
Berlenggak-lenggok bak model, tapi Reychu melakukannya dengan sedikit berlebihan. Tapi, tidak tampak aneh. Tak lupa juga ia meletakkan satu tangannya di pinggang dan mengangkat tangan lainnya guna melambai-lambai kepada para penonton yang memadati tribun Area Shaozu.
Reychu melakukannya dengan penuh percaya diri, mengabaikan tatapan aneh dan tak percaya orang-orang padanya. Karena, tujuan utama Reychu ikut serta dalam kompetisi adalah untuk bermain.
Dia sudah lama tidak menggunakan otot tubuhnya untuk melakukan kegiatan yang memacu adrenalinnya. Lagipula, dia juga rindu berdarah-darah.
Memikirkan itu, Reychu semakin bersemangat.
Sampai di posisi yang sesuai, Reychu berdiri dengan berkacak pinggang masih penuh gaya.
Tak tahu saja dia, seseorang di bagian atas tersenyum tertarik melihatnya. Seseorang lainnya yang berdiri dibelakangnya masih terpaku dan mencoba tenang. Sisanya, mereka yang menatap tak percaya pada Reychu yang begitu berani.
"Dia penuh percaya diri." celetuk salah seorang diantara mereka.
Kembali ke panggung arena...
Melihat Reychu sudah hadir, pembawa acara yang sempat ikut tertegun melanjutkan kembali apa yang tertunda.
"KEMUDIAN, MARI KITA SAMBUT PESERTA KEDUA KITA! INI DIA NONA DU YU...!"
Usai memanggil peserta lainnya, sang pemilik nama pun muncul. Tidak seperti Reychu yang bergaya, dia datang dengan langkah tegas dan kepala terangkat. Keduanya sama-sama penuh percaya diri. Bedanya hanya, yang satu serius dan lainnya tidak.
Gadis bernama Du Yu ini terlihat berumur 20-an tahun keatas. Tubuhnya juga lebih kekar dari kebanyakan perempuan. Karena itu, dia memiliki dada yang nyaris rata dan panggul yang nyaris tak ada. Secara keseluruhan, dia lebih terlihat seperti laki-laki. Tapi, wajahnya yang jelas perempuan tak bisa dihindari.
Reychu yang melihatnya malah mengangkat alisnya. Bila berpikir dia mulai takut, jawabannya salah. Reychu justru semakin tertantang. Menurutnya, bila perempuan seperti lawannya di era kuno ini. Itu menandakan kalau dia pastilah perempuan yang mengisi waktu di hidupnya hanya untuk berlatih menjadi kuat.
Ini akan jauh lebih menyenangkan.
"KOMPETISI HIDUP DAN MATI INI TIDAK MELARANG PESERTA UNTUK MENGGUNAKAN SENJATA MEREKA. KARENA, BERANI MENGIKUTI KOMPETISI INI, ARTINYA BERANI UNTUK MATI. KECUALI, KALAU SANG PEMENANG MASIH BERBAIK HATI MEMBIARKAN LAWANNYA HIDUP."
"WAKTU YANG DI TENTUKAN ADALAH 1 JAM! LEBIH DARI ITU MAKA PESERTA YANG TERLUKA LEBIH PARAH AKAN DI ANGGAP KALAH!" jedanya. "KEDUA PESERTA, KALIAN PAHAM!" terang sang pembawa acara.
"Paham!" jawab Reychu dan Du Yu bersamaan.
Kemudian, pandangannya beralih ke kedua peserta dengan perbedaan yang jelas dan melihat mereka secara bergantian.
"Kalian siap?!" pembawa acara bertanya.
"Siap!" serempak Reychu dan Du Yu menjawab.
"Baik kalau begitu!" jedanya. "MARI KITA MULAI PERTANDINGANNYA!!!" begitu suaranya jatuh, seluruh isi tribun bersorak kegirangan. Suara mereka benar-benar memenuhi Area Shaozu.
"Sepertinya, kali ini jauh lebih meriah!" takjub Kaisar Agung Qin saat melihat bagaimana rakyatnya menikmati festival tahun ini.
"Benar, Yang Mulia." sahut sang Permaisuri disebelahnya.
Mereka kembali hanyut dalam pertunjukan usai berkomentar.
