3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SHINMO HONEYMOON 2


__ADS_3

Dirumah pribadi Shin Da Ming, sudah ada seorang kepala keluarga yang tengah mengatur persiapan penyambutan Nyonya rumah sesuai instruksi dari Tuannya kemarin.


Ini memang mendadak. Tapi, siapa yang menyuruh para pelayan ini bekerja untuk Shin Da Ming yang memiliki jiwa Shin Mo Lan?


Dari sini mereka harus belajar untuk tahu kalau tuan mereka sangat mencintai istrinya hingga segala sesuatu ingin diberikan yang terbaik.


Jadi, sebagai pekerja, tugas mereka adalah melakukan apa yang diperintahkan sebaik mungkin agar pekerjaan dan gaji tetap aman serta bisa mendapatkan bonus berlimpah bila mampu memuaskan keinginan sang tuan. Contohnya, yang satu ini...


Mulai dari pintu masuk sampai ruang keluarga, sesuai perintah Shin Mo Lan untuk memberikan dekorasi sederhana namun elegan dan penuh nuansa romantis sebagai acara penyambutan kecil untuk Nyonya rumah perdana mereka.


Dan sejak semalam, Shin Mo Lan sudah menginstruksikan hal ini sebaik mungkin dengan menekankan agar tidak ada yang melakukan kesalahan. Bahkan, Shin Mo Lan juga mengiming-imingi bahwa bila pekerjaannya bagus akan diberikan bonus tambahan senilai gaji 2 bulan.


Hal ini tentu disambut baik oleh para pelayan sehingga mereka sudah langsung bersemangat untuk menjalankan tugasnya.


Sebagai kepala pelayan, Yan Shen bertanggungjawab untuk memastikan bahwa tidak ada yang kekurangan ataupun kesalahan terjadi dalam waktu yang singkat ini.


Pria itu bertubuh tambun dengan rambut agak gondrong yang disisir dan terikat rapi dibelakang lehernya, dia berusia 30 tahun -seusia Shin Da Ming- yang dipekerjakan oleh Shin Da Ming atau Shin Mo Lan saat pria itu tengah berada di titik terendah dalam hidupnya.


Dia ditinggalkan oleh sang istri tercinta saat dia dinyatakan bangkrut dari usahanya sebagai produsen alat rumah tangga. Hanya karena tidak lagi kaya, sang istri memilih pergi dengan alasan tidak sanggup hidup miskin.


Yah, tidak heran bila dia berkata begitu. Pasalnya, selama hidup mulai dari berpacaran hingga menikah dan memiliki anak satu, kebutuhan hidup sang istri ditanggung sepenuhnya oleh Yan Shen bahkan bisa dikatakan dimanjakan oleh pria itu.


Akan tetapi, siapa yang menyangka kalau istrinya akan berubah menjadi seperti itu, melupakan cinta mereka dan memilih pergi sambil membawa anak satu-satunya mereka hanya karena tidak mau hidup miskin.


Dampak dari hal itu adalah Yan Shen yang melakukan percobaan bunuh diri.


Dia berniat menjatuhkan dirinya dari atas gedung rumah sakit, tepatnya gedung rumah sakit milik Shin Da Ming. Jika ditanya kenapa memilih gedung rumah sakit? Jawabannya, karena agar lebih mudah bila dia dinyatakan meninggal. Sebab, pihak rumah sakit bisa langsung menangani jasadnya. Dan mengapa harus di rumah sakit milik Shin Da Ming? Jawabannya, itu hanya kebetulan, ia hanya memilih secara acak.


Entah bagaimana pria itu berpikir.


Sayangnya, dia tidak ditakdirkan meninggal lebih awal.


Setelah pingsan, wajah pertama yang dilihat oleh Yan Shen adalah wajah tampan Shin Da Ming yang tengah menatapnya datar dan dingin.


Belum lagi, kata pertama yang diucapkan oleh Shin Mo Lan saat melihat pria itu bangun adalah 'Bagaimana kau akan memberikan kompensasi atas keributan yang kau buat?'.


Kalimat itu ternyata cukup untuk menyadarkan Yan Shen kalau dia masih hidup dan malah menambah beban hidupnya sendiri.


