
Disebuah puncak tebing batu yang berada tak jauh dari Kediaman Zhilli Shin. Melewati jalur belakang kediaman untuk dapat menuju ke puncak tebing batu tersebut.
Di sana sudah ada 3Ry, 3 pria tampan, Ruobin, Chi-chi, Furby, dan tak lupa pula ada Dong Jia Zi serta Min Hwan.
Kesebelas makhluk berbeda itu tengah berkumpul karena suatu hal atau bisa dibilang...
Menagih janji!
Ya, Reychu yang tak mau rugi mengusik Rayan dengan teror dimana dia terus-menerus mengungkit perihal janji yang keduanya sepakati. Kini pada akhirnya, Rayan akan memenuhi janjinya.
Sebuah lingkaran besar di gambar diatas tanah batu oleh Chi-chi dengan sempurna. Lingkaran itu dijadikan sebagai arena, yang mana bila salah satu dari mereka keluar garis maka dianggap kalah. Terlepas dari terluka atau tidaknya mereka.
Itu adalah peraturan yang sudah umum digunakan.
Diluar garis, Ryura dan Ye Zi Xian duduk berdampingan dengan saling menempel. Tepatnya, Ryura yang ditempeli oleh Ye Zi Xian. Pria itu seperti perekat yang sulit untuk di pisahkan dari tempat dia menempel.
Di samping Ye Zi Xian ada Dong Jia Zi yang duduk agak sedikit kebelakang tuannya bersama Min Hwan yang disebelahnya agak kedepan ada Shin Mo Lan, yang tak lain adalah tuannya.
Selanjutnya, ada Kaisar Agung Bai setelah Shin Mo Lan yang duduk bersebelahan dengan mata mereka terfokus pada dua objek di dalam lingkaran sana. Dalam hati sama-sama menggerutu tak senang dengan kelakuan bar-bar pujaan hati mereka.
Sementara ketiga siluman yang ikut menonton, tak sedikitpun merasa khawatir. Mereka justru merasa sangat antusias.
Saling melempar tebakan tentang siapa yang menang.
"Akhirnya. Hari ini tiba juga. Aku sudah lelah menunggunya." cetus Reychu seraya melakukan peregangan otot.
Rayan yang mendengarnya spontan memutar bola matanya jengah. Sama seperti sahabatnya, dia juga tengah melakukan peregangan otot.
"Berhenti bicara begitu. Seolah-olah aku tidak pernah menepati janjiku." jengkel Rayan membalas.
"Yayaya... Kau memang selalu menepati janjimu, tapi itupun selalu butuh waktu untuk bisa dilakukan. Tahukah kau, betapa merepotkan nya menunggu?!" Reychu balik membalas dengan nada yang menjengkelkan.
"Cih!" decih Rayan tak kunjung reda kejengkelannya.
Itu semua akibat dari ulah Reychu yang merecokinya tanpa henti bahkan saat masalah kemarin belum usai.
Kini Reychu dengan santainya mengeluarkan kedua pedang kembar miliknya. Sedang Rayan mengeluarkan pisau kipasnya. Benda itu pemberian Shin Mo Lan sebagai hadiah jadian mereka tempo lalu.
"Wow. Barang baru!" seru Reychu begitu melihat pisau kipas tersebut yang ada ditangan Rayan.
Rayan dengan bangga memamerkannya sembari memanuver kemampuan tangannya dalam memainkan pisau kipas tersebut.
Gerakannya cukup lembut dan indah. Dia seperti tengah menari tetapi setiap gerakannya mengandung serangan seperti halnya dalam bertarung.
Mungkin bisa disebut semacam tarian perang, tetapi bukan benar-benar tarian perang. Pasalnya, gerakan itu adalah gerakan asal yang Rayan perlihatkan saat itu juga.
Para siluman dan dua pria kepercayaan bersorak kagum melihatnya. Apalagi Shin Mo Lan yang langsung tersenyum sumringah melihat kekasih hatinya begitu mempesona.
"Rayan...! Kau terbaik!" seru Ruobin dari tempatnya duduk.
"Nona Rayan! Kau keren!" timpal Chi-chi.
"Fhueerrrbb!(Yayaya... Bolehlah!)" sambung Furby angkuh, karena enggan mengakuinya.
Disisi manusia.
