan itu digeser Ryura kearah Reychu.


Kemudian berkata. "Buka."


"Ini untuk ku?" Ryura berdehem menjawabnya.


Tanpa sungkan lagi dan dengan antusiasnya, Reychu segera meraih bungkusan tersebut dan membukanya dengan liar. Persis seperti gelandangan kelaparan yang hendak membuka bungkusan makanan.


Ia tak berpikir kalau apa yang dibawa Ryura adalah untuknya. Betapa senangnya dia...


Begitu bungkusan itu terbuka sempurna. Matanya tak bisa tidak terbelalak dengan penuh binar euforia didalamnya.


Bahagia bukan main yang kini Reychu rasakan.


Menatap isi bungkusan itu dengan Ryura secara bergantian beberapa kali, seolah sedang memastikan kalau ia tidak sedang berhalusinasi.


"Ryu... Ini... Untuk ku?" tanyanya lagi dengan pertanyaan yang sama, namun makna yang berbeda.


"Hm." acuh Ryura menjawab sambil berhadapan dengan Reychu. Dapat dilihat bagaimana bahagianya Reychu dengan apa yang dia berikan.


Sambil mewek-mewek haru, Reychu memeluk isi bungkusan tersebut dan berkata. "Ryura, kau yang terbaik!" pujinya tanpa peduli kalau wajah Ryura tak juga berubah, meski sudah dipuji. Kemudian, ia bangkit dari duduknya menuju peraduan tepatnya menuju siluman kelinci yang asik tiduran diatasnya.


Melihat betapa antusiasnya Reychu, Chi-chi hanya bisa ikut senang meski bingung. Apa yang diberikan gadis patung itu sampai membuat sahabat manusianya begitu bahagia.


"Chi-chi, coba tebak apa yang kekasihku berikan pada ku?" menaik-turunkan alisnya kepada bocah siluman kelinci itu.


"Mmmm... Tidak tahu! Sulit untuk ku menebaknya. Kita belum lama bersama. Aku masih harus banyak memperhatikan mu untuk tahu apa yang bisa membuat mu senang dan sedih." jujur Chi-chi.


Reychu menjentikkan jarinya begitu mendengar kalimat sahabat silumannya yang menggemaskan itu. "Kau benar! Tapi, itu bukan masalah. Kalau begitu, biar ku beritahukan..." jedanya tanpa menghilangkan senyum lebar sampai matanya menyipit segaris. "Yang Ryura berikan adalaaaaaaah..."


Secepat kilat barang yang ada ditangannya diperlihatkan tepat ke depan wajah kecil Chi-chi, membuat siluman kelinci itu tersentak kecil.


"TADAAA...!"

__ADS_1


Dua buah senjata jenis pedang yang panjangnya seukuran lengan atau satu hasta terpampang di depan matanya. Pedang yang tampak kembar itu cukup indah dengan pegangan terbuat dari giok berwarna kebiru-biruan bercampur putih, masing-masing mata pedangnya terdapat cabang yang membuatnya terlihat seperti beranak dan jangan lupakan bengkokkan tajam yang mirip seperti mata kail ikan di ujung cabang mata pedangnya.


"Ini..." Chi-chi tak bisa berkata-kata begitu melihatnya. Pedang kembar itu sangat indah dan menawan, terlihat semi-feminim hingga sekilas pedang itu akan tampak seperti benda hias yang dibuat untuk dipajang tanpa berpikir kalau itu adalah senjata tajam sejenis pedang yang mampu merenggut nyawa orang yang terkena sayatannya.


"Ya, ya... Ini adalah pedang pendek. Karena kau belum tahu, biar ku beritahukan padamu sesuatu tentang ku." melirik Ryura sekilas dan hanya mendapati gadis itu tak bergeming memandang entah kemana. Matanya sulit sekali untuk diselami.


Tapi, ya sudahlah. Sudah terbiasa juga.


Lalu, kembali menatap Chi-chi yang terlihat sangat siap mendengar ceritanya. Dengan senyum bangga dan percaya diri, Reychu mulai bercerita tentang dirinya.


"Aku adalah Reychu. Seorang gadis yang suka bertarung dalam jarak dekat. Karena menurut ku, semakin dekat semakin bagus. Salah satu kelebihan ku adalah Ambidextrous, sebutan untuk seseorang yang bisa menggunakan kedua tangannya untuk melakukan segala hal. Mulai dari makan, menulis, dan lain-lain, terkhusus untuk bermain pedang-pedangan. Dulu, aku memiliki belati sebagai senjataku dan semua itu dibuat kembar. Dalam arti kata, aku selalu punya dua barang untuk setiap jenisnya." kemudian ekspresi bangganya dibuat meredup. "Sayangnya, aku kehilangan semua itu."