Dari sanalah kesepakatan menjadi kepala pelayan dirumah pribadi Shin Da Ming sebagai bentuk kompensasi yang harus dia tanggung terjalin. Tapi, dari sana juga dia menyadari kalau pria yang usianya sebaya dengannya bukan orang yang berhati buruk. Buktinya dia masih memberinya gaji dan nasehat mengenai hidupnya yang terlalu sia-sia bila dia akhiri dengan cara seperti itu.

__ADS_1


Dan siapa yang menyangka kalau dalam 1 tahun bekerja sebagai kepala pelayan, Yan Shen sudah betah dan tidak berniat untuk keluar dari pekerjaannya. Dia juga memilih mengabdikan diri pada Shin Da Ming dengan bekerja sebagai kepala pelayan.


Jadilah, hingga saat ini selain bekerja dia tak punya pemikiran lain termasuk menikah lagi. Kecuali, merindukan anaknya yang sudah lama tidak ia temui. Padahal, saat perpisahan itu anaknya baru berusia 5 tahun.


Ya, dia menikah muda. Saking cintanya kala itu dan tidak ingin pujaan hatinya diambil orang.


Kini, melihat bagaimana Shin Da Ming ingin memanjakan istrinya mengingatnya pada dirinya sendiri membuat pria itu gelisah dalam hati sekalipun dia sudah mengingatkan dirinya bahwa nasib setiap orang tidak sama.


Awalnya dia pikir Shin Da Ming sosok yang serius dan dingin, tapi tak menyangka kalau dia bisa menjadi amat bucin bila sudah menemukan pasangan hidupnya.


Hal ini membuat Yan Shen memiliki satu keinginan. Dia harus tahu wanita seperti apa yang berhasil mengambil hati Tuan-nya. Selama wanita itu baik dan setia, Yan Shen tidak akan melakukan apapun. Tapi, bila sebaliknya...


Dia akan mendorongnya pergi!


Suara mobil terdengar dari luar menandakan Tuan rumah sudah tiba.


Dia pun bergegas. "Pastikan lagi apakah ada yang kurang. Setelahnya segera berbaris. Kita akan menyambut penghuni baru rumah ini." usai mengatakan itu dia langsung meluncur kedepan untuk menyambut lebih dulu Tuan-nya.


Bertepatan dengan tibanya dia, Shin Mo Lan dan Rayan baru saja keluar dari mobil. Shin Mo Lan terlihat merangkul pinggang Rayan erat hingga tak ada jarak yang tersisa. Dimana saat itu juga, Rayan tengah tercengang dengan model rumah yang akan dia tempati mulai sekarang.


Tradisional-modern, besar dan bertingkat. Sama sekali tidak terlihat ketinggalan zaman. Justru, model rumah tersebut adalah model rumah yang mampu menyesuaikan diri pada masa-masa yang akan datang.


"Kita akan tinggal disini mulai sekarang?" tanya Rayan tanpa memalingkan matanya dari rumah yang langsung membuatnya jatuh cinta. Seketika, dia sudah bisa membayangkan akan menua bersama suaminya dirumah itu.


Cup!


Rayang mengangguk semangat. "Ya, aku suka. Aku akan betah disini, apalagi bersamamu!" kalimat terakhir Rayan ucapkan seraya mendongak untuk menatap suaminya dengan seluruh cinta yang tercurahkan di wajahnya.


Membalas tatapan itu dengan pancaran cinta yang sama, Shin Mo Lan menjadi tidak sabar untuk segera melakukan kegiatan pertama mereka yang umum disebut sebagai malam pertama. Sayangnya, Shin Mo Lan tak yakin kalau dia kan sanggup bertahan hingga malam tiba.


Dia malah berpikir, karena sudah menjadi istrinya tidak perlu repot-repot menunggu malam.


"Senang mendengarnya. Kalau begitu, kenalan dulu dengan kepala pelayan dirumah ini..." kata Shin Mo Lan yang langsung membuat Rayan menoleh kearah pria yang memiliki paras tidak tampan maupun jelek, cukup baik untuk dilihat. Dengan kata lain parasnya adalah standar.


"Namanya, Yan Shen. Butler Yan, ini istri ku, Rayan Monica. Dia akan menjadi Nyonya dirumah ini, patuhi dia seperti kau mematuhi ku. Mengerti!" tuntut Shin Mo Lan dengan tegas namun nadanya tidak kencang.


