3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DISKUSI


__ADS_3

Di sebuah gunung, tempat dimana orang-orang yang telah tiada di makamkan. Gunung yang sesuai titah Kaisar terdahulu, dijadikan sebagai tempat pemakaman bagi seluruh rakyat Kerajaan Huoli baik rakyat biasa maupun bangsawan.


Berdiri diam di depan dua buah gundukan tanah dengan nisan di atas kedua gundukan itu, bertuliskan dua nama.


Han Xi Lin dan Han Fei Rong.


Ayah dan anak yang meninggal dunia di waktu yang berdekatan, karena disebabkan oleh orang yang sama.


Han Ryura.


Suasana duka masih terus menyelimuti anggota keluarga yang tersisa. Air mata tak hentinya membasahi pipi semua orang terutama yang perempuan. Para lelaki bukannya tak bisa menangis, tetapi sebagai lelaki yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga keluarganya membuat mereka memilih menahannya dan membiarkan para perempuan untuk menghabiskan kesempatan menangis agar keesokan harinya semua bisa kembali normal. Walau masih ada sedikit rasa duka.


"Masih sulit untuk aku percaya... Paman dan kakak sepupu telah tiada." lirih Han Dao Yan dengan mata yang terus memandang dalam dua gundukan tanah didepannya. Suaranya yang lirih itu ternyata masih terdengar jelas ditelinga Han Wu Shin yang berdiri tepat di sebelahnya.


Mendengar lirihan adiknya, Han Wu Shin melirik sekilas. "Haaah... Inilah kenyataannya. Semua orang tahu itu." timpalnya juga dengan lirih.


Han Dao Yan mendengus kesal juga sedih secara bersamaan. "Dan itu adalah ulah anak bodoh itu... Yang sialnya adalah saudariku! Saudari kita! Si*lan!" gerutunya di barengi umpatan yang ditujukan untuk Ryura.


"Tenanglah. Jangan biarkan amarah menguasai mu. Aku yakin, pasti setelah ini Kakek akan mendiskusikan lebih lanjut tentang peristiwa ini. Beliau tidak akan tinggal diam. Ryura tak akan semudah itu lepas dari Keluarga Han." jelas Han Wu Shin tegas hingga mampu menyembunyikan keraguan dalam perkataannya.


Pemuda itu sedikit pesimis akan apa yang terjadi kedepannya. Akibat mimpi yang ia juga ayahnya alami membuatnya sedikit banyaknya terbebani dengan pikiran-pikiran yang ia sendiri sulit untuk menjelaskannya.


Melihat sendiri bagaimana mudahnya Ryura melenyapkan saudaranya sendiri tanpa berkedip atau berekspresi lain selain kosong, membuat jauh didalam sudut hatinya merasakan ketakutan. Seandainya, keluarganya memilih membalas gadis manis itu atas apa yang ia lakukan. Bukannya meraih kemenangan, justru mendapatkan kekalahan.


Sejenak ia berpikir, akan lebih baik jika ia akan merundingkannya dengan sang Ayah. Mengingat ini berurusan dengan saudari kandungnya.



Langit sudah mulai menggelap. Seluruh rombongan pelayat sedang dalam perjalanan pulang. Yang perempuan di tempatkan di dalam kereta, sedang yang laki-laki menunggangi kuda.


Hening. Hanya itu yang mengisi perjalanan mereka dengan suara binatang malam serta hembusan angin yang menggerakkan ranting juga dedaunan menjadi teman kesunyian mereka saat itu.


Semua diam dengan pemiikiran mereka masing-masing. Rasa sedih membuat semuanya menjadi tidak banyak bicara. Mulut seolah terkunci dengan sendirinya.


Sampai tak terasa, akhirnya mereka pun sampai di pemukiman ibukota. Tanpa ingin menghentikan perjalanannya, mereka terus menelusuri jalanan menuju kediaman Han. Keheningan terus menyelimuti.


Tak terasa, akhirnya sampai juga.


Begitu menginjakkan kaki ke tanah Kediaman Han. Mereka dengan sendirinya memisahkan diri menuju kamar masing-masing. Yang berpasangan, maka kembali dengan berpasangan dan yang sendiri pun begitu.


Tapi, sebelum benar-benar memasuki kamar masing-masing. Han Wu Shin mencegah kepergian sang Ayah.


"Ada apa?" tanya Han Wen Luo begitu melihat gelagat anak pertamanya yang mencegah dirinya untuk kembali ke kamarnya. Pasalnya, ia sangat lelah. Baik pikiran dan fisiknya. Anak bungsunya benar-benar telah menguras tenaganya.


