
47 hari lagi...
Beberapa hari kemudian berlalu begitu saja, Meng Ruona yang sedang bekerja saat ini kembali mendapatkan telpon dari seseorang yang sama dengan telpon terakhir kalinya.
Telpon itu dari Bo Kang.
Tiga hari yang lalu, tepatnya di sore hari Bo Kang menelponnya. Saat itu dia pikir kabar baik akan disampaikan oleh Bo Kang yang seharian di suruh untuk menangkap Ryura agar dia bisa sesegera mungkin membereskan wanita yang dianggap sebagai penghalang hubungannya dengan Ye Huan itu.
Tapi, ternyata...
Flashback on...
"Halo!"
"Ruona..." suara Bo Kang langsung terdengar dari seberang sana.
"Oh, Bo Kang. Bagaimana? Kau sudah mendapatkannya, kan?" dengan masih dalam suasana hati yang riang setelah berhalusinasi tadi, Meng Ruona nyaris melupakan masalah yang paling penting saat ini.
Yaitu, mendapatkan Ryura lebih dulu.
"..." hening sejenak sebelum Bo Kang diseberang telpon sana menjawab dengan nada datar yang entah bagaimana terdengar aneh, sayangnya Meng Ruona seperti tidak merasakannya saking berharap terlalu tinggi pada informasi kali ini. Otaknya sudah menduga-duga mengenai kondisi Ryura setelah ditangkap.
Sayangnya, yang harus dia dengan justru...
"Aku gagal."
Seketika, jawaban yang Bo Kang berikan menyulut emosi perempuan itu hingga tanpa sadar dia membentak Bo Kang dan melupakan citra lembutnya.
Terkadang emosi seseorang sering kali mengubah pandangan orang lain tentang seseorang itu. Seperti sekarang ini.
"Apa! Bagaimana bisa? Aku tidak berpikir itu sulit! Aku hanya meminta mu menangkapnya bukan bernegosiasi dengannya! Kau ini bisa tidak melakukannya! Aku sudah sejak tadi, malah dari sejak hari itu aku menunggu jawaban yang aku inginkan dari mu, tapi yang kudapat malah kabar seperti ini! Kau mengecewakan ku, Bo Kang! Aku tidak mau tahu, dapatkan wanita itu bagaimanapun caranya! Aku ingin segera menyingkirkan wanita itu dari sisi Ye Huan ku!" klik!
Tanpa berlanjut, sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Meng Ruona dengan arogannya hingga tanpa sadar dia lupa kalau Bo Kang hanya membantunya bukan bawahannya yang bisa di suruh dengan sikap seperti itu.
Diseberang sana, begitu mendengar bunyi operator tanda bahwa sambungan sudah terputus, saat itulah Bo Kang tahu jawabannya.
Menjauhkan ponsel dari telinganya dengan gerakan lambat dan ekspresi datar yang penuh kepastian. Ditambah dengan latar senja bak penuh misteri di tanah lapang pinggiran kota dimana dia belum beranjak dari sana bahkan setelah ditinggalkan lama oleh 3Ry dan tiga bodyguard mereka.
"Baik. Ini yang kau minta. Kupikir aku masih ingin membantu mu sedikit lagi, tapi tampaknya seseorang terlalu tidak tahu diri."
__ADS_1
Flashback off...
Meng Ruona hanya tidak tahu apa-apa mengenai kemungkinan buruk yang berbalik padanya. Dia hanya tahu menunggu kabar dari Bo Kang yang dia yakini akan menyelesaikan tugasnya dengan hanya berbekal cinta masa lalu.
"Akhirnya, dia menelpon lagi. Sungguh, apa yang sebenarnya terjadi sampai membutuhkan waktu begitu lama hanya untuk menangkap wanita rendahan itu." masih sempat dia menggerutu dan menghina sebelum menerima telepon tersebut. Agaknya dia tidak ingat bahwa mulai hari itu, 3Ry akan selalu ditemani bodyguard kemanapun mereka pergi butuh atau tidak butuh sekalipun.
Jadi, anggaplah bahwa dengan adanya bodyguard akan sulit untuk Bo Kang menangkapnya. Meskipun, kebenarannya bukan seperti itu.
"Bagaimana? Aku harap kali ini mendapatkan kabar yang bagus!" serbu Meng Ruona tanpa kata sapaan lagi. Di seberang, Bo Kang yang mendengar kalimat tersebut malah mendengus menertawakan diri sendiri.
Sejenak dia mengenang kekonyolannya yang jatuh cinta pada perempuan seperti Meng Ruona. Ada begitu banyak perempuan di masa menjadi pelajar dulu, tapi mengapa hatinya malah berlabuh di seorang Meng Ruona.
