3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
JAMUAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Makan malam yang direncanakan telah tiba. Ruangan yang memang di buat khusus untuk acara perjamuan menjadi lokasi yang tepat untuk dipakai. Terlebih, tidak hanya penghuni Harem saja yang hadir. Para dewan kerajaan juga, mulai dari menteri dan jajarannya, semua hadir.


Ruangan itu seketika penuh. Sembari menunggu anggota Keluarga Kerajaan datang, yang lainnya memilih menggunakan waktu untuk berbincang. Salah satu topik perbincangannya juga termasuk kabar simpang-siur mengenai Permaisuri mereka yang memberikan hadiah kepada Kaisar berupa seorang gadis.


"Benarkah?"


"Entahlah. Tapi, Yang Mulia tak kunjung memberikan penjelasan yang sebenarnya. Membuat semua ini menjadi rumit."


"Apa yang kau pikirkan. Apanya yang rumit?! Tidakkah wajar kalau Kaisar menginginkan Selir lagi. Apalagi, sebelumnya beliau telah kehilangan dua Selir sekaligus. Tempat mereka kini telah kosong. Mungkin Kaisar berniat mengisinya."


"Tidakkah itu kejam. Belum lama ini kedua selirnya tewas dibunuh. Sekarang Yang Mulia sudah membuat acara perjamuan seperti ini. Apa beliau tidak memikirkan perasaan Keluarga selirnya."


"Apa yang kau katakan?! Tentu saja sudah. Apa kau sudah dengar tenang kasus kedua Selir itu yang para pihak menyidik sudah menetapkan kalau kasus ini tidak menghasilkan bukti apapun."


"Kasusnya tutup begitu saja?"


"Bisa dibilang begitu? Pembunuhnya benar-benar sangat ahli."


"Jadi, bagaimana kabarnya Selir Agung kalau Yang Mulia mengangkat selir lain lagi."


"Biarkan saja. Bukankah selama ini dia sudah mendapatkan kasih sayang Kaisar untuk waktu yang lama. Sampai Permaisuri tak ada artinya dimata Yang Mulia. Jadi, kalau Permaisuri berniat memberikannya hadiah seorang gadis, Selir Agung harus bisa menerimanya."


"Ini terkesan seperti Yang Mulia Permaisuri Ahn hendak membalaskan dendam atas sakit hatinya."


"Itu wajar. Wanita mana yang mau di perlakukan buruk begitu."


"Eh. Tidak. Permaisuri sendiri yang memang memiliki keburukan dihatinya. Karena itu, dia tidak sedikitpun mendapatkan kasih sayang Kaisar."


"Apa kau berpikir kalau Selir Agung cukup baik?"


"Tentu!"


"Sekarang ini sulit untuk berpendapat demikian. Terkadang wajah yang tampak baik tak lebih dari sekadar ulat didalam buah segar. Kau tak bisa mengatakan itu dengan yakin sebelum kau benar-benar mengetahuinya. Telinga bisa dibuat salah dari apa yang didengarnya."


"Eum. Ada benarnya juga."


Gosip ini menjadi trending di lingkungan istana. Apalagi, ketika belum mendengar konfirmasi dari sang pemimpin negeri, membuat semua telinga yang mendengarnya tanpa ragu mengiyakan.


Mereka berani bergosip karena ini sudah menjadi semacam kebiasaan.


Dan ini juga yang menjadikan Selir Agung Gong Dahye menjadi layaknya cacing kepanasan. Dia tak bisa tenang barang sedikitpun. Pikirannya dipenuhi dengan gosip tersebut. Ingin menolak itu sebagai kebenaran, tapi tak ada yang bertindak dari orang-orang yang bersangkutan. Hal ini membuatnya berpikir itu adalah benar adanya.


"Masih belum terselesaikan?" dengan marah wanita hamil itu mendelik ke seorang pelayan kepercayaannya yang saat ini sedang menunduk di belakangnya.


