3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
BERHARAP BERSAMA SELAMANYA


__ADS_3

"..."


Kebingungan masih belum bisa dilepaskan. Kedua sahabat Ye Zi Xian masih mencerna apa yang tengah dibicarakan oleh sahabatnya.


"Ke Kerajaan Api maksudmu?" tanya Shin Mo Lan setelah lama diam. Meski jujur saja, ini membuat hatinya tak nyaman.


Ye Zi Xian menggelengkan kepalanya lemah. "Bukan. Mereka akan kembali ke dunia mereka." jawabnya.


Greek...!


Brak!


Kaisar Agung Bai menggebrak meja didepannya seraya berdiri hingga membuat kursi yang didudukinya berderit keras. Raut wajahnya datar dan tajam namun emosi yang kompleks terlihat jelas berseliweran di sorot matanya.


"Sebenarnya, apa yang sedang kau bicarakan?!" amuknya tak tahan. Ketakutan dihatinya membuat ia tak tahu harus berbuat apa. Hingga hanya bisa marah dengan tidak jelas seperti ini.


Dia tak mau membayangkan hal yang menjadi ketakutannya meski bayangan tersebut tak bisa di hindari.


Ye Zi Xian hanya melihat dan sama sekali tidak terusik oleh sikap sahabatnya. Dia tahu perasaan yang kini tengah dirasakan kedua sahabatnya. Karena, dia juga pernah berada di pusaran rasa itu.


"Mereka tidak akan kemana-mana! Kau tahu! Dan aku tidak akan membiarkannya pergi!" amarah Kaisar Agung Bai lebih kepada kegelisahan dan ketakutannya.


"Aku tahu! Aku juga tak ingin hal itu terjadi! Tapi, ini kenyataannya... Cepat atau lambat... Mereka tetap akan pergi meninggalkan kita. Ryura sudah mengatakannya." jelas Ye Zi Xian.


"Dan kau percaya? Bisa jadi itu hanya caranya untuk menjauh dari kita." bantah Kaisar Agung Bai karena tak ingin mempercayai apa yang sahabatnya katakan. "Fakta, bahwa kita baru bertemu beberapa hari sudah cukup untuk menjadikan itu alasan. Bagaimana bisa kau percaya begitu saja?!" sambungnya dengan amarah yang tersulut.


Saat Ye Zi Xian hendak menjawab, Shin Mo Lan lebih dulu berdiri guna menengahi keduanya.


"Cukup! Apa begini cara kalian mengatasi masalah?! Kenapa sampai harus bertengkar?! Kita tinggal datangi mereka dan tanyakan sendiri tentang kebenarannya! Jika, mereka benar-benar ingin berbohong, mereka harus cukup pintar memilih orang yang ingin dibohongi!" tandas Shin Mo Lan memberikan solusi.


Dia juga dalam keadaan kalut, sama seperti kedua sahabatnya. Tapi, dia jelas masih berpikiran jernih untuk tidak sampai melakukan sesuatu yang pada akhirnya merugikan diri sendiri.


Lagipula, dia memiliki kepercayaan tersendiri terhadap Rayan sehingga dia tak langsung menganggap penjelasan Ye Zi Xian adalah kekeliruan.


Dia juga sudah berniat untuk langsung menanyakan hal ini pada Rayan agar segalanya lebih jelas.


Itu juga yang pada akhirnya ia sarankan kepada kedua sahabatnya yang saat ini dalam suasana hati yang buruk.


Maklum saja, ini adalah kisah dari cinta pertama mereka. Mendapati hal-hal yang berujung perpisahan akan cinta, siapa yang siap?


Flashback off...


Greek...


Kaisar Agung Bai bangkit secara tiba-tiba hingga kursi yang didudukinya terdorong kebelakang dan menimbulkan suara gesekan yang mengganggu.


Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan tersadar dari lamunan mereka akibat suara yang ditimbulkan dan spontan menoleh kearah Kaisar Agung Bai sebagai pelakunya.


"Aku pergi!" tukas pria berambut merah itu dengan masih memiliki wajah masamnya dan berbalik pergi tanpa berniat menjelaskan apa-apa.