"Aku hanya ingin meminta waktu kepada Ayah untuk membahas perihal Han Ryura." ungkap Han Wu Shin serius.


"Nanti juga Kakek mu akan memerintahkan kita berkumpul untuk membahas lebih lanjut tentang anak bod*h itu. Jadi, biarkan itu kita bahas nanti."

__ADS_1


"Aku tahu, Ayah. Karena itu, aku juga ingin membahas ini secara pribadi dengan Ayah. Karena, bagaimanapun dia adalah adikku. Putri bungsu Ayah. Semua orang mengetahuinya. Dan lagi, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Ayah." terang sang anak pertama dengan amat serius. Terlihat jelas di wajahnya, kalau anak laki-lakinya ini sangat pintar dan serius dalam menangani segala hal. Ia tak pernah tanggung-tanggung dalam mengurus masalah yang datang di sekitarnya. Seperti sekarang ini, keseriusannya seolah mengandung peringatan yang tegas.


"Huuh... Baiklah. Kita bahas itu nanti setelah Kakek mu membahasnya bersama yang lain. Biar kita tahu dulu, apa hasil diskusi Keluarga kita tentang ini. Baru setelahnya, giliran kita." jawab Han Wen Luo menanggapi ucapan anaknya dengan serius juga. Han Wu Shin mengangguk mengiyakan.


"Baiklah. Pergi ke kamarmu dan istirahatlah." lanjutnya sambil menepuk-nepuk pundak Han Wu Shin, sebelum akhirnya beranjak juga dari tempatnya berdiri.


"Baik, Ayah. Ayah juga, istirahatlah. Sampai nanti." balasnya sembari terus menatap punggung Ayahnya yang kian menjauh, baru kemudian ia yang beranjak pergi.



Pagi hari pun tiba. Setelah malam tadi, mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat. Kini setidaknya sudah mulai terlihat lebih baik. Termasuk sang Kepala Keluarga, Han Dongzue.


Kondisinya yang sempat tidak baik membuatnya jadi tidak bisa ikut mengantarkan jasad anak dan cucunya ke tempat peristirahatan terakhir mereka.


Ruang keluarga kediaman Han tampak besar dan lengang pagi ini. Seluruh anggota keluarga sudah hadir disana, kecuali yang telah tiada. Semuanya duduk di tempat mereka masing-masing dengan di temani racikan teh herbal sebagai minumannya.


Atau kata lainnya adalah... Menyambut pagi dengan secangkir teh hangat...


Saat sarapan pagi tadi, dimana hal itu di lakukan di kamar anak-cucunya masing-masing lantaran masih belum ingin menyiapkan sarapan pagi bersama seperti biasa. Han Dongzue memerintahkan pelayannya untuk menyampaikan pesan darinya mengenai perintahnya agar usai sarapan pagi, semuanya harus segera berkumpul di ruang keluarga tanpa terkecuali.


Seperti yang di pikirkan Han Wen Luo, bahwa sang ayah tentu tak akan tinggal diam setelah menerima semua hal yang tak mengenakkan dalam waktu singkat.


Alhasil, disinilah mereka semua.


"Karena, sudah berkumpul semuanya. Maka, aku tak akan menundanya lagi." matanya memindai ke seluruh wajah anak, menantu, dan cucu-cucunya. "Tujuan ku mengumpulkan kalian semua disini adalah untuk membahas mengenai kesialan yang telah menimpa Keluarga Han kita. Seperti yang kita semua tahu. Kalau, dalang dari permasalahan kali ini adalah bersumber dari satu orang yang amat sangat kita kenal. Yaitu, Han Ryura." tiba-tiba Han Dongzue memejamkan matanya kuat setelah perkataan sarkasme nya ia keluarkan, sebuah keengganan datang menerpanya. Tangannya pun turut mengepal.


Yang lainnya terdiam di tempatnya. Meski terkejut dengan keputusan tak terduga sang Kepala Keluarga, tetap saja mereka tak terlalu ambil pusing. Sebab, sejak awal tak ada satupun dari mereka yang peduli atau sayang pada gadis yang dulunya idiot dan tak berguna itu. Jadi, keputusan kali ini justru adalah kabar baik untuk mereka.


"Itu keputusan yang bagus, Ayah. Aku pun berpikir demikian." sahut Han Wen Luo. Meski tak tahu kenapa jantungnya terasa berdetak kencang secara tiba-tiba. Ia merasakan seperti sesuatu yang buruk, namun segera menepisnya. Tak ingin merasakan perasaan yang tidak penting menurutnya, yang hanya akan mengganggu pikirannya saja.


