
Setelah menemukan tempat yang sepi dan tersembunyi, Raisa langsung saja menggunakan kemampuan sihirnya membuat suatu portal terbuka dengan ajaib.
Bersama adik lelakinya, Raihan dan semua temannya yang lain, mereka semua pun memasuki lingkaran hitam misterius tersebut saat tak ada satu pun orang lain yang melihat dan mengetahuinya. Dan pada langkah selanjutnya, mereka semua sudah tiba dan berada di halaman depan kediaman tempat tinggal Raisa bersama keluarganya.
"Sudah sampai!" Seru Raisa
"Cepat dan praktis! Bisa menghemat waktu!" Kagum Raihan setelah ikut bepergian menggunakan sihir teleportasi milik Raisa.
"Ini, rumahmu, Raisa?" Tanya Morgan
Raisa menganggukan kepalanya...
"Aku senang bisa mengetahui langsung di mana tempat tinggal Raisa." Ungkap Rumi
"Tapi kita ke sini dengan menggunakan sihir teleportasi, hingga tidak tahu jalan menuju rumah Raisa setelah tiba di dunia ini dari dunia asal kita." Ucap Billy
"Tidak apa. Di kesempatan lain pasti Raisa memberi tahu kita." Kata Amy
"Inilah rumahku. Terlihat kecil untuk kalian semua, itu sebabnya aku tidak langsung menyarankan kalian datang ke mari saat liburan pertama kalian di dunia sini." Ucap Raisa
"Tidak apa. Kami semualah yang sudah merepotkanmu dan membuatmu bingung untuk membawa kami ke mana saat kami berlibur di sini. Akhirnya kau malah repot-repot menggunakan vila keluargamu." Ucap Aqila
"Hei, aku berkata begini bukan untuk membuat kalian merasa telah merepotkanku. Kalian semua adalah tamu istimewaku, aku sangat senang saat kalian datang berkunjung ke duniaku." Ujar Raisa
"Kak Raisa, apa kita bisa langsung masuk ke dalam?" Tanya Raihan
"Untuk masalah itu, kita harus tunggu Ibu dan Bapak sampai sini karena kunci rumah pasti dibawa Ibu. Merepotkan kalian untuk menunggu." Jelas Raisa
"Bukan masalah besar." Kata Marcel
"Tapi, aku mau langsung masuk. Udah gak tahan nih, kak!" Bisik Raihan dengan kedua kakinya yang terkatup rapat.
Melihat tingkah adik lelakinya, Raisa bisa langsung nengetahui bahwa Raihan ingin masuk ke dalam rumah untuk cepat-cepat menggunakan toilet di dalam rumahnya.
"Haish, bocah merepotkan! Tahu begini, kamu ikut Ibu dan Bapak aja tadi." Kata Raisa
"Kalau ikut Ibu dan Bapak, malah tambah lama! Apa gak ada cara untuk bisa langsung masuk ke dalam, Kak?" Ujar Raihan
"Iya, deh! Kakak coba buat buka pintunya, tapi kalau gak bisa terbuka pilihannya kamu cuma bisa tunggu Ibu dan Bapak sampai ke sini." Ucap Raisa
"Iya, gapapa. Mencoba lebih baik dari pada hanya diam." Kata Raihan
"Kamu bicara begitu kayak kamu aja yang mencoba buka pintu ini." Pelan Raisa merasa kesal dengan tingkah adik lelakinya itu.
Raisa pun mendekati pintu utama rumahnya untuk mencoba membuka pintu yang terkunci itu dapat terbuka hanya dengan menggunakan kemampuan sihir yang dimilikinya.
Tuk!
Setelah mengutak-atik di depan puntu dengan menggunakan kemampuan sihir yang dimilikinya, kunci pintu tersebut itu pun berhasil Raisa buka.
"Berhasil, terbuka! Cepat, masuk! Jangan buat kakakmu ini malu!" Kata Raisa
"Kakak yang terbaik! Terima kasih, Kak Raisa!" Sorak Raihan yang langsung berlarian masuk ke dalam rumah.
