
Keadaan masih sangat panas di atas panggung arena. Bukan dalam arti sesungguhnya, panas disini ditujukan untuk suasana yang sedang berlangsung.
Reychu menggerakkan tubuhnya ke posisi tengkurap, dia mendongakkan kepalanya guna melihat Ryura yang berdiri diam seperti dirinya selama ini.
Posisi kedua tidak begitu jauh.
Menyipitkan matanya mencoba untuk tidak sampai diketahui oleh Ryura tentang apa yang tengah ia rencanakan untuk bisa mengalahkan sahabatnya itu. Segera setelahnya, Reychu kembali mengaliri salah satu pedangnya dengan elemen api membentuk cambuk seperti sebelumnya.
Tak ingin gagal lagi. Reychu pun lantas menghentakkan cambuknya kearah kaki Ryura dengan kecepatan tinggi.
Shuuut...
Slap!
Sukses!
Kaki Ryura berhasil dililit oleh cambuk api Reychu.
Merasakan kakinya terjebak. Belum sempat Ryura melihat kebawah, Reychu sudah lebih dulu menariknya hingga Ryura terjengkang dan ambruk kebelakang dengan mengenaskan.
Brugh!
Tetapi, kala orang-orang yang melihatnya meringis ngilu. Maka, Ryura tetap tak memiliki ekspresi berarti diwajahnya selain sama datar seperti sebelumnya. Hanya kondisinya yang tidak baik.
Punggungnya yang terluka meninggalkan bekas di lantai panggung arena dengan darahnya yang keluar. Di perpanjang dengan keadaan dimana Reychu menarik Ryura hingga gadis tak berekspresi itu terseret menuju kearah Reychu dengan cepat.
Rencananya, setelah Reychu menarik Ryura kearahnya, dia bisa langsung menyerangnya dan mengalahkannya. Namun sayang, kejadian berikutnya tidaklah demikian...
Faktanya, Ryura yang gesit menggunakan kaki satunya yang bebas untuk menendang kepala Reychu kesamping, membuat sahabatnya langsung berbalik hingga kembali terlentang.
Brak!
"Ouch!" ringis Reychu merasakan sakit pada sisi kepalanya yang menjadi sasaran tendangan Ryura. Tendangannya bahkan lebih kuat dari di kehidupan sebelumnya.
Dia bertanya-tanya, apa karena pemilik tubuh aslinya yang kabarnya memiliki kekuatan fisik melebihi kekuatan fisik kaum pria?! Jika, benar. Maka, Reychu sedang membuat lelucon untuk dirinya sendiri.
Sreet...
Tanpa memberi jeda. Ryura langsung memegang cambuk api yang melilit kakinya dan menariknya hingga terlepas bersamaan dengan lepasnya pegangan Reychu pada pedangnya yang baru saja ditarik oleh Ryura.
Klontang!
Begitu pedang beralih tangan, energi spiritual apinya menghilang seketika, menyebabkan Ryura yang dari awal tidak memegang langsung pedangnya tak berniat mempedulikan pedang tersebut yang terjatuh dengan sendirinya, karena Ryura hanya memegang lidah cambuk apinya dan bukan gagang pedangnya.
Dia juga mengabaikan telapak tangannya yang melepuh karena terbakar.
Melihat pedang kesayangannya itu, Reychu tak bisa memikirkan apapun lagi selain kilasan balik tentang bagaimana dia merawatnya dengan sepenuh hati hingga tak membiarkannya lecet sedikitpun. Kini, didepan matanya dia melihat sendiri bagaimana barang kesayangannya terjatuh tak berdaya akibat ketidakpedulian Ryura.
Tapi, setelah dipikir-pikir. Reychu bisa apa pada sang pemberi hadiah.
Belum sempat Reychu bereaksi pada tindakan Ryura. Dia sudah lebih dulu diangkat dengan mudahnya oleh Ryura.
Cara Ryura mengangkatnya pun cukup mengesankan.
Dimana Ryura menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram kerah bajunya dan ikat pinggangnya. Kemudian, diangkatnya sejajar pinggang lalu tanpa aba-aba, Ryura berputar 3 kali putaran sebelum akhirnya melepas-landaskan tubuh Reychu kearah tribun secara acak.
Wing...
__ADS_1
Wing...
Wing...
"Wowowow... Ryu... Ryura... Apa yang akan kau lakukan padaku...?!" pekik Reychu bukan karena dia takut. Melainkan was-was pada tindakan ekstrim Ryura yang tak pernah dapat diduga.
Dan benar saja...
Wush...
Para penonton di tribun yang tempatnya menjadi sasaran Ryura melempar Reychu pun panik seketika.
Mereka kalang kabut dibuatnya.
Hingga spontan memilih menghindar dan membiarkan Reychu mendarat dengan mengenaskan.