"Haruskah kau memandanginya seperti itu?" seru Ye Zi Xian saat tak sengaja melihat temannya yang seorang Kaisar Agung Kekaisaran Utara begitu antusias melihat ke bawah tepatnya ke salah satu peserta di atas panggung arena.
Dia tahu, hanya dengan melihat kearah yang sama dengan yang dituju oleh mata sahabatnya.
Mendengar itu Kaisar Agung Bai melirik sekilas dengan kilatan kesenangan dimatanya. Tak menutupi sedikitpun kalau ia sedang tertarik. "Sesuatu menarik perhatian ku. Tentu, aku harus memandanginya lebih intens." akuinya tanpa ragu.
Ye Zi Xian terkekeh mendengarnya.
"Oh ya. Bagaimana denganmu?" tanya Kaisar Agung Bai begitu mengingat sesuatu.
"Apanya?"
"Kau bilang, kau kesini karena ada sesuatu yang ingin kau urus." Kaisar Agung Bai sengaja tidak memperpanjang maksud dari pertanyaannya. Karena, yakin kalau sahabatnya ini jelas tahu apa yang ingin ia tanyakan.
"Ouh... Benar! Dan disinilah tempatnya. Jangan banyak tanya! Kau akan tahu nanti!" katanya dan segera menghentikan niat sahabatnya yang ingin mengorek lebih jauh.
"Hehe... Sial!" kekeh Kaisar Agung Bai tak tersinggung. Ia justru kembali hanyut dalam pertunjukan, terkhusus pada Reychu.
Kedua peserta saling melempar pandangan. Yang satu penuh binar kejenakaan dan satunya penuh binar keseriusan.
Tak ingin menunggu lawan bergerak lebih dulu. Du Yu segera berlari kearah Reychu yang membelalakkan matanya kala melihat lawannya hendak menyerangnya duluan.
Wush!
__ADS_1
Kecepatannya membuat orang terdekat dapat mendengar gesekan angin pada tubuhnya. Dia bergerak cepat seperti sedang membelah udara.
Seringai terukir di bibir Reychu dibuatnya.
"Ini baru menyenangkan!" gumamnya.
Saat lawan sudah mendekat dalam jarak 5 langkah, barulah Reychu mengambil ancang-ancang.
Sebuah kepalan terbang kearahnya. Tak ada ketakutan saat melihat gerakan lawan tersebut, Reychu justru semakin bersemangat.
Sebagai penyerang jarak dekat, Reychu lebih suka menempel.
Tap!
Kepalan tangan itu sukses di genggam oleh Reychu. Sambil tetap tersenyum, Reychu tak berniat memberi jeda pada lawannya. Segera, ia pusatkan kekuatan pada tangan dan kakinya. Didorongnya lawan hingga mundur beberapa langkah dengan cepat sampai nyaris terhuyung jatuh kebelakang kalau saja dia tidak gesit menjaga keseimbangan tubuhnya.
Dukdukdukdukdukduk...!
Sreet...
Grep!
Belum ada keinginan untuk melepas genggamannya. Lanjut, Reychu menarik kuat lawan hingga tubuhnya membentur tubuh Reychu. Dengan suka hati Reychu melingkarkan satu tangannya yang bebas pada pinggang kekar gadis didepannya.
Tak lupa senyum sumringah yang tak juga luntur.
Gerakan aneh itu menyentak Du Yu sebagai lawannya. Tak terpikirkan olehnya akan ada di posisi menggelikan ini.
"Kau..." desisnya dengan jijik yang tak ditutup-tutupi.
Reychu lantas tertawa renyah sambil membiarkan Du Yu melepaskan diri dari pelukannya dengan cara mendorongnya. Sungguh, itu dorongan yang terbilang kuat, tapi, berhubung konsentrasi lawan terganggu, dorongannya tak jadi masalah pada Reychu.
Tak hanya Du Yu yang terkejut dengan gerakan Reychu, para penonton pun dibuat tertegun. Beberapa dari mereka yang mempelajari ilmu beladiri segera mengerutkan keningnya, mereka berpikir keras karena bingung.
Sejak kapan ada gerakan seperti itu dalam seni beladiri?!
Jelas, tak ada jawabannya.
Tetapi, mata mereka tak berniat berpindah dari apa yang tengah mereka tonton saat ini.
