Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
78 - Gotong Royong di Rumah Baru Raisa.


__ADS_3

Sementara waktu, sambil menunggu kedua gadis yang lain keempat gadis itu pun sudah mulai terlihat sibuk untuk merapikan kondisi rumah baru itu. Membantu Raisa memulihkan kondisi rumah barunya...


Aqila mengambil alih sapu, Sandra mengambil alih alat pel, Chilla memegang kemoceng yang ia temukan. Raisa tertegun melihat ketiga temannya itu yang sangat berbaik hati mau membantunya. Bahkan kedua teman gadis yang lainnya sampai repot mengambil alat kebersihan lain dari rumah mereka untuk membantu di rumah baru Raisa.


Sebagai tuan rumah baru, Raisa tak mungkin hanya diam sementara teman-temannya sibuk karena harus membantunya. Ia juga harus melakukan sesuatu pada rumah barunya itu. Semua alat kebersihan yang ada sudah ada masing-masing yang memegangnya, Raisa pun memikirkan cara lain untuk melakukan kegiatan bersih-bersih...


"Di saat seperti ini, apa sihirku bisa membantu?" Gumam Rausa bertanya-tanya.


Raisa menatap kedua tangannya sendiri. Memikirkan cara melakukan bersih-bersih dengan menggunakan bantuan sihirnya...


"Kalian bertiga, apa mempunyai dan membawa sapu tangan masing-masing?" Tanya Raisa


Sepertinya Raisa terpikir suatu cara...


"Aku, ada!" Jawab Aqila


"Aku pun punya..." Kata Sandra


"Aku tidak bawa." Ungkap Chilla


Aqila dan Sandra mengeluarkan sapu tangan milik mereka dari tas pinggangnya. Raisa pun mengeluarkan sapu tangannya untuk diberikan pada Chilla, ia meminjamkannya.


"Ini sapu tanganku." Raisa memberikan sapu tangannya pada Chilla.


"Kalian pakailah sapu tangan itu untuk menutupi mulut dan hidung kalian. Kita melakukan kegiatan bersih-bersih seperti ini pasti akan ada banyak debu yang berterbangan. Aku pun akan melakukan sesuatu dengan sihirku." Tutur Raisa


Aqila dan Sandra pun mengikuti penuturan Raisa untuk menggunakan sapu tangan mereka untuk menutupi dan melindungi bagian mulut dab hidung, sedangkan Chilla menggunakan sapu tangan milik Raisa yang dipinjamkan padanya untuk menutupi dan melindungi mulut dan hidungnya.


"Kalau sapu tanganmu, kau pinjamkan padaku, lalu kau akan menggunakan apa?" Tanya Chilla


"Aku menggunakan ini." Jawab Raisa


Raisa mengeluarkan sebuah masker dari dalam tasnya. Dan langsung menggunakannya.


"Ini namanya masker dan digunakan seperti ini. Kita mulai bersih-bersihnya!" Ujar Raisa


"Kau membawa banyak barang juga dari duniamu, Raisa." Kata Aqila


"Kau akan melakukan apa dengan sihirmu, Raisa?" Tanya Sandra


"Alat kebersihan yang ada sudah kalian pegang semua. Aku akan melakukan sesuatu dengan sihirku. Seperti ini!" Jelas Raisa


Raisa menggunakan kedua tangannya untuk mengeluarkan sihir elemen angin. Dengan sihir anginnya, ia mengangkut semua partikel debu bahkan sampah kecil yang ada di segela penjuru dan permukaan, lalu mengeluarkannya dari rumah. Ia melakukannya perlahan agar tidak sampai menimbulkan angin ribut di dalam rumah barunya dan berulang-ulang sampai lantai dan seluruh permukaan bagian luar dan dalam terlihat bersih.


"Kalau begini, aku tidak perlu menyapu dong?" Tanya Aqila


"Kita jadi hanya tinggal melakukan kebersihan ringan lainnya." Ujar Raisa


"Sihirmu benar-benar membuat praktis, Raisa!" Kata Chilla


"Biar begitu, aku akan memastikannya bersih dengan menyapu." Ucap Aqila


"Kau tidak perlu, biar aku saja yang melakukannya." Ujar Raisa


Raisa pun mengambil alih sapu dari tangan Aqila dan mulai menyapu untuk memastikan lantai rumah barunya bersih. Ia melakukannya dengan cepat.


"Kalau begitu, aku akan membantu Sandra mengepel lantainya setelah kau sapu." Ujar Aqila


Aqila dan Sandra pun bahu membahu menyiapkan alat pel dan air untuk mengepel lantai setelah Raisa selesai menyapu. Namun, lagi-lagi setelah Raisa mengepel lantai, ia kembali mengambil alih alat pel untuk membersihkan lantai setelah selesai disapu.