"Maafkan tingkah adikku itu ya. Pasti sangat tidak menyenangkan bagi kalian." Ujar Raisa
"Tidak apa, Raisa. Menahan sesuatu itu memang tidak baik, jadi wajar adikmu bertingkah seperti itu." Ucap Wanda
"Bagaimana cara kau membuka kunci pintu ini? Dengan sihir apa?" Tanya Sandra
"Ah, teknik ini masih rahasia. Mohon maaf semuanya!" Kata Raisa
"Hebat sekali! Kalau begitu, kita bisa menyusup dengan mudah saat ada misi pengintaian!" Ucap Morgan
"Benar! Tapi, Raisa tidak berniat memberi tahu caranya." Kata Ian
"Bukannya tidak ingin memberi tahu, tapi kalian pasti tahu cepat atau lambat. Ini salah satu sihir pamungkasku sih!" Ucap Raisa
"Itu sama saja dengan tidak niat. Cih, merepotkan!" Ketus Devan
"Ahaha. Kalian juga masuklah. Maaf, jika kondisinya tidak senyaman saat di dunia kalian." Ujar Raisa
"Akan lebih baik kalau kita menunggu orangtuamu datang dulu, Raisa." Ucap Dennis
"Baiklah, terserah kalian saja." Kata Raisa
Sementara semua teman lain ingin menunggu di luar rumah, Raisa masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman untuk mereka semua.
"Karena kalian ingin menunggu di sini, aku tinggal masuk ke dalam dulu sebentar ya. Ingin membuat minum untuk kalian." Ujar Raisa
"Merepotkanmu, terima kasih, Raisa." Ucap Aqila
"Ambilkan untukku camilan juga ya, Raisa." Pinta Chilla
"Baik, aku mengerti!" Kata Raisa
"Apa kau tidak merasa malu sediki saja, Chilla? Raisa sudah berbaik hati ingin membuatkan minuman, tapi kau malah menambah minta camilan?! Sudah diberi hati, malah minta jantung! Sama saat di sekolah Raisa tadi!" Ujar Ian
__ADS_1
"Biar saja! Kami, para gadis yang bersahabat memiliki loyalitas yang tinggi!" Kata Chilla
"Sudah, tidak apa. Jangan sampai bertengkar di rumahku ya!" Ucap Raisa
"Mau kubantu, Raisa?" Tanya Rumi
"Tidak usah, kau di sini saja bersama teman yang lain. Aku bisa sendiri..." Jawab Raisa
"Kalian tunggu di sini, duduk-duduk dulu saja." Kata Raisa
Teman yang lain menunggu di luar rumah lebih tepatnya di bagian teras rumah Raisa, yang sudah tersedia berberapa kursi tempat duduk jika di antara mereka ada yang ingin duduk beristirahat.
Raisa pun beranjak masuk ke dalam rumahnya langsung menuju ke arah dapur...
Saat Raisa sedang sibuk berkutat di dapur, Raihan muncul dari arah toilet menghampiri dirinya.
"Lagi apa, kak?" Tanya Raihan
"Bikin minuman nih, buat teman-teman kakak." Jawab Raisa
"Buat aku ada gak? Aku juga haus nih..." Ujar Raihan
"Ada, tuh! Ayo, bantu kakak dulu bawain semuanya ke depan." Kata Raisa
"Oke, deh! Siap!" Patuh Raihan
Raihan pun membantu membawakan dua nampan berisi minuman dan camilan, satu pada masing-masing tangannya. Begitu pun juga Raisa...
"Mana teman-teman kakak, kok gak pada masuk rumah?" Tanya Raihan
"Ada di luar. Mereka tuh sopan, mau nunggu Ibu Bapak datang dulu baru mau masuk." Jawab Raisa
"Iya deh, terserah aja." Kata Raihan
"Ngomong-ngomong, Ibu Bapak kok belum sampai juga ya? Kak Raina, juga katanya mau datang ke rumah kok masih belum datang aja?" Heran Raihan
"Mungkin macet di jalan. Sekarang kan udah ada yang pada liburan." Ujar Raisa
"Untung tadi aku ikut kakak lewat jalan pintas. Kalau gak, bisa amsyong aku menahan sesuatu itu." Kata Raihan. Jalan pintas yang Raihan maksud adalah melewati gerbang portal teleportasi dengan sihir milik Raisa.
Dengan dibantu Raihan pun, Raisa membawakan minuman dan camilan pada semua teman spesial Raisa di luar rumahnya.
"Nah, semuanya... Ini dia minuman dan camilan untuk kalian. Nikmatlahi!" Ujar Raisa yang menghampiri semua temannya bersama dengan Raihan.
"Silakan menikmati!" Kata Raihan
"Terima kasih, Raisa, Raihan!" Serempak semuanya
"Aku mau ke dalam dulu, mau coba hungungi Ibu dan Bapak." Kata Raihan yang langsung kembali beranjak masuk ke dalam rumahnya.
