3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
PAMER


__ADS_3

Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki terdengar membuat Reychu yang sedang bermalas-malasan di sofa ruang keluarga dengan banyak camilan mengelilinginya mengalihkan pandangannya dari televisi ke asal suara itu.


Ternyata, sosok Chang Bin yang terlihat. Alis Reychu terangkat sebagai tanda tanya, apalagi saat melihat sebuah paper bag besar yang sekretaris pribadi kekasihnya tenteng.


"Apa yang kau bawa itu?" tanpa ba-bi-bu, Reychu langsung bertanya membuat Chang Bin yang sedari tadi tidak sadar kalau kekasih bosnya ada di ruang keluarga saat dia hendak ke ruang kerja Bai Liam.


"Oh?! Ini Nona, undangan pernikahan anda dan Tuan Muda Bai. Sudah selesai dibuat, jadi saya membawakannya kemari." tutur Chang Bin setelah menunduk hormat sebagai salam yang terlambat dia lakukan.


"Hh!! Sudah jadi? Berikan padaku!" pinta Reychu seraya membuka kedua tangannya ke depan seolah tak sabar menerima paper bag besar itu.


Chang Bin pun tak bisa menolak, akhirnya memberikannya juga. "Ini, Nona."


Setelah paper bag itu mendarat ditangannya Reychu langsung mengibas-ibaskan tangannya tanpa melihat kearah Chang Bin dan berkata. "Kau bisa bertemu Liam sekarang. Pasti sibuk, kan? Sana-sana. Aku akan periksa surat undangannya dulu."


Perlakuan semacam itu sudah biasa Chang Bin terima dari kekasih Tuan Mudanya ini. Apalagi, Chang Bin tidak merasakan keangkuhan dalam nada bicaranya yang terkesan seperti itu. Begitulah mengapa dia tak tersinggung setelah terang-terangan diusir begitu saja.


Dengan menunduk hormat Chang Bin mengundurkan diri. "Kalau begitu saya akan ke ruang kerja Tuan Muda Bai sekarang. Permisi, Nona."


Sebelum sempat mengangkat kakinya hendak beranjak, balasan Reychu yang fokusnya masih pada paper bag membuat Chang Bin tertegun.


"Huwek. Apaan sikap hormat itu! Menggelikan! Bersikaplah biasa saja. Meski sopan tetap santai, oke. Jangan seperti sedang berada di zaman kerajaan. Sikapmu seolah-olah kalau aku bilang makan kotoran kau akan memakannya. Itu mengganggu sekali." omel Reychu menyuarakan komentarnya yang memang sejak dulu tidak begitu suka peraturan tak tertulis semacam itu.


Dengan mata mengerjap Chang Bin secepat kilat mencerna maksud Reychu. Hanya butuh sepersekian detik sebelum dia memahaminya dan langsung mengiyakan daripada kekasih Tuan Mudanya ini melanjutkan kalimatnya yang tak pernah difilter itu.


"Baik, Nona."


"Hush! Hush!" Reychu mengusir lagi.


Dengan tubuh kaku karena diminta untuk santai yang selalu sulit untuk dia lakukan bila berhadapan dengan Reychu, diapun akhirnya benar-benar beranjak dari sana dan langsung membawa langkahnya ke ruang kerja Tuan Muda Bai nya.


Sementara Reychu sudah mengeluarkan satu persatu surat undangan yang didesain unik seperti gulungan dimasa lalu, masa yang pernah Reychu lewati hingga bertemu cinta sejatinya.


Mata Reychu dibuat terpesona melihatnya. Dia tahu Bai Liam yang turun tangan sendiri untuk membuat persiapan pernikahan mereka. Tapi, dia tak berpikir bahwa Bai Liam atau Bai Gikwang memiliki selera yang bagus untuk memanjakannya.


Sebuah gulungan berwarna merah cerah dengan gambar naga dari tinta emas yang dibuat timbul memenuhi bagian belakang gulungan bila di buka. Disalah satu sisi gulungan terdapat rumbai emas yang Reychu tak tahu apakah itu emas sungguhan atau bukan. Bagian dalam gulungan terdapat kertas yang mirip dengan kertas kualitas tinggi di zaman kuno dan diatasnya tergores serangkaian kalimat sebagai tujuan undangan itu dibuat dan jangan lupakan stempel yang persis seperti stempel kerajaan tercetak di ujung surat.


