
Brak!
Brugh!
"Astaga!" Duan Xi terjengkit kaget kala jendela kamar penginapannya di buka paksa dan sesuatu ambruk tepat di bawahnya, membuat pria tua pendek yang sedang bersantai itu menoleh cepat dan seketika matanya terbelalak lebar, dengan langkah cepat ia menghampiri sesuatu yang ambruk itu.
"Reychu! Ada apa denganmu?!" sembur Duan Xi dengan pertanyaan yang pasti tak akan mendapatkan jawabannya lantaran Reychu sudah terengah-engah karena nafasnya yang kian pendek dan sulit.
"Tuan Guru! Tolong Chu-chu! Sesuatu terjadi padanya! Ia keracunan!" kata sosok makhluk yang membawa Reychu ke penginapan Duan Xi dengan cepat dan lantang tanpa sedikitpun menutupi ketakutannya. Duan Xi jelas terkejut mendengarnya.
"APA?! BAGAIMANA BISA?!" teriaknya yang dibalas gelengan kepala oleh lawan bicaranya.
Segera pria tua pendek itu memeriksa keadaan Reychu yang kian melemah, matanya bahkan tak bisa lagi terbuka hanya menyisakan kernyitan yang menunjukkan dengan jelas kalau ia tengah meringis menahan sakit.
Dia terhenyak saat menerima hasil pemeriksaannya. "Benar! Dia keracunan!" tandasnya dilanda cemas. "Bantu aku angkat dia ke peraduan!" Duan Xi dan makhluk itu bekerja sama menggotong tubuh Reychu yang lebih besar dari mereka walau bila dilihat tubuh Reychu tergolong tubuh gadis kecil yang ramping. Namun seperti sebelumnya, berat badan Reychu tak berarti apa-apa bagi makhluk yang telah membantunya tadi.
Dibaringkan Reychu di atas peraduan yang ada di kamar penginapan tersebut. Keringat dingin tak kunjung berhenti mengalir dari setiap pori-pori kulit tubuhnya, dadanya pun naik-turun terlihat jelas bila Reychu nyaris tak bisa bernafas dengan benar, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih, tak urung sesekali ia menggelinjang tak nyaman. Kondisinya tak ayal tampak seperti ikan yang menggelepar di daratan.
Reychu sekarat!
Duan Xi mulai kelimpungan. "Apa yang harus aku lakukan?! Aku bukan seorang alchemist..." tiba-tiba gerakan gelisah Duan Xi terhenti setelah ia mengucapkan kalimat yang ujung katanya menyadarkan dia pada kenyataan yang ada.
Menoleh ke arah makhluk bertelinga panjang di depannya. "Chi-chi, kita butuh Rayan! Segera lakukan pesan telepati kepada Ruobin. Minta dia membawa Rayan kesini segera! Katakan padanya Reychu sekarat!" perintah Duan Xi sigap yang langsung diangguki oleh makhluk bertelinga panjang yang ternyata bernama Chi-chi tersebut.
"Baik" setelahnya ia memejamkan matanya dan mulai memfokuskan pikirannya kepada tujuannya yaitu, Ruobin si siluman rubah perak yang menjadi teman Rayan.
Wush!
Ruobin dan Rayan akhirnya muncul secara tiba-tiba. Dengan masih dibantu Ruobin untuk bergerak, sebab dia tidak kuasa berjalan dengan keadaan bokong yang masih memar akibat hukuman sebelumnya.
Saat ini jantung Rayan di pompa dengan sangat cepat kala matanya menangkap seonggok tubuh manusia yang amat ia kenali sedang dalam keadaan yang tidak baik sama sekali. Tanpa sadar air mata keluar dari pelupuk matanya.
"Ya Tuhan... Reychu-kuuu..." serunya lirih seraya mengulurkan tangannya untuk menggapai tubuh yang tengah kritis itu walau masih beberapa langkah didepannya.
Mendengar kesedihan dalam suara Rayan membuat Ruobin ikut merasakan kesedihan itu. Selama beberapa waktu pertemanan mereka, ini adalah kali pertama Rayan si gadis manja dan centil itu menunjukkan sisi lemahnya. Dari yang terlihat pun sudah dapat menjelaskan kalau ikatan persahabatan antara kedua gadis itu bukan sembarang ikatan.
__ADS_1
"Kita sudah disini, Rayan... Kita akan menyelamatkan dia segera..." tutur Ruobin mencoba menenangkan dengan nada rendah seperti berbisik.
Setibanya di peraduan, masih dalam gendongan ala bridal style. Ruobin tidak bisa meletakkan Rayan-nya untuk duduk di pinggir peraduan tersebut, karena bokongnya yang masih sakit. Oleh sebab itu, Ruobin dengan senang hati berjongkok untuk memangkunya di pahanya yang di renggangkan agar posisi bokong Rayan tidak menyentuh pahanya. Rayan tidak mempermasalahkan bagaimana posisi ia duduk saat ini karena baginya kondisi Reychu sahabat tercintanya lah yang paling utama.