"Maaf Yang Mulia Selir Agung. Berita ini sulit untuk di redam. Sepertinya, akan berlangsung lama seandainya Kaisar tidak kunjung memberikan penjelasan." jawab pelayannya dengan sedikit rasa takut, tubuhnya sampai dibuat panas dingin. Padahal bukan kali pertama mendapatkan kesinisan dan kekejaman majikannya, tapi tetap saja masih merasakan takut yang dalam.


BRAK!


"BRENGS*K! DASAR JAL*NG!" dia teriak dan mengamuk seraya menggebrak meja riasnya. "Beraninya dia bertindak sejauh ini. Apa masih belum cukup dengan apa yang sudah aku berikan selama ini untuk membuatnya tahu kalau dia tak lebih dari sekadar benalu di istana ini?!" gerutunya menggeram tak tertahankan. Ia marah, namun tak bisa bebas mengungkapkan amarahnya. Pasalnya, Li Hanzue tidak mengetahui sosok aslinya. Kalau dia kedapatan berbuat buruk pada Ahn Reychu, maka habislah dia. Semua yang dia perjuangkan akan berakhir saat itu juga dan mungkin dia beserta keluarganya akan dilenyapkan juga.


Jelas ia tak akan membiarkan itu terjadi.


Sedang Kaisar Li sendiri, yang saat ini sedang bersiap keluar untuk menuju acara perjamuan makan malam sangat acuh tak acuh pada gosip yang beredar. Dia seolah merasa tak penting untuk di bahas. Meskipun gosip itu menjadi benar, tak ada yang bisa berbuat apa-apa padanya. Dia, Kaisar-nya disini. Siapa yang berpikir untuk bisa melawannya. Namun, ia pikir membiarkan gosip itu bukan masalah setidaknya Permaisuri Ahn tahu kebenarannya. Hingga itu membuatnya tanpa sadar mengabaikan perasaan Selir Agung Gong Dahye yang selama ini selalu menjadi kesayangannya.

__ADS_1


"Orang-orang ini senang sekali bergosip." ujar Kaisar Li datar sambil terus mengayunkan langkahnya pergi.


"Yang Mulia, tidakkah anda ingin mengkonfirmasi kebenarannya?" tanya Kasim dengan hati-hati.


"Tidak penting. Semua itu akan menghilang dengan sendirinya." jedanya acuh. "Selama aku mengetahui jelas duduk perkaranya. Tidak ada yang perlu di jelaskan." finalnya tak bisa diganggu gugat.


Perkataannya itu membuat Kasim bungkam. Ia jadi tak punya alasan untuk membahasnya lagi. Meski ia ingin sekali memberitahukan kalau gosip ini mungkin akan memberi beban pada Selir Agung Gong Dahye, mengingat selama ini wanita itu yang di cintai junjungannya.



"KELUARGA KERAJAAN TELAH TIBA!"


Penjaga yang bertugas mengumumkan kedatangan sang tuan rumah. Dengan begitu, pintu pun dibuka. Sosok Kaisar Li Hanzue adalah yang pertama kali terlihat. Pria itu tampak berjalan dengan anggun namun tegas, penuh wibawa akan kepribadian seorang pemimpin. Wajahnya yang datar menyiratkan ketegasan yang gagah tak tertandingi.


Selangkah dibelakangnya, Permaisuri Ahn Reychu menyusul. Sikapnya kali ini amat terjaga, benar-benar menyerupai si pemilik tubuh yang sebenarnya. Meski tak ada senyum di bibirnya, wajahnya menyiratkan kedamaian dan persaudaraan. Auranya jelas nyata memancarkan keanggunan yang memikat seolah-olah mampu menarik siapapun untuk dekat dengannya.


