Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
172 - Hanya Saja.


__ADS_3

Hari terus berganti. Semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Misi pun sudah banyak memangil.


Untuk memenuhi tugasnya, sudah sering kali Rumi meninggalkan Raisa yang terbaring di ranjang rumah sakit. Namun, begitu kembali dari misi, ia langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui Raisa. Namun, yang ditemuinya masih saja tidak bosan terlelap dalam tidur dan tak kunjung membuka mata. Namun, Rumi tetap setia.


Rumah sakit sudah seperti rumah baginya saat Raisa terus terbaring di sana. Mandi, makan, bahkan tidur di sana. Rumi terus menemani Raisa di setiap detiknya, kecuali saat ia pergi menjalankan misi. Tak jarang, Rumi pun mengajak Raisa mengobrol walau tidak ada sahutan untuk setiap cerita yang ia lontarkan. Tak pernah bosan, Rumi pun terus tersenyum karena ingat Raisa berkata sangat menyukai senyumannya yang walau terlihat kaku. Rumi berharap Raisa dapat melihat senyumannya begitu terbangun dari koma selama tidur panjangnya.


Karena ingat Raisa punya hobi menulis pengalaman selama misi yang ia kerjakan, Rumi jadi selalu nenceritakan tentang misi yang dijalaninya karena mungkin Raisa akan senang saat mendengarnya meski matanya terus tertutup.


Rumi tersenyum saat bercerita dan senyumannya memudar begitu cetitanya berakhir.


"Raisa, maaf. Akhir-akhir ini, aku jadi sering meninggalkanmu untuk menjalankan misi. Untungnya belakangan ini misi yang kujalani tidak memakan waktu lama sampai harus menghabiskan berhari-hari untuk meninggalkanmu. Sepulang misi, aku langsung bergegas kembali ke sini karena merindukanmu dan sangat ingi melihatmu. Tapi, ternyata kau masih belum mau bangun dan membuka matamu. Kau membenciku sampai tidak ingin membuka matamu lagi untuk melihatku lagi, ya, tapi kau bilang kau menyukai senyumku?" gumam Rumi


Rumi menggenggam tangan Raisa dengan erat dan menciuminya dengan lembut.


"Apa pun kesalahanku, aku tidak akan mengulanginya lagi dan aku akan selalu tersenyum untukmu. Apa pun inginmu akan kuturuti. Karena itu kau harus bangun dan membuka matamu. Apa kau tidak bosan terus menerus tidur seperti ini, Raisa? Ini sudah berlangsung selama dua minggu, kumohon sadarlah!" oceh Rumi


Setelah mengajak Raisa bicara, Rumi pun tertidur di atas kursi di samping pembaringan Raisa sambil terus menggenggam erat tangan gadis tercintanya itu.


Tak ada yang tahu, apa yang dirasakan oleh Raisa selama tertidur dalam kondisi KOMA. Mungkinkah ia merasa dingin atau justru merasa hangat karena Rumi selalu ada di sisinya. Entahlah.


Lagi-lagi, Raisa meneteskan air dari sudut matanya. Entah apa yang dirasakannya saat nenangis seperti itu. Namun, Rumi akan segera menghapus jejak tangisnya jika menyadari itu. Hanya saja, kali ini Rumi sedang terlelap di sisi Raisa.


Bibi Sierra mengatakan, air mata adalah tanda kehidupan yang masih terjaga.


"Rumi ...."


Raisa menggumamkan sebuah nama di dalam hatinya.


Di sekelilingnya hanya ada kegelapan~


Namun, sering kali ia merasa ada cahaya yang meneranginya saat kehangatan mendekat ke padanya. Saat itu juga, Raisa berusaha meraih cahaya dan menggapai kehangatan itu. Namun, usahanya terus berujung pada ketidak-berdayaan.


Raisa yang merasa dirinya lemah, terus berusaha untuk tetap bertahan. Di ruang hampa yang hanya ada dirinya seorang di sana, ia berusaha untuk menjadi kuat.


"Sudah berapa lama aku di sini? Aku harus mencari jalan ke luar atau kembali. Kumohon, beri aku kekuatan!"


