
Rumi bertindak cepat seolah tak mau Dennis yang mengisi kekosongan di sisi Raisa. Ia ingin berjalan beriringan dengan Raisa, bukan melihat lelaki lain yang melakukan hal demikian.
"Baiklah, ayo! Kita kembali ke halaman. Yang lain pasti menunggu." Kata Aqila
Mereka pun berjalan beriringan membawa barang masing-masing. Raisa, Aqila, Sandra. Sedangkan Marcel bahu membahu membawa kotak es bersama Dennis.
"Kalian membantu kamu di sini, memangnya pemanggangannya sudah siap?" Tanya Raisa
"Masih belum. Tapi, di sana sudah banyak yang mengurusnya. Jadi, kami mencari hal yang bisa kami bantu kerjakan di sini." Jawab Dennis
"Arang masih belum menjadi bara? Sebenarnya, apa saja yang mereka lakukan? Kenapa lama sekali?" Cecar Sandra
"Membakar arang supaya menjadi bara memang butuh waktu tak hanya sebentar. Mereka juga pasti sedang berusaha mengerjakannya." Ujar Sanari
"Mereka juga pasti kesal menunggunya. Apalagi, Chilla, yang sudah tak sabar ingin makan daging." Kata Aqila
"Benar sekali!" Sahut Marcel
Mereka pun tertawa bersama.
Dan mereka kembali berkumpul dengan yang lain.
Mereka pun menghampiri para gadis yang duduk di atas rumput beralaskan tikar. Suasana sudah seperti sedang piknik bersama.
Raisa, Aqila, Sandra, Rumi, Marcel, dan Dennis menaruh barang bawaan mereka di tempat yang sudah disediakan.
"Kalian sudah selesai memotong daging dan yang lainnya?" Tanya Raisa
"Sudah." Jawab Wanda
"Kalau begitu, tolong potongkan juga bahan yang baru dicuci ini juga. Aku akan melihat para lelaki itu dulu untuk membantu mereka." Ujar Raisa
"Baiklah." Kata Amy
Raisa pun beranjak mendekati pemanggangan dengan mereka semua yang mengurusnya.
"Masih belum juga? Butuh bantuan?" Tanya Raisa
"Aku sudah frustasi! Arangnya belum juga menjadi bara!" Kesal Morgan
"Ini sangat merepotkan!" Kata Devan
"Memangnya apa yang membuat ini sulit?" Tanya Raisa
"Pematik api ini agak macet digunakan! Saat berhasil membakar arangnya, kami malah kesulitan mengipasinya. Apinya terus saja padam!" Jelas Billy
"Kami sudah berulang kali melakukannya. Tapi, tetap gagal!" Ungkap Ian
Raisa terkekeh kecil...
"Baiklah... Mari, kubantu." Kata Raisa
Raisa mulai menggerakkan tangannya untuk beralih membantu mereka.
"Berikan padaku pematik apinya." Pinta Raisa
Ian pun memberikan pematik api tersebut pada Raisa. Raisa yang memengang pematik api itu lalu mencobanya. Ternyata, benar! Korek api gas itu macet, sulit dinyalakan.
Tanpa harus diribetkan lagi, Raisa memilih menggunakan sihirnya. Ia mengacungkan jari telunjuknya dan dari sana keluarlah api kecil yang masih mampu membakar. Di arahkannya api sihir itu untuk membakar arang.
"Api sudah dinyalakan. Tinggal kalian sabar mengipasinya." Ujar Raisa
"Apa tidak apa kau mengeluarkan sihirmu, Raisa?" Tanya Rumi yang sudah berada di samping Raisa.
"Ah, tidak apa. Tidak ada orang lain selain kita di sini yang melihat. Biarpun misalkan memang ada, aku sudah menambahkan sihir ilusi. Agar orang itu melihat jika itu hal yang normal saja. Makanya, aku tetap meminta pematik api ini. Dan, hanya kalianlah yang melihat." Jelas Raisa
"Kami sudah lelah mengipasinya. Rumi, Dennis, Marcel, sekarang giliran kalian menggantikan kami." Ucap Morgan
"Baiklah..." Kata Dennis
"Serahkan saja pada kami!" Ujar Marcel
Rumi, Dennis, Marcel pun beralih menggantikan yang lain mengipasi arang yang telah dibakar itu agar menjadi bara.
