
Pelayan datang dan mereka memesan lebih dulu meskipun Rayan dan Shin Mo Lan belum tiba.
Setelah pelayan kembali keluar sambil membawa catatan pesanan, mereka kembali bercengkrama seraya menunggu pesanan siap.
"Ryu, aku akan menikah 2 bulan lagi." kata Reychu memberitahu.
"Bagus." respon Ryura datar. Tidak ada yang tahu apakah Ryura bahagia atas kabar bahagia itu atau tidak. Luar dalamnya terlalu datar.
Orang yang tidak mengenalnya pasti akan tersinggung, tapi kalau lawan bicaranya si gila Reychu. Sudah pasti tidak akan tersinggung bagaimanapun caranya.
Seraya bersandar pada sandaran kursi dengan gaya yang tidak ada anggun-anggunnya, Reychu berujar. "Tapi, masih ada masalah yang harus di bereskan. Kau tahu apa itu?"
"Tidak."
"Ini mengenai pengganggu." Reychu mengatakannya dengan nada di seram-seramkan.
Ryura pun melirik. "..."
Reychu mengangguk seolah-olah tahu kalau Ryura mengetahui maksudnya. Jadi, dia membenarkan.
"Ada yang terobsesi pada si rambut merah... Dan kau tahu siapa itu?" Ryura masih diam seperti menunggu Reychu melanjutkan perkataannya.
"Melany Gong!" Reychu langsung mendengus tak senang menyebutkannya.
Benar-benar musuh bebuyutan diantara keduanya.
"Wanita itu tak akan aku biarkan. Beraninya dia menginginkan si rambut merah! Apa dia tidak tahu kalau si rambut merah adalah milikku dari zaman ke zaman?!" Reychu marah tapi seperti bukan marah. Lebih kepada pura-pura, sebab tidak terlihat totalitas.
Tidak heran, pasalnya dia begitu karena tahu kalau Melany Gong bukan lawan yang seimbang dengannya. Bagi Reychu, Melany Gong sejenis kapur yang mudah dihancurkan bagaimanapun caranya.
Tingkah Reychu di tonton oleh kekasih dan sahabat kekasihnya. Tapi, siapa yang peduli.
Melihat Reychu, Ye Zi Xian berseloroh. "Kekasih mu ternyata juga tahu caranya mendominasi..." tak ada yang tahu apakah itu pujian atau ejekan.
"Tentu saja. Permaisuri ku harus tahu apa yang menjadi miliknya. Karena aku adalah miliknya, ia harus tahu bagaimana menjaga ku dari para hama yang ingin mendekat. Hmhmhmhm..." Bai Gikwang terkekeh bangga dengan bibir tertutup hingga hanya terdengar seperti dengusan.
Lalu, Bai Gikwang menoleh kearah Ryura dan berceletuk. "Nona Ryura, kau juga harus waspada. Ada wanita yang sangat menyukai Ye Zi Xian. Pasti dia juga melakukan hal yang sama seperti wanita dari keluarga Gong itu. Ku beritahu namanya padamu... Meng Ruona. Itu namanya."
Saat namanya disebut oleh Bai Gikwang, Ryura balas menatap dengan ekspresi kosong dan mendengarkan apa yang Bai Gikwang katakan dengan baik.
Ryura mengulang. "Meng Ruona?" Bai Gikwang mengangguk.
"Tidak perlu memikirkannya, sayang. Wanita seperti itu tidak penting. Malah tidak sebanding denganmu. Jadi, abaikan saja. Urusan kita untuk memiliki anak lebih penting." tukas Ye Zi Xian benar. Siapapun wanita yang ingin mendekatinya, tak ada yang pantas selain Ryura. Jadi dia tidak mau repot-repot. Di pikirannya saat ini, hanya ada keinginan untuk menghamili istrinya -Ryura- secepatnya.
Akan tetapi, kalimat Ye Zi Xian yang dia anggap benar segera dibantah oleh Reychu tanpa pikir panjang. Kalau sudah begini, wajah Ye Zi Xian tidak bisa tidak jelek.