BRAKH!
Krak!
"Ukh! Auw! Sial! Ini sakit! Tulang rusuk ku... Ukh! Haih... Tapi... Ini benar-benar hebat. Hahaha..." katanya dengan nada normal tanpa memikirkan orang-orang disekitarnya yang memandangnya dengan ngeri.
Banyak bermunculan tanda tanya dalam benak mereka. Tapi, satu yang pasti sama. Mereka mempertanyakan kenormalan Reychu yang bisa-bisanya tertawa diatas deritanya sendiri.
Mengabaikan orang-orang yang ada, dia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebisanya, lalu berkata. "Aku keluar! Tulang rusuk ku ada yang patah. Tapi, bukan masalah. Aku suka sensasinya. Hehe..."
Mendengar kalimat tersebut, pembawa acara sejenak kehilangan fokusnya untuk berkata-kata. Baru setelah beberapa saat, dia kembali ke alam sadarnya.
"BA.. BAIKLAH KALAU BEGITU... EHEM... ITU BERARTI, NONA RYURA MENJADI PEMENANGNYA..." kata-kata masih diucapkan dengan linglung.
Usai pernyataan itu keluar. Ryura yang masih tidak berbicara dari lama mulai menoleh ke suatu arah. Berdiri tegak tanpa goyah meski telah terluka, dari atas panggung arena ia menunjukkan jari telunjuknya ke salah satu gadis di tribun bawah dekat panggung arena.
Ruangan itu sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi hanya di buka saat ada acara yang di adakan di Area Shaozu saja. Jadi, ruangan tersebut tidak dibuka untuk umum.
Kembali ke Ryura...
Gadis yang di tunjuk pun mengerutkan keningnya dengan ekspresi bingung. Tapi, tak lama setelahnya tampaknya dia menyadari sesuatu.
Ryura ingin langsung bertarung atas nama guru mereka.
Tanda tanya muncul di benak semua orang saat melihat tindakan Ryura yang tak dapat dimengerti. Tapi, beberapa dari mereka sudah lebih dulu menyadari kalau Ryura hendak memanggil gadis lain. Hanya saja, mereka masih tidak mengerti mengenai apa maksudnya.
Namun, semua itu sirna saat untuk pertama kalinya mereka mendengar suaranya.
"Giliran mu!"
Suaranya tidak rendah, tidak juga tinggi. Tapi, karena ia sedang menjadi pusat perhatian semua orang membuat segala tingkah lakunya dapat di ketahui.
Suaranya pun terdengar menyenangkan pendengaran yang mendengarnya.
Seperti halnya suaranya yang berbicara dalam dua kata.
Bahkan para petinggi pun dibuat tercengang dengan tindakan nekad tersebut. Bagaimanapun, kondisi Ryura sedang tidak terlihat baik.
"Apa yang mau dia lakukan!" gelisah Ye Zi Xian dengan cemas dalam gumamnya.
Gadis yang ditunjuk Ryura segera berdiri. Tatapan matanya kini menyorot tajam seolah ingin menunjukkan kalau dia bisa menjadi lebih kejam dari yang lawannya bayangkan.
__ADS_1
Bisa-bisanya Ryura meremehkannya hanya karena dia terlihat kuat, pikirnya.
Sikapnya itu adalah karena tanpa sadar dia berpikir kalau lawannya tengah memandang remeh dirinya.
Nyatanya, Ryura memanggilnya karena berniat ingin mengakhiri masalah Duan Xi lebih cepat. Sebab, dia sudah mengantuk dan ingin memasuki masa hibernasi dirinya seperti dulu tiap kali dia merasa sudah lelah.
Lagipula, Duan Xi juga tidak memintanya harus memenangkan kompetisi sampai akhir. Pria tua pendek itu hanya ingin dia mengalahkan musuhnya, tidak lebih.
Setelah pertimbangan para penyelenggara acara. Akhirnya mereka mengizinkan Ryura melakukan apa yang sudah dia inginkan.
Keputusan itu membuat hati Ye Zi Xian sedikit tidak senang.
Kini Ryura dan lawannya telah berada di atas panggung arena.