"Mengerti, Tuan!" mengangguk paham, lalu beralih kepada Rayan. "Nyonya, saya Yan Shen. Beritahu saya bila ada yang anda inginkan!"


"Salam kenal, Butler Yan. Aku Rayan. Mohon bantuannya!" seru Rayan yang penampilannya sudah tidak serapi ketika dia datang ke kantor catatan sipil. Tapi, masih lebih baik daripada saat dia mengomel didalam mobil tadi.

__ADS_1


Butler Yan yang mendengarnya berkata sopan dan tidak sombong segera memiliki sedikit pandangan positif terhadap Rayan.


Setidaknya, ada poin positif tentang Rayan untuk ia anggap cocok menjadi Nyonya Shin Da Ming.


Setelahnya, ketiganya pergi memasuki rumah dan langsung disambut oleh deretan pelayan yang lagi-lagi membuat Rayan tercengang. Dia jadi merasa kembali ke masa lalu begitu melihat pemandangan ini.


"SELAMAT DATANG, NYONYA!" seru seluruh pelayan yang berbaris di balik pintu dalam posisi sedikit membungkuk hormat segera terlihat begitu pintu dibuka.


Mulut Rayan menganga dibuatnya sampai dia harus menutupinya menggunakan tangan. Cukup tersentuh dengan perlakuan ini hingga dia menoleh kearah suaminya dan berbicara melalui sorot matanya, 'Kau sungguh lakukan ini untuk ku?'.


Cup!


Dikecupnya kening istrinya sayang. "Semua ini ku persiapkan untukmu. Selamat datang dirumah kita, istriku!" senyum manis Shin Mo Lan yang tipis sangat tulus dari hati seperti mengungkapkan seluruh perasaan cintanya melalui senyuman itu.


Mata Rayan segera berkaca-kaca, dia nyaris menangis haru dibuatnya. "Sh... Aku... Aku... Uh. Terimakasih..." Rayan bingung mau berkata apa, alhasil dia memilih berterima kasih. Pasalnya, ini adalah kali pertama dia diperlakukan begini. Meski dulu juga diberikan pesta pernikahan yang luar biasa, tapi selebihnya mereka hanya sering bertukar hawa cinta tanpa sempat membuat momen romantis seperti ini.


Tentu, karena dulu situasinya berbeda dengan sekarang.


Kini baik Rayan maupun Shin Mo Lan, bisa dengan mudah mengekspresikan perasaan cinta mereka kapanpun dan di manapun.


Keduanya masuk dan Rayan langsung disuguhkan pemandangan lebih romantis sampai dia benar-benar menitikkan air mata bahagia. Dia mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pelayan yang sudah bekerja keras untuk membuat ini semua walau atas instruksi suaminya.


Dia tahu ini semua pasti dibuat dalam waktu singkat. Sebab, mereka baru memutuskan untuk menikah pun mendadak. Rayan pada dasarnya tidak berharap banyak, karena yang utama adalah dengan siapa dia menikah.


Pesta penyambutan kecil ini terbilang meriah, karena Rayan sama sekali tidak meninggikan kedudukannya dirumah itu sehingga seluruh pelayan merasa lebih dihargai dan senang mendapatkan majikan seperti pasangan SHINMO.


Akan tetapi, ditengah-tengah acara. Lengan Rayan ditarik oleh Shin Mo Lan.


"Ada apa?" tanyanya sambil melihat wajah kusut suaminya. Dia bingung melihatnya.


"Sayang... Sudah, ya..." bujuknya seraya memeluk Rayan yang bingung.


"Kenapa? Kau sakit? Dimana?" serbu Rayan.


"Bukan." mendekatkan bibirnya ke telinga mungil Rayan dan berbisik. "Aku hanya ingin berduaan dengan mu. Aku juga sudah tidak sabar. Sekarang, oke?" nadanya sangat sensual bercampur memelas seolah-olah dia benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.


Blush!


Rayan terpaku dengan wajah bak kepiting rebus. Merah sekali.

__ADS_1


Tapi, tidak mungkin juga dia menolak kan?



__ADS_2