Secercah cahaya dan kehangatan terus mendekat padanya. Raisa berusaha sekuat tenaga untuk berjalan ke arahnya agar dapat bertemu dengan titik yang penuh dengan harapan itu. Ia terus berusaha menggerakkan tubuhnya.


Di dalam kenyataan, jari-jari tangan Raisa bergerak perlahan satu persatu. Itu terus berlangsung seolah Raisa sedang berusaha menggerakkan seluruh tangannya. Nafasnya yang semula berhembus pelan, mulai meningkat cepat menjadi terengah-engah.


"Kumohon ... aku ingin tahu, siapa yang terus bicara padaku dan membuatku hangat dengan cahayanya. Aku juga ingin cepat bertemu dengannya!"


Haah!


Hah... Ha- haa~


Hahh~~


Nafas Raisa memburu seiring waktu saat matanya terbuka kembali secara perlahan di saat yang bersamaan.


Raisa yang merasa tubuhnya lemah pun kembali mengatur tempo nafasnya.


Kesan pertama saat membuka mata adalah asing yang terasa tidak begitu asing. Ada kehangatan yang terasa di sisi tubuhnya dan terasa pekat di salah satu tangannya.


Saat Raisa mengedarkan pandangannya untuk menyesuaikan kemampuan melihatnya pada lingkungan sekitar, ia menemukan seseorang yang terasa familiar berada di sisinya. Orang yang tidak asing itu tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk dan menggenggam tangannya dengan erat.


Raisa tersenyum samar.


Ia menyadari keberadaannya di kamar inap rumah sakit dan Rumi yang menemaninya sampai tertidur.


Satu tangan lain Raisa meraih kepala Rumi dan mengusapnya secara perlahan.


..."Ternyata, itu adalah dirimu. Yang selalu bicara padaku dan memberiku kehangatan dengan cahayamu. Rumi!" batin Raisa...


Rumi yang merasa terusik dengan adanya pergerakan di kepalanya pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke sekeliling, lalu menoleh pada Raisa. Dilihatnya, gadis yang selama dua minggu tertidur itu sedang tersenyum sambil menatap ke arahnya.


Rumi yang terkejut pun mengerjapkan kedua matanya berulang kali sambil sesekali mengusapnya. Namun, pemandangan yang dilihatnya tetap sama dan apa yang dilihatnya bukanlah mimpi!


"Aku ... belum mati?!" Itulah kalimat pertama yang Raisa ucapkan setelah terbangun dari KOMA selama dua minggu.


"Jangan bicara seperti itu, Raisa! Kau sudah bertahan selama ini... Terima kasih karena sudah kembali membuka matamu," ucap Rumi


Rumi pun bergerak mengecup kedua kelopak mata Raisa secara bergantian.


"Maaf, kalau aku lancang. Aku terlalu senang. Sungguh," ujar Rumi


Rumi takut Raisa tidak menyukai tindakannya yang sembarangan mencium hingga langsung meminta maaf. Namun, Raisa justru tidak mempermasalahkannya karena mengerti perasaan Rumi selama menunggunya yang terus tertidur.


"Aku akan segera panggilkan dokter. Kau tunggulah ... " kata Rumi


Rumi pun beranjak ke luar dari ruangan tersebut dengan terburu-buru. Begitu kembali, Rumi masuk bersama Bibi Sierra.


"Kata Rumi, kau sudah sadar. Ternyata, benar! Syukurlah ... " ujar Bibi Sierra


"Halo, Bibi Sierra. Kali ini, berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Raisa setelah menyapa.


"Dua minggu, Raisa. Selama itu aku merasa kesepian karena merindukanmu." Rumi mengambil alih untuk menjawab.


"Sekarang, bagaimana perasaanmu, Raisa?" tanya Bibi Sierra

__ADS_1


"Lemas, tidak bertenaga," jawab Raisa


"Bagaimana kalau kau tidur sebentar lagi? Untuk memulihkan tenagamu. Kau hanya perlu tenang dan tidak mencemaskan apa pun, kujamin setelah kau bangun kau akan merasa jauh lebih baik," ujar Bibi Sierra memberi saran.


"Haruskah? Tapi, aku baru saja sadar ... " bingung Raisa merasa heran dengan saran Bibi Sierra.