Rasa jijik Du Yu mulai di kesampingkan. Dia berpikir kalau itu mungkin adalah trik lawan untuk membuatnya menyerah. Tanpa dia tahu kalau Reychu hanya sedang bermain-main, jadi jelas tak ada trik atau apapun dalam aksinya saat ini.
Du Yu meningkatkan keseriusannya. Di mengernyit tajam saat melihat bahwa lawan terlihat begitu santai. Padahal dia jelas dapat melihat, kalau lawannya ini tak memiliki energi spiritual yang tinggi. Bahkan bisa di katakan kalau tingkat kultivasi Reychu berada di bawahnya. Lantas, mengapa bisa terlihat setara?!
Serang kanan, serang kiri, serang depan, tendang, dan sebagainya sudah dikerahkan oleh Du Yu kemudian. Ketidaksenangannya akan sikap santai Reychu dari awal hingga saat ini menyentuh titik singgungnya. Dia merasa dipermainkan dan direndahkan, jelas ia tak bisa terima perlakuan tersebut.
Dengan setitik kemarahan yang tumbuh, Du Yu menjadi lebih ganas.
Di tribun dekat panggung arena, kelompok 3Ry menyaksikan dengan serius.
Duan Xi tahu Reychu kuat, tapi dia masih tetap terkejut saat melihat betapa mampunya gadis yang sering bertingkah gila itu saat menghadapi lawannya yang memiliki tingkat kemampuan diatasnya.
Pria itu sampai menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Jujur, dia kagum. Tapi, itu tak membuatnya menyesal telah menolaknya sebagai murid. Baginya, Ryura adalah yang pertama.
Ruobin pun tak kalah tertegun. Dia belum pernah melihat Reychu dalam pertarungan. Tapi, tampaknya dia paham. Ketiga gadis yang bersahabat itu, tak satupun diantara mereka yang lemah.
Chi-chi yang paling antusias diantara mereka. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak menyemangati Reychu. Kekaguman meningkat pesat. Dia mungkin sudah jatuh cinta.
Bukan dalam arti yang sebenarnya.
Rayan dan Ryura yang paling santai. Bukan pemandangan asing lagi saat melihat sahabat gila mereka bertarung. Bahkan, keduanya hanya bisa merasa kegilaan Reychu terus meningkat lebih dari sebelumnya. Dia -Reychu- paling tidak tahan bila tidak bermain-main dengan nyawa seseorang saat sudah memasuki area berdarah.
Dia akan menikmati setiap detiknya kala tangannya berlumuran darah lawan.
Rayan disana menonton dengan malas. Bagaimanapun, dia sudah bosan dengan pertarungan Reychu. Dia jelas tahu tujuan gadis gila itu melakukan kekerasan untuk apa. Meski sama mampunya, Rayan lebih suka menghabiskan waktu untuk bereksperimen.
Sedang, Ryura tak bergeming. Posisinya tak juga berubah. Sesekali dia hanya mengintip dari celah matanya, saat kepekaannya bermain. Selebihnya, dia tak peduli.
Tapi, hal itu tidak dialami oleh seluruh sisanya. Penonton.
Menyaksikan bagaimana kian sengitnya pertarungan Reychu dan Du Yu, semakin membuat para penonton tercengang hingga tak tahu harus apa. Area Shaozu pun malah menjadi hening.
Semuanya hanya fokus pada pertandingan. Sedikit suara yang bersorak.
__ADS_1
Di atas, cengkeraman tangan Kaisar Agung Bai Gikwang mengencang pada lengan kursi saat matanya kian membara penuh binar ketertarikan saat melihat hal yang asing itu. Menurutnya, gadis di panggung arena tidak biasa.
Dia yang biasanya malas justru menegakkan punggungnya untuk melihat dengan seksama betapa menariknya tontonan yang ditangkap oleh matanya.
Tentu, pandangannya itu diperuntukkan bagi Reychu.
Sementara, Ye Zi Xian tak terlalu banyak merubah ekspresi wajah. Dia hanya tertegun sejenak saat melihat hal yang terlihat asing itu. Tapi, selebihnya dia kembali normal dan hanya menonton dengan acuh tak acuh.
Tapi, saat ekor matanya yang tajam itu melihat sesuatu yang menurutnya menarik. Segera, ditarik pandangannya dari panggung arena dan beralih ke tribun bawah.
Dia tak melakukan banyak pergerakan dan hanya menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk seringai yang tak biasa.
"Aku menemukan mu, sayang!" desisnya dalam hati.