Saat dia membacanya, mau tak mau Reychu seperti kembali ke masa kuno. Masa yang memberikan kesan mendalam pada dirinya dan dua sahabatnya.


Reychu mengulang memeriksa surat undangan model gulungan itu hingga 3 kali sebelum dia benar-benar mengakui kalau dia sangat puas.

__ADS_1


"Calon suami ku memang lain dari yang lain. Lihat bagaimana dia ingin membuat pesta pernikahan kami lebih dari kata luar biasa. Ini jelas-jelas spektakuler. Aku akan menciumnya setelah ini. Oh, tidak! Haruskah aku memberikan malam pertama lebih awal. Hmhm... Itu tak benar. Tanggung sekali, pesta kami akan berlangsung dalam waktu dekat. Jadi, seharusnya mampu bertahan hingga hari itu tiba. Lalu, hadiah apa yang pantas, ya..."


Reychu berpikir lama sembari memeriksa lagi satu persatu surat undangannya dengan tujuan agar semuanya benar-benar sempurna dan tidak ada yang kekurangan atau cacat.


Mata Reychu menyipit saat sesuatu terlintas dibenaknya. "Ya, kenapa repot-repot. Ku tunda saja dulu hadiahnya. Nanti setelah kami resmi menjadi pasangan suami istri, baru aku akan berikan. Lagipula, aku masih harus membersihkan hama sebelum pernikahan nanti. Wanita itu kalau sudah tak tahu malu dan tak tahu diri, benar-benar menjengkelkan. Otaknya yang katanya pintar itu tak lebih dari sampah karena tak bisa dibuat berpikir dengan benar. Beruntung aku ini pintar. Biar aku perbaiki kepintarannya yang eror itu."


Seketika, semua pemikiran itu di buang kebelakang kepalanya dan kembali santai seperti tak pernah memikirkan hal-hal seperti beberapa saat lalu dia lakukan. Reychu kembali menghitung jumlah surat yang dibuat.


Dia tak sadar waktu berlalu begitu saja.


"Wow! 1.000.000 undangan! Siapa yang coba dia undang? Banyak sekali!" seru Reychu tak kuasa menahan takjub dengan jumlahnya.


Reychu bercelatuk sesuai apa yang terlintas dibenaknya. "Apa dia mau coba pamer?!"



Reychu sedang melakukan panggilan video bersama Rayan dan Ryura. Tujuannya adalah untuk memamerkan surat undangan pernikahannya yang sudah jadi.


Berapa kali Rayan dibuat memutar bola matanya?


"Hola, halo... My best friends! Ku harap aku mengganggu waktu kalian!"


Di layar TV canggihnya yang bisa digunakan untuk melakukan panggilan video, ada dua wajah cantik lainnya disana. Yaitu, Rayan dan Ryura.


Bukan curiga, hanya saja dia seperti tak bisa menahan diri bila itu berkaitan dengan sang istri entah itu penting atau tidak. Sedang Shin Da Ming sedang melakukan operasi, jadi Rayan memilih menunggu di ruang kerjanya saja.


"Ya, kau sangat mengganggu ku. Enyah sana!" tukas Rayan.


"Oke, aku akan berbaik hati menemanimu. Hahahaha!" balas Reychu kebalikannya yang membuat Rayan mendengus mendengarnya.


"Baik, tak perlu menunggu lama. Niatku menghubungi kalian adalah... Jeng, jeng, jeng...! Taraaaaaaa!" Reychu mengangkat dua gulungan merah bergoreskan emas dengan rumbai ke hadapan dua sahabatnya meskipun sejak awal video terhubung, keduanya sudah melihat tumpukan gulungan yang ditata diatas meja nyaris menutupi sosok Reychu yang berada di baliknya, hanya saja tak menduga kalau itu adalah surat undangan.


"Aku mau memamerkan ini! Coba tebak... Apa ini!" dengan wajah tengilnya yang membuat Rayan memutar bola matanya jengah.


"Apaan itu? Penampakan mu jadi seperti kaisar yang duduk di balik meja kerja sedang mengurus tumpukan upeti. Haha..." kata Rayan.


"Hohoho... Jangan lupa sayang, calonku adalah seorang Kaisar sungguhan. Hahahaha..." jedanya. "Cepat tebak atau kita tak akan lanjut ke scene berikutnya."


"Lagakmu!" sembur Rayan greget.


