
Meremas kepalanya dengan frustrasi adalah apa yang tengah Shin Mo Lan lakukan.
Saat ini pria tampan berambut hitam itu sedang duduk di kursi belajarnya, menumpu kedua sikunya dalam posisi tegak diatas meja. Membawa telapak tangannya meraup puncak kepalanya, membuat ia menunduk.
Tapi, bak memiliki awan hitam di atas kepalanya Shin Mo Lan tak bisa menutupi betapa tak berdayanya ia saat ini.
Ditemani oleh Min Hwan yang berdiri tegap di seberang meja. Raut wajahnya meringis penuh keprihatinan untuk junjungannya.
Untuk pertama kalinya ia melihat betapa frustrasinya sang Tuan.
Siapapun jelas tahu apa penyebab dia menjadi begitu tak berdaya. Apalagi dia yang menjadi saksi mata kala itu.
Jawabannya adalah Rayan.
Ungkapan perasaan dari gadis itu beberapa waktu lalu adalah sesuatu yang amat mengejutkan jantung Shin Mo Lan. Dia sampai ingin kabur saking tak tahu harus apa.
Flashback on...
Ungkapan perasaan gadis didepannya cukup mampu mengguncang jiwa raganya.
Dia jelas sudah biasa dihujani cinta dari banyaknya kaum hawa. Tapi, ini adalah kali pertama ia merasa ungkapan cinta itu luar biasa berdampak pada kondisi mental dan batinnya.
"Ehem. Nona Rayan, saya akan minta pelayan untuk menyiapkan kamar anda. Anda sebaiknya mulai beristirahat. Perjalanan kesini jauh dan pastinya melelahkan. Saya juga masih memiliki pekerjaan yang tak bisa ditunda. Mohon dimaklumi." karena tak ingin terjebak dalam suasana yang canggung akibat pernyataan cinta dari gadis yang baru beberapa saat dikenalnya, akhirnya Shin Mo Lan segera mengambil tindakan untuk melarikan diri.
Dia bahkan sampai lupa kalau perkataannya tadi tidak sesuai realita. Bukankah 3Ry datang ke Akademi Zhilli menggunakan teleportasi?!
Baginya, saat ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Satu-satunya cara adalah menjauh dari Rayan untuk sekarang.
"Oh tentu. Anda sudah pasti memiliki banyak pekerjaan. Saya jelas sangat mengerti itu. Tak perlu sungkan." Rayan tahu pria didepannya mengalami syok akibat ulahnya. Tapi, Rayan hanya berpura-pura seolah ia tak melihat ataupun melakukan semua itu.
Bahkan caranya berbicara saat ini, seperti seseorang yang tak pernah menyatakan cinta sebelumnya. Terlalu santai dan tenang.
Hal ini, entah mengapa mendatangkan sedikit kekecewaan dalam hati Shin Mo Lan. Dia seolah berharap Rayan akan melakukan sesuatu untuk mencegahnya pergi atau mengulang kembali perkataannya tadi.
"Apa yang terjadi padaku?!" gerutunya dalam hati.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan undur diri dulu." saat hendak berbalik, ia tersentak karena mengingat sesuatu. "Oh ya. Besok pagi, ajak rombongan anda untuk ke ruang perjamuan di kediaman ini. Kami sebagai tuan rumah tak mungkin acuh tak acuh pada tamu. Apalagi tamu yang dibawa oleh Yang Mulia Kaisar Agung Bai. Saya akan memerintahkan pelayan untuk menuntun kalian kesana." terangnya yang di angguki Rayan dengan patuh dan senyum manis nan imutnya.
Senyum itu tampak sangat bersahaja.
"Akan saya sampaikan, Tuan. Terimakasih atas sambutannya."
Mengangguk ringan, sebelum beranjak pergi. "Kalau begitu, saya permisi."
Rayan membungkuk sedikit sebagai rasa hormat.
Tetapi, ada yang aneh disana. Sejenak tampaknya Shin Mo Lan sempat terdiam dengan wajah cengongnya yang segera memerah secepat kilat, sebelum akhirnya melanjutkan kembali langkahnya yang tertunda dengan agak tergesa-gesa.
Ternyata, di waktu yang singkat itu Rayan sempat-sempatnya mengatakan sesuatu yang hanya dapat di dengar oleh pria itu. Yang mana mampu membuat pria itu membeku sesaat.
Bunyinya.
"Yang saya katakan tadi adalah kebenaran, Tuan Shin. Sudi kiranya anda mau mempertimbangkan saya."
Flashback off...