"BAIK... ADA SEDIKIT PERUBAHAN DISINI. TAPI, KALIAN SEMUA JANGAN KHAWATIR. INI BUKAN SESUATU YANG BESAR. PESERTA KITA, NONA RYURA HANYA INGIN MELANJUTKAN PERTANDINGANNYA DENGAN LANGSUNG MEMILIH LAWANNYA. ITU DIA LAKUKAN SEBAGAI BENTUK PARTISIPASINYA YANG TERAKHIR. TAPI, TENTUNYA KITA SEMUA CUKUP MEMAHAMI MAKSUDNYA. BAGAIMANAPUN, NONA RYURA SUDAH TERLUKA TAPI DIA MASIH INGIN BERTANDING UNTUK TERAKHIR KALINYA. MAKA, DENGAN BANYAK PERTIMBANGAN, SAMPAILAH KE SATU KEPUTUSAN AKHIR... KAMI MENGIZINKAN NONA RYURA MELAKUKAN PERTANDINGAN TERAKHIRNYA... KALAU BEGITU MARI KITA SAMBUT PESERTA MENAKJUBKAN KITA NONA RYURA DAN LAWAN PILIHANNYA YANG TAK LAIN ADALAH SALAH SATU PESERTA DIBAWAH PENGAJARAN TUAN TERHORMAT KITA... TUAN FU XIE... INI DIA... NONA CHANG NI ER! MARI BERIKAN SAMBUTANNYA..."
Kalimat panjang dan lebarnya di sambut dengan tepuk tangan meriah para penonton.
Kecuali beberapa orang di atas, terkhusus Ye Zi Xian. Wajahnya kusut, cenderung cemas. Pikirannya hanya terfokus pada kondisi Ryura tidak yang lainnya. Meski, sejujurnya ia agak kesal dengan permintaan tidak langsung Ryura yang ingin melanjutkan pertandingan dirinya melawan entah siapa itu. Ia tak peduli. Yang pasti dia hanya ingin segera membawa Ryura untuk diobati.
Sementara disisi lain, di tempat Reychu berada.
Di dalam sebuah ruang seperti yang sudah di katakan sebelumnya. Kini Reychu tengah terlelap setelah Rayan memberinya obat pereda sakit sebagai langkah pertamanya.
Itu ia lakukan pada Reychu hanya agar gadis gila itu tidak cerewet hingga mengacaukan pekerjaannya yang mendadak menjadi dokter pribadi sahabatnya.
Untung sayang. Begitulah pikirnya.
"Huh. Dia benar-benar gila! Ini patah sungguhan! Tidak bisakah dia tidak mencari masalah! Haish!" omel Rayan sembari melakukan pekerjaannya.
Kondisi Reychu memang tidak separah Ryura yang sampai berdarah. Tapi, yang Reychu alami juga tak kalah mengkhawatirkan. Bagaimanapun dai mengalami patah tulang di bagian rusuknya. Beruntungnya tidak sampai menyebabkan gangguan lain dari hal itu.
Tugas Rayan sekarang hanya harus mengoperasikan masalah tulang Reychu atau gadis gila itu akan semakin merepotkan.
"Separah itu?" tanya Chi-chi yang sejak kejadian Reychu terluka ia sudah mengikuti. Tak ayal ia sempat juga melayangkan tatapan protes pada Ryura yang malah diabaikan oleh gadis itu.
"Bisa dibilang begitu. Dia mengalami cidera dalam. Jika, hanya di lihat dari luar tidak akan ada yang menyadarinya. Tapi, dia tetap harus di rawat hingga tuntas... Atau bencana akan datang..." terang Rayan tak bisa dimengerti kedua siluman yang ada disana mengikutinya dari awal.
"Bencana?! Bencana seperti apa itu?" tanya Chi-chi bingung.
Rayan mengangguk mendengar pertanyaannya. "Ya, dia adalah pasien yang paling merepotkan para dok... Tabib... Yang merawatnya." Rayan menjadi sedikit kikuk saat nyaris keceplosan menyebutkan nama sebutan berbeda untuk ahli medis di dunia ini.
Lanjutnya. "Kalian lupa, kalau dia adalah Reychu, Ahn Reychu. Gadis gila yang kelewat aktif ini akan ribut melebihi keributan yang ia buat selama ini kalau sampai dia harus berbaring lama untuk penyembuhannya. Aku jelas tidak mau direpotkan olehnya." kata Rayan terus terang dengan mantap.
Bukannya tidak bisa menyembuhkan Reychu, hanya saja kemampuannya tidak mencukupi jika harus menggunakan kekuatan spiritualnya. Karena faktanya, tak banyak yang bisa ia pelajari dari Duan Xi yang memang bukan seorang ahli pengobatan.
Alhasil, dia hanya bisa melakukan seperti yang biasa dia lakukan di kehidupan sebelumnya.
Saat salah satu dari kedua siluman itu hendak membalas perkataan Rayan lagi, tiba-tiba muncul suara asing dari arah pintu masuk ruangan.
"Kalau begitu, izinkan saya membawanya ke seorang ahli yang bisa menyembuhkannya dalam waktu singkat." serbu pemilik suara itu tanpa tergesa-gesa.
Mendengarnya, Rayan dan dua lainnya segera menoleh ke arah pintu.
Seketika itu juga, binar kagum di mata Rayan menyala. "Astaga! Tampannya...!" gumamnya kebiasaan.
__ADS_1
maaf membuat kalian menunggu lama. silakan di nikmati ceritanya. hehe