
Reychu dan Bai Liam tiba di gedung teater bertujuan untuk memenuhi undangan dari pihak penyelenggara teater.
Bukan sembarang teater, sebab ini adalah teater yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, dimana keluarga Chen yang mempertahankannya sebagai salah satu warisan budaya.
Teater ini disebut Changshou Juchang milik keluarga Chen sang keluarga seniman yang bergerak di bidang seni peran.
Pasangan kekasih itu memasuki gedung usai menunjukkan surat undangannya sesuai peraturan.
Sambil saling merangkul mesra tanpa mempedulikan betapa banyaknya pasang mata yang melihat mereka, keduanya masuk dan melewati tamu undangan lainnya begitu saja sembari mengikuti pelayan yang menuntun keduanya ke meja yang sudah disesuaikan untuk setiap tamu.
Dan tentu saja, pria luar biasa seperti Bai Liam akan diberikan tempat yang istimewa juga.
Inilah yang namanya kedudukan berbicara.
"Wow... Tempat ini di hias dengan sangat bagus. Warna merah menyalanya membuatku berpikir kalau ini bukan acara teater, tapi pesta pernikahan keluarga kerajaan. Haha..." seru Reychu sambil terus melihat-lihat sekelilingnya yang begitu memukau.
Meski begitu tak lupa dia membatin. "Kalau Rayan ada disini, matanya pasti berkilauan saking senangnya."
Bai Liam menunduk guna menatap wajah berseri sang kekasih tercinta. "Aku akan membuat yang lebih dari ini untuk pernikahan kita nanti. Jangan khawatir..."
Mendengar itu, Reychu segera menatap Bai Liam dengan mata terbelalak penuh harap. "Benarkah?!"
Sambil mengangguk Bai Liam menjawab. "Untukmu, tentu saja. Kau sudah seharusnya mendapatkan semua itu... Bagaimana bisa gadisku, ku biarkan merana!" ada senyum di matanya yang memanjakan.
Bagaimana Reychu tidak meleleh dibuatnya?
"Ouh... Itu sudah pasti. Kau tidak bisa membiarkan aku merana. Ohhh... Aku makin cinta padamu. Uuunnncchhh..." seraya mengeratkan rangkulannya pada pinggang Bai Liam tanpa malu.
Sama halnya dengan Bai Liam, keduanya bertingkah seolah dunia milik berdua. "Aku lebih-lebih mencintaimu."
Pelayan yang memandu didepannya dibuat kikuk tak menyangka akan menjadi salah satu saksi mata kemesraan salah seorang pesohor ternama di negara itu. Dia sudah seperti debu yang berterbangan diantara gelembung-gelembung cinta yang merah muda.
__ADS_1
Dalam hati dia bergumam. "Ku pikir berita kebucinan mereka hanya rumor. Ternyata..."
Tak hanya sang pelayan yang berpikir demikian, tapi semua yang melihatnya pun berpikir demikian. Tak pernah menduga kalau kebucinan seorang Bai Liam benar adanya dan wujud bucinnya adalah seperti yang sedang mereka saksikan saat ini.
Sosok luar biasa yang biasanya bersikap dingin dan tanpa ekspresi kini berseri-seri saat hanya dengan menatap wajah kekasihnya. Itu cukup untuk menunjukkan seberapa besar kedudukan Reychu di hati pria luar biasa tampan dan hebat itu.
Para kaum hawa disana tak bisa tidak meleleh dan salah tingkah karenanya. Pria seperti itu adalah idaman para wanita.
Sementara, kaum Adam hanya bisa menanggung derita karena beberapa dari mereka juga turut membawa pasangan sudah tentu mulut pasangan mereka mulai berceloteh ria hanya untuk membandingkan pasangan mereka dengan Bai Liam.
Tersinggung, pasti. Tapi, mereka bisa apa. Tak mungkin marah pada Bai Liam hanya karena hal ini 'kan? Lagipula, siapa Bai Liam itu? Seperti mereka punya nyali saja untuk protes padanya.
Reychu dan Bai Liam sendiri seperti mengunci diri dari dunia luar bila sudah berduaan sekalipun saat sedang berada diluar ruangan.
Keduanya benar-benar...
Di antara kerumunan yang menyaksikan asmara keduanya, ada satu yang hanya duduk sambil bersedekap dada serta menatap lurus ke arah Reychu dan Bai Liam dengan wajah tanpa ekspresinya. Tatapan matanya sarat akan ketidaksukaan.
Beberapa saat lagi acara pentas teater akan di mulai, semua tamu undangan telah duduk di tempat yang disediakan. Meja yang di sediakan untuk Bai Liam ada di barisan paling depan dekat dengan panggung teater.