Kemudian, ia lebih memilih diam dan menonton. Meski pada kenyataannya, fokusnya hanya mengarah pada apa yang dia tangkap tadi.
Di saat semua orang berada dalam pemikiran mereka masing-masing. Di atas panggung arena, Du Yu sudah semakin tak karuan.
Setengah jam dilalui, ia tak juga dapat melukai Reychu. Hanya memiliki kesempatan untuk merusak pakaiannya, hingga menjadi penuh dengan sobekan. Ini tentu membuatnya marah. Dia tak mengerti mengapa sulit membuat lawannya yang satu ini terluka.
Disisi Reychu sendiri, hanya terkekeh geli melihat betapa frustrasinya Du Yu yang kini mulai mengeluarkan senjatanya.
Melihat itu, Reychu malah semakin antusias. Ekspresi itu ditangkap seluruh pasang mata yang ada di Area Shaozu.
Mereka tak bisa berkata-kata, selain merasa ngeri. Menurut hampir semua orang yang ada disana, Reychu benar-benar bukan lawan yang setimpal.
Melawan Reychu, sama seperti melawan orang gila.
Kenapa?
Karena, hanya akan membuat diri sendiri semakin menyedihkan. Niat awal ingin menang dari lawannya dengan bangga, tapi sayang, harus menelan kepahitan karena mendapat lawan yang bahkan tidak merasa sedang dalam keadaan genting.
Keheningan masih menyelimuti.
Du Yu terlihat mengeluarkan pedangnya dari dalam cincin ruang miliknya.
Reychu yang melihat itu tak bisa tidak berceletuk. "Ingin bermain senjata?! Itu bukan masalah..." wajahnya tak merasa tertekan sedikitpun. Itu sukses menambah bahan bakar dalam amarah Du Yu.
Dengan santai namun cepat, Reychu segera menyibak celana panjang longgarnya yang sengaja ia pakai khusus untuk mengikuti kompetisi ini.
Tepat di kedua betisnya, ada dua senjata jenis pedang namun matanya berukuran lebih pendek.
Melihat itu, membuat wajah Du Yu semakin redup. Dia tahu sekarang, apa yang membuat kakinya kesakitan dan gagal menjatuhkan lawan melalui kakinya.
Kejengkelan tak bisa disembunyikan dari matanya.
Sayangnya, Reychu tak peduli meski melihatnya.
Dia senang bermain-main. Tapi, semangatnya sedikit menurun saat semakin lama semakin tahu kalau lawannya tak sekuat yang ia pikirkan.
Cara bermain Reychu mudah. Dia hanya ingin menemukan orang selain Ryura yang bisa mengalahkannya. Entah mengapa, kekuatan yang dimilikinya membuatnya ingin merasakan kekalahan.
Tapi, sayang...
Seolah enggan, Kekalahan seperti menjauh darinya.
Dengan santai dan sedikit kebosanan, Reychu berkata. "Aku akan mengakhirinya. Kau sungguh lawan yang tidak menantang sama sekali. Terlalu lemah. Bagaimana bisa aku membuang-buang waktu hanya untuk melawan mu? Kalau begini, bagaimana bisa aku kalah. Itu benar-benar merusak suasana hatiku!" lugasnya dengan suara lantang yang dapat didengar oleh beberapa orang dengan ketajaman pendengaran yang baik.
Mereka yang mendengarnya menjadi tak bisa berkata-kata. Tak tahu harus berkomentar apa setelah mendengar kalimatnya yang aneh luar biasa.
"Hahaha... Kau dengar itu! Dia ingin kalah! Ini pertama kalinya aku mendengar yang seperti itu." Kaisar Agung Bai Gikwang tertawa dengan tak tertahankan hingga mengeluarkan air mata.
Dia dapat mendengarnya karena memiliki kemampuan pendengaran yang tajam.
Ye Zi Xian memilih menggelengkan kepalanya dan memandang menyedihkan pada penguasa Negara Es di sampingnya. Berpikir, bagaimana bisa Kaisar Agung menjadi begitu tak berwibawa.
Tapi, sialnya. Dia adalah pemimpin yang diagung-agungkan oleh seluruh masyarakat Kekaisaran Utara.
maaf semua. no Thor up lagi. silakan menikmati. Thor lanjut dulu yaaa...
pay-pay
__ADS_1
ππππ