Lagipula, kedua sahabatnya sudah bisa menebak kearah mana sang Kaisar Agung tuju.


Setelah beberapa saat...


"Kupikir, aku juga." Shin Mo Lan bangkit dan berbicara kepada Ye Zi Xian yang masih duduk di kursinya. "Masalah ini harus segera diselesaikan." jeda sesaat. "Jujur... Aku juga tak ingin mempercayai apa yang kau katakan, Zi Xian. Tapi, tetap saja. Hal ini mesti segera diluruskan."

__ADS_1


Ye Zi Xian terkekeh tak berdaya. "Aku tak akan menyalahkan kalian karena tak mempercayai ku. Karena, pada dasarnya aku juga tak bisa percaya. Tapi, aku tahu orang seperti apa Ryura itu... Dia tak akan berbohong. Entah itu padaku atau pada orang lain." terangnya.


Shin Mo Lan mengangguk paham. "Semoga ada solusi dalam masalah ini." harapnya yang tanpa ragu di setujui oleh Ye Zi Xian.


Setelahnya, pria berambut putih keperakan itu pun ditinggalkan seorang diri dengan suasana hati yang tak menyenangkan sama sekali.


Ditariknya nafas dalam-dalam lalu dihembuskan. Dia mendongak seraya menutup matanya. Rasa frustasinya tak bisa hilang begitu saja kala ia memikirkan akan kehilangan Ryura suatu hari nanti.


Disaat Ye Zi Xian sedang menenangkan diri dari segala pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, tiba-tiba saja terasa sesuatu merambat dari belakang tubuhnya dan...


Grep!


Aroma yang amat sangat dikenalnya masuk ke indera penciumannya. Akhirnya, dia tahu siapa yang datang memeluknya dari belakang.


Dibuka mata itu untuk segera melirik ke sosok yang sudah dengan tenang menyandarkan dagunya di pundak Ye Zi Xian yang kokoh sambil memejamkan mata dari arah belakang atau tepatnya dalam posisi membungkuk memeluk dari belakang. Sebab, Ye Zi Xian masih dalam posisi duduk.


"Ryura..." lirihnya menyebut nama pujaan hati.


"Semua akan baik-baik saja." kata Ryura seolah tahu apa yang tengah membebani prianya.


Ye Zi Xian tak bisa menahan senyum lembutnya saat mendapatkan perhatian kecil tersebut.


Perhatian yang mampu menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.


"Hmm... Seperti yang kau katakan."


Setelahnya, iapun ikut memejamkan mata dan menikmati momen manis ini bersama Ryura. Membiarkan Ryura memeluk mesra dirinya dari belakang dan memberikannya kehangatan dan ketenangan yang tak bisa didapatkan dari siapapun.



Di sebuah gazebo dengan pemandangan jurang dan bukannya kolam terdapat Reychu dan Rayan disana tengah menggerutu akibat mendapati kenyataan kalau Ryura menghilang tiba-tiba. Padahal, sebelumnya mereka masih bersama bercengkrama yang mungkin lebih didominasi oleh Reychu dan Rayan.


"Kemana lagi itu gadis perawan?! Suka sekali menghilang tiba-tiba." seru Reychu sambil bersantai ria menikmati pemandangan yang tak lebih dari warna putih dan hitam. Dengan kata lain, salju dan batang pohon yang berwarna gelap adalah apa yang menjadi pemandangannya.


Mengedikan bahunya tak peduli karena sudah terbiasa, meskipun sering terasa menyebalkan. Rayan acuh tak acuh.


"Jangan tanya aku! Aku bukan ibunya!"


"Heh?! Apa katamu?! Hahaha... Kalau kau ibunya, maka aku ayahnya." guraunya. "Ayah Rey! Hahaha...!" lanjutnya kemudian tertawa lepas.


Reychu selalu punya celah untuk berkonyol ria.


Sementara Rayan malah jengah dibuatnya sampai ia merotasikan bola matanya.