"Biar aku yang mengerjakan ini." Kata Raisa yang langsung menyambar alat pel dari tangan Sandra.


"Kalau kau juga yang mengepel, aku dan Sandra melakukan apa?" Tanya Aqila


"Kalian bisa membantu Chilla membersihkan meja, kursi, atau yang lainnya." Jawab Raisa


"Tapi, alatnya hanya ada kemoceng yang dipegang Chilla saja." Kata Sandra


"Sebenarnya, meja dan kursi pun sudah bersih setelah tadi Raisa mengeluarkan semua debunya ke luar." Ujar Chilla


"Kalau begitu, kalian duduk saja dulu menunggu Wanda dan Amy kembali membawa alat kebersihan yang lain." Ucap Raisa


"Setelah mereka berdua datang, kami mau membersihkan apa lagi? Semuanya tah kau bersihkan sendiri." Bingung Chilla


"Aku masih belum selesai mengepel, kalian bisa membersihkan kaca jendelanya." Ujar Raisa


"Tapi, pasti setelah mereka berdua datang dan kau selesai mengepel, kau juga yang akan membersihkan kaca jendelanya." Ucap Sandra


"Sebenarnya, kau membiarkan kami membantumu atau tidak, Raisa?" Tanya Aqila


"Bukannya aku tidak mengizinkan kalian untuk membantuku. Tapi, aku yang tak ingin dan tak enak merepotkan kalian." Jawab Raisa


"Halah! Bukankah itu memang gunanya teman? Saling membantu. Atau kau yang tak menganggap kami sebagai temanmu?" Ujar Sandra

__ADS_1


"Bukan begitu... Hanya saja, aku benar-benar merasa tak enak sudah selalu merepotkan kalian." Jelas Raisa


"Kau ini terlalu sungkan, Raisa. Kami saja yang melakukannya untukmu tidak keberatan. Lagi pula, kami bukanlah Devan yang selalu mengatakan 'merepotkan!'." Ucap Chilla


"Lagi pula, ralat! Bukan kami yang selalu membantumu, tapi kau yang selalu membantu kami." Ujar Aqila


"Bukan siapa yang membantu siapa, tapi kita memang harus saling membantu. Camkan itu! Jadi, kau tidak perlu sungkan seperti ini, Raisa." Kata Sandra


"Kalian benar! Ini aku saja yang tidak betah jika hanya berdiam diri. Kalian bisa menunggu Amy dan Wanda dulu, lalu bantu aku bersihkan ruangan yang lain atau membenahi letak barang-barang di rumah ini." Ucap Raisa


"Baiklah." Serempak Aqila, Chilla, dan Sandra


---


Setelah mengambil alat kebersihan dari rumah masing-masing dan menyimpannya ke dalam gulungan kertas sihir, Amy dan Wanda lebih dulu janjian di suatu tempat untuk pergi bersama ke rumah baru Raisa di Desa Daun tersebut.


Saat sudah saling bertemu dan hendak menuju ke rumah Raisa, mereka berdua bertemu teman para lelaki saat kebetulan melewati tempat berkumpul mereka.


"Hei, Amy, Wanda! Kalian berdua mau ke mana terburu-buru begitu?" Tanya Devan


"Ke tempat Raisa. Kalau kalian, mau pergi ke mana?" Ujar Amy


"Kami baru akan mencari kalian ke kantor pemimpin desa atau menanyakan keberadaan Raisa pada Ayah yang baru saja saling bertemu." Ucap Morgan


"Tempat Raisa? Apa maksudnya? Memangnya ada apa dengan Raisa?" Tanya Rumi


"Dia baik-baik saja. Setelah dari kantor pemimpin desa, kami baru diberitahu. Ternyata Raisa diberikan tempat untuk tinggal selama dia berada di desa. Katanya, dia diterima sepenuhnya di desa ini. Mungkin rumah yang diberikan merupakan tunjangan, seperti Sandra yang diberi tempat tinggal selama pertukaran tenaga kerja dari desa asalnya. Kami baru kembali dari rumah kami mengambil alat kebersihan untuk membantu Raisa merapikan kondisi rumah barunya." Jelas Wanda


"Wah, ini berita besar!" Kata Ian


"Jadi, itu sebabnya kalian membawa banyak gulungan kertas sihir berukuran besar dan terburu-buru pergi? Kalian menyimpan alat kebersihan itu di dalamnya?" Tanya Billy


"Benar!" Jawab Amy dan Wanda dengan serempak.