Dibelakang Permaisuri, sosok yang selama ini mengambil peran sebagai wanita no 1 di sisi Kaisar terlihat berjalan bersama pelayannya dengan tangan yang menggantung memegang tangan pelayannya. Sebenarnya, tangan itu seharusnya di pegang oleh Kaisar dan menuntunnya ke tempat duduknya. Tapi sayangnya, Kaisar berujar tegas kalau keadilan harus di jaga. Tak peduli siapapun wanita di Harem yang mengandung, mereka harus bisa berdiri sendiri selama mereka mampu, begitulah kira-kira yang Kaisar Li katakan.


Aneh menurutnya. Pasalnya, hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Baru-baru inilah, pria itu bersikap demikian.


Hal ini membuat Selir Agung Gong Dahye berusaha mati-matian menahan kemarahannya dan kecemburuannya akan gadis didepannya sekarang ini. Dia tak ingin kehilangan muka di acara perjamuan malam ini, acara yang dia sendiri masih belum tahu untuk apa di adakan. Tak ingin menjadi bodoh karena emosi yang labil sebab kehamilannya, wanita itu pun memilih menata sikapnya agar tak kalah anggun dan mempesona seperti Permaisuri yang entah sejak kapan malah semakin bersinar saja.


Didalam hatinya, ia tak berhenti membenci apapun yang ada didalam diri Ahn Reychu.


Lanjut dibelakangnya lagi menyusul Selir lainnya dan mereka pun memasuki aula perjamuan.



Di tempat yang agak tinggi, Kaisar duduk di singgasananya dengan Kursi Permaisuri Ahn disamping kanannya, mereka duduk menghadap pintu masuk. Di sisi kirinya, tepatnya di barisan lain menghadap kesamping di isi oleh para selir kerajaan. Sisi kanan berhadapan dengan para selir, ditempatkan oleh para dewan kerajaan -menteri dan jajarannya- termasuk tamu Permaisuri, Rayan.


"SALAM HORMAT KAMI KEPADA YANG MULIA KAISAR LI HANZUE DAN PERMAISURI AHN REYCHU... SEMOGA SELALU DIBERKATI!"


Sapa seluruh hadirin di aula perjamuan malam ini. Setelah dipersilakan duduk, barulah yang lainnya bergerak untuk duduk.


Pria tampan dan gagah itu duduk dengan penuh wibawa dan aura kepemimpinan yang kuat, mulai berseru dengan suara tegas dan mengesankan. "Malam ini Kaisar ini mengumpulkan kalian semua untuk mengumumkan sesuatu." jedanya sambil melirik sekilas Selir Agung Gong Dahye yang duduk disisi kirinya. "Sehubungan dengan kembalinya Permaisuri Ahn. Saya ingin mengadakan upacara ritual doa untuk kehamilan Selir Agung atas restu Permaisuri, esok hari. Mengingat ini sudah hampir mendekati hari kelahirannya yang akan datang bulan depan. Saya ingin mengajak semuanya untuk sama-sama memberikan doanya untuk meminta berkat agar penerus kerajaan ini diberikan kelancaran dalam proses kelahirannya." sejenak ia diam seraya mengedarkan pandangannya. Dapat ia lihat banyak yang terhenyak atas kabar yang ia sampaikan.


"Apakah ada yang keberatan? Saya harap kalian semua mau menjalankannya dengan baik." akhirinya.


Tak ada yang berniat protes, akhirnya mereka pun menunduk menerima titah tersebut.


"DIMENGERTI YANG MULIA!"


Mengangguk puas, lalu diangkat tangannya kedepan mengisyaratkan izin. "Kalau begitu mari kita mulai makan malamnya. Nikmati semua hidangannya. Malam ini kita adalah Keluarga." lugasnya tegas, saat mengatakan itu wajah Kaisar tampak lebih enak dipandang dari pada hari-hari sebelumnya yang datar dan seolah tak berhati. Tapi, malam ini pria itu seperti tak menutupi kebahagiannya dalam menantikan buah hatinya lahir kedunia.