Mereka bertiga cukup sabar mengerjakannya. Raisa yang melihatnya pun merasa kasihan.
"Ternyata memang melelahkan, ya?" Ujar Raisa
Raisa pun kembali mengeluarkan sihirnya. Memperlihatkan telapak tangannya... Dari sana, lambang inti sihirnya muncul!
Bunga Teratai Putih~
__ADS_1
Dan setelahnya, muncullah suatu benda yang memang Raisa simpan dalam sihirnya.
"Aku beri kalian ini. Sabarlah menunggu arang itu menjadi bara." Ujar Raisa
Yang Raisa simpan menggunakan sihirnya adalah kipas angin daya baterai. Walau memang tidak berukuran besar, tapi, anginnya cukup kencang. Juga, jumlahmya yang tidak cuma satu.
"Kipas angin ini berdaya baterai. Jadi lebih praktis." Ungkap Raisa
"Seharusnya kau memberikan kami kipas ini sejak awal. Kami tidak akan kesulitan!" Kata Billy
"Maaf. Aku baru terpikirkan tadi dan belum lama mengambilnya saat aku kembali ke dalam vila dan menyimpannya dengan sihirku. Walaupun banyak, tapi, kipasnya berukuran kecil. Masih membutuhkan kalian untuk mengipasinya dengan kipas tangan supaya arangnya cepat menjadi bara." Ucap Raisa
"Rumi, Dennis, Marcel, kalian tetap menggunakan kipas tangan itu. Kami sudah lelah menggunakannya." Kata Ian
Raisa pun kembali berkumpul dengan para gadis. Setelah terus menunggu, Raisa kembali mengecek pemanggangan.
"Apa sudah jadi?" Tanya Raisa
"Sedikit lagi." Jawab Dennis
"Tapi, karena terlihat sebentar lagi akan jadi, kami jadi tak sabar dan merasa lelah." Ungkap Marcel
"Biar kubantu lagi." Kata Raisa
Pada akhirnya, Raisa kembali menggunakan sihir anginnya untuk mengipasi di sekitar pemanggangan agar arang itu cepat menjadi bara.
"Harusnya dari tadi kau sudah membantu mereka, Raisa! Kalau begitu, mungkin aku sudah memakan daging panggang sekarang." Ucap Chilla yang sudah tak sabar karena terus menunggu.
"Tahan dirimu dan sabarlah... Dasar, gendut!" Cibir Ian
"Pada akhirnya kau tetap menggunakan sihirmu, Raisa. Seperti percuma saja kau melarang kami menggunakan sihir kami jika kau saja mengabaikan perkataanmu sendiri. Dasar, merepotkan!" Ujar Devan
"Maaf... Mulai sekarang aturan itu berlaku jika kita berada di muka umum atau saat ada orang lain saja. Tapi, kalian tetap harus berhati-hati ya." Ucap Raisa
Akhirnya bara api pun jadi! Waktunya memanggang daging pun dimulai!
Tak hanya daging yang dipanggang. Ada pula jagung, beberapa tusuk sayur kebab, sosis, juga beberapa jenis frozen food.
Semua pun mulai menantikannya untuk makan hasil panggangan bersama.
"Hei, gendut! Jangan kau makan terus daging yang sudah dipanggang. Kalau begitu, yang lain takkan kebagian. Semua akan habis olehmu!" Omel Ian
"Sabarlah sampai semua matang, Chilla." Ujar Sanari
Setelah semua bahan telah dipanggang, daging panggan dan yang lain pun matang. Dan mereka semua sibuk menaruhkan hasil panggangan ke tempat seharusnya mereka berkumpul untuk makan.
"Akhirnya selesai juga!" Seru Amy
"Yeay, waktunya makan tiba!" Girang Chilla
"Apa dari kalian ada yang ingin makan dengan nasi? Aku akan membawakannya dari dapur." Ujar Raisa
"Sepertinya akan tambah nikmat. Aku mau makan dengan nasi, Raisa." Kata Marcel
"Baik, akan kuambilkan. Aku harus bawa banyak atau seberapa ya?" Rausa pun bangkit gendak kembali ke dalam vila untuk mengambilkan nasi dari dapur.
