
Bulan malam ini hanya terlihat sebagian saja, meskipun begitu masih tetap tampak indah. Hanya saja, tidak ada yang berniat menikmati keindahan itu lantaran umat manusia sudah memasuki waktu tidurnya.
Ditengah gelapnya malam dan dinginnya udara berhembus, nyatanya tidak menghalangi seseorang berpakaian serba hitam yang hanya memperlihatkan sepasang matanya yang tajam untuk menyusup kesebuah bangunan yang tak lain adalah sebuah kamar tidur.
Tepatnya, kamar tidur yang ditempati oleh Reychu dan Chi-chi.
Memperhatikan sekeliling guna memastikan kalau tak ada seorang pun yang melihatnya melakukan hal ini, penyusup itu pun mulai memasuki kamar tidur Reychu tersebut dengan sangat hati-hati.
Dibukanya pintu sangat pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan pemilik kamar. Tapi, sepertinya apa yang dilakukan penyusup itu masih belum bisa mengelabui telinga panjang nan berfungsi tajam milik Chi-chi untuk menemukannya. Terlihat dari bertapa gesitnya telinga panjang itu berdiri tegak begitu suara-suara yang mencurigakan tertangkap oleh pendengarannya.
Karena itu, Chi-chi pun terbangun dalam posisi waspada.
Ruang kamar gelap dan hanya menyisakan samar-samar cahaya bulan yang masuk melalui ventilasi yang ada. Walau begitu, Chi-chi masih dapat menangkap siluet seseorang dari balik kelambu tipis peraduan yang digunakan. Jelas sekali, orang tersebut perlahan kian mendekat.
Chi-chi tidak berpikir kalau penyusup itu datang untuknya. Sudah pasti tamu tak diundang itu datang untuk Reychu yang saat ini masih terlelap dalam tidur cantiknya.
Siluman kelinci itu berpikir cepat, bahwa tak ada pilihan lain selain membangunkan Reychu.
"Chu-chu!" bisiknya dengan suara yang amat kecil dan kelewat kecil agar tidak didengar oleh penyusup tersebut. Tak lupa, di guncang juga bahu Reychu guna membantunya agar cepat bangun.
"Chu-chu bangun! Cepat bangun! Ada penyusup!" dibangunkan Reychu sambil sesekali menatap waspada pada penyusup yang tinggal beberapa langkah lagi dari mereka.
Beruntungnya, seketika mata Reychu terbuka begitu kata 'penyusup' memasuki gendang telinganya.
Tanpa berucap apapun, Reychu segera menoleh kearah pintu secara naluriah. Benar saja, siluet mencurigakan seseorang yang tak diundang langsung masuk ke netra matanya.
Bukan takut, Reychu malah terkekeh tanpa suara, seraya membatin. "Bagus. Pesanku siang tadi tampaknya tersampaikan dengan baik. Tapi, kupikir ini masih terlalu mudah ditebak... Bisakah aku berekspektasi bahwa ini adalah permulaan?"
Segera, kedua tangan Reychu bergerak masuk kebawah bantal yang ia gunakan. Lalu, mengambil sesuatu yang disembunyikan di dalam sana sambil menunggu penyusup itu sampai tepat didekatnya.
Sedikit biasan cahaya bulan memantul dari mata belati yang dikeluarkan oleh penyusup tersebut. Dengan mata tertuju pada Reychu yang tampak masih tenang dalam tidurnya, segera ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya hendak menghunuskan belatinya kearah dada Reychu.
Sayangnya, dia masih kalah cepat dari pedang pendek kembar milik Reychu.
Klang!
Mata penyusup tersebut terbelalak kaget saat dikejutkan oleh gerakan tak terdeteksi dari targetnya. Merasa sudah kecolongan, penyusup itu hanya bisa ambil langkah lain untuk menyelesaikan tugasnya.
"Selamat datang di pintu kematian!" riangnya Reychu berujar seraya melakukan gerakan mendorong dengan pedang pendek di tangannya yang menahan belati lawan.
Srang!
Dorongan tersebut membuat si penyusup mundur 3 langkah.
Tanpa berkata-kata, penyusup itu kembali menyerang Reychu menggunakan belati lebih banyak. Ternyata dia memiliki persediaan di badannya.