Menggapai tangan Reychu yang terasa dingin dan tampak tak hentinya mengepal, Rayan semakin ingin menangis dibuatnya. Pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya tanpa diminta. Di sentuh nadinya dengan jari. Lagi-lagi, rasanya Rayan ingin pingsan saja saat ini.
Kenapa? Karena Rayan jelas paham dengan apa yang ia rasakan dari hasil menyentuh nadi sahabatnya itu. Reychu-nya sedang dalam keadaan yang amat sangat buruk. Beberapa kali Rayan berusaha menstabilkan pernapasan nya yang ikut sesak saat melihat Reychu lemah seperti ini.
Rayan pun bisa menjamin dalam kondisi ini Reychu tak sedikitpun memikirkan siapa saja yang berada di sekitarnya. Gadis itu hanya sibuk mengatur nafasnya yang teramat sulit untuk di atur.
"Hiks... Hiks... Rey... Hiks... Huhu..." tangis Rayan pun tak bisa di tahan lagi. Ia tersedu-sedu.
"Tenanglah Rayan. Tenang... Kalau kau seperti ini Reychu tidak akan bisa membaik. Kau yang paling tahu apa yang mesti di lakukan. Tenangkan dirimu dan cobalah lakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Aku dan yang lainnya pasti akan membantu." terang Ruobin menyadarkan Rayan dari kesedihannya.
"Benar. Tidak seharusnya aku bersedih. Reychu membutuhkan diriku. Jadi, selagi masih ada kesempatan untuk kesembuhan nya. Aku harus lakukan sesuatu. Tapi, ini... Brengs*k! Baj*ngan mana yang berani berbuat seperti ini! Reychu bertahan lah." batin Rayan berseru bangkit semangat kembali. Ia yakin Reychu tidak akan berakhir dengan cara seperti ini.
Ia akan menyembuhkan Reychu secepatnya dan akan mendukungnya untuk segera memberi pelajaran bagi siapa saja yang berani mencoba mencelakainya. Reychu memang harus membalas apa yang sudah ia terima saat ini.
Setelah hati dan pikirannya kembali tenang. Dengan fokus yang ditingkatkan, Rayan kembali memeriksa keadaan Reychu. Mulai dari melihat bola matanya, rongga mulutnya, lidahnya, denyut nadinya, detak jantungnya, suhu tubuh nya. Jujur saja, ini sulit bagi Rayan. Sebab di jaman kuno ini tidak ada alat yang bisa digunakan dalam kondisi seperti ini, contohnya stetoskop dan sanak saudaranya.
Tapi, bersyukurlah Rayan dulu di kehidupan sebelumnya ia sudah pernah di banting oleh gurunya agar dapat menguasai cara pengobatan tradisional yang tanpa menggunakan bantuan alat-alat canggih tersebut.
"Racun penghenti detak jantung?!" pekiknya tak percaya. Begitu juga yang lainnya.
"APA?!" bersamaan.
"Kau yakin?" pertanyaan Ruobin dijawab anggukan yakin oleh Rayan.
"Ya ampun. Itu salah satu racun yang langka!" sambar Duan Xi.
Menatap ingin tahu dari Rayan kepada Duan Xi. "Guru tahu? Racun jenis apa itu?" tanyanya tak sabar, bagaimanapun Rayan butuh mengetahui apa jenis racun yang membuat Reychu seperti ini karena dengan begitu ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat penawarnya.
"Itu racun yang langka di antara yang langka. Dia racun yang hanya bisa di buat dari satu jenis tumbuhan berusia 10 tahun tidak kurang-tidak lebih. Tumbuhan tersebut hanya terdapat di satu daerah. Tapi, maaf aku tidak tahu dimana tepatnya daerah itu." jedanya masih dengan raut serius. "Sebenarnya tumbuhan itu adalah jenis tumbuhan yang mudah di jumpai dimana saja, asalkan masih tetap di daerah nya sendiri. Yang membuat ia langka adalah perhitungan pertumbuhannya. Si penanam harus amat jeli menghitung detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun usia tumbuhan tersebut bila ingin membuat racun itu. Meleset sedikit saja, maka akan gagal. Tumbuhan tersebut akan menjadi tanaman biasa." lanjutnya.
"Oh, aku tahu. Nama tumbuhan itu kalau tidak salah. Bunga waktu 10 tahun! Tanaman itu tidak memiliki daun. Dalam satu tangkai bisa menghasilkan banyak bunga berwarna merah muda. Tapi, bila sudah masuk usia 10 tahun -seperti namanya- maka warna nya akan menjadi lebih cantik dengan bagian tengah tepat pada putiknya akan tampak warna merah pekat layaknya darah. Biasanya akan menjadi gradasi warna diantara merah dan merah muda." sambung makhluk kecil bertelinga panjang yang diketahui bernama Chi-chi itu.
