3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
AMPLOP


__ADS_3

"Rapat selesai! Kalian sudah bisa kembali!" seru Ye Zi Xian memberi perintah pada seluruh hadirin yang terdiri dari tetua, guru, dan beberapa kepala bagian yang menghadiri rapat siang ini kala rapat usai mereka lakukan.


Kemudian, satu persatu orang meninggalkan ruang rapat atau pertemuan sambil tak lupa membungkuk hormat sebagai salam undur diri mereka pada Ye Zi Xian yang melangkah pergi lebih dulu meninggalkan yang lain sebelum akhirnya mereka pergi menyusul.


Ye Zi Xian berjalan pergi untuk kembali menuju ruang kerjanya bersama Dong Jia Zi yang setia mengikuti tuannya seraya menggerutu dalam hati soal betapa banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan hingga membuatnya tidak bisa cepat-cepat bertemu istrinya, Ryura.


Setibanya diruang kerja Ye Zi Xian segera mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang tersisa agar ia bisa menemui Ryura secepatnya.


Dia sudah dilanda rindu yang amat sangat.


Baru saja akan kembali melanjutkan, Dong Jia Zi mengalihkan atensinya.


"Maaf mengganggu, Tuan Ye. Ini ada kiriman dari Tuan Muda Zhilli Shin untuk anda."


Menatap Dong Jia Zi dengan sebelah alis terangkat. "Apa itu?"


"Ini, Tuan ku..." sambil menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna putih gading kepada Ye Zi Xian.


Diambilnya amplop tersebut dan langsung membukanya. Ditarik lipatan kertas yang terdapat didalamnya, dibentangkan kertas yang merupakan sebuah surat lalu membacanya. Apa yang tertulis di dalamnya sukses membuat mata Ye Zi Xian sedikit melebar. Ternyata dia agak terkejut mengetahui apa yang tertulis di dalam surat tersebut.


Sampai tiba-tiba...


"Apa itu?" suara manis perempuan mengejutkan kedua pria yang ada disana, membuat keduanya spontan menoleh kearah suara itu berasal. Ternyata disebelah Dong Jia Zi muncul Ryura yang entah kapan sudah berada disana.


Selain Ye Zi Xian yang sudah terbiasa dengan kemunculan tiba-tiba dari istrinya, Dong Jia Zi malah masih sering dibuat terkejut oleh kelakuan misterius Nyonya-nya yang satu itu.


Tanda-tanda kehadirannya yang selalu gagal dideteksi berhasil membuat Dong Jia Zi meragukan kemampuannya. Meski terkadang dia juga berpikir kalau mungkin saja Nyonya-nya yang terlalu kuat.


Walaupun demikian, hal ini akan tetap menjadi motivasinya untuk bisa menjadi lebih kuat lagi.


"Oh, istriku sayang. Kemari lah..." Ye Zi Xian tersenyum senang atas kedatangan istrinya, kemudian bersamaan menggunakan isyarat tangan dia meminta Ryura mendekat.


Ryura hanya menurut.

__ADS_1


Hadirnya Ryura, tentu tak akan Ye Zi Xian lewatkan kesempatan untuk dapat melepas rindu kepada istri tercintanya.


Begitu Ryura sudah berada cukup dekat, segera pinggang ramping kesayangannya itu direngkuh agar lebih lekat padanya.


Sambil memeluk mesra pinggang Ryura yang berdiri di sampingnya dengan dia yang masih setia duduk di kursinya, Ye Zi Xian menyerahkan surat dari sahabatnya itu kepada Ryura dan membiarkan wanitanya membacanya, sementara dia memilih memeluk erat pinggang Ryura seraya menenggelamkan wajahnya ke perut ramping istrinya.


Ryura hanya membiarkannya saja suaminya mau berbuat apa.


Inilah yang paling disuka Ye Zi Xian dari Ryura.


"Undangan pernikahan..." bukan pertanyaan maupun pernyataan, hanya bentuk ke pemahamannya pada tujuan surat itu dikirim kesini.


Dan ternyata surat tersebut adalah undangan pernikahan antara Shin Mo Lan sang pemimpin Akademi Zhilli dan Rayan Mo yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini.


"Ya, akhirnya mereka akan menikah juga. Mo Lan benar-benar membuktikan perkataannya." ingatannya kembali ke saat Shin Mo Lan mengatakan niatnya yang kala itu masih rencana.