"Tidak apa. Kau hanya perlu ingat kata-kataku. Aku juga sudah menyiapkan obat tidur untukmu, jadi tidur saja dengan nyaman dan pulihkan tenagamu dengan sebaik-baiknya," ucap Bibi Sierra


Bibi Sierra tersenyum. Lalu, menyiapkan obat untuk disuntikkan pada Raisa, kemudian menyuntikkannya.


"Tenangkan pikiranmu, Raisa, dan jangan pikirkan apa pun. Maka, semuanya akan baik-baik saja," kata Bibi Sierra seolah sedang memberi sugesti.


"Baiklah," patuh Raisa


"Aku akan tetap bersamamu. Tenang saja, Raisa," kata Rumi


Raisa tersenyum. Dan beberapa menit kemudian ia menutup mata dan kembali terlelap.


"Bibi Sierra, aku tahu yang kau lakukan demi kebaikan Raisa, tapi aku tidak mengerti. Apa alasanmu? Bukankah benar yang Raisa katakan tadi, bahwa dia baru saja sadar? Kenapa kau malah menyuntikkan obat tidur padanya?" tanya Rumi karena ikut merasa bingung dengan tidakan pilihan Bibi Sierra.


"Stt~ Jangan ganggu istirahat pasien," kata Bibi Sierra


"Aku melakukannya karena khawatir Raisa akan syok jika tahu yang sebenarnya telah terjadi padanya, jadi aku membiarkannya istirahat lebih tenang dengan suntikan obat tidur. Kemungkinan yang akan terjadi, Raisa akan mengalami depresi jika mengetahui fakta tentangnya. Jadi, aku menimalisir resiko itu dengan membiarkannya istirahat untuk lebih dulu menenangkan dirinya," ungkap Bibi Sierra


Rumi mengangguk mengerti.


"Aku akan memberi suntikan asupan gizi setelah memindahkan Raisa ke kamar rawat inap. Setelah itu, aku juga akan mengabari Aqila jika Raisa sudah sadar. Mungkin perasaan Raisa akan jauh lebih baik jika ada banyak teman di dekatnya, jadi ia tidak lagi terlalu terguncang setelah mendengar kabar tentang dirinya nanti," ucap Bibi Sierra


Karena ruang tempat Raisa berada saat ini adalah ICU, jadi Raisa akan dipindahkan ke ruang rawat inap sebelum menjalani prosedur lain selanjutnya.


"Setelah sadar dari KOMA, kepekaan dan kesadaran Raisa atas perasaannya akan lebih tajam dan jelas dibandingkan saat KOMA. Kuharap kau tetap bersamanya. Jika sesuatu terjadi pada Raisa, segera panggil dan beri tahu aku!" ucap Bibi Sierra


"Baik. Aku mengerti," kata Rumi


Bibi Sierra pun meninggalkan Rumi yang menemani Raisa di dalam kamar rawat inap tersebut.


...


Beberapa jam kemudian.


Setelah Bibi Sierra memberi kabar pada putrinya, Aqila, bahwa Raisa sudah sadar dari KOMA dan Aqila menyebarkan kabar baik ini ke semua teman. Teman-teman Raisa datang untuk menjenguk. Namun, yang dijenguk saat ini masih dalam kondisi tertidur karena pengaruh obat.


Aqila, Morgan, Devan, Ian, Chilla, Wanda, Sandra, Amy, Dennis, Marcel, dan Billy, bahkan Bibi Sierra sedang menunggu Raisa terbangun di dalam ruang rawat inapnya.


"Bibi Sierra, kenapa kau ikut menunggu bersama kami di sini? Apa Bibi tidak punya pasien lain selain Raisa?" tanya Morgan


"Hei, bocah! Apa kau berniat ingin mengusirku? Bicaramu tidak mengenakkan sekali," ujar Bibi Sierra dengan nada halus, namun berwajah menyeramkan.


