
Langit hari itu segera diselimuti awan gelap disertakan angin dingin yang berhembus. Istana dalam yang terpampang kacau balau adalah hasil dari apa yang sudah terjadi sebelumnya.
Mayat berserakan, pepohonan patah dan bangunan-bangunan terdekat dari lokasi kejadian hangus terbakar juga hancur karena ledakan, bongkahan es beku menyerupai kristal yang sebelumnya sempurna sudah pecah dan meleleh karena hawa panas yang dihasilkan oleh kejadian, dan semua itu tak luput dari kerusakan.
Semuanya hancur tak tersisa.
Namun meski begitu, tetap masih akan ada yang tertinggal.
Seperti ketiga pria tampan saat ini misalnya.
Ketiganya dalam keadaan kacau berantakan dengan luka-luka yang dimilikinya. Saat ini masing-masing dari mereka tengah mendekati sebuah objek dengan tertatih-tatih dan begitu sampai objek tersebut langsung masuk ke dalam pelukan mereka.
Wajah mereka penuh dengan kesedihan yang tak terelakkan. Perasaan mereka hancur berkeping-keping, tak bisa dijabarkan sudah seperti apa hati mereka saat ini.
Apa yang mereka terima kali ini begitu menyakitkan. Lebih menyakitkan dari apapun. Karena mereka baru saja kehilangan belahan jiwa yang selama ini mengisi ruang hati mereka yang kosong.
Meski masih ada yang selamat dengan kondisi sekarat, di mata ketiganya hanya ada 3Ry.
Shin Mo Lan menggunakan sisa kekuatannya untuk memeriksa keadaan Rayan yang tak sadarkan diri di pelukannya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki penuh luka dan debu. Rayan-nya yang biasanya sangat menjaga kebersihan kini menjadi amat kotor. Shin Mo Lan masih berusaha tenang dan berpikir positif dalam situasi seperti ini, namun tak dapat ia hindari kala air mata masih tetap mengalir dari tempatnya dibendung.
Hatinya sakit untuk Rayan dan menjadi lebih sakit saat mendapati kenyataan bahwa tak ada harapan lagi dari gadisnya. Meskipun demikian, Shin Mo Lan masih berharap ini sama seperti kemarin-kemarin. Gadisnya hanya mati suri. Ia selalu menekankan hal itu karena belum siap ditinggalkan. Tapi, waktu tak bisa berbohong saat semakin lama berlalu Rayan tak juga mendapatkan kembali hidupnya.
Shin Mo Lan hanya bisa memeluk erat tubuh istrinya seraya terisak menangis hingga bahunya bergetar hebat. Sesak rasanya menahan perasaan duka yang selalu coba ia tepis padahal sudah jelas kenyataan berkata, inilah akhirnya.
Tak hanya Rayan yang tidak selamat, bahkan Ruobin pun turut pergi untuk selamanya bersama beberapa korban lainnya yang ikut terkena imbas dari ledakan jurus terlarang tersebut.
Bergeser di jarak yang tak terlalu jauh. Ye Zi Xian tengah berbaring menyamping di tanah yang kacau dengan Ryura di pelukannya. Keduanya tak kalah kacau dengan situasi saat ini. Dia terdiam menatap kosong kedepan dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. Tak ada kata yang terucap selain dengan lembut mengelus surai hitam istrinya yang kepala Ryura berbantalkan lengannya. Tapi, siapa yang tahu kalau nyatanya didalam hatinya Ye Zi Xian menangis meraung tak terima ditinggal pergi Ryura.
Ryura-nya meninggalkannya, bahkan siluman yang selalu mengekor Ryura pun ikut pergi bersama istrinya. Dia tak terima hal itu dengan pemikiran bahwa seharusnya dia yang pergi bersama Ryura, karena dia suaminya.
Jangan heran dengan pemikirannya yang seperti itu. Dia terlalu terpuruk.
Tak berbeda jauh dengan Bai Gikwang. Pria yang selalu mengenakan mahkota Kaisar Agung, kini mahkotanya hilang entah kemana. Rambut merahnya berkibar berantakan dengan serpihan-serpihan kekacauan menempel di sana. Jubah kebesarannya pun penuh sobekan. Sama seperti dua sahabatnya, dia pun memiliki luka ditubuhnya. Namun, rasanya tidak sakit sama sekali dibandingkan dengan hatinya.
Reychu ada di pelukannya saat ini, dia anggap tengah tertidur seperti kejadian yang sudah-sudah. Karena, hawa dingin yang kian menjadi-jadi Kaisar Agung Bai hanya beranggapan bahwa Reychu-nya tengah kedinginan hingga lemas tak berdaya hingga dia memeluknya erat. Dia tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Dia terus meyakinkan dirinya bahwa Reychu baik-baik saja.
__ADS_1
Akan tetapi, saat hujan es deras disertai angin kencang menerpa permukaan bumi, Reychu-nya tidak juga bangun. Meski tak mau mengakui, ia tahu itu tidak mungkin untuk tidak diakui.
Hujan es yang jatuh itu akan sangat menyakitkan kala menyentuh tubuh manusia. Bahkan dengan itu pula bisa menimbulkan luka berdarah.
Orang-orang yang masih hidup berusaha untuk menyelamatkan diri dari hujan es yang melanda. Tapi, tidak dengan 3 pasangan tersebut.