Mengetahui hal itu, Reychu senang bukan main. Sebab, dia merasa lawannya lumayan bagus malam ini.
"Hahaha... Aku suka kalau begini. Ayo, coba bunuh aku." lugas Reychu tetap santai. Permintaan itu sejenak berhasil membuat si penyusup linglung.
__ADS_1
Sejak kapan korban pembunuh malah minta di bunuh?
Tapi, itu tak lama sampai dia kembali ke kesadarannya dan mulai menyerang Reychu tanpa ampun. Tujuannya satu, tugasnya selesai dan ia bisa kembali dengan bangga.
Tang!
Sring!
Kling!
Klang!
Kwang!
Sruk!
Suara pertempuran keduanya terdengar menggema di ruang kamar tersebut.
Beberapa menit pertama sang penyusup merasa yakin dapat membunuh targetnya dengan cara ini. Tapi, keyakinan itu perlahan sirna saat mulai menyadari kalau lawannya bukan lawan sembarangan atau bisa disebut, bukan lawan yang normal.
Lihat saja dari betapa gesit dan lihainya Reychu membalas serangannya. Juga, yang paling utama bukanlah itu. Melainkan kebahagiaan yang terpancar dari aura Reychu dan suara tawanya yang menggema sesekali.
Bagaimanapun ruangan masih gelap hingga hanya bisa mengandalkan indera lainnya selain penglihatan.
Tak ayal hal itu juga membuatnya merinding, sampai bertanya-tanya dalam hati. "Siapa sebenarnya lawan ku ini?"
Si penyusup beberapa kali didorong mundur, beberapa kali pula terpojok. Reychu menyerangnya dari jarak yang cukup dekat seolah tak membiarkan lawannya mengambil jarak lebih dari itu.
Lengannya tergores dalam hingga darah menyembur keluar. Mengetahui pedangnya berhasil melukai sang lawan, Reychu bertambah bahagia. Bersamaan dengan itu satu persatu cahaya muncul di sekeliling keduanya hingga memperjelas pandangan mata mereka.
Ternyata, Chi-chi menggunakan kesempatan kala dia tak ada yang menahannya untuk segera menyalakan lentera guna memberikan penerangan dalam kamar.
Si penyusup sempat kaget sambil menahan sakit di lengannya saat cahaya mulai menyebar dan pemandangan pertamanya adalah saat Reychu menjilat mata pedangnya yang berlumuran darah dengan tatapan bak psikopat kearahnya.
Itu cukup mengejutkan baginya. Belum pernah ia bertemu lawan segila ini.
Karena hal itu pula, sang penyusup terhuyung mundur beberapa langkah saking syok-nya.
"Hehehe... Darahmu cukup enak juga. Sayang sekali darah seenak ini harus ada di tubuh mu. Mau aku bantu mengurasnya?" tanya Reychu semangat seperti apa yang sedang ia bicarakan bukanlah apa-apa.
Merinding tak terelakkan di sekujur tubuh lawannya. Tapi, sayang sekali dia tak bisa mundur sebelum Reychu mati. Apa boleh buat selain menahan diri dan terus maju dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa kemenangan akan diraihnya.
Walau secuil pengingat dihatinya mengatakan, kalau dia tak akan mampu memujudkan hal itu.
Melihat raut syok yang kalah berganti menjadi semangat membara karena sesuatu. Reychu tersenyum makin lebar mengetahui lawannya masih mau melanjutkan pertarungan mereka. Anggap saja ini menjadi terapy healing untuk kebosanannya selama di Kerajaan Es ini karena hampir tidak benar-benar melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya.
"Tutup mulutmu!" sergah penyusup itu dengan suara yang sengau terhalang masker.
"Kau tidak punya hak untuk menutup mulut ku. Tapi, aku punya hak untuk itu. Hahahaha..." lengkingan tawa semakin menambah kengerian diantara keduanya.
__ADS_1
Penyusup tersebut tidak bisa menahan kernyitan dahi kala mengingat apa yang orang itu katakan padanya sebagai pengingat.
"Dia dijuluki gadis gila. Meskipun aku tidak benar-benar paham sejauh mana kegilaannya. Tapi, kau harus tetap waspada. Karena, dia nyaris tanpa celah."