"Maaf mengecewakanmu. Tapi, itulah kenyataannya. Hehehe... Ayo, cepat!" desak Reychu.

__ADS_1


"Sabar, tukang pamer! Entah apa yang mau dipamerkan sampai seperti itu!" sungut Rayan tak bisa bila tidak kesal pada sahabatnya ini.


"Undangan." akhirnya suara Ryura keluar juga.


"Halah. Cuma undangan rupanya... Eh?! Apa Undangan?! Surat undangan maksudnya?! Undangan pernikahan?!" kaget Rayan.


Tapi, Reychu malah mengangkat dagunya pongah seraya mengipasi diri sendiri dengan dua gulungan yang dipegangnya bergantian. Kelihatan sekali pamernya.


Siapa yang sebelumnya menuduh Bai Gikwang ingin pamer?


"REYCHUUUUUUUU...!" pekik Rayan kesal bukan main.


"Hahahaha... Bagaimana? Kau cemburu pastinya 'kan? Ayo, ayo. Rayu calon permaisuri ini biar kuberi undangan pernikahan ku dengan Kaisar. Ini eksklusif, lhoo..." goda Reychu sebagaimana biasanya dia dan Rayan berdebat.


"Makan itu undangan!" sungut Rayan seraya melotot pada Reychu yang justru tertawa lepas sampai langit-langit mulutnya terlihat.


"Tenang. Aku tidak akan memakan undangan ini sendiri. Aku akan menyebarkannya agar semua orang ikut memakannya! Yooowwww....!" kata Reychu menyelipkan kiasan didalamnya.


"Berapa banyak?" tanya Ryura yang mengabaikan pertengkaran keduanya yang sudah jadi kebiasaan itu.


"Oh?! Berapa banyak?! Tentu saja banyak!!!!!" ekspresi sombongnya terlihat lagi dan kali ini lebih tebal membuat Rayan ingin mengeruk wajah itu hingga habis tak tersisa.


Songongnya...


"1 juta, sayang! 1 juta! Astaga! 1JUTA....!!!!!" lagi mengipasi diri dengan gulungan tersebut.


Rayan melotot mendengarnya. "1JUTA!" tak kalah terkejutnya.


"Cemburulah, sayang. Aku tahu kau cemburu. Secara suamimu terlalu kere untuk memanjakan mu dengan semua kemewahan ini. Astaga... Betapa beruntungnya aku... Hohoho...!" Reychu memang jagonya memancing emosi orang lain.


"Apa katamu?! Suamiku tidak kere, ya. Itu karena kami sudah pernah merasakan menjadi raja dan ratu dalam pesta pernikahan. Sebagai senior aku mengasihani mu karena terlambat merasakannya!" keduanya saling melempar ejekan dengan Ryura yang menonton tanpa ekspresi sedikitpun.


Tapi, Ye Zi Xian yang menguping tidak bisa tidak panas telinganya. Dalam hati dia mengomel. "Kere?! Kalau aku kere, tidak ada orang kaya di dunia ini! Mulut calon istri Gikwang benar-benar bukan main. Huh! Lihat bagaimana aku akan berurusan denganmu." Ye Huan paling tidak bisa bilang caranya memanjakan Ryura masih dianggap kurang. Jadi, perkataan Reychu memancing rencana di otaknya.


"Siapa peduli... Wleeekkk..." Reychu sampai memeletkan lidahnya pada Rayan.


"Oke, kembali ke sini." merujuk pada tumpukan surat undangan yang ada di meja. "Menurut mu, seberapa luas tempat yang di sewa Gikwang untuk menampung tamu undangannya yang sebanyak ini. Belum lagi di kurangi dekorasi yang semakin membuat ruang berkurang banyak. Huuh... Aku tidak sabar untuk melihat seberapa mewahnya pesta kami nanti!"


"Rey, daripada kau bicara saja dari tadi, lebih baik segera kirim undangannya kemari. Aku dan Ryura harus menjadi orang pertama yang menerima undangan mu. Apa gunanya bagus kalau tidak disebar segera!" ujar Rayan guna menghentikan kelakuan pamer Reychu.


"Sabar, sayang. Sabar. Orang sabar akan dicintai olehku. Eh. Tidak jadi. Cinta ku hanya untuk si rambut merah ku tercinta!" ekspresi Rayan yang mendengarnya sudah seperti siap melempari Reychu dengan nuklir.

__ADS_1



__ADS_2