
Setelah ditinggal sendirian oleh Ruobin, Rayan yang lelah memilih lekas tidur. Tapi, ditengah-tengah tidurnya Rayan mulai menggeliat gelisah di atas ranjang. Perlahan itu mulai mengganggu tidurnya, hingga dengan berat hati Rayan memilih bangun untuk memastikan apa yang membuatnya gelisah padahal ranjangnya cukup bagus menurutnya.
Hening sejenak sambil mengembalikan kesadarannya yang masih tertinggal dalam mimpi, barulah Rayan menyadari kalau ia gelisah karena belum mandi.
"Ukh... Hiii~h... Menjijikkan." umpatnya lalu mulai mengendus-endus tubuhnya sampai ia mengernyit tak tahan dengan bau badannya sendiri. "Ini sungguh aku?! Kenapa begitu bau?! Menjijikkan....?! Tidak benar! Aku harus membersihkan diri sekarang juga!" katanya dengan rasa tak terima atas kondisi tubuhnya yang ia anggap jorok, kemudian bergegas bangkit dan pergi ke kamar Ruobin untuk mengajak siluman rubah perak itu ikut dengannya.
Drap...
Drap...
Drap...
Langkahnya cepat dan kuat membuat lantai kayu penginapan itu berbunyi karena hentakan.
Setibanya di depan kamar Ruobin, Rayan segera mengetuk pintu itu tanpa berpikir kalau Ruobin tengah istirahat atau tidak. Yang Rayan tahu, dia membutuhkan Ruobin saat ini. Juga seperti yang Ruobin katakan sebelumnya, kalau dia bisa memanggilnya bila membutuhkannya.
Inilah saatnya.
"Bin-bin...! Bin-bin...! Kau sudah tidur! Kalau belum keluarlah! Temani aku!" rengek Rayan tak sabar.
Tidak perlu berlama-lama dalam memanggil siluman rubah perak itu. Asal yang memanggilnya adalah Rayan, maka...
Krieet...
"Ada apa Rayan?" suara serak Ruobin yang khas saat bangun tidur menyapa gendang telinga Rayan dengan seksi, belum lagi penampilan rubah itu saat ini.
Ruobin berdiri didepan Rayan dengan tangan sebelah memegang daun pintu yang baru saja di buka dan tangan satunya lagi sedang sibuk menggaruk lehernya membuat Ruobin sedikit mendongak. Belum lagi pakaian yang dikenakan Ruobin tambak berantakan, bagian kerahnya terbuka lebar hingga Rayan bisa melihat otot dadanya yang menggiurkan setiap wanita. Tak heran rubah selalu menjadi penggoda yang ahli.
Rayan sebagai pengagum pria tampan jelas secara alami tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan indah didepan matanya saat ini sedikit lebih lama.
"Astaga, Bin-bin... Kau sangat seksi!" genit Rayan langsung tanpa malu, tak lupa ia mengedipkan sebelah matanya dengan niat menggoda yang malah gagal karena parasnya terlalu imut untuk bersikap seksi.
Ruobin yang baru saja terjaga tersentak mendengarnya, sampai-sampai wajahnya memerah segera setelahnya.
"Raya~n..." rendah dan panjang nada suaranya saat menyebut nama Rayan malah membuat Rayan semakin gemas dengan ketampanan Ruobin dalam mode peringatan ini.
"Haish... Kau ini... Uhh..." gemasnya mengabaikan tatapan Ruobin yang penuh peringatan agar tidak menggodanya, walau itu bukan benar-benar peringatan yang sebenarnya. "Sudah. Aku sedang tidak ada waktu menggoda mu. Sekarang, yang aku mau adalah mandi. Kau antar aku ke pemandian air panas yang katanya ada tak jauh dari penginapan ini. Aku benar-benar gerah!" sembur Rayan mengalihkan topik.
Bukan untuk menghindari malu atau takut karena berhadapan dengan siluman rubah perak yang terkenal sangat ahli dalam menggoda dan bersenang-senang. Melainkan, karena Rayan tak bisa menahan dirinya dari rasa lengket dan apek yang keluar membaui tubuhnya.
