3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
?


__ADS_3

Sebuah tangan halus dan lembut melingkar manja dari arah belakang di sekitar bahu dan leher yang kokoh dan kekar. Sedang pemilik bahu tersebut hanya melirik sekilas seraya tersenyum lembut lalu kembali ke buku bacaan yang tengah ia baca.


"Ada apa ini?! Kau mengabaikan ku?!" keluh pemilik tangan lembut itu yang tak lain adalah tangan seorang wanita, suaranya terdengar layaknya anak manja yang tengah merajuk, seperti yang baru saja ia katakan kalau ia tidak suka di abaikan. Tapi, di telinga pria itu suara tersebut terdengar indah untuk ia dengar sebab mengandung ketergantungan pada dirinya. Artinya ia cukup berarti untuk wanita di belakangnya itu.


Dengan tersenyum pria yang dipeluk dari belakang itu terkekeh pelan. "Kapan aku pernah mengabaikan mu, hmm?!" tanyanya balik yang lebih kepada penegasan bahwa hal yang dimaksud tidak akan benar-benar terjadi seraya membalikkan lembaran berikutnya pada buku yang ia baca. Ia lanjut membaca.


Wanita itupun kini tersenyum lebar kala tahu dirinya tidak di abaikan, walaupun ia sangat tahu hal itu tak akan di lakukan oleh pria yang ia peluk bahunya dari belakang. Pria didepannya ini sudah tergila-gila padanya.


"Memang! Dan sudah seharusnya kau tidak mengabaikan ku! Karena aku tidak suka di abaikan!" lugasnya dalam suara lembut namun penuh penekanan. Sebelah tangannya mulai mengelus rahang tegas pria yang ia peluk sambil memberi beberapa kecupan di area telinganya. Si pria memejamkan matanya meresapi perlakukan manis itu.


"Kenapa kau datang padaku?" tanya pria itu pura-pura tidak tahu pada fakta yang sudah jelas ia tahu sedang terjadi. Ia hanya ingin bersenda gurau dengan wanitanya.


"Apalagi... Karena aku merindukanmu, tentu saja!" jawab si wanita yakin sambil menyandarkan dagunya pada bahu kekar pria itu. Dia amat manja, bahkan manjanya mengalahkan anak kecil.


"Benarkah?! Kenapa aku justru merasa kau datang karena dia sedang tidak ada." pancing pria itu lagi. Ia tampak ingin tahu sekaligus menggoda wanitanya untuk jujur.


Si wanita memberengut kesal namun tetap memeluk prianya. "Kau tahu pasti bagaimana bisa begitu!" melirik sejenak buku bacaan yang ada dalam genggaman pria itu, tapi ia tak tertarik. "Apa menurutmu aku bisa pergi menemui mu bila dia selalu di sampingku?! Tentu, jawabannya tidak, sayang!" lugasnya geram pada prianya dengan sikapnya yang manja. Ia tahu pria itu sedang menggodanya. Pria itu hanya tersenyum.


"Kau jadi terlihat kejam, karena bermain di belakangnya sampai sejauh ini." pria itu terkekeh kala mengucapkan kalimat tersebut seolah itu lucu tanpa mau peduli kalau wanitanya sudah memasang wajah cemberut namun tak marah. Karena itulah kebenarannya.


"Kau tak kalah kejam, sayang." balasnya tak ingin di bilang 'kejam' sendiri. Lalu, keduanya tertawa bersama.


Entah mereka sadar atau tidak dengan apa yang telah mereka katakan dan lakukan...


Hening sesaat.


"Sayang..." panggil si pria pada wanitanya yang terlihat masih betah pada posisinya dengan tangan yang juga tak tinggal diam. Pria itu hanya membiarkan wanitanya bertindak semaunya pada tubuhnya. Ia terlihat lebih pasrah daripada wanita.


"Heumm... Ada apa?" sahut wanita tersebut santai seolah tak menanggapi.


"Kau yakin dia tidak bisa memberimu anak? Padahal kau jelas-jelas mendengar tabib berkata kalau dia baik-baik saja. Aku juga ada disana kalau kau lupa." tanya pria itu tiba-tiba, bertanya tentang yang telah lalu mengenai mereka sampai-sampai ia menghentikan aktivitas bacanya karena rasa ingin tahunya. Wanita itu juga ikut menghentikan gerak tangannya yang sebelumnya sibuk meraba sana-sini.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu..." wanita itu mengerutkan keningnya bingung sendiri. "Awalnya kupikir aku yang bermasalah, tapi tabib juga berkata tidak ada yang salah dariku. Semuanya baik. Tapi, kenapa?!" ia berkata bingung lantaran pembahasan ini masih menyimpan tanda tanya yang besar dimana sampai sekarang tak kunjung mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


"Apa karena itu kau datang padaku dan mencobanya denganku?" tanya pria itu lagi yang entah mengapa begitu ingin tahu seraya menoleh ingin menatap langsung wajah sang kekasih hati, karena pada kenyataannya ia tak hanya memberikan tubuhnya pada wanita itu tapi juga hatinya hingga tak sadar ia telah mengkhianati orang yang amat menyayanginya.