"Hei, pria beruban! Apa kau pikir dengan Ryura hamil, kedamaiannya terjamin? Kau tidak mungkin lupa bagaimana mengerikannya manusia bernama perempuan itu saat mereka cemburu, kan?" jedanya tanpa mengubah ekspresi mengejeknya. "Dulu, kau juga di kejar-kejar oleh perempuan bermarga Meng. Astaga! Ibu tiri pula! Eugh! Menggelikan plus menjijikkan! Sekarang, marganya Meng juga. Dia bukan perempuan yang sudah menikah juga kan? Kalau benar, betapa menjijikkannya orang-orang bernama Meng Meng itu." habis-habisan Reychu mencerca seseorang tertentu.
__ADS_1
Meski yang dikatakan Reychu masuk akal, Ye Zi Xian tetap tidak bisa menerima di sergah oleh gadis itu. Saat emosinya hampir tak bisa dikendalikan, tiba-tiba...
Cup!
Amarah Ye Zi Xian segera padam seperti kobaran api yang di siram air. Ryura mengecup pipinya tanpa ada yang menduga. Mata Bai Gikwang terbelalak kaget, tak beda jauh dengan Reychu yang tercengang dengan mulut menganga.
"Jangan marah. Pembahasan ini tidak sepadan dengan amarahmu." tutur Ryura menenangkan suaminya dengan lembut.
Nada yang tidak pernah Ryura tunjukkan didepan orang lain.
Menghela nafas guna menenangkan emosinya yang terganggu. "Baik. Maafkan aku, istri ku sayang." Ye Zi Xian langsung meleleh, benar-benar manisnya pasangan itu.
"Uhuk! Uhuk! ... Uhuk!"
Momen manis itu segera hancur setelah suara batuk yang dibuat-buat mengacaukan semuanya. Ternyata sepasang kekasih yang belum menikah inilah biang keroknya.
Tampaknya, Reychu dan Bai Gikwang cemburu dengan keromantisan sepasang suami istri didepan mereka saat ini, karena terlihat jelas bila sudah tak ada lagi sekat diantara keduanya.
Mereka yang baru akan menikah 2 bulan lagi, mulai merasa waktu berjalan lambat hingga seolah-olah 2 bulan itu menjadi 2 tahun.
"Dasar tidak tahu malu! Please, Mr and Mrs! Kalau mau berbuat mesum jangan disini! Ini restoran bukan club malam atau hotel!" nada sarkas Reychu diucapkan dengan santai tanpa pikir panjang dan membuat amarah Ye Zi Xian yang sudah padam melonjak kembali.
Bai Gikwang melayangkan tatapan bangga pada kekasihnya usai mendengar perkataannya. Dia juga memiliki keinginan untuk mengatakannya.
Sepertinya, Bai Gikwang bisa menyerahkan kata-kata pedas dan menusuk pada kekasihnya lain kali.
Kedua pasangan suami istri itu asik beradu saliva dan membiarkan kemesraan keduanya di tonton oleh kekasih yang belum sah disana.
Secara kompak, sudut bibir Bai Gikwang dan Reychu berkedut melihat pembalikan keadaan ini.
"Sial! Ini pelecehan status namanya!" umpat keduanya dalam hati serentak.
Untungnya, ciuman itu tidak lama. Setelah melepaskan bibirnya dari bibir sang suami, Ryura berujar pada Reychu dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi bagi Reychu kali ini ada bumbu-bumbu provokatif dan kebanggaan. "Kami suami istri." singkat, padat, dan jelas.
Artinya tak perlu di terjemahkan lagi secara terperinci. Karena, sepandai-pandainya Reychu bermain kata dengan mulut ganasnya, dia masih kalah dengan mulut seorang pendiam yang misterius.
Kekakuan yang anehnya konyol melanda. Tapi, langsung pecah saat Rayan dan Shin Mo Lan muncul.
"Eh! Ada apa ini? Aneh sekali suasananya." tanya Rayan saat masuk dan mendapati wajah Reychu dan Bai Gikwang seperti habis di siksa mentalnya dan pasangan satu lagi yang terlihat baik-baik saja seperti mengatakan kalau suasana aneh ini tidak ada hubungannya dengan keduanya.
Melihat Rayan, Reychu langsung memasang tampang pengadu. "Ray, balas 'kan dendam ku pada dia!" tunjuk Reychu kearah Ryura.