Senyum miring terukir kala mendengar anaknya yang tak lain adalah Ayah dari cucu bodohnya itu ternyata sepemikiran dengannya. Hal ini membuat ia lebih leluasa mengambil keputusan.


Dilihatnya seluruh anggota keluarganya. Mereka diam yang mengisyaratkan akan persetujuan yang disetujui tanpa banyak komentar.


"Karena, kalian diam saja. Aku menganggap kalian telah setuju dengan keputusan ku untuk mengeluarkan anak itu dari nama Keluarga Han dan mengharamkan atasnya darah leluhur Han yang mengalir didalam tubuhnya... Dan dengan begini, dia sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini!" lantangnya mengutamakan keputusannya tanpa adanya orang yang bersangkutan.


Tanpa mereka tahu, kalau faktanya. Ada atau tidak adanya keputusan tersebut. Ryura tidak pernah menganggap dirinya bagian dari Keluarga Han sejak ia menempati tubuh Han Ryura. Tak peduli seberapa banyak masalah si pemilik tubuh dengan keluarganya, tak peduli ada tidaknya dendam dalam hati si pemilik tubuh. Yang ia tahu, sejak jiwanya memasuki tubuh Han Ryura. Maka, sejak saat itu pula Ryura menganggap kalau tubuh Han Ryura adalah miliknya. Yang artinya, ia tak mau repot-repot dibuat pusing dengan memikirkan yang namanya balas dendam guna membantu si pemilik tubuh mendapatkan keadilannya.


Toh, menurut Ryura. Si pemilik tubuh sudah tak lagi di tempatnya. Jadi, tubuhnya sekarang adalah milik Ryura Jenna sepenuhnya. Akan sangat buang-buang waktu kalau ia harus mengurus lagi masa lalu pemilik tubuh seolah-olah terlihat seperti ia belum berdamai dengan masa lalu.


Kembali ke Keluarga Han.


"Baiklah. Aku akan mulai membahas apa yang seharusnya kita bahas." jedanya sejenak. "Kalian tahu bukan, gadis bod*h itu sudah berubah. Terlebih setelah ia sempat menghilang selama 3 bulan lamanya. Tidak ada yang tahu apa yang sudah ia lakukan di waktu itu. Perubahannya yang amat drastis ini sungguh akan menyulitkan kita. Aku sebagai orang yang pernah merasakan langsung berhadapan dengannya, bisa merasakan kalau ia memiliki kekuatan yang cukup kuat dan besar... Meski, sebenarnya kita semua tahu kelebihannya yang satu itu. Tapi, benar-benar sulit di percaya bila kekuatannya di gunakan untuk menghajar lawan. Dia akan jadi lawan yang sulit!" terangnya panjang lebar dengan amat serius. Yang lainnya mendengarnya tak kalah serius.


"Benar, Kakek! Aku sangat setuju denganmu! Aku juga menjadi korban keganasan si bod*h itu. Lihat ini..." seraya menunjukkan tangannya yang masih di balut kuat dengan dipasangkan dua kayu tipis guna meluruskannya, mengingat pergelangan tangan itu pernah di patahkan oleh Ryura. "Sampai sekarang masih terasa sakit, kalau aku memaksa menggerakkan pergelangan tangan ku. Kekuatannya saat itu bagiku cukup kuat, tapi melihat dia yang bisa melakukannya dengan mudah. Kurasa hal itu memang tidak perlu diragukan lagi. Kelebihannya itu sudah berani dia salurkan untuk menyakiti orang lain." sambar Han Shu Zhu menggebu. Kebenciannya pada Ryura cukup tebal, bahkan ia tak terima kala tangannya menerima kemalangan yang di akibatkan oleh Ryura. Alhasil, ia harus memiliki cara untuk membalasnya.


"Iya, aku sungguh tak terima dengan apa yang menimpa putriku. Ayah mertua, lakukan sesuatu!" sambung Xia Lin Lin.

__ADS_1


"Inilah alasan aku mengumpulkan kalian disini. Berikan aku saran untuk membalas dia yang sudah berani macam-macam dengan Keluarga Han kita!" pungkas Han Dongzue.


Semuanya mulai berpikir keras.


Sampai seruan seseorang dari mereka memecahkan lamunan yang lainnya saat sedang memikirkan sebuah ide.


"Kakek, aku punya saran." seru Han Liang Xin pasti sembari mengacungkan tangannya keatas.