"Benar juga. Aku juga merasa butuh penyegaran." ujar Ruobin sependapat. "Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap dulu." setelah mengatakan itu, Ruobin kembali masuk ke kamarnya tak lupa untuk menutup pintu. Bagaimanapun Rayan adalah perempuan. Seliar-liarnya Ruobin, dia tidak akan mengambil keuntungan dari orang terkasihnya.
Tanpa protes, Rayan menunggu dengan setia di depan pintu kamar Ruobin layaknya penjaga. Seandainya, ia sempat terpikir hal demikian sudah pasti Rayan akan mencak-mencak tak terima dengan pemikirannya sendiri.
Untungnya, semua aman-aman saja.
Krieet...
Ceklek...
Suara pintu terbuka dan tertutup tanpa jeda langsung terdengar. Ruobin sudah muncul disaat bersamaan. Mereka pun segera melangkah pergi sebelum malam datang.
Rayan tak bisa berhenti berdecak kagum melihat apa yang terpampang didepan matanya. Bahkan bayang-bayang setiap keindahan itu memasuki lensa matanya dengan sempurna. Sebagai orang yang cinta keindahan, Rayan bisa termasuk kategori yang terobsesi dengan keindahan, baik itu keindahan makhluk hidup ataupun benda mati. Selama itu memiliki unsur keindahan, tak ada yang terlewatkan oleh Rayan meskipun urutan pertama tetaplah pria tampan yang paling ia sukai.
Kini, didepan matanya ada dekorasi berwarna-warni yang diperuntukkan untuk festival nanti. Indah sekali.
"Ini benar-benar luar biasa!" seru Rayan luar biasa senang. Kesenangannya menampilkan kesenangan kekanak-kanakan yang menggemaskan sampai orang yang melihatnya akan lupa soal umur Rayan yang bukan anak kecil lagi, melainkan gadis remaja.
Ruobin hanya tersenyum sambil bergumam dengan sumringah dalam hati. "Kau akan terkejut kalau sampai mengunjungi wilayah tempat klan Rubah Perak ku tinggal. Hehe..."
Keduanya terus berjalan tanpa berhenti walau untuk sekedar melihat-lihat. Rayan masih dengan prioritas utamanya, yaitu mandi.
Sampai sebuah papan nama di atas pintu masuk terlihat. Di sana jelas tertulis 'Pemandian Air Panas Chu'.
Berjalan sedikit lagi, keduanya pun sampai juga pada akhirnya.
Di bagian depan, Rayan dan Ruobin langsung melakukan pendaftaran dan pembayaran. Saat sedang menunggu bagian Ruobin, tanpa sengaja Rayan malah melihat seseorang yang tampak familiar sedang berbincang dengan salah seorang gadis muda berpakaian pelayan yang sama persis dengan pelayan pekerja di pemandian air panas ini, tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Ia mendengar apa yang mereka perbincangkan, tapi tak terlalu peduli.
Sejenak ia hening sambil terus memandangi sosok itu tanpa mengalihkannya. Sampai sebuah gambar disusul nama melintas di benaknya.
"Itu... Yan Yue!" gumamnya yakin pada akhirnya.
Punggungnya segera ditegakkan dengan mata yang segera dipertajam untuk kembali memastikan kalau apa yang dia lihat adalah benar.
"Tidak salah lagi! Itu benar Yan Yue!" pekiknya tak percaya dalam hati. "Ibu pemilik tubuh ada disini!" lanjutnya lagi.
Katakanlah ia tak sopan lantaran menyebutkan namanya langsung. Akan tetapi, ia tak merasa wanita itu adalah ibunya selain ibu pemilik tubuh yang ia tempati. Oleh sebab itu, ia tak memanggilnya Ibu.
Saat ingin menghampiri wanita paruh baya yang masih tetap cantik itu, suara Ruobin menggema hingga menghentikan langkahnya.