"Secukupnya saja, Raisa." Sahut Morgan
"Baiklah. Tunggu, sebentar ya." Kata Raisa
Raisa pun beranjak dari tempatnya. Masuk ke dalam vila. Ia membawa setusuk sosis di tangannya bersamanya. Tanpa ia sadari Rumi mengikutinya di belakang.
Saat sampai dapur, Raisa terkejut saat ingin mengambilkan nasi, ada sepasang tangan yang ikut nembantunya. Raisa pun menoleh...
"Rumi!? Kau mengagetkanku. Kenapa kau ikut ke mari? Kau seharusnya makan saja bersama yang lainnya. Kau pasti lelah saat mengurus panggangan." Ucap Raisa
"Tidak apa. Aku ingin membantumu." Kata Rumi
"Padahal aku bisa sendiri. Secukupnya itu seberapa banyak ya?" Gumam Raisa dengan pelan.
Raisa pun menuangkan nasi dari dalam penanak nasi ke dalam wadah. Rumi ikut melakukan hal yang sama.
"Apa segini cukup?" Tanya Raisa
"Mungkin ini sudah cukup." Jawab Rumi
"Baiklah, ayo! Kita kembali." Kata Raisa
Raisa bersama Rumi pun kembali pada yang lain dengan membawa wadah berisi nasi. Juga beberapa piring...
"Ini nasinya, sudah diambilkan. Aku juga membawa beberapa piring lagi." Ujar Raisa
__ADS_1
Mereka semua pun memulai kembali makan bersamanya dengan hasil panggangan.
Semua kebersamaan ini terasa lengkap dan menyenangkan!
Raisa memandangi teman beda dimensi dunianya itu satu persatu. Tanpa ada yang menyadari, senyuman manisnya kembali merekah pada bibirnya. Betapa bahagia hatinya kini...
...'Suasana saat ini terasa begitu membahagiakan. Seakan kian menghanyutkan... Tapi, setelah hari ini, aku harus mengantarkan mereka kembali ke dunianya besok. Sungguh tak ingin waktu-waktu ini cepat berlalu. Karena aku akan merindukan mereka lagi.' Batin Raisa...
Raisa pun mengedarkan pandangannya pada semua temannya itu. Dan, tatapannya terhenti pada satu sosok. Lelaki yang mampu merebut hatinya sejak saat ia memimpikannya dan membuatnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat mereka benar-benar bertemu. Ternyata, ia tak dapat memungkiri... Bahwa dirinya mencintai sosok itu. Raisa mencintai Rumi!
Namun, kenyataan akan perpisahan dan takkan pernah bisa bersatu membuatnya menahan dan memendam semua perasaan itu sendiri dalam hatinya yang paling dalam...
...'Selama ini aku terus menyangkalnya. Tapi, ternyata aku benar-benar telah mencintaimu, Rumi! Maafkan aku yang harus menghindarimu. Aku harus menahan perasaan ini! Aku tak mau jika nantinya aku yang telah sangat mencintaimu malah akan sulit melepaskanmu. Bagaimana pun juga kita takkan bisa bersama karena dunia kita yang berbeda. Itu terlalu mustahil!' Batin Raisa lagi....