"Kalau begitu, kami juga akan datang membantu." Ujar Dennis


"Sini, biar kubantu kalian memnawa sebagian gulungan kertas sihir itu." Tawar Marcel


Marcel dan yang lain pun membantu Amy dan Wanda membawakan gulungan kertas sihir yang mereka bawa. Dan mereka semua bergegas menuju rumah baru milik Raisa.


---


Setelah mengikuti langkah kaki Amy dan Wanda yang menunjukkan jalan, mereka semua pun tiba di rumah baru milik Raisa.


"Halo, kami datang!" Sorak Amy dan Wanda dengan serempak.


"Amy dan Wanda, sudah datang kembali!" Kata Chilla


"Tapi, kenapa suaranya berisik dan terdengar ribut sekali!?" Heran Sandra


"Sepertinya mereka berdua kembali bersama teman-teman lelaki." Duga Aqila


"Sepertinya memang begitu!" Kata Raisa


"Wah, rumah ini dekat dengan rumah milik Rumi!" Ujar Morgan


"Benar, Syukurlah!" Senang Rumi seraya tersenyum.


"Kalian yang datang, masuklah!" Teriak Chilla dari dalam rumah.


"Ya, silakan masuk." Sambung Raisa


Mereka yang baru saja kembali dan datang pun melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.


"Raisa, selamat! Kami sudah dengar kabarnya dari Wanda." Ujar Morgan


"Jadi, ini rumah baru untukmu ya, Raisa?" Tanya Ian


"Ya. Katanya rumah ini sudah lama tidak ditinggali, jadi kami sedang melakukan bersih-bersih. Amy dan Wanda juga membantu dengan membawakan alat lain, alat kebersihan di rumah ini minim sekali." Ungkap Raisa


"Bukan kami yang melakukan bersih-bersih, tapi hanya kau, Raisa!" Kata Aqila


"Setiap kami memegang alat kebersihan, Raisa selalu mengambil alihnya dan melakukannya sendiri." Ucap Sandra


"Apa perlu bersih-bersih di sini? Rumah ini sudah terlihat bersih!" Bingung Ian


"Ini karena Raisa! Dia menggunakan sihirnya. Dengan sihir anginnya, dia mengangkut dan mengeluarkan semua debu dari dalam ke luar rumah. Setelah itu pun dia melakukan pekerjaan bersih-bersih lain dengan cepat sendiri. Kami hanya duduk santai di sini." Jelas Chilla


"Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan untuk membantu?" Tanya Marcel


"Itu juga yang kami pertanyakan!?" Bingung Sandra


Raisa yang berdiri di sana hanya menunjukkan cengiran kudanya, terkekeh pelan oleh ulah perbuatannya sendiri...

__ADS_1


"Sepertinya untuk ruangan ini, sudah beres dilakukan oleh Raisa. Tinggal ruangan lain, bersihkan kaca jendela, dan merapikan letak semua barang yang terlihat kurang cocok posisinya." Tutur Aqila


"Baik! Kami akan melakukannya!" Ucap Billy


Rumah baru Raisa itu terdapat beberapa ruangan. Ruang utama yaitu ruang tamu, sebuah kamar, dapur, dan kamar mandi. Sama seperti rumah milik Rumi hanya sedikit lebih luas saja. Dan yang membedakan adalah, jika ruang tamu dan ruang tidur rumah Rumi menjadi satu hanya dijaraki dengan lorong seperti koridor kecil, jika di rumah Raisa ruang tamu dan ruang kamar tidur dipisahkan dengan sebuah pintu tanpa adanya lorong.


Mereka semua pun mulai menyebar ke setiap ruangan dan terlihat antusias membantu bersih-bersih di rumah Raisa. Begitu banyak orang yang membantunya, Raisa tak bisa melarang mereka bekerja membersihkan rumahnya satu persatu. Ia pun hanha membiarkan semua temannya membantunya. Ia pun tersenyum senang dan merasa lega karena mempunyai banyak teman yang baik hati dan peduli dengannya.


"Ini sih, setiap ruangan lantai dan dindingnya, setiap permukaan benda juga benar-benar sudah bersih. Kita benar-benar hanya perlu membersihkan kaca jendela dan memposisikan letak barang dengan benar." Ucap Devan


Setelah selesai mengepel, Raisa beranjak ke arah dapur. Di sana juga ada Amy bersama dengannya...


"Apa yang kau lakukan di sini, Amy?" Tanya Raisa


"Setelah dilihat benar-benar pun seluruh ruangan memang sudah sangat bersih! Oh ya, selain alat kebersihan yang kubawa dengan menyimpannya di gulungan kertas sihir, aku juga membawa sesuatu." Ujar Amy


"Benda apa itu?" Tanya Raisa lagi.