Meja bundar itu memiliki 4 kursi, dua diperuntukkan bagi Bai Liam dan pasangan yang dibawa dan 2 lagi sudah diisi oleh pasangan tua yang terkenal sebagai sastrawan.
Kedua pasangan itu saling sapa dengan hormat sebelum mengambil tempat duduk untuk bersiap menyaksikan acara yang hendak diselenggarakan.
Tapi, sedikit waktu yang tersedia digunakan untuk bertukar kata. Reychu pandai membawa dirinya kali ini.
Reychu dan wanita tua didepannya tampak asik bercengkrama.
"Senang melihat pasangan muda seperti kalian begitu akur." kata wanita tua, istri pria tua disebelahnya dengan senyum senang melihat kearah Reychu dan Bai Liam bergantian.
Sejenak hal itu mengingatkannya pada masa mudanya. Akibatnya dia menoleh kearah sang suami dan berceletuk. "Seperti masa muda kita, ya?"
__ADS_1
Reychu menjawab dengan santai tanpa ada gestur malu-malu yang kebanyakan perempuan miliki kala dihadapkan pada hal ini.
"Nyonya bisa saja? Tapi, senang mendengarnya. Sebagai pasangan bukankah sudah seharusnya seperti ini? Tidak perlu merasa malu apalagi sungkan untuk menunjukkan kasih sayang satu sama lain di muka umum. Menurut ku, selama itu dilakukan dengan tulus dan tidak dibuat-buat akan baik-baik saja." terang Reychu.
"Benar sekali. Sekarang banyak pasangan yang hanya ingin dilihat romantis didepan umum tapi sebenarnya saling bermusuhan dibaliknya. Itu buruk sekali." kata wanita tua itu menyayangkan hal tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, begitulah. Maka dari itu, kami memutuskan untuk tak perlu ambil pusing mengenai pandangan orang lain. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa seperti inilah isi hati kami yang sesungguhnya." jelas Reychu seraya mengaitkan jari-jemarinya dengan milik Bai Liam yang dibalas sama bahkan dengan sedikit remasan sebagai bentuk betapa dalamnya perasaan sang pria pada wanitanya.
"Saya dengar kalian belum menikah. Di berita justru dua pria lainnya yang menikah begitu mereka menunjukkan pada publik tentang pasangan mereka. Bukankah kalian berteman?" kini suara pria tua -suami dari wanita tua disebelahnya- angkat suara.
"Iya. Mereka memilih melakukannya segera karena itu pilihan mereka. Sedangkan kami, tepatnya saya... Saya ingin memberikan yang terbaik untuk kekasih saya. Pernikahan ini akan menjadi sekali seumur hidup. Jadi, saya mau mengikat dia dengan cara yang luar biasa." tutur Bai Liam sembari memandang Reychu dalam dengan segala luapan cinta yang tak bisa dijabarkan.
Bai Gikwang teramat mencintai Reychu.
Mendengar kalimat romantis itu, bukannya Reychu yang tersipu malu. Tapi, justru pasangan tua didepan mereka yang sampai berkaca-kaca saking menyentuhnya ketulusan cinta Bai Liam.
"Ouh... Sayang, kau lihat itu! Betapa romantisnya dia. Kata-katanya tak terdengar membual. Lebih seperti sedang bersumpah bahwa Nona ini adalah segalanya baginya." komentar wanita tua itu seraya menakup kedua pipinya dengan perasaan manis melihat bagaimana Bai Liam menunjukkan cintanya pada Reychu yang malah tersenyum bangga seolah berkata 'sudah seharusnya kau begitu'.
Beruntung, wanita tua itu gak menangkap ekspresi Reychu yang pasti akan dianggap kurang tepat di momen seperti ini.
"Benar. Aku salut, juga bangga. Ternyata masih ada pria seperti itu selain aku di dunia ini tentu saja." tak lupa pria tua itu membanggakan dirinya sebagai salah satu pria dari jutaan pria yang romantis dan setia.
"Hahahaha... Kau ini... Tapi, itu benar adanya."
Keempatnya pun tertawa bahagia hingga menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Agaknya mereka penasaran hal apa yang dibicarakan hingga pria yang biasanya datar saja bisa sampai tertawa senang seperti itu.
Di kursi lain yang tidak jauh maupun dekat dengan kursi Reychu dan 3 orang lainnya. Seorang wanita dengan tampilan cantik nan elegan nyaris kesulitan untuk menjaga ekspresi cemburunya kala melihat pemandangan didepannya.
Tangannya terkepal erat hingga kuku panjangnya yang sudah dipoles nyaris menembus tas tangan berharga mahal dalam genggamannya. Perasaan tak senang memenuhi rongga hatinya.
"Bagaimana bisa begini!" pekiknya dalam hati tak terima.
__ADS_1