"Raisa, kau jangan diam saja! Makanlah lagi." Ujar Wanda membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya! Aku masih memakannya kok." Kata Raisa
"Makanlah yang banyak. Jangan sampai ada yang menyesal karena kehabisan." Ucap Billy
"Kita memanggang banyak, takkan ada yang kekurangan. Kalian juga makanlah yang banyak dan sepuasnya." Ujar Raisa
"Akhirnya, ada juga waktu kami menikmati waktu liburan. Di sini kami tidak dipusingkan dengan perkelahian sihir. Apalagi, Raisa, juga membawa kami ke beberapa tempat yang menarik. Sungguh menyenangkan!" Ucap Amy
"Syukurlah, jika kalian merasa begitu. Liburan lain waktu pun aku akan mengajak kalian ke tempat lainnya jika kalian datang lagi ke sini. Dan untuk selanjutnya, aku yang akan mengunjungi dunia kalian. Tapi, mungkin bukan dalam waktu dekat ini." Ungkap Raisa
"Itu harus! Karena kau masih belum menepati janjimu untuk bertarung melawanku, Raisa!" Sambar Sandra
"Iya, aku tidak lupa kok. Tenang saja!" Sahut Raisa
"Aku sudah sangat menantikannya!" Ujar Sandra
"Hmn, aku juga!" Kata Raisa
Mereka semua pun melanjutkan acara makan bersama dengan berbincang ria. Mengobrol tentang apapun yang ingin mereka bicarakan. Itu seperti mereka meluapkan semua yang ingin mereka ceritakan. Karena mengetahui waktu kebersamaan mereka akan segera berakhir. Tak lama lagi mereka akan berpisah dengan Raisa dan meninggalkannya di dunianya dan kembali pada dunia mereka.
---
Hari pun telah menjadi gelap gulita.
Acara makan bersama dengan daging panggang pun telah berlalu. Kini semua sedang kembali berkumpul di ruang kumpul vila. Semuanya seperti tak ingin mengakhiri suasana kebersamaan dan enggan beranjak dari tempat kumpul mereka.
"Kalian semua pasti lelah, sekarang beristirahatlah. Mungkin sebentar lagi aku akan menyiapkan makan malam. Tapi, mungkin menu makannya sederhana saja ya. Karena kan kita sudah makan makanan yang berat tadi. Tapi, kalau kalian ada keinginan untuk makan sesuatu, katakan saja. Aku akan menuruti kalian ingin makan apa." Ucap Raisa
"Kau santai saja, Raisa. Kami pun masih merasa kenyang." Ujar Morgan
Malam ini pun semua saling melengkapi satu sama lain. Termasuk, Raisa! Berbeda dengan hari lain, hari ini Raisa benar-benar mengikuti suasana kebersamaan yang tak lama lagi ini. Jika, biasanya di waktu luang ia akan sibuk berkutat dengan buku-buku pelajarannya, khusus pada hari ini ia mengabaikan buku-bukunya itu dan menjauhkan diri dari tasnya. Malam ini pun juga sama. Ia kini sibuk mengobrol, mengobrol, dan mengobrol saja dengan teman-temannya itu.
Namun, lama kelamaan Raisa tak tahan lagi. Sebenarnya ia merasa sedih karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan semua teman spesialnya itu. Ia berusaha tetap ceria seperti biasa di depan semua temannya itu, padahal ia merasa sedih dan muring di dalam hatinya. Setelah hari ini, ia akan kembali seperti hari-hari biasanya lagi. Sendiri dan kesepian lagi...
Raisa pun bangkit dari tempatnya.
"Kau mau ke mana, Raisa?" Tanya Aqila
"Aku mau ke luar sebentar. Jalan-jalan mencerna semua makanan di perut. Aku akan segera kembali kok." Ujar Raisa
Raisa pun melenggangkan kakinya pergi...
...
Lagi-lagi, halaman vila lah yang menjadi tempat persinggahan Raisa. Ia menghentikan langkahnya dan langsung duduk di atas hamparan rumput itu.
Beratapkan langit malam penuh bintang, Raisa mengubah posisi duduknya menjadi merebahkan tubuhnya di atas rerumputan itu. Memandang indah langit malam bertabur bintang yang jauh itu... Sesekali ia menghela nafas panjangnya~
Dan saat merasa ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya, Raisa bangkit dari posisi rebahnya dan kembali terduduk. Ia pun menoleh melihat siapa yang menghampirinya.
"Rumi, kau datang?" Tanya Raisa menyapa.
Ternyata, Rumi lah yang datang menemuinya.
"Aku ingin menemani kesendirianmu. Boleh, kan?" Ujar Rumi
Rumi pun mendaratkan dirinya untuk duduk di samping Raisa.
"Tentu saja, silahkan." Balas Raisa
.
•
Bersambung...
__ADS_1