Mendongak untuk melihat wajah datar nan manis Ryura yang masih terfokus pada surat ditangannya itu.


Ryura tetap cantik di mata Ye Zi Xian di segala sisi dan kondisi.


Ryura menunduk untuk melihat suaminya. "Kapan pekerjaan mu selesai?"


Ye Zi Xian langsung tahu maksud istrinya itu.


"Seperti yang kau lihat. Kemungkinan, dua atau tiga hari lagi baru akan selesai."


"Kalau begitu, kita pergi setelah pekerjaan mu selesai." final Ryura tanpa bantahan walaupun nadanya tidak jua berubah.


Ye Zi Xian hanya mengangguk menuruti sambil terus bergelayut manja di pinggang Ryura.


Sampai matanya melirik Dong Jia Zi yang ternyata masih berada di sana berdiri seorang diri diantara kemesraan dia dan istrinya. Hal itu menimbulkan sedikit rasa kasihan muncul dimatanya.


Dong Jia Zi yang kebetulan juga balik menatap mata Tuan-nya pun menyadari arti tatapan itu.

__ADS_1


Rasanya ia ingin menangis mengetahui Tuan-nya memandangnya seperti itu.


"Jia Zi, kau sudah bisa pergi." mendengar itu Dong Jia Zi langsung pamit undur diri tanpa diminta dua kali. Hitung-hitung, sekalian melarikan diri dari kemalangan hati yang di kacangi oleh pasangan bucin.


Akan tetapi, baru beberapa langkah menuju pintu suara Ye Zi Xian kembali terdengar yang langsung membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Tuan-nya dengan tatapan tak percaya.


"Lain kali, jangan menyiksa dirimu dengan menjadi orang ketiga diantara aku dan istriku saat kami sedang berduaan. Mengerti?!"


Nadanya santai, tapi nyatanya cukup menusuk hati Dong Jia Zi yang tidak tahu harus bagaimana merespon perkataan Tuan-nya.


Seandainya juga dia tidak memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya, sudah dipastikan kalau Tuan-nya itu dapat melihat mulutnya yang menganga lebar akibat ketidakpercayaannya pada apa yang dikatakan Ye Zi Xian.


Hingga akhirnya dia hanya bisa...


"Dimengerti, Tuan." Ye Zi Xian pun melambai sebagai isyarat agar dia lekas pergi dan Dong Jia Zi pun pergi usai berpamitan.


Dia tidak bisa berlama-lama disana dan setelah ini dia akan terus ingat untuk tidak menjadi orang ketiga diantara Tuan-nya dan Nyonya-nya. Apalagi, Tuan-nya sudah tampak berubah sejak bersama istrinya. Pemimpin sekte itu mulai terkesan lebih bersahabat dari yang dulu walaupun kekejamannya juga sama bertambahnya.


Anggap saja itu poin positifnya selain kebucinan sang Tuan terhadap istrinya.


Setelah kepergian Dong Jia Zi, Ye Zi Xian segera menarik Ryura untuk duduk di pangkuannya.


"Aku merindukanmu! Sangat!" bisiknya mesra tepat ditelinga Ryura seraya memeluk pinggang istrinya erat.


Ryura terkekeh kecil mendengarnya sambil meresapi keintiman berdua.


"Untuk pertama kalinya aku merasa ingin menjadi pengangguran. Memiliki tanggungjawab dan pekerjaan yang menumpuk seperti ini membuat ku tak punya waktu untuk dihabiskan bersama mu. Beruntungnya aku, karena yang kucintai adalah kau. Wanita yang tak banyak menuntut dan itu membuat ku merasa tak enak karena membiarkan mu selalu mengalah." Ye Zi Xian berbisik sampai bibirnya menyentuh telinga Ryura, tak lupa dengan sesekali mengecupnya disela-sela bisikannya.


Menjauhkan wajahnya untuk dapat melihat seluruh permukaan wajah manis istrinya yang juga balik menatapnya.


"Haruskah aku melenyapkan Klan Ye dan Sekte Salju Perak agar tak ada yang membuat ku bekerja hingga mengabaikan istriku yang tercinta ini, hmm...?"


Pertanyaan paling tak waras yang Ye Zi Xian ucapkan!

__ADS_1



__ADS_2