"Ayo. Semua sudah selesai. Kita tinggal menikmatinya saja. Tapi, berhubung tempatnya terpisah antara laki-laki dan perempuan kita akan bertemu lagi disini sebelum pulang." saran Ruobin.
Rayan mengangguk setuju. "Baik. Karena, matahari hampir tenggelam dan kita juga tak punya banyak waktu. Mari bertemu lagi dalam 1 jam."
"Bukan masalah. Kalau begitu aku duluan. Aku juga merasa gerah." usai mengatakan itu Ruobin pun berbalik dan pergi memasuki tempat pemandian air panas bagian laki-laki.
"Pergilah. Sampai bertemu 1 jam lagi." sahut Rayan sebelum Ruobin pergi.
Dia pun sama tak tahannya. Jadi, melirik sekilas tempat dimana dia melihat Yan Yue dan ternyata orangnya sudah tidak terlihat lagi. Ia memilih lekas menuju pemandian air panas bagian perempuan dan mengabaikan sejenak hal beberapa saat lalu.
Berendam dalam air hangat sangatlah menyegarkan. Itu juga yang dirasakan oleh Rayan saat dirinya berendam dan menikmati kenyamanan itu. Rasa lelahnya seketika di angkat, ia merasa seperti fresh kembali.
Sambil memejamkan matanya menikmati, suara yang beberapa saat lalu ia dengar kembali memasuki gendang telinganya dengan jelas.
Spontan ia membuka kedua matanya lebar-lebar lantas mencari pemilik suara tersebut. Beberapa kali bergerak mengedarkan pandangan, Rayan kembali menangkap sosok itu yang kini tengah mandi bersama seorang anak kecil di tangannya. Wanita itu seperti sedang memandikan anak tersebut.
Sampai ia mendengar kalimat riang keluar dari mulut wanita bernama Yan Yue tersebut.
"Pintar anak ibu. Bagaimana, hangat bukan?" tanyanya sumringah pada sang anak yang ditanggapi dengan tawa lucunya sambil mengepakkan tangannya di permukaan air. Mereka jelas mandi sambil bermain.
Rayan dari sisi lain hanya tersenyum melihatnya sambil membatin. "Yu Rayan, kau juga lihat itu... Dia Ibu mu... Ibu yang tak pernah kau lihat selama hidupmu. Sepertinya, disini ia telah menemukan kebahagiaannya. Haruskah aku menyapanya untuk mu?"
Ternyata, Yan Yue merasakan tatapan mata mengarah padanya yang membuatnya bergerak mencarinya. Sampai kedua pasang mata mereka beradu saling bertemu.
Deg!
Dia mungkin sudah bahagia sekarang. Tapi, bayangan buruk masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan. Meski ia berulang kali mencoba mengenyahkannya. Rayan, melihat perubahan itu. Ia terhenyak tapi tidak terkejut saat mendapati dirinya ketahuan memandangi Ibunda pemilik tubuh.
Tapi, masih bisa secara natural mengangguk kecil menyapa Yan Yue dengan senyum manis yang serupa dengannya.
"Tidak mungkin!" bantah Yan Yue dalam hatinya. Itu terlihat di wajahnya dan Rayan jelas dengan itu. Tapi, tak dipedulikannya. Karena kini ia bukannya Yu Rayan lagi.
Melihat keterdiaman Yan Yue, Rayan pun berinisiatif mendekat walau sebelumnya memilih melihat dari jauh saja.
"Hai, Bibi..." sapaan itu menyadarkan Yan Yue dari keterkejutannya tadi.
Mengerjapkan matanya beberapa kali. "Hah... I..iya... Hai..." kikuk Yan Yue hingga ia nyaris gagal mengendalikan dirinya sendiri.
Tak ingin lawan bicaranya menjadi lebih canggung, Rayan pun beraksi. "Hahaha... Tenang, Bibi. Apa kedatangan ku mengejutkan mu? Aku tidak bermaksud begitu, sungguh..." kata Rayan dengan nada kekanak-kanakannya yang manja.
"Oh, ya... Hehe..." masih tersisa kekakuannya.
"Ini putrimu?" tanya Rayan mengalihkan perhatian.