Dikuatkan cengkeramannya pada belati lainnya yang ia ambil, sebab beberapa belati sebelumnya berhasil di babat habis oleh pedang pendek milik lawannya. Agak tidak percaya saat belatinya yang tajam luar biasa ternyata masih mudah di belah oleh pedang pendek kembar milik lawannya.
"YAAAAARRRGGGHHH...!!!" dia menyerang saat sudah siap.
Siapapun yang belum benar-benar mengenal sosok Reychu tidak akan pernah tahu, kalau Reychu tidak akan kalah saat lawan memilih menyerangnya dari dekat. Sebab, Reychu unggul dalam serangan jarak dekat. Apalagi saat lawannya memilih maju guna menyerangnya, dia tentu akan semakin senang menerimanya.
Dia mendekat atau lawannya yang mendekat. Selama pertarungan berada di area yang kecil, itu adalah peluang Reychu untuk mengoyak habis lawannya. Ia ibarat ikan piranha, saat mangsa mendekat maka tak ada jalan keluar baginya.
Pertarungan kembali berlangsung sengit.
Selain darah yang terciprat ke tubuhnya, Reychu tidak mendapatkan luka secuil pun. Tapi, berbeda dengan penyusup tersebut. Mungkin karena ukuran senjata yang berbeda atau kemampuan bertarung yang juga berbeda level membuat si lawan berada di kondisi yang menyedihkan.
Dia terluka.
Brugh!
Tubuh tak berdaya itu akhirnya jatuh juga, dengan sisa-sisa nafasnya dia mencoba bertahan. Matanya sayu menatap ngeri sosok Reychu yang berdiri menjulang didepannya dengan bercak-bercak darah menodai tubuh langsingnya dimana-mana. Memberikan kesan horor yang tak terelakkan.
"K...khau..." entah apa yang ingin dia katakan, yang pasti suaranya tak bisa keluar dengan benar.
Reychu hanya menatapnya tanpa iba sedikitpun. Hanya ada jejak kesenangan dimatanya yang terpancar saat melihat lawannya bak maha karya yang baru saja ia selesaikan sebagai seorang seniman.
"Sungguh malangnya dirimu... Apa yang kau pikirkan saat menerima tugas untuk membunuhku? Tidakkah ada yang mengingatkan mu kalau kau tidak boleh meremehkan lawan mu apapun yang terjadi?" ujar Reychu hanya bertanya. Meski sebenarnya, dia tahu adanya penyusup itu bukan tanpa alasan.
"Hmm... Terserah apa tujuan Tuan mu. Tapi, yang aku tahu. Orang itu harus diberikan hadiah agar tidak lagi gegabah dalam mengambil keputusan saat ingin menyerang ku. Kau tahu aku jadi kekurangan jam tidur karena mu. Haruskah aku balas dendam karena diganggu?" lagi, kali ini cukup untuk membuat lawannya yang lemah mati lebih cepat karena syok dengan kadar kegilaan Reychu.
Terlalu mengerikan. Lebih mengerikan daripada pembunuh bayaran.
"Yaaahh... Sayang sekali. Permainannya masih belum seru. Kira-kira, apa yang membuat endingnya seru, ya... Hmmm..." mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jari telunjuknya sambil bersedekap dengan sebelah tangan.
Tak lama kemudian, sebuah ide terlintas dibenaknya.
"Hehehe... Aku tahu, aku jenius. Benar-benar hebat luar biasa. Siapa aku? Aku adalah Reychu Velicia. Apa kelebihan ku? Kelebihan ku adalah selalu unggul dari orang lain. Hahahaha..."
Chi-chi menyusul kemudian. "Ya! Chu-chu yang terbaik!"
"Terimakasih! Terimakasih! Terimakasih!" seraya membungkuk dan mengayunkan tangan kanannya ke dada kirinya bak artis saat usai mementaskan sesuatu dihadapan penonton.
"Kalau begitu, apa yang harus dilakukan dengan mayat ini?" tanya Chi-chi sambil menatap jasad penyusup yang tergeletak bersimbah darah.
Terlihat mengenaskan.
"Ikuti saja aku. Aku punya ide yang luar biasa bagus untuk manusia malang ini!"
__ADS_1
๐