3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
ORANG-ORANG YANG TIDAK RELEVAN


__ADS_3

Seorang wanita berjalan dengan anggun kearah para tamu undangan satu demi satu sampai dia mendatangi meja 3Ry beserta pasangannya.


Reychu menyikut Rayan yang duduk disebelahnya lalu berseru dengan suara berbisik. "Itu bukan Jiang Wanwan 'kan?"


Rayan mengamati sejenak sosok yang tengah mendekat kearah mereka, kemudian dia mengangguk. "Benar, dia Jiang Wanxi, adik Jiang Wanwan. Perempuan yang pernah cari masalah dengan kita di toko ponsel. Kenapa jadi dia? Bukankah tadi kita melihat Jiang Wanwan sedang berjalan kearah sini?" bingungnya juga dengan perubahan yang tak terduga.


Mata Reychu menyipit seperti sedang menerka-nerka. "Apa ini semacam plot cinta segiempat?"


Rayan melotot mendengarnya. "Cinta segiempat apa maksudmu?!" dia tak senang mendengarnya.


"Kalau tidak percaya, tanyakan itu pada Ryura. Bukankah tadi dia mengingatkan mu untuk hati-hati? Tampaknya, kasusmu tidak sesederhana itu. Lawan kita kali ini bukan anak manja seperti Meng Ruona." tukas Reychu.


Hal itu membuat Rayan berpikir keras. Ekspresi kesal bercampur malas tergambar diwajahnya. Dia benar-benar tidak senang dengan kemungkinan itu.


"Ryu, bagaimana menurutmu?" Tanyanya pada Ryura yang sedang suap-suapan dengan Ye Zi Xian dan dia yang tak melepaskan tatapannya dari sosok Jiang Wanxi yang kian mendekat.


Mendengar namanya disebut, Ryura menoleh sedikit kearah Rayan lalu tanpa diberitahu ia langsung mengangkat pandangannya kearah datangnya Jiang Wanxi.


Sejenak terdiam dan mengumumkan 1 kata. "Lumayan." Lalu Ryura kembali memusatkan perhatiannya pada sang suami.


Sementara Rayan, alarm tanda siaga 1 berbunyi dibenaknya menandakan kalau kata 'Lumayan' yang Ryura ucapkan berarti lawannya kali ini memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dari saat menghadapi Meng Ruona sebelumnya. Artinya, lawannya lebih tangguh.


Sayangnya, sebagai mantan pembunuh bayaran, Rayan tak takut sama sekali. Buktinya, kini seringai menghiasi wajah imutnya.


"Berani menginginkan suamiku?! Heh..." Belum selesai, Reychu sudah menyela.


"... Dia pasti kebanyakan tidur siang. Mimpinya jadi ngawur." Seketika tatapan tajam Rayan menghunus kearah Reychu yang dibalas cengiran khasnya.

__ADS_1


Kembali ke Jiang Wanxi yang tinggal beberapa langkah lagi sampai ke meja 3Ry beserta suami mereka.


Sikapnya saat mendatangi mereka cukup alami hingga siapapun yang melihat tidak akan dengan mudah menyadarinya dan tidak akan tahu ada yang janggal dari sikapnya.


Ya, sikapnya dalam menyapa tamu undangan di meja tempat 3Ry berada. Tapi, bagaimana 3Ry gagal melihat topeng itu?


Meskipun terlihat menyapa ketiga pasangan yang sedang menikmati jamuan pesta, sebenarnya tanpa dicurigai, perempuan itu lebih condong ke Shin Da Ming. Menyapa, tersenyum, beramah-tamah, bahkan mencoba mengakrabkan diri dengan cara yang alami tanpa menimbulkan kecurigaan, itu dia lakukan kepada Shin Da Ming saja.


"Halo, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Terimakasih sudah datang ke acara pesta ulang tahun Kakek saya ini. Semoga juga hidangan yang kami sekeluarga siapkan bisa memuaskan anda sekalian. Perkenalkan nama saya Jiang Wanxi." kata wanita itu sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Sayangnya tak ada dari para pria yang mau menyambutnya.


"Maaf, Nona. Kami tidak berjabat tangan dengan perempuan." tukas Shin Da Ming dengan wajah datarnya tanpa peduli dengan perubahan ekspresi di wajah Jiang Wanxi yang merasa agak malu karena keterusterangan Shin Da Ming dalam menolaknya.


Sementara Reychu terkikik geli mendengarnya tanpa peduli kalau Jiang Wanxi menoleh menatapnya tak suka yang samar.


"Jangan sentuh mereka, Nona Muda Jiang. Mereka sudah ada yang punya dan pemiliknya sangat pencemburu. Entah bagaimana jadinya kalau ada yang berani mendekat..." implikasinya sangat jelas, apalagi Reychu mengatakannya tanpa menutupi makna dari ekspresinya yang menyengir penuh maksud.


"Oh, begitu. Sungguh luar biasa sekali. Tuan-tuan bisa begitu menjaga hati pasangannya. Betapa beruntungnya Nyonya-nyonya menemukan pasangan seperti Tuan-tuan ini." Jiang Wanxi hanya bisa mengikuti percakapan saja bila tak ingin diketahui memiliki niat lain.