Sejak awal, Reychu tak memiliki minat sedikitpun. Dia diam seperti tak bernyawa, kemalasan datang begitu ia duduk. Hidangan tersaji pun tak membuat moodnya membaik. Ia bosan dengan suasana yang hambar ini. Tak ada yang menarik sama sekali. Alhasil, dia pun mendongak untuk melihat kearah Rayan yang tampak santai menikmati jamuan makannya. Hingga tanpa sadar Reychu mendengus kecil. Meski begitu, ternyata Kaisar Li sempat mendengarnya.


"Ada apa Permaisuri? Kau tak terlihat seperti menikmati makan malam kali ini. Apakah makanannya tidak enak?" tanya Kaisar Li dengan nada lembutnya, dia melihat dengan dalam raut wajah istrinya yang terlihat ditekuk.


Yang dilakukannya itu, membuat seluruh hadirin jamuan makan malam tercengang tak percaya sampai aktivitas mereka terhenti sejenak. Untuk pertama kalinya, Kaisar Li bersikap lembut pada Permaisurinya. Tak hanya para hadirin yang lain, para selir pun turut tercengang ditambah kesal seketika. Terutama Selir Agung Gong Dahye yang wajahnya tak bisa dikendalikan, memerah marah bercampur cemburu. Tangannya terkepal erat di atas pahanya.


Untungnya, Kaisar Li tak melihatnya.


Mata Reychu menoleh cepat kearah Kaisar Li saat pria itu melontarkan kata-katanya. Sejenak ia mengerjap aneh sambil melihat Kaisar Li dengan seksama, seolah ingin memastikan kalau ia tak salah dengar sebelum akhirnya ekor matanya menangkap gelagat jelek Selir Agung, musuhnya.

__ADS_1


Hatinya tertawa bahagia seketika. Secepat kilat kebosanannya hilang.


Tapi, berhubung dia bukan tipikal gadis yang suka bermain muka. Maka, dengan cara khasnya sendirilah ia menjawab kelembutan Kaisar Li.


"Tidak. Makanannya enak. Jangan khawatir. Aku hanya bosan. Aku sudah tahu tentang ini lebih dulu, rasanya tak perlu untuk mendengarnya lagi. Tapi, mau bagaimana?! Aku tak bisa tidak menghadiri jamuan makan malam, malam ini 'kan?" terangnya sambil menegaskan kalimat ditengahnya tanpa memancing kecurigaan orang lain. Tapi, Selir Agung Gong Dahye menyadarinya dan itulah tujuan Reychu.


Menegaskan kalau dia adalah orang pertama yang tahu.


Mendengar kalimat yang di ucapkan Reychu membuat kecemburuan Gong Dahye bertambah. Ia jadi teringat akan kunjungannya ke ruang kerja Kaisar pagi tadi. Tapi, pria itu tak mengatakan apapun mengenai rencananya untuk esok hari. Siapa yang menduga kalau rencana itu akan dibicarakan bersama Permaisurinya lebih dulu, seperti menunjukkan kalau kali ini gadis itu memiliki posisi yang sama dengannya di hati Kaisar Li.


"'Ah... Maafkan aku kalau begitu. Tapi, aku juga tak bisa membiarkan mu tinggal di kediaman mu sementara disini kami menikmati makan malam bersama. Tujuan ku memang ingin membuat makan malam ini bisa ku nikmati bersamamu juga. Karena, belakangan ini kau sulit untuk kuajak makan malam bersama." jelas Kaisar Li dengan sedikit senyuman manis miliknya.


Sayangnya, Reychu tak tergoda dengan senyum ataupun kata-katanya itu, dia justru terfokus pada wanita hamil yang ada di tempat duduknya saat ini. Kala Kaisar Li menoleh kearahnya, maka wajah tampan itu akan berpaling dari pandangan Selir Agung dan membelakanginya. Melihat penderitaan wanita Gong itu, Reychu senang. Tapi, wajahnya tak terlihat demikian. Dia menyembunyikannya sebaik mungkin.