Baru kali ini dia benar-benar menyadarinya. Cinta yang dia banggakan dulu begitu menjijikkan sekarang. Hal itu membuat dia berandai-andai, bila dulu dia tidak buta karena cinta. Maka, saat ini dia pasti sudah memiliki kekasih atau bahkan sudah menikah dan memiliki anak.
"Sial!" rutuk Bo Kang dalam hati.
Menenangkan diri sejenak sebelum menjawab setelah memastikan dirinya sudah siap dengan keputusan yang sempat dia meragu.
"Ya, seperti yang kau inginkan. Kali ini kabar bagus." akhirnya, dia mengambil keputusan itu. Keputusan yang akan membuka matanya siapa itu 3Ry sebenarnya.
Disisi lain, Meng Ruona menjadi sumringah seketika sampai bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan ke sofa hanya untuk mencari kenyamanan dalam meluapkan kegembiraannya.
"Beritahu aku!"
"Aku sudah menangkap wanita itu. Jujur saja, dia sangat sulit ditangkap. Ditambah, bodyguard yang bersamanya juga bukan main. Aku sudah mencoba mengerahkan seluruh kekuatan ku hanya untuk menangkapnya sesuai keinginan mu. Karena itu, aku butuh waktu..." Bo Kang menjelaskan dengan sengaja hanya agar Meng Ruona tahu bahwa proses yang sebenarnya dalam menangani masalah seperti ini tidak mudah.
Bukan ini pengertian Meng Ruona, tapi agar Bo Kang sendiri tidak mendengar kalimat meremehkan dan merendahkan kinerjanya tanpa tahu bagaimana prosesnya. Hal itu lumayan mengesalkan bila terjadi.
"Lalu, sekarang dia dimana?" sela Meng Ruona memotong penjelasan Bo Kang, jelas sekali betapa tidak sabarannya dia. Sekilas Bo Kang kesal dibuatnya, namun hanya bisa menahan diri.
Karena, menurutnya ini belum bagian utamanya.
"... Aku menempatkannya di sebuah bangunan tua yang sudah terbengkalai yang berada di pinggiran kota. Aku mengikatnya di kursi tua yang memang sudah ada disana. Kau bisa kesana dalam waktu 2 jam dengan kecepatan normal. Aku sengaja menempatkannya disana, karena disana adalah tempat terbaik untuk menyembunyikan seseorang dan orang lain akan kesulitan mencarinya. Aku juga tidak memberinya makan hanya agar dia tidak punya tenaga untuk berpikir melarikan diri. Jadi, kapan kau akan melihatnya dan apa masih ada lagi yang harus aku lakukan?" nada yang Bo Kang gunakan terdengar asal-asalan bila di dengar dengan seksama. Tapi, Meng Ruona yang terlanjur bahagia tidak menyadari hal itu.
"Bagus! Bo Kang kau memang yang terbaik! Aku sangat senang... Eh?!" saking senangnya, Meng Ruona sampai benar-benar menanggalkan citra lembutnya, hingga saat dia tersadar dari euforia-nya yang agak berlebihan lantas segera ia menormalkan kembali seperti Meng Ruona sang pebisnis muda nan cantik serta lembut yang menjadi idola banyak orang.
Tapi, bukankah bodoh jadinya bila masih menjaga citra lembutnya disaat dia merencanakan kejahatan untuk seseorang. Entahlah, tidak tahu bagaimana cara perempuan itu berpikir.
Setelah netral. "Ehem. Baik, yang kau lakukan sudah sangat bagus. Kau, jaga dia untukku sampai besok. Aku ingin dia lemas lebih dari ini. Besok aku akan datang menemuinya... Satu lagi, aku mau kau mengirimkan beberapa pria ketempat itu besok. Semakin banyak semakin bagus, apalagi kalau mereka buruk rupa." ada seringai kejam yang tidak akan mungkin dilihat Bo Kang yang berbicara lewat telepon.
__ADS_1
"Hahaha... Aku tidak sabar menanti esok hari. Aku ingin lihat betapa menderitanya wanita rendahan itu. Akan ku buat Ye Huan jijik padanya bahkan sampai membencinya. Dengan begitu, Ye Huan pasti akan membuang istrinya karena tak bisa menerima wanita hina yang membiarkan tubuhnya menjadi santapan pria liar! Hahahaha..." batin Meng Ruona tak bisa dicegah niat jahatnya.
Disisi lain, Bo Kang yang mendengar penuturan Meng Ruona tampaknya bisa merasakan keanehan dari seringai yang tidak dapat dia lihat, yang mana itu membuat bergidik dia mendengarnya setelah Meng Ruona mengatakannya. Namun, siapa peduli!