"Mama, kenapa kau memberi Raisa obat tidur setelah dia baru sadar dari KOMA?" tanya Aqila


"Untuk memberi ketenangan pada Raisa agar mengurangi resiko depresi jika Raisa tahu tentang dirinya sekarang," ungkap Rumi


"Kurasa, Raisa sudah mengetahui tentang itu. Karena saat kejadian ia sangat sadar dan bahkan dirinya sendiri yang meminta Sang Dewa untuk melakukan itu padanya," ucap Devan


"Meski begitu, kemungkinan batin terguncang tetap besar. Kalian, tenanglah! Dari jumlah dosis obat tidur yang kuberikan, Raisa mungkin akan terbangun sebentar lagi," ujar Bibi Sierra


Beberapa menit kemudian, Raisa benar-benar terbangun dari tidurnya. Begitu membuka mata, Raisa tersenyum karena semua teman sudah berada di sekelilingnya.


"Senang sekali melihat kalian semua ada di sini," ungkap Raisa yang masih mengerjapkan matanya karena baru terbangun dari tidur.


"Raisa ... kami semua merindukanmu," kata Amy


"Aku, kan, tidak pergi ke mana-mana, hanya tertidur di sini," ucap Raisa


"Syukurlah ... kau sudah sadar, Raisa," ujar Wanda


"Kau pasti merasa lapar setelah terlalu lama tidur. Kau ingin makan apa, Raisa?" tanya Chilla


"Tumben sekali kau peduli orang lain merasa lapar atau tidak, biasanya kau hanya peduli dengan perutmu sendiri," sindir Ian


"Diam saja kau, Ian!" sentak Chilla


Raisa tersenyum tipis. Momen seperti inilah yang membuatnya rindu.


"Jangan bertengkar! Raisa baru saja sadar, tahu!" omel Sandra


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Raisa?" tanya Bibi Sierra


"Masih sama seperti sebelumnya, tapi perasaanku jauh lebih baik," jawab Raisa


Bibi Sierra yang memeriksa keadaan Raisa terlihat menulis sesuatu pada papan catatan yang dibawanya.


Raisa pun bangkit untuk duduk. Aqila dan Rumi bergerak untuk membantunya.


"Bibi Sierra, kau terlihat gelisah sejak sebelumnya. Katakan saja, jjka kau ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku siap mendengarnya," ujar Raisa


"Apa aku terlihat seperti itu?" tanya Bibi Sierra


Raisa mengangguk kecil. Suasana menjadi hening seketika.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang terjadi padaku?" Raisa bertanya dengan tegas.


"Jangan hiraukan yang lain, Raisa. Yang penting kau sudah sadar sekarang," ujar Bibi Sierra


Raisa tersenyum kecil.


"Aku tahu, Bibi. Jadi, apa yang ingin kau katakan? Tidak perlu berputar-putar denganku," ujar Raisa


"Semua baik-baik saja, Raisa. Hanya saja kau merasa lemas dan tidak bertenaga karena sudah lama tertidur. Dan juga, tolong jangan terkejut! Dari pemeriksaan menyeluruh yang sudah dilakukan, hasilnya memberi tahu bahwa ... kemampuan sihirmu telah hilang sepenuhnya. Sekarang kau sudah tidak bisa menggunakan sihir apa pun lagi," ungkap Bibi Sierra


Raisa tetap tersenyum sambil menganggukkan kepala karena mengerti dan sudah mengetahui dari awal jika ini akan terjadi. Namun, perlahan-lahan air matanya menetes terus menerus dan tidak mau berhenti.


"Aku mengerti ... " pasrah Raisa


"Tenangkan dirimu, Raisa. Aku memberi tahu hasil ini padamu karena yakin kau bisa menerima semua kenyataannya," ucap Bibi Sierra


"Aku tidak bilang kalau aku tidak menerima kenyataan ini. Dari awal, aku sudah mengira akan jadi seperti ini. Harusnya hilangnya kemampuan sihirku menyebabkan kematianku, sekarang aku masih hidup. Apa lagi yang lebih baik dari pada ini? Hidup memang harus banyak berkorban," tutur Raisa


"Jadi, kenapa kau menangis? Berhentilah menangis, Raisa ... " ujar Dennis


Isak tangis mulai terdengar dari mulut Raisa.