"Oh, ya. Dia putriku."
"Cantik sekali. Apa dia lebih mirip ayahnya?" lanjut Rayan tak pernah ragu. Tapi, jangan lupakan mode polosnya kala bertingkah imut seperti itu.
"Emm. Apa begitu terlihat?" sepertinya Yan Yue sudah mulai tenang meski masih merasakan debaran jantungnya yang cepat. Perasaan familiar memenuhi hatinya.
Mereka berdua ditambah gadis kecil ditangan Yan Yue. Dari jauh kedua perempuan berbeda generasi itu tampak memiliki kesamaan yang tumpang tindih. Satunya versi muda dan satunya lagi versi dewasa.
"Oh ya, Bibi. Boleh aku tahu siapa namamu? Karena sejak tadi aku melihat mu kau tampak mirip denganku. Aku jadi penasaran." ungkapnya tenang dengan senyum manisnya terukir indah.
__ADS_1
Rayan bertanya hanya untuk memancing kebenaran yang telah lama terpendam.
Sambil tersenyum tipis Yan Yue menjawab. "Nama ku, Yan Yue. Bagaimana dengan mu..." tanya Yan Yue balik. Di lubuk hatinya ia pun juga merasa penasaran dengan gadis didepannya yang serasa memiliki ikatan dengannya.
"Apakah dia putriku dulu...?!" tanya Yan Yue dalam hati.
"Namaku, Rayan... Rayan Mo, Bibi..."
"'Aah... Rayan Mo... Iya... Nama yang bagus." puji Yan Yue mengalihkan sedikit rasa kecewanya saat mengetahui kalau Rayan tidak menggunakan marga 'Yu' pada namanya. Mungkin, bukan dia, pikirnya.
"Terima kasih..." Rayan bisa melihat raut kecewa itu dan hanya membalasnya dengan senyuman yang sama.
Melihat lebih seksama lagi. Rayan mengetahui sebuah fakta. Nyatanya, wanita paruh baya didepannya ini tak benar-benar meninggalkan anaknya -Yu Rayan- pada keluarga Yu tanpa pertimbangan.
Rayan tahu, bahwa ada kalanya seseorang harus mengambil keputusan yang sulit. Tapi, sejauh keputusan itu tidak buruk sepertinya masih baik-baik saja.
Sebagai pelayan yang selalu di anggap rendah, jelas saja kalau kejadian memalukan yang ternyata sukses membuahkan hasil keturunan itu akan berdampak buruk pada ibu dan anaknya. Meski berat hati melakukannya, sebagai seorang ibu -Yan Yue- tetap mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Akan tetapi, kondisi pribadi yang tidak memungkinkan untuk mempertahankan anaknya pun menjadi patokan ia harus mengikhlaskan putrinya kembali kepada sang ayah biologis bayinya yang sangat dibencinya.
Melepaskan itu berat, tapi apa boleh buat. Dia tak berdaya kala itu. Bahkan sampai melanglang buana untuk menemukan pekerjaan agar dapat bertahan hidup, sebelum akhirnya ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya.
Perjalanan asmaranya juga tidak mudah, tapi tidak juga sulit. Karena, kenyataannya dulu Yan Yue yang lebih sering menghindar tiap kali pria itu -suaminya sekarang- begitu gencar mendekatinya.
Sebagai wanita yang hidup di jaman penuh pantangan, membuat Yan Yue minder untuk mau menerima cinta seorang pria saat dirinya sendiri merasa kotor dan tak pantas.
Berbulan-bulan dihabiskan untuk menghindar, akhirnya Yan Yue lelah dan memilih untuk mengusir pria itu dengan kebenaran yang saat itu diyakini oleh Yan Yue bahwa pria itu akan langsung pergi meninggalkannya begitu ia mengetahuinya.
Tapi, hal yang tak terduga adalah...
Meski pada awalnya pria itu terkejut, selanjutnya ia kembali tersadar dan segera memberikan Yan Yue senyum hangat nan lembutnya yang berbeda dari sebelumnya, yang ini jauh lebih lembut dan menyentuh hati.