"Baik, biar aku dengarkan!"


"Terimakasih, Kakek. Liang Xin menjawab... Saran ku adalah... Sayembara!" singkatnya sengaja membuat yang lainnya penasaran.


"Sayembara? Kenapa kau berpikir tentang itu?" tanya Han Dongzue ingin tahu.


Han Liang Xin tersenyum, kemudian menjawabnya. "Seperti yang kita bicarakan tadi, Kakek. Gadis itu sudah bukan gadis lemah lagi. Yang bisa kita atur sesuka hati kita. Dia sudah menjadi sangat kuat. Apalagi saat aku dengan mata kepala ku sendiri, melihat bagaimana dia bisa dengan mudah mengalahkan kakakku. Han Fei Rong, tempo hari. Itu sangat mengerikan. Wajahnya tak memiliki ekspresi apapun, itu menandakan kalau dia memang berniat membunuh kakakku. Dari situ kita sebenarnya sudah bisa menarik kesimpulan, kalau kita sudah tidak bisa menganggap remeh dia... Dan sayembara adalah usulan awalku." terangnya lalu memandangi seluruh wajah anggota keluarganya yang sangat serius mendengarkan saran darinya.


"Alasannya adalah... Aku berpikir dengan membuat sayembara tentang 'siapa yang dapat membunuh Ryura akan diberi imbalan 100 tael emas' bisa membuat kita melihat langsung seberapa kuat dia sekarang. Dalam hal ini akan ada dua kemungkinan. Pertama, bila peserta sayembara mampu membunuhnya kita hanya perlu mengeluarkan biaya untuk jasa orang tersebut sehingga kita tak perlu repot-repot mengotori tangan kita hanya untuk menghabisinya..." beberapa dari mereka mulai mengerti kemana penjelasan ini dibawa. "Dan kedua, bila peserta sayembara gagal membunuhnya itu artinya dia memang tak bisa di remehkan. Dengan melihat langsung bagaimana dia mengalahkan para peserta sayembara, hal itu bisa menjadi pertimbangan bagi kita untuk menyusun strategi yang lebih efektif untuk mengalahkannya. Bagaimana?" jelasnya seperti apa yang memang ingin ia utarakan.


"Itu saran yang bagus, Liang Xin!" kata Han Tian Yu yang di setujui oleh adiknya Han Dao Yan.


"Yang di katakan kak Tian Yu benar. Itu ide yang hebat." salut Han Dao Yan kagum.


"Terimakasih, sepupu." balas Han Liang Xin senang.


"Baiklah. Baiklah... Memang yang dikatakan oleh saudaramu. Saranmu cukup bagus. Aku setuju dengan usul itu. Untuk langkah awal kita bisa menggunakan itu dulu. Tapi, aku akan tetap meminta kalian memberikan saran lainnya yang bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini. Aku tidak mau berlama-lama berurusan dengan anak bod*h itu. Jadi, apakah semuanya setuju dengan saran yang Han Liang Xin ungkapkan tadi?" kata Han Dongzue dan mengakhirinya dengan pertanyaan meminta persetujuan keluarganya.


Semua pun mengangguk menyetujui tanpa banyak bicara. Melihat itu Han Wen Luo pun berinisiatif mewakili yang lain.


"Kami setuju, Ayah. Saran itu patut di coba dan seperti yang Ayah katakan tadi. Kalau ada yang memiliki saran lain. Bisa langsung memberitahukannya pada Ayah." lugasnya yang di angguki sang Kepala Keluarga dengan ekspresi puasnya.


"Baiklah kalau begitu. Berarti diskusi kita hari ini mencapai kesepakatan. Maka, dengan begini aku memerintahkan untuk segera dilaksanakan rencana ini tanpa perlu di tunda lagi. Mengerti?!" tegas Han Dongzue tak ingin di bantah.


"MENGERTI, AYAH!"


"MENGERTI, KAKEK!"


Lantang seluruh keturunannya menjawab perintah sang pemimpin keluarga.


Tak ada yang tahu, kalau Han Wu Shin merasakan firasat buruk tentang ini. Sejak tadi ia diam bukan karena ia tak memiliki saran untuk di katakan. Hanya saja kegelisahan yang tiba-tiba menyergap hatinya membuat ia memilih untuk diam.


"Semoga semua berjalan sesuai rencana..." batinnya berharap.



ini dia untuk kalian...


jangan lupa tinggalkan jejak yaaaa...

__ADS_1


lop yuuu...๐Ÿ˜˜


__ADS_2