Wanita itu tertegun mendengarnya, tersirat di wajahnya kalau ia enggan untuk menjawab. Namun melihat prianya hanya diam menunggu jawabannya dengan mata yang menyorot penuh harap, mau tak mau ia harus menjawab.


"Eum... Pada awalnya, iya. Aku hanya ingin mencobanya denganmu. Karena kau adiknya, tentu kalian sedarah..." wanita itu menghentikan kalimatnya dan hanya memandangi wajah tampan prianya yang juga memandanginya dari samping lalu mendekatkan wajahnya dan mencium sudut bibir si pria. "Tapi... Begitu kau menyentuhku. Aku sadar sentuhan mu jauh lebih baik daripada sentuhannya. Tahukah kau apa artinya itu..." tangan wanita itu mulai kembali meraba apa yang bisa di jangkau oleh tangan lembutnya yang indah, wajahnya pun disusupkan ke ceruk leher prianya membuat pria itu mengerang tertahan.


"Aku tahu sayang. Tapi, bisakah kau jangan lakukan itu?! Atau kau akan membangunkan sesuatu di bawah sana." kode si pria mulai ambigu kala merasakan perlakukan yang amat di sukai pria pada dirinya semakin menjadi. Tapi, ia yakin seratu persen kalau wanitanya tahu apa maksudnya.


Wanita itu terkekeh mendengarnya. "Hahaha... Kalau bangun yang biarkan saja. Memangnya kenapa, hmm?! Kau ragu untuk membiarkan ku menidurkannya lagi?!" balasnya tak kalah ambigu dengan suara rendah dan dalam yang terdengar begitu sensual di telinga si pria, ia tahu arah pembicaraan prianya. Bahkan tangannya tak juga berhenti meraba apa yang bisa ia raba sampai-sampai pakaian atas sang pria mulai tersingkap.


Tangan besar pria itu segera menangkap tangan lembut wanitanya saat dirasa tangan mungil itu mulai nakal dengan menyusup masuk ke bagian bawah dari perutnya. Lalu, membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan dan tanpa jeda si pria langsung mendorong lembut tubuh wanitanya hingga terbaring di bawahnya dengan si wanita yang masih menampilkan senyum manis penuh godaan tersebut.


"Uhh! Kau benar-benar luar biasa, sayang. Saat dia sedang tidak ada kau datang menemui ku. Tapi, kau akan langsung melupakan ku bila sudah bersamanya." terangnya tanpa ragu dengan suara yang sudah mulai terdengar berat. Sorot matanya mendamba dan tangannya pun tak ingin tinggal diam.


Wanita itu mengangkat tangannya guna melingkar di leher si pria yang kini berada di atasnya. Ia membiarkan tangan besar itu menyentuhnya, karena ia suka. Juga, posisi ini membuat pria itu terlihat mempesona di mata sang wanita.


"Apa boleh buat. Ini juga demi kebaikan bersama. Apa menurutmu kita akan selamat bila ketahuan?" ucapnya dengan tubuh yang mulai merespon. Si pria tersenyum mengetahui itu.


"Aku tahu itu. Tapi, apa kau tidak kasihan padaku yang selalu memendam rindu seorang diri. Aku jadi terlihat bodoh, sayang... Aku seperti pria simpanan saja, kau tahu?!" jujur si pria yang mulai mengeluhkan kondisinya.


"'Ah... Benarkah?!" seringai menggoda di tampilkan sang pria untuk menggoda wanitanya yang tentunya di sambut baik oleh lawannya.


"Eum... Tentu!" yakin wanita itu dengan suara mendesah. Dia benar-benar tampak seperti wanita yang haus akan belaian dan ingin selalu di puaskan.


Pria itu mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka mulai bersentuhan. "Kalau begitu... Ayo... Kubuat kau mengerang nikmat di bawahku, hingga kau kembali menginginkannya lagi dan lagi." suaranya semakin terdengar dalam lantaran ia berbicara dengan bibir yang saling bersentuhan.