Jantung Yan Yue berdegup kencang kala itu dengan perasaan yang campur aduk. Sampai sepenggal kalimat pria itu membuatnya menangis kencang meluapkan segala emosi yang terpendam selama ini.
"Itu adalah masa lalu mu. Masa lalu yang akan selalu kau bawa mau atau tidak. Tapi, masa lalu bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk aku melunturkan niat ku memiliki mu. Terlebih jika masa lalu itu membantumu menjadi lebih baik. Aku mencintaimu... Tulus... Dengan dirimu yang sekarang, bukan dengan kau yang dulu."
Setelah itu, tak perlu menunggu lebih lama lagi. Yan Yue segera menyandang status istri dari seorang pria yatim piatu -sama sepertinya- kaya dengan banyak usaha, walau tidak bergelar bangsawan. Kini mereka di karuniai 6 anak dengan 3 laki-laki dan 3 perempuan. Katanya, itu karena sang suami menginginkan banyak anak dari istri tercintanya.
Yan Yue menarik nafas dalam-dalam usai mengingat perjalanan hidupnya untuk bisa sampai ke titik ini.
"Kalau begitu, aku pamit Bibi..." seru Rayan mengagetkannya. Dari tadi ia hanya menghabiskan waktu bermain dengan adik seibunya.
"Mau langsung pulang?" tanpa sadar nada suaranya terdengar ingin mencegah Rayan pergi.
Tak peduli itu adalah perasaan yang memang memiliki ikatan atau hanya sekedar merasa wajahnya dan Rayan mirip sehingga berpikir bahwa gadis itu adalah putrinya dulu. Ia tetap ingin sedikit lebih lama lagi bersama Rayan.
Rayan tersenyum mengetahui sesuatu pada nada dan tatapan Yan Yue.
"Em. Ini sudah 1 jam. Temanku pasti sudah menunggu. Lagipula, aku tak bisa berlama-lama di sini, Bibi... Aku dan teman-teman ku yang lain mau berangkat menuju Kerajaan Langit untuk mengikuti festival. Jadi, kami tidak bisa membuang waktu terlalu lama." jelas Rayan.
"Jadi, begitu. Baiklah, aku tidak akan menahan mu. Kau harus berhati-hati. Jangan memaksakan diri kalau kau tidak sanggup." tanpa sadar Yan Yue sudah mulai berbicara layaknya ibu pada anaknya. Rayan tak menegurnya dan memilih mengabaikannya.
Ini juga memberinya sedikit pengalaman. Dimana beginilah rasanya di khawatirkan oleh seorang ibu. Begitu hangat terasa.
"Tentu. Terimakasih atas nasihatnya, Bibi. Aku pergi dulu. Suatu hari nanti aku pasti akan berkunjung lagi. Terutama untuk melihat adik kecil ini. Dia sangat menggemaskan. Aku jadi ingin memiliki anak. Hahaha." guraunya di akhir kalimat sambil terkekeh geli kemudian.
Mendengar itu wanita paruh baya tersebut pun ikut tertawa renyah.
Setelahnya, mereka akhirnya berpisah meninggalkan Yan Yue yang sejenak termenung menyelami perasaan hangat yang menjalar seperti perasaan yang sama dengan yang ia rasakan bersama keenam anaknya.
Ditengah-tengah lamunan seorang pelayan muda sebelumnya kembali mendatanginya dan berkata.
"Nyonya Chu. Tuan sudah menjemput anda. Beliau ada di depan sekarang."
"Haish. Pria itu." gumamnya tak habis-habis bila itu berkaitan dengan pria yang menjadi suaminya selama lebih dari 10 tahun itu.
Dibilang terlalu posesif, tidak. Dibilang terlalu mengekang juga tidak. Kalau di tegur, pria beranak enam itu akan selalu menjawab 'Itu karena aku mencintaimu, apa yang salah dengan itu?'. Tapi, itu juga yang membuatnya membalas cinta suaminya.
gk berasa panjang juga. hahaha. semoga puas!
__ADS_1
πππ