"Iya juga. Kenapa Ibu dan Ayahmu belum juga sampai Raisa?" Tanya Billy
"Mungkin terjebak macet di jalan. Kondisi macet di jalan darat di sini memang sering terjadi, apa lagi saat sudah mulai liburan seperti ini. Macet adalah suatu kondisi kepadatan jalan yang sulit dilewati karena ramainya pengguna jalan, baik itu pejalan kaki atau pengendara seperti ada banyaknya pengguna mobil, motor, dan lain-lain." Jelas Raisa dengan memberi sedikit pengertian tentang kemacetan yang mungkin saja hampir tak pernah terjadi ketika di dunia lain berbeda dimensi tempat tinggal semua teman spesialnya itu.
"Berarti bisa sulit datang tepat waktu jika seperti ini." Kata Morgan
"Benar, persis seperti dirimu yang sering kali datang terlambat jika ada janji pertemuan atau saat datang ke akademi." Sambar Ian
"Dasar, perusak suasana!" Celetuk Morgan
"Haha, kondisi keterlambatan seperti itu memang sering kali terjadi di sini. Terkadang macet menjadi satu alasan pamungkas seseorang saat datang terlambat karena lupa atau bangun kesiangan, itu hanyalah perbuatan orang yang sering mencari-cari alasan saja, tapi tidak semua orang dapat percaya dengan alasan yang sudah terlalu umum ini. Biasanya situasi seperti ini disebut dengan jam karet atau ngaret karena jam temu mereka selalu terulur karena keterlambatan itu." Ungkap Raisa
"Apa kau juga pernah datang terlambat di suatu pertemuan karena alasan ini, Raisa?" Tanya Dennis
"Pernah, terkadang, tapi tidak sampai sering. Saat sekolah, jika guru yang berbaik hati aku bisa saja dibiarkan dan diberi kesempatan. Tapi, jika mendapati guru yang galak atau pemarah diberi hukuman pun tak dapat kuelakkan." Jawab Raisa
"Pasti kau selalu berusaha keras selama ini ya, Raisa. Selalu semangat ya!" Ujar Rumi
"Benar! Sebisa mungkin aku tak ingin memberi kesan buruk pada siapa pun." Kata Raisa
Saat asik mengobrol di luar rumah, mobil milik keluarga Raisa pun datang dan memasuki pekarangan rumah. Akhirnya, Ibu dan Bapak Raisa tiba sampai di rumah...
Saat kedua orangtua Raisa ke luar dari dalam mobil, semua langsung bangkit berdiri untuk menghormati kedatangan tuan rumah tersebut.
"Ibu, Bapak, baru sampai... Di jalan macet ya?" Ujar Raisa
"Iya, tadi macet sampai ada polisi yang ngatur jalan." Jawab Pak Hilman
"Adikmu, Raihan mana, Raisa?" Tanya Bu Vani
"Ada di dalam rumah, Bu. Nanti tolong periksa pintunya ya, Bu, Pak. Tadi Raisa terpaksa buka kuncinya pakai sihir gara-gara Raihan ribut mau ke toilet, takutnya malah rusak, kalau perlu panggil ahli tukang kunci aja." Ujar Raisa
"Oh, ya udah. Gapapa, paling juga gak sampai rusak." Kata Pak Hilman
"Eh, Ibu sama Bapak udah sampai. Maaf ya, tadi Kak Raisa paksa bobol pintunya soalnya aku udah gak tahan, kebelet banget." Ucap Raihan yang baru saja muncul ke luar rumah.
"Iya, gapapa. Kamu udah selesai dari toiletnya, Han?" Ujar Bu Vani
__ADS_1
"Udah, Bu. Udah lega, joss plong! Ini mau kasih tahu, Kak Raina yang mau datang udah mau sampai sebentar lagi, katanya." Ucap Raihan
"Ya, bagus kalau begitu!" Kata Pak Hilman
"Ya udah. Kalau begitu, ayo masuk! Kenapa masih pada di luar kalau pintunya udah terbuka?" Ujar Bu Vani
"Iya, pada mau nunggu Ibu dan Bapak sampai rumah dulu, katanya." Kata Raisa
"Nah, karena Ibu dan Bapak udah sampai. Ayo, sama-sama masuk ke dalam rumah. Ibu bakal siapin makanan yang enak!" Ucap Bu Vani
"Makanan enak?! Asik!" Girang Chilla
"Baik. Ayo, masuk, semuanya!" Kata Raisa
Raisa mengajak semua temannya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka semua pun masuk bersama-sama ke dalam rumah...
"Permisi..." Salam sopan semua teman secara serempak.
