
Jleb...!
Terhenyak sesaat kala sebilah senjata tajam melayang kearahnya tanpa permisi. Untungnya, ia masih sempat menghindar sehingga senjata tajam itu menancap pada daun pintu yang baru saja ditutup.
Dengan sorotan setajam silet, gadis yang baru datang tak lain adalah Rayan mendelik kearah Reychu yang malah tersenyum bangga setelah apa yang baru saja ia lakukan.
Yup! Reychu-lah pelaku yang melempar senjata tajam yang tak lain adalah salah satu pedang barunya. Entah apa yang ia pikirkan sehingga terpikirkan untuk menyambut Rayan dengan cara seperti itu.
"Reychu... Kau sudah bosan hidup, ya?!" ancaman klise yang selalu ia katakan tiap kali sahabat gilanya itu melakukan sesuatu yang merusak mood-nya, belum lagi Ryura yang tak pernah tergerak untuk setidaknya melerai kedua sahabatnya yang lain. Gadis itu hanya diam tak peduli.
Untung sahabat!
"Hahaha... Jangan marah, sayang. Itu adalah caraku menyambut tamu!" jenakanya menikmati raut masam sahabatnya sampai tertawa renyah. Reychu bahkan sampai tak lagi mengingat apa yang telah terjadi sebelum kepulangan Rayan.
"Gila!" umpat Rayan gerah.
Kembali berjalan mendekati kedua sahabatnya dan meninggalkan pedang pendek Reychu masih menancap di daun pintu kamar sahabatnya itu. Ia tak berniat mencabut untuk mengembalikannya pada Reychu. Lebih baik dia biarkan saja disana sampai pemiliknya mengambilnya sendiri.
Terlanjur rusak suasana hatinya gara-gara sahabatnya yang gila itu.
Rayan datang sendiri tanpa sosok yang biasa mengekornya. Hal itu membuat Reychu bertanya.
"Dimana rubah mu?" tak ada bagus-bagusnya dari cara ia bertanya. Membuat Rayan mengasihani pemilik tubuh yang ditempati oleh Reychu, malang sekali Ahn Reychu yang asli karena tubuhnya ditinggali oleh orang gila seperti Reychu.
"Ruobin, Rey..." mencoba sabar menghadapi sosok yang satu itu. Walaupun selalu berakhir dengan adu mulut.
"Yah... Sama saja, bukannya dia itu siluman rubah. Ruobin atau rubah, sama saja." acuh Reychu tetap pada pendiriannya.
Rayan tak ada pilihan selain mendengus jengkel. "Dia akan datang nanti. Sekarang dia sedang ada urusan." jawabnya juga tak kalah acuh.
Mata Reychu memicing penuh curiga. "Hm... Jangan-jangan dia selingkuh lagi!" duganya.
Plak!
"Ouch!" mendelikkan matanya kearah Rayan yang membalas tatapannya dengan tajam penuh kekesalan. "Sakit tahu!" keluhnya.
"Lalu, apa aku peduli?!" acuh Rayan. "Makanya, kalau punya mulut itu di jaga. Jangan asal sembur." tegurnya menasihati meski terdengar layaknya ibu-ibu yang mengomel pada anaknya.
"Cih!" decih Reychu seraya mengelus kepala belakangnya yang selalu jadi sasaran pukulan Rayan tiap kali gadis itu tersulut emosi karena ulah Reychu sendiri.
"Dia mungkin tampan, tapi dia bukan pria yang bisa membuat ku jatuh cinta. Jadi, tidak bisa dikatakan kalau kami punya hubungan yang seperti kau maksudkan. Karena itu, selingkuh tidaknya dia. Itu terserah dia." katanya dengan nada centil, tak lupa tangannya bergerak mengibaskan rambutnya sambil bergerak untuk duduk di kursi yang tersisa.
"Umm... Masuk akal. Kalau begitu siapa kira-kira pria jelek yang akan membuat mu jatuh cinta?" celetuk Reychu tanpa pikir panjang.
"Reychu..." rengek Rayan tak terima dikatakan kalau jodohnya adalah orang jelek, lantas dihampirinya Ryura yang sejak tadi hanya diam saja. Di guncang kedua bahunya dengan maksud mengadu. "Ryura... Lihat dia..."
Sejenak Ryura acuh saja dengan perbuatan sahabatnya, kemudian barulah ia angkat bicara.
"Rencananya." katanya yang didengar kedua sahabatnya.
__ADS_1
Sadar akan urusan mereka yang belum selesai, segera baik Reychu maupun Rayan mengambil tempat duduk untuk mulai berunding.
Seperti yang mereka tahu, waktu mereka tidaklah banyak. Menyetujui kesepakatan dengan Duan Xi adalah sebuah peluang untuk menjelajahi dunia yang masih belum mereka ketahui dunia macam apa itu. Terlebih, sebagai sekelompok gadis yang terbiasa hidup tanpa kekangan membuat mereka haus akan petualangan. Apalagi, di dunia kuno ini ada begitu banyak hal yang cukup menarik untuk mereka pelajari.
