
"APA?!!"
Pekikan kaget menggelegar keluar dari mulut Meng Pei Yun dengan tak terkendali.
Hal itu dipicu oleh kabar yang baru saja disampaikan oleh salah satu pelayannya, ketika pelayan itu kembali dari menjalankan tugas rutinitasnya.
Siapa yang menduga bahwa kabar duka segera terbawa angin hingga sampai ke telinganya. Karena dia mengetahui tugas yang di jalankan rekan sejawatnya itu sebelum kini menjadi orang yang disebutkan dalam kabar berita kematian hari ini, iapun segera menyampaikan informasi yang baru saja didapatnya kepada junjungannya.
Begitu ia mendengar kabar tersebut, hal pertama yang terjadi pada dirinya adalah terkejut. Tentu saja.
Tak berpikir kalau tugas yang dianggapnya mudah akan berakhir menyulitkan seperti ini.
Kabar mengenai pelayannya yang ia tugaskan untuk melakukan kejahatan sebelumnya malah menjadi sasaran yang harus mati lebih dulu. Ini cukup untuk membuatnya tersentak dari dunianya sendiri.
"Kau yakin dia benar-benar mati?" tanyanya masih ingin memastikan.
Sulit untuk percaya, tujuannya akan gagal dalam waktu sesingkat ini.
"Menjawab Nyonya Selir, itu benar. Bahkan kini, tempat itu ditutup dengan penjagaan ketat dan melarang siapapun untuk masuk kesana." jawab pelayan yang membawa kabar itu.
Kedua bola mata Meng Pei Yun bergerak kesana-kemari tak tentu arah dengan pikiran yang berkelana kemana-mana.
"Dia mati akibat racun yang dibawanya sendiri? Bukankah itu artinya dia yang meminumnya dan bukan mereka?! Bagaimana bisa jadi seperti ini?! Apakah saat itu dia ketahuan dan akhirnya salah satu dari mereka yang memergokinya balas meracuni pelayan ku? Bisa jadi begitu! Tapi... Pelayan ku bukan sembarang pelayan! Semua bawahan ku adalah orang-orang terlatih dalam ilmu beladiri. Tidak mungkin bisa dijatuhkan begitu saja. Kecuali..." suara batinnya menjeda kala dugaan paling pasti muncul dibenaknya.
"... Mereka juga memiliki kemampuan yang sama." dia tak ingin mempercayai ini. Matanya sampai terbelalak lebar dengan sorot tak percaya dan frustrasi.
Batinnya melanjutkan. "Seberapa hebat mereka yang tampak lemah itu?! Lalu, siapa yang melakukannya hingga aku sampai mengalami kekalahan begini?!! SI*LAN! JAL*NG-JAL*NG BRENGS*K! Beraninya mereka mengacaukan urusan ku!" dia mengamuk didalam.
Tangan sang Selir Meng Pei Yun mencengkram pinggiran meja dengan begitu kuat hingga kayunya mengelupas oleh kuku panjangnya. Dia tak sadar kukunya berpotensi untuk rusak lantaran terlalu terbawa amarah.
Terlebih ketika dia tahu kalau dia tak bisa lagi asal mengambil langkah untuk membalas 3Ry -terutama Ryura-, sebab dia baru menyadari kalau gadis-gadis itu tampaknya bukan gadis biasa.
Jika, membunuh mereka dengan racun dapat digagalkan begitu mudah. Itu artinya, dia butuh persiapan yang lebih matang. Karena, bagaimanapun dia juga belum mendapatkan kabar dari organisasi pembunuh bayaran yang ia sewa untuk membantunya melenyapkan saingan cintanya.
Semakin ia memikirkannya, semakin marah ia lantaran tak bisa menuntaskan semuanya dalam waktu singkat. Hal ini justru menambah kadar kebenciannya terhadap Ryura ditambah teman-temannya.
"Benar-benar pengganggu! Sulit sekali menyingkirkan mereka!" desisnya kesal bukan main sampai suara gemeletuk gigi yang saling beradu terdengar jelas.
Begitulah orang yang tidak sadar diri. Dia lupa, siapa yang sebenarnya pengganggu dalam hal ini.
Kemudian dia lanjut berujar. "Jangan ada yang melakukan apapun untuk saat ini yang dapat menimbulkan kecurigaan. Meski sudah pasti paviliun Bunga Malam tak luput dari kecurigaan, setidaknya tunggu sampai ada yang datang. Lalu, aku akan mengambil langkah selanjutnya..."