__ADS_1
Tak tahan melihatnya, Min Hwan pun angkat bicara. "Tuan, tolong kendalikan diri anda. Ini sungguh tidak seperti anda yang selama ini, bawahan ini kenal. Bukankah pernyataan cinta seperti ini sudah menjadi hal biasa bagi anda?!"
Mendongak dengan wajah yang entah sejak kapan telah kehilangan kedatarannya. Kini wajah itu kusut dan suram.
Melirik tajam Min Hwan yang seketika itu juga bungkam dan langsung menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah sang Tuan lagi.
Menarik nafas dalam-dalam. "Kau tidak tahu. Dia, lebih berbahaya daripada gadis-gadis kebanyakan yang selama ini mengelilingi ku. Dia... Benar-benar berbahaya!"
Perkataan itu pada dasarnya adalah karena dia tak tahu harus berkata apa. Kata 'bahaya' yang diucapkan juga sebenarnya tak dimaksudkan untuk benar-benar berbahaya. Itu hanya kiasan. Dimana yang dimaksud adalah, Rayan berbahaya untuk jiwa dan raganya. Karena, Shin Mo Lan merasa seperti ingin menyerah pada Rayan bila ia tak bisa menahan diri.
Entahlah, ia saat ini seperti takut untuk menjalani hubungan serius dengan seorang gadis. Apalagi, gadis itu adalah Rayan. Gadis yang mampu mengguncang ketenangannya, memacu detak jantungnya, membuat panas tubuhnya, merusak kerja otaknya, dan menghilangkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin di Akademi Zhilli dan penerus Keluarga Zhilli Shin.
Inilah alasannya.
"Hoaaammm..." uapan panjang Reychu kala bangun dari tidurnya. Di renggangkan otot-ototnya seperti kebanyakan orang lakukan.
Tapi, disaat matanya berusaha mengerjap lantaran masih lengket. Samar-samar ia dapat melihat seseorang duduk di pinggir ranjang sambil menatapnya intens.
Reychu berusaha menajamkan penglihatannya lebih.
Setelah itu, baru ia tahu siapa pelaku yang menatapnya sedari tadi.
Kaisar Agung Bai Gikwang.
Meski saat itu, ia belum mengenalnya.
Hei, mereka belum berkenalan tapi sudah begitu dekat? Tampaknya perkenalan tak berarti apa-apa.
Rasanya tak ada kata bosan untuk Kaisar Agung Bai bila memandangi Reychu. Mulai dari ia terlelap hingga kini tengah membalas tatapannya dengan tatapan tidak paham mengapa di perhatikan olehnya.
Sekarang Kaisar Agung Bai tahu, Reychu tak hanya jujur di mulut. Ekspresinya pun jujur. Maka dia bisa menarik kesimpulan, bahwa tak hanya mulutnya yang tajam ekspresinya pun tajam.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya.
Sambil menggelengkan kepala ia menjawab. "Tidak. Aku hanya berpikir apa yang harus aku lakukan agar bisa mengubah status jandamu. Kau tahu?! status itu meresahkan ku!" tuturnya jujur tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Reychu.
"Dasar aneh! Aku yang janda kenapa kau yang resah. Lihat aku! Aku tak merasa terganggu sedikitpun dengan status itu." enteng Reychu tak punya masalah.
"Itu karena kau cantik!" kata Kaisar Agung Bai tanpa sadar. Saking fokusnya pada sosok Reychu, ia jadi tak bisa berpikir dulu sebelum berucap.
Kurang dari sedetik usai mengatakan itu Kaisar Agung Bai tersadar. Namun, setelah dipikir-pikir dengan singkat tak ada yang salah dengan itu. Jadi, dia tak mengoreksi. Bahkan sedikit berharap dapat melihat ekspresi malu Reychu.
Sayang seribu sayang, Reychu malah mengelus wajahnya dengan senyum puas mendengar pujian mengarah padanya.
Seraya menganggukkan kepala ia berkata dengan percaya diri yang tinggi. "Haha... Itu tidak diragukan lagi. Aku memang ditakdirkan untuk hidup dalam rupa yang cantik. Kalau tidak cantik, aku tidak akan terlahir sebagai Reychu."
Kaisar Agung Bai kicep seketika. Tapi, ia tak merasa bagaimana-bagaimana. Menurutnya, Reychu itu unik dan kuat. Sejauh ini, ia bisa memastikan kalau gadis yang sudah berhasil bersemayam di hatinya ini bukan tipikal orang yang mudah disakiti. Malah mungkin sebaliknya, mulutnya itu cukup untuk menjatuhkan lawan.