"Padahal awalnya aku merasa diriku aneh saat pertama kali sadar bisa menggunakan sihir, harusnya aku merasa senang saat aku tidak lagi menjadi aneh seperti dulu. Bukannya aku bermaksud mengatakan kalian semua aneh karena bisa menggunakan sihir, kalian tagu sendiri dunia kita memiliki perbedaan seperti itu. Hanya saja ... ternyata, rasanya kosong dan hampa! Padahal aku sudah sangat menikmati kemampuan istimewa itu. Maaf, aku sudah tidak bisa lagi melindungi kalian dan mungkin mulai sekarang akan lebih sering merepotkan kalian," oceh Raisa


Rumi mendekati Raisa dan duduk di tepi ranjang rawatnya. Tangannya bergerak menarik Raisa ke dalam pelukannya.


"Menangislah jika kau ingin. Jangan menahannya, itu tidak baik untukmu. Menangislah sepuasnya," kata Rumi


Awalnya Raisa menangis tanpa suara. Namun, tangisannya menjadi isak yang memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya. Nafasnya pun berhembus tidak karuan dan dadanya bergerak naik turun. Tangan Rumi terus bergerak naik turun pada punggung Raisa untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan. Raisa pun meremas pakaian bagian belakang Rumi saking ingin meluapkan emosi di dalam dadanya.


"Sekarang giliran kami yang melindungimu. Kau tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja," ucap Rumi


"Ya. Terima kasih sudah menjaga kami dengan baik selama ini, Raisa. Kau tetap teman terbaik bagi kami," ucap Marcel


Perlahan isak tangis Raisa tak lagi terdengar. Nafasnya mulai kembali teratur dan Raisa sudah jadi lebih tenang.


Rumi pun melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata pada wajah Raisa.


"Setelah tenang, kau tidak boleh menangis lagi dan teruslah tersenyum," kata Rumi


"Karena aku paling suka saat kau tersenyum. Kau terlihat cantik saat apa pun, namun terlihat sangat cantik saat tersenyum," lanjut Rumi sambil berbisik.


Raisa pun tersenyum lebar.


"Maaf ... aku pasti terlihat sangat konyol," kata Raisa


"Tidak! Kau cantik," sanjung Rumi


"Sebenarnya aku tidak mengerti, Raisa. Saat itu ... kenapa kau menyerah begitu saja?" tanya Billy


"Bukan menyerah, tapi mengalah. Walau terdengar seperti sama, tapi itu dua hal berbeda. Menyerah untuk selamanya, sedangkan mengalah untuk sementara. Mengalah juga termasuk sebuah kemampuan atau pilihan yang sangat berat. Lagi pula, aku masih akan berjuang untuk hidupku seterusnya setelah ini," ungkap Raisa


"Kau tetaplah orang yang kuat, Raisa. Aku tahu kau sanggup melewati semuanya. Aku tidak perlu khawatir lagi padamu," ucap Bibi Sierra


"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Masih banyak urusan yang perlu kutangani. Aku permisi ...." Bibi Sierra pamit dan berlalu ke luar dari ruang rawat inap tersebut.


"Setelah menangis, aku jadi merasa lapar," kata Raisa


"Kau ingin makan apa?" tanya Rumi


"Bubur kacang merah sepertinya enak." Jawab Raisa


"Baiklah, segera kubawakan untukmu." Patuh Rumi


"Kalian semua pergilah membeli lebih banyak makanan, lalu makan di sini bersamaku. Anggap saja kita semua sedang berkemah di rumah sakit ini, aku rindu saat makan-makan bersama kalian semua," ujar Raisa


"Meski begitu, apa perlu kami semua juga pergi?" tanya Chilla


"Pergi saja. Beri aku waktu sendiri untuk menenangkan diri. Tenang saja, paling aku hanya akan melanjutkan menangis sebentar," jawab Raisa


"Baiklah. Kami tidak akan lama," kata Aqila


"Tunggulah, Raisa. Kami akan segera kembali," ucap Rumi


Raisa tersenyum. Semuanya pun beranjak ke luar dari ruang rawat tersebut meninggalkan Raisa seorang diri.


.



Bersambung...


Kutipan Author:》


"Author tidak paham jelas tentang tindakan dokter, jadi harap maklum jika tidak sesuai kenyataan.


Maaf, jika banyak typo atau lebih pendek dari biasanya. Hari ini Author ada urusan penting, jadi mohon maklum."


^^^Salam hangat: Author^^^

__ADS_1


^^^Dilawrsmr.^^^


__ADS_2