Oleh sebab itu, ini adalah saatnya menyusun rencana untuk mengakhiri apa yang sudah seharusnya diakhiri.
Keseriusan menyelimuti ketiganya.
"Ray, apa penawarnya sudah selesai?" tanya Reychu yang kini sudah bersikap normal, yakni serius meski keseriusannya belum mencapai tahap sempurna atau dengan kata lain ia masih bisa bercanda ditengah-tengah perundingan mereka.
"Tak perlu risau. Aku sudah menyelesaikannya. Untung saja Ruobin membantuku menemukan bahan-bahan yang lebih manjur untuk dijadikan penawarnya. Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Rayan setelah menjawab pertanyaan Reychu.
"Aku berencana untuk memintamu langsung memberikan penawarnya pada Ibu Suri. Wanita tua itu harus segera disadarkan."
"Ibu Suri?" ulang Rayan memastikan kalau yang ia pikirkan sama seperti yang di maksud Reychu.
Mengangguk membenarkan. "Hm. Ibu Suri. Dia yang dicekoki obat itu. Entah berapa lama dia terbaring di tempat tidurnya. Ia sudah mirip dengan mayat yang diawetkan." asal Reychu.
Rayan mengangguk mengerti. "Tapi, apa itu tidak terlalu terburu-buru?" tanya Rayan sebab ragu tentang rencana tersebut.
"Bagaimana menurutmu, Ryu?" bukannya menjawab pertanyaan Rayan, Reychu malah melempar pertanyaan itu kepada Ryura yang sepertinya tidak akan bicara bahkan sampai mereka mencapai kesepakatan rencana.
"Lakukan saja." kata Ryura singkat.
"Semudah itu?" serbu Rayan, karena ia merasa tidak bisa begitu saja dilakukan. Bagaimanapun, Ibu Suri memiliki posisi penting di negara bahkan dihati Kaisar Li sendiri. Ia pikir, kalau dibangunkan begitu saja tanpa melakukan apapun malah akan memperburuk keadaan. Apalagi, mengingat lawan mereka bukanlah orang yang bisa diremehkan.
"Kerjasama?!" ulang Rayan dan Reychu bersamaan. Kemudian keduanya saling tatap menandakan mereka mengerti maksud Ryura.
"Ini tugasmu, Rey." kata Rayan.
"Tidak!" bantah Reychu dengan pemikirannya sendiri.
"Apa maksudmu dengan tidak?" protes Rayan gagal paham.
"Ini tugas kita berdua." Rayan mengernyit bingung mendengarnya. "Aku tidak bisa pergi kesana sendiri sebagai sosok Reychu Velicia. Bagaimana bisa aku kesana dengan penawarnya? Wanita tua itu akan curiga yang tidak-tidak nantinya dan dia pasti akan memberiku banyak pertanyaan. Aku tak berniat membongkar diriku diawal. Aku ingin tetap terlihat sebagai Ahn Reychu sampai dekrit perceraian disahkan. Karena itu, aku berpikir aku akan membuat sedikit skenario." memandang kedua sahabatnya bergantian.
"Kau akan kesana bersama ku. Aku akan memperkenalkan mu sebagai tabib kepercayaan ku. Jadi, saat wanita tua itu bangun dari tidurnya aku bisa memainkan peran menantu malang yang lemah dan putus asa!" lanjutnya menerangkan apa yang ingin ia lakukan, justru yang dikatakan Reychu membuat Rayan memasang wajah aneh yang memberengut tak berdaya.
Tak habis pikir, kalau nyatanya Reychu masih berpikir ini tampak seperti permainan yang bisa ia atur sesukanya.
"Lalu, kau akan mengadukan semuanya pada Ibu Suri. Setelahnya, mengajukan kerjasama. Begitu?" tebak Rayan yang tidak ada lain selain kemungkinan itu yang pastinya melekat di kepala sahabatnya, Reychu.
"Hihihi... Benar sekali!" lihatlah, wajah itu masih bisa menampilkan senyum gilanya setelah mengakui apa yang ingin ia sampaikan. "Kemudian, dari sana aku akan mengambil celah untuk membuat wanita tua itu menyetujui keputusan ku menggugat cerai Kaisar Li. Meski, pada akhirnya aku harus di ancam dengan hukum kerajaan di dunia ini. Itu akan lebih baik dari pada berdiam diri di Istana Huoli ini, sementara kalian melanglang buana dengan bebasnya. Aku tak akan biarkan itu terjadi!" jelasnya dengan tekad yang tak terbantahkan.
Rayan menganggukkan kepalanya paham. Ia pun sepertinya menyetujui rencana itu. "Lalu, bagaimana dengan Ryura? Dia tak mungkin hanya diam saja, bukan?"
Bukan bermaksud iri bila Ryura tak mendapat bagian tugas yang tengah mereka diskusikan. Melainkan, ia berpikir kalau Ryura yang berhubung sudah ada di istana tak mungkin hanya diam di kamar Reychu tanpa melakukan apapun.