"Kedengarannya manis." timpal Reychu santai, lalu kembali ke makanannya. Membiarkan Kaisar Li senang atas responnya. Entah Kaisar sadar atau tidak, kalimat itu sesungguhnya tidak di ucapkan dengan nada tersipu ataupun berpura-pura tersentuh. Melainkan murni acuh tak acuh.


"Yang Mulia!" panggil Selir Agung pada Kaisar Li yang seketika membuat pria itu tersadar kalau dia masih memiliki wanita penting lainnya yang bahkan tengah mengandung anaknya.


"Oh. Ya. Ada apa, Dahye?" tanyanya tak kalah lembut dengan nada sebelumnya kala berbicara dengan Permaisuri.


Mendengar itu, Reychu tak bisa menahan ekspresi geli yang teramat hingga hidungnya berkerut. Dalam hati ia sudah terkekeh tak terkendali. Merasa jijik dengan tipe pria seperti Kaisar Li.


"Aduh. Aku meremang..." batinnya berceletuk.


Sedang Selir Agung Gong Dahye yang merasa kalau prianya tak berubah cara bersikap padanya menjadi senang. Namun, bukan berarti dia melupakan sosok perempuan lain yang kini menjadi sosok penting untuk prianya. Karena itu, ia tak ingin sampai kehilangan apapun yang sudah ia perjuangkan hingga saat ini.


"Terimakasih atas jamuan makannya dan perhatian Yang Mulia pada Selir ini. Selir ini senang dan bayi dalam kandungan Selir ini pasti juga ikut senang. Ayahnya begitu menyayanginya." cukup penuh ke lemah-lembutan dalam berkata tanpa ada yang menyadari kecuali Reychu, kalau kalimat itu sebenarnya penuh sindiran untuknya. Reychu hanya tersenyum miring mendengar sindiran tersebut, merasa sama sekali tidak berarti apa-apa. Nyatanya, kalimat semacam itu tidak akan mempan untuk menyerangnya.


"Tentu. Itu harus. Dia akan jadi penerus ku nantinya." serbunya seperti sudah tak sabar menunggu, tapi detik berikutnya ia tersadar akan sesuatu hingga dengan cepat menoleh kearah Reychu yang masih asik menikmati makanannya.


"Permaisuri ku... Yang ku katakan itu..." gagapnya takut istrinya salah paham, tapi Reychu menyelanya.


"Bukan masalah. Memang anak itu akan jadi penerus mu, Yang Mulia." menoleh membalas tatapan Kaisar Li, tak lupa dengan senyum ringannya. "Soalnya aku tak berniat melahirkan penerus untukmu. Tidak sama sekali." tandasnya yang mana sukses membuat Kaisar Li membeku ditempat.


"P..permaisuri... Ka..kau..." sulit rasanya untuk berkata-kata lagi, setelah kalimat itu diucapkan dengan keyakinan penuh.


Sungguh Kaisar Li jatuh, sejatuh-jatuhnya. Ia kecewa, tetapi tak berdaya untuk membalas. Ia pernah salah sebelumnya, jadi ia paham kalau perjalanannya untuk meraih kembali hati istrinya akan menjadi perjalanan paling panjang dan sulit untuk dilewati.


Ia sangat mengerti tentang itu...



Hola. maaf pada nungguin, ya..


tapi ni dah datang lagi kok. Thor punya pekerjaan lain di dunia nyata. jadi gak bisa memenuhi keinginan kalian yang minta crazy up.


tapi, insya Allah kalo waktu senggangnya udah datang. Thor usahakan ya..


*tapi gak tau kapan. soalnya akhir tahun ini Thor banyak pesanan. heheh**e*


baiklah. semoga kalian suka. jangan lupa dukungannya yaaa.


πŸ˜˜πŸ˜ŽπŸ™πŸ‘πŸ‘Œ

__ADS_1


__ADS_2