__ADS_1
Dia masih belum terima akan kegagalan kali ini. Jadi, selagi masih ada peluang untuk menang dia tak akan melewatkannya.
Tiga orang pria paling tampan di dunia -yang author ciptakan- ini sedang berjalan berdampingan menuju lokasi kejadian. Tepatnya, kamar yang sebelumnya ditempati oleh kekasih-kekasih mereka. Tak lupa Dong Jia Zi dan Min Hwan mengikuti dibelakang mereka.
Tapi, keduanya hanya bisa mengikuti sampai depan pintu kamar kejadian dan menunggu disana.
Usai rapat dadakan tadi, ketiganya tak bisa menunda lebih lama apalagi mengingat masih ada jasad yang dibiarkan di lokasi kejadian untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.
"HORMAT KAMI KEPADA TUAN YE, PENGUASA KEKAISARAN UTARA, DAN TUAN MUDA SHIN!" sapa para penjaga yang bertugas dengan lantang dan kuat.
Ketiganya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tetap berjaga diluar! Jangan biarkan siapapun mengganggu!" tandas Ye Zi Xian dengan perintahnya yang lugas. Jelas tak ingin dibantah.
"SIAP, TUAN YE!" jawab para penjaga itu dengan membungkuk patuh.
Ketiganya pun akhirnya beranjak masuk kedalam kamar yang menjadi lokasi kejadian nan menggemparkan beberapa saat lalu.
Krieet...
Pintu ruangan dibuka tidak cepat atau lambat dan satu persatu dari mereka memasukinya. Hal pertama yang ditangkap panca indera penglihatan mereka adalah jasad pelayan yang katanya berasal dari Paviliun Bunga Malam dan ternyata benar adanya.
Melihat kondisi mayat pelayan itu yang cukup memprihatinkan, Shin Mo Lan berinisiatif maju untuk memeriksanya. Ye Zi Xian yang melihatnya hanya melihat seraya menunggu hasil. Dia juga ingin tahu secara lebih spesifiknya mengenai kebenaran yang sebenarnya tentang masalah ini. Bagaimanapun, ini terkait Ryura.
Dua pria yang lainnya pun sepemikiran dengan Ye Zi Xian.
Dia berjongkok di samping dekat si mayat dan mulai menyentuh permukaan kulit mayat didepannya dibeberapa tempat yang terlihat. Dia tak berniat memeriksa lebih jauh, karena dengan begini saja sudah dapat menemukan apa yang ingin dicarinya.
Selama dia memeriksa jasad pelayan itu, Kaisar Agung Bai berkeliling memperhatikan sekitar ruangan.
Tak lama ia berujar. "Ada beberapa jejak kaki disini." sambil memandangi cap demi cap yang menyerupai jejak kaki dari noda tanah basah.
Noda tanah basah yang terdapat dari cairnya salju diatas permukaan tanah hingga membuat tanah itu lembab terkesan becek. Inilah yang menyebabkan kemungkinan dibawa masuk oleh mereka yang masuk.
"Benar. Tampaknya, sempat terjadi perkelahian disini." sahut Ye Zi Xian membenarkan sambil terus menelisik sekitar lebih seksama.
Jejak yang ditemukan tidak hanya berasal dari lantai, tetapi juga terdapat di atas meja, lemari, bahkan dinding.
Para pria itu menduga kalau pertarungan sengit sempat terjadi. Tapi, yang jadi pertanyaannya... Mengapa tidak ada bercak darah? Perkelahian seperti apa yang di lakukan hingga tidak menimbulkan keluarnya darah?
__ADS_1
Kening Kaisar Agung Bai berkerut dengan ekspresi berpikir. "Tidak mungkin jika mereka memancing seseorang untuk berkelahi di sini. Lagipula, mereka juga bukan tipikal orang yang akan mencari masalah lebih dulu." tuturnya mulai menelaah kebenaran.
"Ya. Memang aneh kalau mereka sampai berani bertindak sejauh ini di tempat yang asing bagi mereka begini. Bahkan jelas itu tidak mungkin. Meskipun mereka ganas saat dalam pertarungan, mereka bukan orang yang akan mengambil inisiatif untuk membuat keributan." kedalaman mata Ye Zi Xian terlalu gelap hingga tak bisa di baca apa yang sebenarnya ada didalamnya kala dia menjelaskan.