Amy pun membuka gulungan kertas sihirnya dan mengeluarkan barang-barang dengan ajaib dari lembaran kertas tersebut. Itu adalah peralatan makan dan perlengkapan dapur sederhana yang mungkin dibutuhkan Raisa nantinya.


"Aku membawakanmu barang-barang dapur ini. Rumah barumu sudah terisi perabotan besar, tapi kupikir peralatan kecil seperti ini pasti belum ada. Jadi, kubawakan sekalian. Yang kubawa ini barang paling jarang digunakan, semua ini untukmu saja." Ucap Amy


"Tapi, ini kan barang di rumahmu, milikmu. Bagaimana kau bisa memberiku barang ini?" Ujar Raisa


"Tidak apa, di rumahku masih ada banyak barang-barang ini. Sebagian yang kubawa belum pernah dipakai kok dan yang lainnya juga bersih setelah dicuci. Atau kau tidak mau memakai barang bekasku ya? Sudah kuduga, aku salah melakukan dan membawakan ini untukmu." Tutur Amy


"Tidak, bukan begitu! Aku yakin ini bersih. Padahal kau juga sudah repot membawakannya ke sini untukku. Tapi-"


"Ya, makanya kau terima dan simpan saja barang dariku ini." Paksa Amy


"Hmm... Baiklah." Pasrah Raisa menerima.


"Bagus! Hanya ini yang bisa kuberikan untukmu, barang sederhana ini." Ujar Amy


"Ini sangat berguna untukku. Terima kasih, Amy." Ucap Raisa


"Apa pun untuk temanku. Sama-sama." Balas Amy


Raisa dan Amy pun bersama-sama menaruh alat makan dan perlengkapan dapur itu ke dalam rak piring dan lemari penyimpanan dapur.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membantu di tempat lain." Ujar Amy


Amy langsung berbalik beranjak menemui teman yang lain dan membantu. Sedangkan Raisa memeriksa ke dalam kamar tidur.


"Raisa, seperti inilah letak barang di kamar tidurmu. Bagaimana kelihatannya?" Ujar Morgan bertanya.


"Hmm... Sebenarnya aku belum lihat posisi awal barangnya. Tapi, tidak apa, seperti ini pun terlihat bagus. Aku menyukainya. Terima kasih." Ucap Raisa


Di dalam kamar tidur tersebut terdapat ranjang kasur, sebuah meja, dan juga sebuah lemari.


"Sebenarnya, bagaimana caramu membersihkan seluruh ruangan dan permukaan yang ada di rumah ini? Bagaimana kau melakukannya?" Tanya Devan


"Tentunya dengan caraku sendiri! Hehehehe..." Jawab Raisa seadanya disertai tawa kecilnya.


"Kasur di kamar ini sudah lama tak terpakai. Sepertinya kau harus mencucinya terlebih dulu, Raisa." Ujar Wanda


"Sepertinya begitu. Bisakah kalian para lelaki membawanya ke luar dari pintu belakang? Aku akan mencuci dan menjemurnya di sana." Ucap Raisa


"Huh, baiklah!" Kata Ian


Morgan, Ian, dan Devan pun bahu membahu saling membantu membawa kasur yang hanya muat seorang itu ke luar dari pintu belakang rumah tersebut.


"Sementara kasurmu dicuci, aku membawakanmu kasur lantai cadangan di rumahku. Kau bisa memakai dan memilikinya." Ucap Wanda


Wanda pun membuka gulungan kertas sihirnya dan mengeluarkan sebuah kasur lantai yang sudah dilengkapi bantal dari lembaran kertas itu secara ajaib!


"Terima kasih banyak, Wanda. Ini akan sangat berguna untukku." Ungkap Raisa


"Sama-sama." Balas Wanda


"Kalau begitu, aku akan melihat mereka menaruh kasur tadi di mana." Ujar Raisa


Raisa pun beranjak ke luar dari pintu belakang rumah barunya. Menemui Morgan, Devan, dan Ian yang telah membawa kasur tidurnya.


"Mau bagaimana kau mencucinya, Raisa?" Tanya Devan


"Menggunakan sihirku. Tapi, aku membutuhkan sabun cuci. Sepertinya, aku melihat sekotak sabun cuci di dapur." Ujar Raisa


"Akan aku ambilkan untukmu. Tunggu saja." Kata Wanda yang mengikuti Raisa ke belakang rumahnya.


Wanda pun berbalik untuk menuju dapur mengambilkan sekotak sabun cuci untuk Raisa yang setelah itu akan mencuci kasur tidurnya.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2