Memandang Reychu dan Ryura bergantian dengan bingung. "Sebenarnya ada apa, sih?"
"Ayo, duduk dulu." ajak Shin Mo Lan yang langsung menarik kursi disebelah Reychu untuk Rayan duduki dan Shin Mo Lan duduk di sebelah Ryura.
Keduanya pun duduk.
__ADS_1
Mereka duduk dalam formasi melingkar.
Reychu segera bergelayut seperti ulat di lengan Rayan sambil mencoba mengadu domba Ryura. Kebiasaan mereka yang suka menindas sahabat sendiri pun kembali.
"Ray, lihat dia." masih menunjuk Ryura.
"Kenapa dengan Ryura?" tanya Rayan tak mengerti. Pasalnya, Ryura tenang seperti biasa.
"Dia tega memperlakukan aku dan kekasih ku seperti itu. Dia bermesraan dengan suaminya seolah-olah mengejek kami karena belum bisa bermesraan dengan bebas lantaran belum menikah! Kau harus membalasnya!" Reychu seperti orang gila yang menuntut keadilan dengan membelalakkan matanya lebar-lebar kearah Rayan. Niat hati ingin memelas malah terkesan memaksa dengan sedikit ancaman.
Rayan yang sudah menikah berujar bak penatua. "Kau ini aneh, mereka kan memang sudah sah. Jadi bebas, dong! Sudah berhenti aneh-aneh, Rey. Kau ini sebentar lagi sudah mau menikah. Jangan gila lagi. Aku tidak mau menjadi tempat anak-anak mu bertanya kenapa mereka punya ibu seperti mu yang gilanya tidak hilang-hilang."
Punggung Reychu ditegakkan seketika setelah mendengar perkataan Rayan. Itu bukan karena dia tersadar, melainkan...
"Ray, kau tidak perlu khawatir. Anak-anak ku tidak akan bertanya apapun padamu karena mereka akan lahir dengan setengah kepribadian ku dan setengah kepribadian Gikwang. Mereka akan sangat mengerti mengapa memiliki orang tua seperti ku. Hmhmhmhm..."
Puk!
Rayan tepuk jidat.
"Justru itu lebih mengkhawatirkan, Rey! Kau gila, suamimu mulai ikut gila, lalu kalian melahirkan anak-anak yang gila semua. Apa kau mau mengubah darah bangsawan Bai sebagai keturunan keluarga kerajaan menjadi keluarga orang gila?! Yang benar saja." Rayan mulai tersulut juga saking gemasnya melihat sahabatnya yang sudah lama tidak dia lihat ternyata tidak ada perubahan.
Mendengar itu Reychu dan Bai Gikwang menatap Rayan serempak sedang yang lainnya malah menatap sepasang kekasih itu seperti ingin tahu apa jawaban mereka untuk perkataan Rayan.
Menatap wajah chubby Rayan tidak lama sebelum Reychu dan Bai Gikwang mendekatkan kepala masing-masing seperti sedang berunding.
Sesaat kemudian.
"Tidak masalah. Si rambut merah kesayangan ku bilang, semua terserah padaku. Jadi, kupikir tidak buruk kalau keturunan keluarga kerajaan memiliki karakter gila. Ini akan membuat keluarga kami berbeda dari yang lain. Benarkan, Gikwang sayang?" yang ditanya mengangguk setuju saja.
Apa sih yang tidak buat Reychu tercinta.
Hal ini membuat Rayan memompa oksigen lebih banyak dari sebelumnya dengan ekspresi tak tahan ingin memukul seseorang.
Shin Mo Lan dari samping mengelus punggungnya menenangkan. "Tenang... Tenangkan emosimu."
Sebenarnya Shin Mo Lan pun ingin rasanya menggeplak kepala Bai Gikwang, tapi terlalu jauh jarak keduanya. Alhasil dia hanya bisa menghela nafas menenangkan diri.
Sial sekali rasanya memiliki mantan Kaisar yang menjadi gila karena pasangannya.
Hilang sudah wibawa seorang Kaisar-nya.
"Pasangan tidak waras!" umpat Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan dalam hati bersamaan.
selamat membaca sayang2kuuuuu ππππ
__ADS_1