"Wah. Itu tadi cantik sekali..." seru Min Hwan. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya pada Dong Jia Zi.
Pria bercadar dan pendiam itu hanya berdeham diiringi anggukan guna membalas pertanyaan teman seprofesinya.
"Tak disangka, ternyata bisa dilakukan seperti itu. Kupikir tarian yang sudah ada tidak bisa di kembangkan lagi. Ini menakjubkan!" pujinya.
Lagi-lagi, Dong Jia Zi membalas dengan anggukan kepala saja tanpa melepas pandangan
__ADS_1
matanya dari fokus menonton duel yang akan di lakukan dua gadis dengan tubuh yang sulit dipercaya kalau mereka ternyata suka kekerasan.
Lain halnya dengan Kaisar Agung Bai yang tak bergeming sedikitpun bahkan setelah melihat itu. Seperti, mata dan pikirannya hanya untuk Reychu seorang.
Jangan tanya soal sepasang sejoli yang tak terpisahkan itu. Biarkan mereka bermesraan berdua. Mungkin lebih tepat kalau dibilang, Ye Zi Xian lah yang bermanja-manja pada Ryura yang membiarkannya.
Duel pun akhirnya dimulai...
Dua sahabat itu sudah siap di posisi masing-masing dengan persenjataan yang sudah dalam genggaman.
Reychu dengan ekspresi psikopatnya dan Rayan dengan ekspresi seriusnya.
"Baik! Tunggu apa lagi...! Mari kita... MULAI!!!" seru Chi-chi sebagai pemandu duel kali ini.
Reychu yang gila, mana mau menunggu diserang. Maka dari itu, dia dengan lihainya berlari kearah Rayan sambil menyeringai khas dirinya tiap kali bertarung ataupun melakukan kekerasan.
Yang pasti, yang paling dia nantikan adalah darah.
Sedang Rayan yang melihat antusiasme sahabatnya mulai memasuki mode bertarung. Dia akan menanggalkan keimutannya dan fokus pada duel kali ini.
Sruuk!
Bunyi pisau kipas miliknya yang dibuka. Mengambil posisi kuda-kuda dengan tangan kanannya agak direntangkan.
"Yuhuuuu. Raaayaaann...! Mari kita bersenang-seeenang...!" panggil Reychu saat dirinya sudah hampir dekat.
Rayan tak terkecoh sedikitpun dengan kelakuan sahabatnya. Dia hanya menunggu dengan setia di posisinya. Bagaimanapun, penampakan Reychu yang seperti ini sudah bukan hal asing lagi baginya.
"Hyaa'!" suara Reychu terdengar disusul dengan suara gesekan yang saling beradu.
Trak!
"Wow. Ternyata kipasnya bisa di gunakan sebagai senjata!" kata Reychu kagum melihat kipas ditangan kanan Rayan beradu dengan pedang kembar di tangan kiri Reychu, saat dirinya hendak melayangkan serangan.
"Ya, namanya juga pisau kipas!" bangganya Rayan membalas.
Sssaaa...'!
Hampir saja mata pedang itu merobek bagian perut Rayan, kalau saja Rayan tidak sigap memundurkan bokongnya sedikit lantaran tangan kanannya masih menahan pedang kembar Reychu yang satunya.
"Ini resiko punya lawan pengguna dua tangan!" desis Rayan dalam hati.
Tak sampai disitu, setelah tebasan Reychu melesat. Rayan menggunakan sedikit celah itu untuk melayangkan tendangan tinggi ke pundak belakang Reychu yang sempat di perlihatkan karena serangannya yang meleset tadi.
Buagh!
Tendangannya cukup kuat sampai Reychu agak terhuyung kedepan dan akhirnya membuat mereka terlepas.
Reychu terkekeh menerimanya.
Masih dalam suasana panas duel. Keduanya kembali saling menyerang.
Disela-sela adu fisik tak jarang Rayan dan Reychu mengeluarkan energi spiritual mereka yang menyebabkan debu tanah berhamburan ke udara dengan jejak hangus yang ditinggalkan.
Sebagai pengguna elemen api, itu sudah pasti akan terjadi.
Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan, tak henti-hentinya merasakan harap-harap cemas pada kedua pujaan hati mereka. Sesekali ada rasa ingin melerai dan menghentikan duel konyol ini, menurutnya. Tapi, tak berdaya kala melihat betapa semangatnya mereka berduel.