Wanita itu tersenyum senang mendengar godaan tersebut. Di kecupnya bibir yang sejak tadi hanya menempel di permukaan dan menggoda bibirnya kala bibir pria itu bergerak untuk berbicara. Itu sungguh terasa menggelitik untuknya.


"Dengan senang hati... Tapi, berhati-hatilah... Kau tidak ingin melukainya, bukan?!" peringatan yang wanita itu ucapkan sudah di ketahui oleh pria itu.


"Hahaha... Tentu saja! Dia milikku! Tidak mungkin aku melukainya, justru kini aku ingin menyapanya." kekehnya. "Kau siap?" tanya pria itu seolah meminta izin.


"Eum. Lakukan segera. Aku sudah sangat menginginkannya." jujurnya dengan melenguh penuh gairah yang siap di salurkan.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, si pria pun langsung menerkam wanitanya dan terjadilah apa yang pastinya terjadi bila wanita dan pria di satukan pada satu tempat. Terlebih bila hanya ada mereka berdua.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Duduk santai di atas peraduan bersandarkan dada bidang polos seorang pria. Ya, ini masih tentang mereka.


Sepasang tubuh itu masih dibiarkan polos hingga benar-benar membuat mereka menempel satu sama lain. Tangan si pria melingkar posesif di perut wanitanya dengan sang wanita yang memejamkan matanya menikmati kebersamaan mereka.


"Kau terlihat santai beberapa bulan ini." kata pria itu memulai percakapan.


"Hmm... Tidak ada yang perlu ku kerjakan selain bersantai." jawab wanita itu tak bergeming dari posisinya.


"Dia benar-benar memperlakukan mu dengan istimewa." katanya seraya tersenyum miring dengan mata menerawang mengingat kala pria lain bersikap begitu menyayangi wanitanya, namun detik berikutnya sorot mata itu berubah sendu dan tampak disana sebuah rasa bersalah. Wanita yang duduk bersandar padanya tak tahu itu.


Hening sesaat. Mereka saling menikmati kebersamaan.


"'Aah... Kudengar, ada orang asing yang mengusik ketenanganmu beberapa waktu lalu. Kau mau bercerita padaku?" tanya si pria begitu sebuah ingatan mengingatkannya pada informasi yang ia dapatkan. Hal itu mengganggunya dikarenakan berkaitan dengan wanitanya.


"Oh, soal itu. Ya, dia wanita yang menyebalkan. Kau tahu, sayang... Dia datang tanpa di undang lalu membuat kacau semuanya." tuturnya penuh kekesalan bila mengingat tentang kejadian itu.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya pria itu lagi.


"Malam itu aku baru saja ingin mengunjungi suamiku untuk bermalam dengannya. Karena aku merindukannya. Tapi, semua gagal lantaran wanita aneh itu muncul entah darimana dan mengalihkan seluruh perhatian suamiku. Aku bahkan sampai tak mendapatkan ucapan selamat malam." jujur wanita itu dengan lantang sampai tak sadar kalimat yang ia ucapkan berhasil memancing rasa cemburu prianya.


Pria itu tahu wanitanya sudah jadi milik kakaknya namun tetap saja ia cemburu. Ia tahu ini salah, tapi ia tak bisa lagi mengubahnya. Baginya semua sudah terlambat. Ia hanya bisa menunggu waktu dimana semuanya terbongkar dan kira-kira apa yang akan sang kakak lakukan padanya yang notabenenya adalah adik kesayangannya.


Tiba-tiba wanita itu tersadar dari apa yang ia katakan. "Astaga...!" ia panik dan langsung berbalik untuk melihat prianya yang ia yakini sudah merasa cemburu. "Maafkan aku, sayang. Aku keceplosan. Tidak seharusnya aku berkata segampang itu di depan mu." jelasnya lirih seraya mengusap dada bidang pria itu bermaksud untuk menenangkan hati prianya.


Si pria tersenyum tipis nan sendu. "Tak apa. Memang faktanya ia suamimu dan dia juga adalah kakakku. Aku tak bisa cemburu padanya karena aku hadir belakangan." terang pria itu penuh pengertian yang mana hal itu langsung disambut dengan sebuah pelukan penuh kasih dari sang wanita.


"Maaf. Tapi, percayalah. Kau juga sangat berarti untuk ku." jujur wanita itu tulus. Pelukan itu melonggar dan kembali saling tatap.


"Aku tahu." pria itu tersenyum lembut pada wanitanya.

__ADS_1


Wajah keduanya mulai kembali saling mendekati hingga bibir keduanya kembali menyatu dan ciuman pun tak dapat terelakkan.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


__ADS_2