Yang Reychu ceritakan adalah kebenaran dirinya, hanya saja ia tak menyebutkan soal jiwanya yang berasal dari masa depan.


Mendengar semua itu, Chi-chi tidak bisa tidak kagum pada sahabat manusianya yang satu ini. Bagi dia yang belum pernah melihat ada orang yang bisa menggunakan kedua tangannya untuk melakukan segala hal, tentu saja akan sangat terpukau dan takjub.


Reychu yang merasakan tatapan itu tak bisa tidak mendramatisir keadaan. Ia malah semakin memuja-muja dirinya dan bangga akan dirinya.


"Tapi, tidak masalah. Ryura tercintaku cukup perhatian untuk memberikan ku senjata baru dan bahkan lebih bagus dari milikku sebelumnya. Lihat, ini bahkan lebih panjang dari yang dulu. Jangan lupakan pegangan giok yang membuat ku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Hahahaha... Aku sungguh beruntung!" ia terus berujar penuh kebahagiaan sampai tiba-tiba ia mendengar suara gesekan yang membuatnya refleks menoleh dan matanya langsung tertuju pada Ryura yang sudah berdiri dari duduknya.


Greek...


Mengangkat sebelah alisnya heran. "Ada apa?" bukannya menjawab Ryura malah berlalu pergi keluar begitu saja membuat Reychu mengangkat bahunya acuh. Ia sudah sangat tahu perangai sahabatnya itu. Jadi, biarkan saja.


Yang terpenting adalah mereka sedang tidak bermasalah.


Tapi, yang masih belum ia biasakan dari tindakan diam Ryura adalah kala sesuatu akan terjadi yang berkaitan dengan orang lain dan gadis mayat hidup itu tak ingin ikut campur.


Seperti yang akan terjadi setelah ini...


Gadis gila itu tak terkejut sama sekali, melainkan heran dan bingung. Ada gerangan apa yang membuat pria tampan, namun tak cukup untuk membuat hatinya bergetar datang dengan diselimuti amarah?


Dengan santainya, Reychu mengangkat sebelah alisnya dan menatap langsung wajah tampan yang menggelap didepannya.


"Yo... Ada urusan apa kau kemari?" tanya Reychu seperti orang yang tak sadar situasi, tapi satu hal yang baru ia sadari.


"Sial! Ryura pergi tadi adalah kode! Bagaimana bisa aku masih belum sadar akan hal itu? Ck! Ryura juga kenapa main pergi begitu saja, tanpa sepatah katapun. Aku jadi merasa digrebek kalau begini!" gerutu Reychu dalam hatinya, akan tetapi itu tak seperti benar-benar menggerutu.


Ruangan itu seketika menjadi dingin dan mencekam. Chi-chi bahkan sampai harus bersembunyi di belakang peraduan. Bagaimanapun, meski ia adalah siluman. Ia masihlah siluman tingkat rendah, sedang pria didepan matanya itu adalah manusia dengan kemampuan budidaya yang kuat. Ia tetap akan kalah kalau melawan tanpa strategi.


"Kau masih berani bertanya!" kata-katanya mengandung cibiran dan sakit hati. Matanya memang menatap tajam, namun ketajaman itu tak lebih dari bentuk kesedihan dan memelas seolah memohon belas kasih untuk jangan melakukan sesuatu yang akan menyakiti hatinya.


Tapi, lawannya bukanlah gadis melankolis yang sedikit-sedikit tersentuh atau mementingkan perasaan orang lain. Dia adalah Reychu. Sekalipun ia tahu perasaan apa yang tengah diderita orang, ia tak sampai hati untuk ikut hanyut dalam perasaan tersebut. Dengan kata lain, tak hanya mulutnya yang jujur kala berucap. Otak dan hatinya pun tak kalah jujur.


"Ooh... Jangan bilang kau datang kemari setelah mendengar kabar tentang pertemuan ku dengan para selir mu itu..." Kaisar Li hanya diam sambil terus menatap mata Reychu yang cukup berani membalas tatapannya. Reychu sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat ke terdiaman Kaisar Li.


Ia bersedekap dada dengan tangannya masih memegang pedang pendek itu. Berpose angkuh serta mengejek kearah Kaisar Li.


"Hahaha... Siapa yang memberitahumu? Apakah itu Gong Dahye? 'Aaah... Siapa lagi kalau bukan dia? Hanya dia yang bisa begitu berani mendatangi mu tanpa pemberitahuan lebih dulu." andai Kaisar Li masih belum mencintai gadis didepannya saat ini, sudah pasti hal pertama yang ia lakukan adalah memberi Permaisurinya ini hukuman rumah.