"Tentu saja! Aku berencana untuk meminta Ryura menyelinap masuk ke kandang lawan untuk mencaritahu rencana Gong-gong itu." jedanya. "Seperti katamu, Ray. Kemungkinan ia akan membuat skema dalam proses persalinannya agar tidak diketahui kalau sebenarnya bayi itu memang sudah waktunya lahir. Karena itu, aku mau Ryura mencari tahu apa rencana mereka dan siapa-siapa saja orang yang terlibat. Keluarga Gong itu pasti punya banyak sekutu dan pengikut. Kalau tidak mereka tidak akan bisa tetap aman hingga saat ini." sambungnya mengakhiri.
__ADS_1
"Dimengerti. Tentu, itu pasti akan terjadi." setuju Rayan, lalu matanya beralih ke Ryura menanyakan persetujuannya. "Bagaimana menurutmu, Ryu?"
"Hm." dehemnya menandakan ia menyetujui rencana Reychu yang akan ia lakukan.
"Tunggu! Apa itu artinya... Kau akan meminta Ibu Suri berpura-pura tertidur seolah-olah kalau ia masih dalam pengaruh obat, begitu?" tanya Rayan menebak tujuan Reychu, ia ingin kembali memastikan agar semuanya menjadi sangat jelas.
"Tepat sekali! Dan disinilah tugasmu?" Rayan menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti.
"Aku lagi?"
"Um. Disini, aku ingin kau membius siapa saja yang terlibat dalam hal ini. Sisanya serahkan padaku." terang Reychu.
"Apa kau ingin menginterogasi mereka?"
"Benar. Tentunya, dengan bantuan kemampuan hipnotis mu." jelas Reychu.
Rayan sampai mengerjapkan matanya tak percaya. "Kita akan gunakan teknik hipnotis?"
"Ya!" dengan percaya dirinya Reychu menjawab. "Kau hanya perlu melakukan sesuatu pada mereka dan aku yang akan melakukan sisanya. Kita semua tahu kemampuan mu dalam berurusan dengan manusia. Mulai dari fisik hingga psikisnya. Jadi, kupikir ini tak akan sulit untuk mu!" final Reychu seraya menaik-turunkan alisnya.
"Huh! Kau itu selalu sesukanya. Ck!" gerutu Rayan karena kesal terhadap sahabatnya yang satu itu. Selalu bisa mengambil start tanpa persetujuan rekannya. Untung saja, rekannya adalah Rayan dan Ryura.
Apa jadinya kalau orang lain?!
Itulah kelebihan Rayan yang lain. Dia tak hanya bisa medis, meracik obat juga racun serta penawarnya, tetapi juga bisa mengurusi psikologis seseorang. Apapun yang berkaitan dengan makhluk hidup, serahkan pada Rayan. Hewan dan tumbuhan pun tak terlewatkan olehnya.
Sedang Ryura, lebih unggul dengan sesuatu yang bersifat tak masuk akal. Seperti kekuatan fisiknya yang melebihi kekuatan lelaki dewasa, tidak adanya aura kehidupan dari dalam dirinya sehingga ia mirip dengan mayat hidup. Bahkan mampu mengelabui apa saja disekitarnya, dan yang paling dikenal adalah tidak adanya perasaan dalam dirinya untuk siapapun itu.
Maka, lain halnya dengan Reychu. Yang keunggulannya terletak di kemampuan menghancurkannya. Meski sekilas seolah Ryura lebih unggul dari Reychu saat bertarung, tapi itu perlu dikoreksi. Reychu tak pernah serius dalam melakukan segala hal. Tapi, saat ia benar-benar masuk mode seriusnya, jangan berpikir ia akan melewatkan apapun. Ia akan menghancurkan apa yang sudah seharusnya dihancurkan dengan cara yang lebih dari yang Ryura lakukan. Itulah dia.
"Kapan?" saat sedang asyik-asyiknya menggerutu, Ryura malah menghancurkan gerutuan-nya.
"Benar! Kapan akan kita lakukan?" ikut menimpali pertanyaan Ryura dengan mengabaikan kekesalan singkatnya tadi.
"Secepatnya! Kalau perlu malam ini juga. Kita tak punya banyak waktu lagi. Pak tua itu pasti sudah menunggu kita terlalu lama. Lagipula, perjalanan kita nantinya akan sangat panjang. Jadi, semakin cepat masalah disini selesai, semakin cepat pula kita menemui kebebasan." terang Reychu dengan seringainya yang tak sabar untuk meluncur pergi menjelajahi dunia kuno ini.
Rayan mengangguk setuju. Ia pun sama, ingin secepatnya melihat dunia kuno diluar sana. Akan seperti apa rupanya? Ia begitu penasaran. Terutama tentang sebanyak dan seragam apa pria-pria tampan diluar sana.
Memikirkannya saja sudah membuatnya tak sabar.
Kalau Ryura tak perlu ditanya. Dia hanya mengikuti alur hidupnya saja.
maaf ya kalo pendek (1700+ kata) ceritanya.
Thor cuma bisa kasih segitu kali ini.
ok selamat membaca gaess....๐
__ADS_1