Terutama Kaisar Agung Bai, dia bahkan menulikan pendengarannya dari beberapa anggota keluarga yang masih hidup meski tetap terluka saat mereka meneriakkan namanya agar dapat segera menyelamatkan diri dari hujan es. Tapi, dia tidak bergeming.
Dipikirkannya, mungkin dengan mati diterjang hujan es dia bisa menyusul Reychu.
Hujan es jatuh dengan ganasnya, memukul tubuh ketiga pria itu hingga terluka. Darah mengalir menyatu dengan es yang jatuh hingga genangan terbentuk, namun ketiganya tidak berkutik sedikitpun.
Selain suara hujan es yang bergemuruh disertai suara angin kencan dan guntur, tidak ada suara apapun yang didengarnya hingga keheningan dan kegelapan menyertai mereka.
Gelap, ruang itu gelap. Tak ada pijakan, tak ada langit-langit, tak ada dinding. Kegelapan itu seperti ruang hampa.
Ketiganya berada diruang hampa masing-masing tanpa bisa bertemu. Tak ada suara yang bisa mereka keluarkan sekalipun mereka ingin berbicara. Tak ada juga yang bisa mereka lihat hingga rasanya seperti buta. Tidak ada suhu disekitar hingga Indera peraba pun seperti tak berfungsi lagi.
Benar-benar kosong.
Dimana pujaan hati mereka?
Mereka merindukan pasangannya masing-masing. Namun, hanya bisa pasrah saat harapan pun tak tahu apakah memiliki kesempatan untuk terwujud.
Gruuuk...
Sebuah brangkar tengah didorong melewati sepanjang koridor rumah sakit bersama rombongan orang yang terdiri dari dokter, perawat, dan anggota keluarga pasien yang berada diatas brangkar tersebut.
Sepasang paruh baya yang ada disana memiliki wajah cemas dan khawatir dengan salah satunya sudah menitikkan air mata tanpa henti. Ada juga beberapa yang lainnya turut bersedih.
"Suamiku, putra kita... Huhuhu..." kata sang istri sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Suaminya hanya bisa tetap tegar agar dapat menguatkan istrinya.
Sambil mengusap-usap lengan sang istri, dia berujar sabar. "Tenang. Tidak akan terjadi apapun padanya. Ming'er akan baik-baik saja. Jangan menangis, kau akan membuatnya sedih nanti."
Sekelompok orang itu terus berjalan melewati koridor rumah sakit menuju ruang UGD. Disaat yang bersamaan sekelompok orang juga melewati koridor yang sama dengan langkah kaki terburu-buru dari arah berlawanan hingga kedua belah pihak saling bersisian dan saling melewati satu sama lain.
Sekelompok orang yang terburu-buru ini bergegas memasuki sebuah lift guna menuju lantai atas dimana tujuan mereka adalah sebuah kamar inap VIP tempat dimana seseorang yang baru saja dikabarkan sudah sadarkan diri berada.
Lift terbuka dan mereka pun tiba ditempat tujuan.
Sepasang paruh baya disana maju lebih dulu untuk masuk disusul anggota keluarga yang lain, begitu masuk mereka melihat dokter baru saja melepaskan alat bantu kehidupan yang sebelumnya terpasang selama 7 tahun lamanya ditubuh pasien.
"Ya Tuhan, Huan anak ku!" pekik si wanita paruh baya dengan suara tertahan sambil menutup mulutnya saking tak percayanya dia pada fakta membahagiakan dari sadarnya sang putra.
Dengan mengguncang lengan suaminya dia berseru bahagia. "Sayang, putra kita! Putra kita sudah sadar!"
"Iya, iya... Tenang dulu. Biarkan dokter menyelesaikan tugas mereka baru kemudian giliran kita setelahnya. Mari kita keluar dulu. Jangan sampai keberadaan kita menyulitkan para petugas medis ini." sang istri hanya mengangguk mengerti.
Semuanya pun keluar kecuali paramedis.
Diluar mereka menunggu di kursi tunggu yang tersedia dengan sabar. Di lorong yang sama berselang beberapa pintu kamar rawat, sekelompok orang juga baru saja tiba dan langsung memasuki salah satu kamar inap VIP tersebut.
Dipimpin oleh sepasang paruh baya juga, mereka masuk untuk melihat sang penghuni kamar tengah terduduk di ranjang rumah sakit sambil memandang keluar jendela dalam tenang.
Tapi, keheningannya yang tenang itu teralihkan oleh suara-suara yang tiba-tiba datang dari arah pintu masuk.
"Liam! Ya Tuhan, putraku... Dimana yang sakit? Dokter bilang kau memiliki luka tembak di dada mu. Apakah parah? Biarkan ibu lihat." serbu wanita paruh baya itu kepada putranya yang hanya diam menatap wajah ibunya.
"Jangan seperti itu. Kau akan membingungkan putra kita. Dia baru saja bangun setelah operasi. Jadi, jangan mendesaknya." tegur pria paruh baya yang adalah suami si wanita dengan lembut penuh kasih.
"Maaf, aku hanya sangat senang dia baik-baik saja." kata sang ibu.
Pemuda yang dipanggil Liam masih diam menyaksikan pemandangan didepannya. Sebelum akhirnya dia menarik sudut bibirnya tanpa ada yang menyadarinya.
Kemudian bergumam senang dalam hati. "Akhirnya, disinilah aku."
__ADS_1
uaaahhh.... hampir tamat gaessss.... 🥲