Sementara, para siluman dan dua pria kepercayaan disana malah bersorak saling mendukung kedua gadis itu. Mereka seolah lupa kalau ada monster mengerikan yang sedang menahan diri ditempatnya.
Setelah 5 menit berjalan. Akhirnya, lengan Rayan tergores juga.
Bila Reychu tertawa bahagia melihatnya, maka Rayan meringis perih. Bagaimanapun dia bukan masokis seperti Reychu yang setiap terluka malah di hiasi kebahagiaan.
__ADS_1
Tapi, detik berikutnya Rayan tersenyum miring pada Reychu seraya menunjukkan sesuatu di tangannya.
Reychu yang melihatnya terbelalak tak percaya, segera berseru. "Kau curang!"
Hap!
Ternyata yang ada ditangan Rayan adalah pil penyembuhan dan baru saja ditelan oleh Rayan. Hanya butuh beberapa detik sampai luka di lengannya kembali sembuh seperti semula tanpa meninggalkan bekas apapun.
Disisi Shin Mo Lan, dia tersenyum bangga melihatnya.
Kini Rayan yang terkekeh melihat kejengkelan di wajah Reychu. Sebenarnya, Reychu tidak jengkel dengan apa yang diperbuat Rayan. Bukan karena sahabatnya itu meminum pil untuk menyembuhkan diri. Yang dia jengkel kan adalah kenapa Rayan tak membiarkannya melihat darah itu mengalir keluar dan membasahi lengan sahabatnya sampai akhir duel mereka.
Harapannya itu membuatnya lupa kalau Rayan itu normal. Dia tentu tidak akan mampu bertahan seperti dia dan Ryura kalau dibiarkan terluka tanpa penanganan segera.
Dengan rasa tak senang Reychu kembali menyerang Rayan dengan tujuan bisa melukai tubuh sahabatnya itu lebih dari sebelumnya. Ia tak bisa membiarkan Rayan tidak terluka dalam duel ini.
Rayan tentu tahu apa yang diinginkan oleh Reychu. Maka dari itu, dia pun meningkatkan kemampuannya agar tidak memberikan sahabatnya kesempatan untuk melukainya dan memuaskan keinginannya.
Tring!
Trak!
Bugh!
Shaaa!
Segala macam serangan dilayangkan keduanya.
Reychu sudah menerima beberapa sayatan dari pisau kipas milik Rayan tersebut.
Ada di lengan, leher, paha, dan samping perutnya.
Sementara Rayan juga menerima luka sebelumnya, sebelum pada akhirnya di sembuhkan menggunakan pil.
Perlu diketahui. Pil yang Rayan minum sama sekali tidak mengandung penambahan energi. Pil itu murni hanya untuk menyembuhkan lukanya. Setidaknya, itu adil. Karena bagaimanapun Rayan masih bisa kelelahan sebab kekuatannya yang terus terkuras. Sama halnya dengan Reychu, bedanya gadis itu tahan terhadap luka yang dia derita.
Setelah waktu berjalan hingga 30 menit lamanya. Keduanya tampak belum menyerah mengingat keduanya belum ada yang mau tumbang lebih dulu.
Di bagian luar lingkaran, Kaisar Agung Bai dan Shin Mo Lan sudah menipis kesabarannya. Mereka ingin segera mendatangi kekasih masing-masing dan menyeret mereka pulang.
Tapi, dengan sisa-sisa sedikit kesabaran itu. Keduanya memilih bertahan untuk sesaat lagi dan membiarkan kekasih mereka puas dengan permainannya.
Di saat duel masih berlanjut, di tempat Ryura. Gadis itu merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan seperti akan datang.
Segera diangkat pandangannya kearah dua sahabatnya.
Wajahnya boleh datar tak berekspresi. Tapi, dari dalam hatinya ia bergumam.
"Sudahkah waktunya...?!"
Thor up lagi.
berikan Thor dukungan ya dan jangn lupa baca juga novel Thor yang lain.π
dan
keduanya ongoing kok. cuma karena Thor mau tamatin yang ini dulu. jadi dua novel ini bakal slow up, yaaaa...
__ADS_1
mohon dukungannya semua.πππβΊοΈ
Thor senang kalo kalian senang baca karya Thor.