Memikirkan itu, Kaisar Agung Bai tak bisa tidak puas dengan pilihannya. Tetapi, begitu ia mengingat akan masalah yang mungkin akan terjadi nanti bila ia mengatakan pada orangtuanya tentang niatnya menikah. Susah pasti, latar belakang menjadi sasaran utama.
Ini yang dia cemaskan.
Ia akui, ia belum memeriksa latar belakang Reychu. Tapi, bila benar ia bagian dari Ahn Reychan sudah pasti tidak ada masalah. Kini yang jadi masalahnya adalah status jandanya.
__ADS_1
Ini kembali membuatnya gelisah.
Bagaimana cara dia membuat Reychu kembali gadis? Tidak, ini jelas tidak mungkin. Tidak ada obat untuk itu. Seorang janda tidak bisa kembali menjadi gadis, itu sudah hukum alam.
Dia bisa gila kalau terus memikirkannya.
"Hei, kau..." seruan itu menyentak Kaisar Agung Bai dari pikirannya. "Berhenti melamun! Aku ingin tanya, apa yang kau lakukan di kamar perempuan? Dari tadi kau ada disini dan memperhatikan ku sebegitunya. Kau cabul ya?" terjang Reychu dengan kata-kata mautnya.
Kaisar Agung Bai yang diserang tiba-tiba, jadi terbelalak kaget. Bibirnya sampai berkedut tanpa sadar.
"Apa?! Tidak!"
"Lalu, apa yang di lakukan pria dewasa di kamar seorang perempuan kalau bukan karena ada niatan ingin mencabulinya? Ayo, mengaku saja!" desak Reychu.
"Astaga. Tutup mulutmu itu... Lihat baik-baik wajah ku!" geram sampai menunjuk wajahnya sendiri sambil menatap gemas kearah Reychu. "Lihat wajah tampan ini. Bagian mananya yang terlihat cabul. Hah? Ya, Dewa!" Kaisar Agung Bai tak tahu harus apa.
Sambil mengelus dagunya dengan ekspresi berpikir tanpa melepaskan pandangan menilainya pada wajah pria didepannya.
"Ya, kau tidak terlihat cabul. Kau malah luar biasa tampan." akuinya tanpa ragu. Mendengar itu Kaisar Agung Bai senang bukan kepalang. Dipuji sang pujaan hati siapa yang tidak senang.
Tapi, kalimat berikutnya membuatnya menoleh dengan tatapan datar kearah Reychu.
"Aku bisa menggunakan wajahmu itu untuk memenangkan taruhan dengan Rayan. Ide yang brilian! Hahaha..."
Saat ini Furby, Ruobin, dan Chi-chi tengah berjalan-jalan menikmati pemandangan Akademi Zhilli.
Setelah berpikir panjang sebelumnya, mereka memutuskan untuk menunggu sambil menjelajahi tempat yang mereka kunjungi.
Bukan apa. Menunggu dengan duduk diam akan menjadi sia-sia. Sahabat manusianya sedang di sandera oleh pria yang mendadak mengklaim mereka sebagai miliknya, kecuali Rayan tentunya. Gadis itu justru yang mengusir Ruobin hanya agar dapat berduaan dengan Shin Mo Lan.
Ini adalah hal baru yang di temukan Ruobin dalam diri Rayan. Yaitu, agresif terhadap lawan jenis yang disukai. Awalnya ia pikir, akan menjadi Reychu mengingat betapa gilanya gadis itu dalam bersikap. Tapi, siapa sangka.
Ruobin tak bisa menahan helaan nafasnya yang lelah.
Sementara, Furby tidak terlalu memikirkannya. Sejak ia tahu kalau Ye Zi Xian aman untuk berdekatan dengan Ryura diapun tak keberatan. Apalagi, saat melihat kalau Ryura tak menahan diri didekat pria itu. Maka biarkan saja. Dia justru berpikir, mungkin bila mereka berjodoh dia akan bisa dengan cepat melihat Ryura junior.
Memikirkannya, tak bisa membuat ia menahan kekehan geli.
Lain mereka, lain pula Chi-chi. Siluman bocah laki-laki kelinci itu tak henti-hentinya meneteskan air mata rindu untuk Reychu. Di pikirannya hanya ada keinginan untuk mendatangi Reychu dan meminta gadis itu untuk mengeloninya tidur.
Dia rindu Reychu. Memikirkannya, malah membuat ia ingin menangis keras. Benar-benar mirip bayi yang kehilangan ibunya.
"HWAAAAAAA... HUHUHU... HIKS... HUHU... HIKS... HWAAAAA...!"
Ruobin dan Furby yang melihatnya hanya memasang wajah jengah. Dan tanpa sadar berkata serempak.
"BERISIK!"
selamat membaca gaess...
πππ
__ADS_1