"Karena ramai-ramai begini, bagaimana kalau kita semua berkumpul bersama di halaman belakang rumah? Di belakang rumah ini ada taman kecil. Boleh kan, Bu?" Ujar Raisa
"Boleh aja. Kalau begitu, kamu harus gelar tikar di sana." Kata Bu Vani
"Aku akan menggelarnya. Raihan, ayo bantu kakak!" Ucap Raisa yang juga memanggil adik lelakinya untuk membantunya menggelarkan tikar di halaman belakang rumah.
"Iya, kak. Mau aku bantu apa?" Tanya Raihan
"Bantu kakak ambil tikar untuk digelar di halaman belakang. Kita akan berkumpul bersama di sana, seperti sedang piknik!" Jawab Raisa
"Oh, oke. Kalau begitu, kita harus cari dan ambil tikarnya di gudang dulu." Kata Raihan
"Boleh aku juga membantumu, Raisa?" Tanya Rumi
"Boleh, karena mungkin kita butuh banyak tikar untuk digelar." Jawab Raisa
"Aku juga ingin bantu..." Kata Marcel
"Aku juga!" Sahut Billy
"Boleh saja. Yang lain boleh istirahat saja dulu atau bisa langsung menuju halaman belakang. Dari sini, lurus saja terus nanti ada pintu di ujung, di sanalah halaman bekakang rumah ini. Atau jika ada yang ingin ke toilet juga boleh. Toiletnya ada di sebelah kanan ruangan ini di balik pintu yang kecil di sana." Ujar Raisa
"Baik, terima kasih, Raisa! Aku memang mulai merasa sesuatu yang tidak bisa kutahan." Ucap Morgan
"Pfft! Ternyata teman kakak sama aja!" Pelan Raihan
"Stt! Gak boleh begitu!" Tegur Raisa. Raihan pun langsung terdiam menjaga sikapnya.
"Silakan saja, Morgan. Yang lain juga yang ingin ke toilet bisa bergantian ya!" Kata Raisa
Masing-masing mereka pun ada hal yang mereka lakukan.
Raisa bersama Raihan, Rumi, Marcel, dan Billy pun menuju ke gudang untuk mencari beberapa tikar untuk digelar di halaman belakang rumah. Setelah mendapat tikar dari gudang, mereka berlima pun langsung menuju halaman belakang rumah untuk menggelar tikar di sana. Di halaman belakang sudah ada beberapa teman yang lain menunggu di sana. Mereka pun bersama bahu-membahu saling membantu untuk menggelarkan tikar di sana.
"Kalian bisa duduk-duduk dulu istirahat di sini. Aku mau bantu Ibu menyiapkan makanannya di dapur." Ucap Raisa setelah usai menggelarkan tikar.
Raisa pun meninggalkan semua temannya dan beralih menuju dapur untuk melihat apa yang bisa dibantu di sana.
"Ibu, lagi masak apa? Sini, aku bantu biar cepat selesai." Ujar Raisa
"Gak usah, kamu tunggu bareng teman kamu aja. Masa ada tamu ditinggal begitu. Ibu juga cuma tinggal manasin masakannya aja kok, masak awalnya mah udah selesai pagi tadi." Ucap Bu Vani
"Bu, Kak Raina udah sampai nih!" Pekik Raihan dari kejauhan.
"Kak Raina udah sampai. Aku mau jemput Farah ke sini aja deh. Aku tinggal ya, Bu." Kata Raisa
Bu Vani pun mengangguk.
Dari dapur, Raisa pun beranjak ke luar rumah untuk menjemput kedatangan keluarga kecil kakak perempuannya yang datang.
Di depan rumahnya, Raisa melihat keponakan kecilnya yamg melompat ke luar dari dalam mobil orangtuanya.
"Eh, si cantik, Farah udah datang! Sini yuk, sama Aunty! Mau Aunty gendong?" Ujar Raisa
"Mau don! Gendong Falah, Onty!" Girang Farah dengan suara cadelnya.
Farah pun tak segan berlompatan di kaki Raisa karena tak sabar ingin digendong. Raisa pun meraih keponakan kecilnya untuk digendong olehnya.
"Raisa, selamat atas kelulusannya ya! Katanya kamu juga dapat peringkat umum pertama di sekolah kan? Hebat!" Ucapnya, Kakak perempuan Raisa, Raina.
"Selamat ya, Raisa!" Kata kakak ipar lelaki Raisa, Arka.
"Onty dapat juala catu ya? Selamat ya, Onty!" Ujar si kecil Farah.
"Hehe, iya. Terima kasih, Kak Raina, Kak Arka, Farah." Ucap Raisa
.
•
__ADS_1
Bersambung...