"Sebegitu inginnya kau berpisah dari ku?" nada tanya itu rendah dan dalam, menyiratkan ke piluan hati yang terluka. Kaisar Li tidak sampai hati memarahi gadis didepannya ini, lagi-lagi ia diingatkan oleh masa lalu antara dia dan Permaisuri.

__ADS_1


Tangannya terkepal kuat sebagai pelampiasan amarahnya.


"Tentu! Kenapa tidak?! Sejak awal kita sudah tidak cocok! Maka, untuk mempermudah segalanya. Aku mengajukan perpisahan kita padamu. Akan tetapi, aku merasa masih memiliki tanggungjawab yang harus aku selesaikan." Reychu cukup santai menerangkan kalimatnya, sama sekali tidak memikirkan hati seseorang yang terasa bagai diiris ribuan pedang.


Kaisar Li tidak berniat bicara, ia hanya ingin mendengar langsung apa yang sudah ia dengar dari Selir Agung Gong Dahye. Ia butuh kepastian akan kebenaran itu.


Meskipun, telah siap untuk mendengarkan. Tetap saja, mendengar langsung dari mulut perempuan yang dicintai malah memberi efek yang tak tertahankan.


"Yaitu, mencari pengganti ku!" tandasnya tanpa ragu. Mengabaikan Kaisar Li yang sudah menggertakkan giginya juga mengeratkan kepalan tangannya.


Sejenak Kaisar Li menunduk sedikit dan memejamkan matanya, Reychu yang melihatnya tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan pria tampan didepannya dengan melakukan itu.


Reychu hanya memperhatikan.


Setelah beberapa saat hening...


"Tidak ada pengganti!" tekan Kaisar Li tajam dengan nada yang amat rendah hingga Reychu tidak terlalu jelas mendengarnya.


"Hah?! Kau mengatakan sesuatu?" tanya Reychu guna ingin memperjelas ucapan yang samar-samar ia dengar.


Mendongak seraya menatap tajam dengan kilatan obsesi didalamnya, penuh dengan tekad yang tak bisa dibantah bahkan aura di sekeliling pria itu berubah. Reychu yang melihat itu spontan memundurkan tubuhnya. Ia mulai waspada.


"Kaisar ini bilang. Tidak ada pengganti! Tidak akan pernah ada! Itu artinya, posisi itu akan selamanya milikmu, sayang!" amarah, sakit hati, cinta, obsesi, takut, tak terima, dan rindu adalah jenis perasaan yang kini bercampur menjadi satu dalam nada suaranya. Kaisar Li tanpa sadar mencurahkan semua itu pada kalimat yang ia ucapkan.


Untuk pertama kalinya Reychu bergidik ngeri mendengarnya, namun ia tidak takut.


"Kau gila!" vonisnya.


Kaisar Li hanya tersenyum dengan senyum sejuta rasa, hingga tak bisa dikatakan kalau itu adalah senyuman yang bagus untuk menyentuh hati yang melihatnya.


Alarm tanda bahaya menyala di kepala Reychu sebagai pengingat kalau ia sudah masuk kedalam keadaan yang patut untuk diwaspadai.


"Ini tidak baik!" gumamnya dalam hati.


Cengkeraman tangannya menguat membuat Reychu segera ingat pada benda yang ada di tangannya.


Sementara di belakang peraduan, Chi-chi sudah cemas dan bingung. Ingin membantu, namun tidak cukup kuat. Ia bahkan sudah lemah sebelum maju, aura yang di keluarkan Kaisar Li Hanzue cukup kuat.


"Chu-chu, apa yang harus aku lakukan untuk mu..." geramnya dalam hati dengan frustrasi. Tiba-tiba, satu nama terlintas dibenaknya.


Namun, ia agak ragu untuk meminta bantuan pada orang itu. Rasa tak sukanya masih ada. Tapi, setelah dipikir-pikir Reychu lebih penting.


Setelahnya, siluman kelinci itu pun bergegas pergi dari sana dengan kemampuan kecepatannya.


"Sadarlah, Li Hanzue! Kenapa malah jadi gila?! Aku melakukan ini selain sesuai niatku, aku juga mau melihat bagaimana kondisi mu kalau kau marah! Aku tidak mengharapkan kau kehilangan kewarasan mu! Benar-benar tidak seru! Hei, waraslah!" bukannya waspada atau takut bila sesuatu yang buruk terjadi padanya, Reychu malah merasa kesal lantaran apa yang sempat ia duga tidak terjadi.


Ia ingin melihat pria didepannya itu marah padanya. Bukannya gila...


Tapi, apa ini?! Dia malah ingin mengikatnya?! Siapa yang mau?!


__ADS_1


yang berikutnya akan segera dia up yooo...


๐Ÿ˜˜


__ADS_2