"Kalau begitu, berarti ada kemungkinan kalau pelayan itu datang untuk mencari masalah. Bisa jadi, dia memang benar-benar ingin meracuni ketiga gadis itu. Tapi, sayangnya dia gagal karena ketahuan. Alhasil, demi menyelamatkan diri dia mencoba melawan namun tetap gagal dan berakhir disini." tebak Kaisar Agung Bai. "Hanya saja yang aku bingung kan... Bagaimana ceritanya pelayan itu meminum racun yang dibawanya sendiri dan berakhir mati disini alih-alih sekarat akibat pertarungan?! Apa itu juga perbuatan mereka?" dia masih mencoba menemukan alur dari kasus kematian pelayan paviliun Bunga Malam ini.
Pertukaran kata keduanya tiba-tiba disela oleh Shin Mo Lan yang sepertinya telah menemukan sesuatu.
"Racun ini benar-benar mematikan." suaranya menarik perhatian Kaisar Agung Bai dan Ye Zi Xian untuk menatapnya dengan sorot mata meminta penjelasan.
Tanpa menatap balik sahabatnya, Shin Mo Lan mulai menjelaskan. "Dia sungguh mati karena racun yang dibawanya sendiri. Aku tahu Rayan memang bisa meracik racun jauh lebih baik dariku. Tapi, aku jelas tahu racun semacam itu hanya akan digunakan bila memang diperlukan. Rasanya tidak mungkin kalau dia mau repot-repot menggunakan racun berbahaya ini hanya untuk menimbulkan masalah. Apalagi, selama ini aku melihatnya begitu menjaga sikap ditempat yang baru dia datangi." baru kemudian dia memandang kedua sahabatnya dengan serius.
"Kupikir, masalah ini hanya bisa ditemukan langsung dari kedua belah pihak. Ibu sambung mu dan gadis-gadis kita." menoleh kembali kearah mayat yang mengenaskan. "Pelayan ini jelas tidak mungkin bergerak tanpa perintah. Sebagai bawahan, dia seharusnya tahu..." tak perlu dilanjutkan, kedua sahabatnya pasti tahu maksudnya.
Ye Zi Xian diam mendengarnya, tapi sikap dinginnya menyulitkan siapapun untuk mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.
Duduk diam di ruang kerjanya dengan suasana mencekam menyelimuti sesosok pria yang ada disana.
Beberapa saat lalu ia baru saja mendapatkan informasi terbaru dari bawahannya.
"Hormat, Tuan ku. Saya datang untuk melapor." kata seorang pria lain yang adalah bawahannya. Pria itu berpakaian serba hitam, ditambah ruangan temaram yang minim pencahayaan menyulitkan siapapun untuk dapat melihat wajahnya.
"Katakan!" serunya sambil berdiri membelakangi bawahannya.
"Ketiga bawahan yang di kirim ke Kediaman Ye belum kembali."
Mengernyitkan dahinya, dia berkata tanpa menoleh. "Bagaimana bisa?!" dia langsung berbalik usai mengatakannya.
"Tempat itu tak jauh dari sini sampai harus ditempuh dalam waktu berhari-hari. Bagaimana bisa mereka belum kembali?!" nadanya menghina bercampur marah.
"Mohon maaf Tuan ku. Saya belum menyelidikinya lebih lanjut." bawahan itu membungkuk tak berani menatap langsung wajah marah tuannya.
"Kalau begitu cari tahu! Cari tahu apa yang terjadi hingga mereka tidak kunjung kembali! Selama alasannya tidak berkaitan dengan target, maka biarkan saja. Aku tidak butuh bawahan yang tidak kompeten! Tapi, kalau ini berkaitan dengan target..." kalimatnya sengaja tidak dilanjutkan. Tapi, baik pemain dalam cerita ini maupun pembaca sudah seharusnya paham akan maksudnya.
Salah, jika berpikir pria itu memiliki simpati kepada bawahannya. Sebagai pemimpin organisasi pembunuh bayaran, dia pun tak akan segan untuk membunuh bawahannya sendiri kalau sampai melakukan kesalahan. Tapi, paling tidak... Yang membuat para bawahan bertahan disana, karena dia -pemimpin- tidak pelit soal uang bila pekerjaan bawahannya mampu memuaskannya.
"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan!" usai mengatakan itu, pria berpakaian serba hitam itu langsung undur diri dan menghilang dalam sekejap mata.
Setelah ditinggal sendirian, pria yakni pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu sambil menstabilkan emosinya perlahan bergerak duduk di kursi kebesarannya. Dia diam tapi pikirannya penuh dengan segala hal yang pastinya berhubungan dengan apapun yang baru saja terjadi.
__ADS_1
πππ