Rayan mengerutkan keningnya, berpikir. Ia bingung membayangkan bunga semacam apa itu. Seingatnya tidak ada bunga seperti itu di dunia modern. Hal itu membuat Rayan kembali mempertanyakan dimana ia dan kedua sahabatnya terdampar. Tapi, sepertinya itu bisa di pikirkan nanti. Sekarang yang utama adalah Reychu.
__ADS_1
Rayan tidak bisa melihat ini lebih lama lagi. Tapi, ia pun tak tahu harus apa. Perjalanan hidupnya baru 3 bulan lebih di dunia kuno ini. Meskipun selama 3 bulan dia telah menguras segala kemampuan dan tenaganya untuk mempelajari semua yang ingin ia pelajari, tapi tetap saja tak semudah itu. Teori tidaklah cukup, tapi untuk praktiknya langsung pun tidak bisa asal-asalan. Terlebih untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya yang jelas-jelas akan sangat tidak ia inginkan bila sesuatu terjadi padanya.
Saat sedang disibukkan dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kemunculan seseorang dari arah pintu kamar.
Greek...
Pintu berdaun dua itupun terbuka. Semua pasang mata mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan tanpa diduga secara bersamaan pula semuanya membelalakkan matanya tak percaya.
"Ryura!" pekik Rayan menyadarkan semuanya dari keterkejutan.
Bagaimana tidak terkejut kalau gadis satu itu tak bisa di rasakan kehadirannya, tiba-tiba sudah ada di depan matanya. Terlebih tidak ada yang memberitahukan kepadanya tentang yang terjadi saat ini.
Duan Xi yang melihatnya saja selain terkejut, ia juga kagum dengan kemampuan murid kesayangannya yang satu ini. Ryura benar-benar layaknya hantu.
"Bagaimana dia bisa disini? Ada yang memberitahukan nya?" tanya Duan Xi penasaran.
Makhluk kecil bertelinga panjang itu menggeleng tak tahu. Ia hanya memandangi si wajah datar itu. Jujur, ia sedikit takut pada Ryura.
"Ryura, kau ada disini?!" celetuk Rayan mulai di hinggapi rasa takut. Tapi, yang dipanggil hanya berjalan menuju peraduan tempat Reychu dibaringkan dan mengabaikannya. Rayan tak tersinggung, sudah biasa baginya.
Sesampainya di samping peraduan, bisa dilihat olehnya bagaimana mirisnya keadaan sahabatnya. Ryura memandang dengan datar, tak ada yang bisa menebak apa yang tengah ia pikirkan sebab ia tak menunjukkan ekspresi apapun, baik sedih maupun iba. Tubuh yang di tempati Reychu terlihat mengenaskan dalam keadaannya yang menggeliat dan menggelepar seperti ikan yang dibiarkan tergeletak di daratan. Ryura tahu sahabatnya itu tengah kesulitan bernafas.
"Psst... Ruobin. Kau memanggilnya?" tanya Rayan berbisik ke telinga Ruobin tanpa mengalihkan matanya dari Ryura.
Ruobin jelas saja kaget mendengar tuduhan itu. "Tidak! Aku bahkan tak ingat dia!" jawabnya spontan sedikit tak terima. "Memangnya kenapa kalau dia ada disini? Kau tidak bermaksud menyembunyikan ini darinya 'kan?" lanjutnya dengan pertanyaan.
Kini di tatapnya serius tepat di mata perak Ruobin yang sedikit terhalang topengnya.
"Kau tidak tahu dia, Ruobin! Tapi, aku tahu... Dia akan melakukan sesuatu pada Reychu dan aku tidak akan bisa mencegahnya! Asal kau tahu saja, dalam keadaan seperti ini. Dia jauh lebih mengerikan dari yang kau lihat!" terang Rayan mengungkapkan sebuah kebenaran tentang Ryura.
Usai berkata demikian, Rayan juga Ruobin menoleh kembali untuk melihat Ryura yang malah diam di samping peraduan tanpa berbuat apa-apa. Gadis tak berekspresi itu hanya menyaksikan bagaimana menyedihkannya Reychu saat ini. Hal itu membuat Ruobin bertanya-tanya, apakah Ryura memiliki hati? Semenakutkan apa dia? Apakah dia kan mempercepat kematian sahabatnya? Atau bagaimana?!
Semua itu membuat Ruobin bingung sekaligus penasaran.
Tanpa sadar Rayan meneguk air liurnya sendiri dengan susah payah, seraya menatap horor Ryura yang sehingga tak bisa di tebak apa yang saat ini tengah dilakukannya.
Kejadian ini mau tidak mau harus mengingatkannya tentang peristiwa masa lalu yang untuk pertama kalinya ia dan Reychu saksikan tepat di depan matanya, hal apa yang di lakukan Ryura dalam mengatasi masalah yang melibatkan kedua sahabatnya. Rayan bahkan masih bisa mengingat kala jantungnya seperti akan berhenti berdetak saat menyaksikan kengerian Ryura yang entah berada di level berapa.
__ADS_1
"Habislah sudah!" gumamnya dalam hati dengan cemas.