"... Oke." pria itu entah ragu atau tidak yang pasti dia mengiyakan.
"Bagus. Terimakasih Bo Kang teman baikku!" manisnya suara Meng Ruona di akhir percakapan. Berbeda dengan wanita licik sebelumnya.
"Sama-sama..."
Tut...
Klik!
Sambungan pun terputus. Bo Kang yang saat ini duduk di sofa panjang bergerak mengangkat pandangannya ke depan, dimana disana sudah ada Ryura yang duduk elegan dengan kaki tumpang tindih dan tangan saling menindih diatas pahanya serta menatap lurus kearahnya -Bo Kang- tanpa ekspresi. Disebelahnya ada Reychu yang duduk sembrono sambil memakan buah anggur yang dia ambil tanpa permisi dari lemari es tuan rumah.
Ya, saat ini entah bagaimana ceritanya, yang pasti 3Ry bertandang ke rumah Bo Kang tanpa permisi ataupun diundang. Bo Kang yang menerima tamu mengejutkan itu tentu tak bisa tidak terkejut. Apalagi, ada banyak tanya di kepalanya. Terutama tentang darimana 3Ry tahu alamat tempat tinggalnya. Tapi, setelah dipikir-pikir sebagai istri dari CEO RYUXIAN KINGDOM, tak mungkin Ryura tidak bisa menemukannya dengan mudah. Maka dari itu, dia tak bisa mengusirnya, lagipula dia masih ingat bagaimana mengerikannya 3 perempuan itu saat mereka menunjukkan tinju mereka. Apalagi, mengingat sampai hari ini masih ada beberapa anak buahnya yang masih dalam masa pemulihan.
Benar-benar mengerikan.
"Patuhnyaaa..." Puk... Puk...! Seru Rayan perempuan terakhir yang jelas tak akan ketinggalan di setiap aksi mereka saat sedang berdiri di belakang Bo Kang dan menepuk pundak pria itu usai dia berkata.
Kemudian dengan gaya khasnya yang centil, Rayan membungkukkan badannya dan melipat kedua tangannya di sandaran sofa belakang Bo Kang untuk menahan bobot badannya sambil menopang dagu.
"Senang rasanya bertemu orang pintar yang tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kau tahu, langkah yang kau ambil ini menyelamatkan nyawamu dari predator itu." kalimat terakhir Rayan tujukan untuk Reychu yang sepertinya moodnya agak buruk karena sehingga dia hanya melampiaskannya dengan memakan satu persatu buah anggur di mangkuk buah yang dia peluk.
Reychu memang tidak tahu malu.
"Ya, kau harus banyak-banyak bersyukur untuk hal itu." menoleh kearah Bo Kang yang duduk tegak dan diam menyimak. "Karena, kebanyakan mereka yang terlalu sombong bisa mengatasi kami sendiri, tidak ada yang selamat. Aku biasanya paling menunggu bagian itu. Sebab, semakin mereka menolak semakin kenyang aku. Hahahaha..." wajahnya kembali datar. "Sayang sekali, kau malah menurut pada Ryura. Lain kali, kau harus mencoba menolak kami dan membiarkan aku mencabik-cabik tubuhmu sampai puas dan kenyang. Kau harus sedikit kasihan padaku. Laki-laki itu harus banyak mengalah pada perempuan, kau tahu. Hahahaha...!"
Glek!
Bo Kang bergidik mendengarnya, baik kalimatnya sampai tawanya. Bo Kang tidak tahu kalau yang seperti itu bisa begitu menakutkan saat didengar.
Dalam hati, Bo Kang benar-benar mengucapkan banyak rasa syukur karena lebih memilih menuruti keinginan wanita yang menjadi targetnya diawal. Dia sama sekali tidak membayangkan kalau dia benar-benar menjadi daging mentahnya Reychu.
Sebenarnya, sejak sore hari itu. Bo Kang tahu kalau dia tak punya pilihan sekalipun dia bisa menggunakan keberanian untuk tetap teguh pada pendiriannya. Tapi, entah mengapa bukannya takut pada kekuatan dibelakang tiga perempuan itu, Bo Kang lebih ditekan oleh kekuatan misterius dari Ryura yang tak pernah bicara apapun selama itu tidak penting dan hanya diam dengan ekspresi wajah datar yang tidak bisa di baca.
"Jangan kau dengar dia. Abaikan saja orang g*la itu!" kata Rayan tak lupa kedipan sebelah matanya dengan jail. "Sekarang mari fokus pada rencana berikutnya..." beralih ke Ryura yang asik diam seorang diri.
__ADS_1