"Tentu, sayang." Jujur Shin Mo Lan sambil menyodorkan sesendok dessert manis bermaksud untuk menyuapinya, disisi lain dia tahu perkataan istrinya memiliki maksud lain.


Jiang Wanxi hanya bisa menanggapinya sambil tersenyum seolah-olah dia turut bahagia melihat keromantisan pasangan didepannya, padahal dalam hati sepenuhnya sudah terbakar.


Tak ingin hatinya kian hangus terbakar api cemburu, Jiang Wanxi pun memilih pamit seraya diam-diam menatap penuh arti kearah Rayan yang tanpa malu bermanja-manja pada suaminya.


"Kalau begitu, silakan dilanjutkan menikmati jamuannya. Saya masih harus menjamu tamu yang lain. Permisi." 3Ry dan para suami mengangguk sebagai tanggapan tanpa basa-basi sama sekali.


Jadilah, Jiang Wanxi pergi dengan tangan terkepal dan wajah yang mengeras marah. Di tempat yang tak jauh dari sana, Jiang Wanwan menonton dengan suka cita. Puas sekali rasanya melihat sang adik diabaikan sedemikian rupa.

__ADS_1


"Teruslah terbakar, adikku sayang. Teruslah terpancing hingga kau memilih untuk menyerang. Aku akan mengawasi mu dari jauh dan memandu mu diam-diam agar kau menemui kegagalan. Kegagalan mendapatkan Shin Da Ming tapi sukses menyingkirkan istrinya. Saat itu terjadi... Kau akan aku singkirkan tak hanya dari dalam keluarga Jiang tapi juga dari pujaan hatiku. Hhhhh..." Jiang Wanwan tertawa jahat secara sembunyi-sembunyi seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan sambil bersikap anggun.



Sepulang dari jamuan pesta ulang tahun Tuan Tua Jiang.


Rayan dan Shin Mo Lan baru saja keluar dari mobil mewah mereka dan langsung memasuki rumah megah keduanya sembari bergandengan tangan dengan penuh mesra.


Dalam langkah menuju kamar, Rayan angkat bicara soal apa yang dia lihat tadi saat jamuan berlangsung. "Suamiku, kau tahu ada yang salah tadi dengan wanita itu, kan? Jujur saja, aku sangat tidak suka caranya mencoba mendekatimu. Aku cemburu!" tukas Rayan tanpa ditutupi hingga pipi chubby nya menggembung saking tak bisa menahan perasaan yang masih bergelayut di hatinya.


Sedang Shin Mo Lan malah kian bahagia melihat keimutan istri tercintanya saat tengah cemburu. "Tentu saja, aku tahu. Selihai apapun dia mencoba menyembunyikannya, semua itu masih tak luput dari penglihatan ku. Sayangku ini tak boleh lupa siapa aku sebenarnya. Hmm?" nadanya lembut dan membujuk hingga membuat Rayan tak kuasa badmood lama-lama.


"Aku tak akan lupa soal itu. Hanya saja, tetap tak menyenangkan melihat pemandangan merusak itu sekalipun kau menolaknya. Siapa suruh suamiku ini baik dari masa lalu maupun masa kini terlahir dengan begitu menawan, mempesona, luar biasa, dan masih banyak poin plus lainnya. Siapa yang tak tergiur untuk mencoba peruntungan agar bisa sekadar dilirik olehmu. Tapi, kau harus ingat bahwa sampai malaikat maut menjemput mu, kau milikku! Huh!" Lugas Rayan tak main-main.


Cup!


Shin Mo Lan mencuri kecupan dibibir sang istri. "Kalau soal itu, kau tak perlu mengingatkannya lagi, sayang... Aku tak pernah melupakannya barang sedetik pun. Hmm..." Kembali dia melontarkan nada membujuk agar Rayan tidak merajuk lagi, sebab saat ini dia menginginkan sesuatu dari sang istri yang tak bisa di cegah oleh gangguan apapun. Jadi, dia harus memastikan lebih dulu kalau mood Rayan kembali membaik.


Shin Mo Lan merindukan kehangatan istrinya. Uuuh...


"Sudah, tak perlu memikirkan orang-orang yang tidak relevan itu. Kita pikirkan tentang kita saja, oke. Seperti sekarang ini..." Shin Mo Lan semakin menempelkan tubuhnya kearah Rayan kala keduanya sudah sampai di depan pintu kamar.


Melihat perilaku suaminya yang sudah dia tahu maksudnya, segera membuat mood Rayan membaik secepat kilat. Lantas, Rayan membawa tangannya melingkar ke leher sang suami dengan gerakan lebih menggoda.


"Suamiku, mau aku?"


Nada menggoda Rayan yang menggemaskan sontak membuat Shin Mo Lan makin bergairah hingga dia tertawa begitu bahagia.

__ADS_1


Akhirnya, keduanya pun masuk kedalam kamar dan melakukan ritual suami-istri diantara keduanya dengan menggebu-gebu.



__ADS_2