"Kalaupun aku jadi ibunya Ryura, aku jelas tak akan mau ayah anakku itu jadi kau. Benar-benar kutukan!" tukas Rayan setengah jengkel.


Mendengar itu Reychu segera mendramatisir keadaan, dengan menyentuhkan telapak tangannya diatas dada bersama ekspresi syok yang dibuat-buat ia berujar dengan menyebalkan.


"Astaga! Rayan, apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kau Setega itu padaku? Bagaimana bisa kau menyebutku sebagai kutukan? Bagaimana bisa kau perlakukan aku sebegini kejam? Tidakkah kau takut bila aku adukan ke Ryura dan gadis manekin hidup itu akan membunuhmu sebagai bentuk pembelaannya padaku? Kau tidak takut? Hah?! Hah?! Hah?!"


Rayan kembali memutar bola matanya malas meladeni kelakuan gila sahabatnya yang tak ada habisnya.


Diabaikannya cerocosan Reychu untuk beberapa waktu sampai tiba-tiba kedua mata Rayan terbelalak saat sorot matanya melewati Reychu.


Glek!

__ADS_1


Baru setelah Reychu melihat keanehan dari raut wajah sahabatnya yang imut itu ia terdiam dan penasaran. Kemudian, menggerakkan kepalanya mengikuti arah pandang Rayan.


Siapa yang menduga kalau begitu ia berbalik, seketika keningnya membentur sesuatu yang padat namun tidak menyakitinya.


Duk!


"Ouch!"


Mengelus keningnya yang tak sengaja membentur sesuatu, meski tak terasa sakit. "Apaan itu?!" gerutunya.


Rasanya kesal karena merasa ada yang menghalangi.


Tapi, seruan Rayan menyadarkan Reychu.


Berdiri segera dan menyapa. "Salam hormat saya kepada Yang Mulia Kaisar Agung Bai!" seraya membungkuk hormat sebagaimana mestinya.


"Hah! Si rambut merah!"


Srak!


Reychu pun menyusul Rayan untuk bangkit dari duduknya saat nama kekasihnya disebut.


Bila orang lain yang melakukannya, sudah pasti mereka akan langsung diberikan hukuman karena telah lancang terhadap Kaisar Agung. Tapi, ini adalah Reychu yang melakukannya kepada Kaisar Agung Bai Gikwang sudah pasti tidak akan menjadi masalah.


"Oh. Hai, sayang!" sapanya sambil melambaikan tangannya dengan niat ingin bermanis-manis manja, namun sayang itu tak terlihat sama sekali.


Yang dipanggil 'sayang' justru tersipu dengan hati berbunga. Senang sudah mau diakui cintanya.


Rayan disana seketika merasa menjadi nyamuk yang diabaikan. Miris sekali.


"Ada apa menemui ku?" tanya Reychu.


"Ikut dengan ku. Aku punya hal yang ingin ku bicarakan denganmu." kata Kaisar Agung Bai seraya menyodorkan telapak tangannya untuk di sambut oleh Reychu.


Sebagai gadis yang serampangan, Reychu tak pernah ragu dalam bertindak.


Menerima sodoran tangan itu, ia berkata dengan makna yang tersirat didalamnya. "Baik! Mari, kita habiskan banyak waktu berdua!"


Mungkin Kaisar Agung Bai tidak merasa ada yang aneh dengan kalimat yang Reychu ucapkan, karena nadanya yang terdengar normal. Tapi, Rayan jelas tahu.


Reychu sudah mulai menyicil momen kebersamaan dirinya dengan sang pujaan hati sebelum waktu perpisahan tiba. Walau dia tentu berharap ada keajaiban untuk kisah cintanya dia dan sahabat-sahabatnya.


Tap!


Tap!


Tap!


Tinggallah Rayan seorang diri disana.


Sambil memandang kejauhan usai menyaksikan kepergian Reychu bersama kekasihnya.


"Seberapa singkat waktu yang tersisa?!" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


__ADS_1


maaf lama ya. biasa kerjaan masih banyak. Thor mau up panjang jadi susah. sabar ye...


😜😘😘😘


__ADS_2