Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
145 - Sudah Berlalu.


__ADS_3

Bu Vani yang khawatir karena Raisa tak kunjung pulang pun menunggu di depan rumah.


Dari kejauhan Bu Vani melihat beberapa teman Raisa yang datang dari dimensi asing dan juga melihat Raisa berada di tengah mereka.


"Kita sudah sampai! Itu, Ibuku!" Kata Raisa


Melihat Raisa baru pulang setelah lama menunggu, Bu Bani pun menari putrinya itu agar mendekatinya...


Raisa yang sedang bergandengan tangan dengan Rumi pun terlepas begitu saja~


"Raisa, kok kamu baru pulang? Dari mana aja?" Tanya Bu Vani


"Aku ketemu teman-teman di jalan pulang, Bu. Asik mengobrol malah jadi lupa kasih kabar ke rumah. Maafin aku, ya, Bu." Jawab Raisa


"Teman-teman... Kamu, kan-"


"Aku sudah ingat semua sekarang, Bu. Berkat bertemu mereka, semua ingatanku sudah kembali pulih." Ucap Raisa


"Syukurlah, kalau begitu..." Lega Bu Vani


"Mereka datang menemuiku ke sini, jadi aku ajak mereka ke rumah." Kata Raisa


"Salam, Bibi."


"Senang bertemu dengan Bibi lagi!"


"Iya... Karena sudah datang, ayo, masuk! Kalian bisa duduk dulu, saya mau bicara sama Raisa dulu sebentar. Gak apa, kan?" Ujar Bu Vani


"Silakan, Bibi."


Mereka pun masuk. Bu Vani mempersilakan mereka untuk duduk dan menunggu, sedangkan ia hendak bicara dengan Raisa. Bu Vani membawa Raisa ke dapur untuk bicara berdua dengan lebih leluasa...


"Raisa, kamu gak apa? Kepala kamu selalu sakit saat coba mengingat tentang mereka, kan?" Tanya Bu Vani


"Gak apa kok, Bu. Saat bertemu mereka tadi, ingatanku pulih secara perlahan, tapi aku baik-baik aja. Aku sudah ingat semua yang pernah kulupa, bahkan aku sudah bisa melakukan sihir lagi." Jawab Raisa sambil mrnunjukkan api kecil menggunakan sihirnya.


"Apa kita harus periksa ke rumah sakit lagi untuk memastikan ingatan kamu udah pulih seutuhnya?" Tanya Bu Vani


"Gak perlu lagi, Bu. Dokter yang menangani aku curiga aku punya kemampuan spesial, dia sempat bertanya ini dan itu, tapi karena saat itu aku masih lupa ingatan jadi aku gak bilang apa-apa. Kalau kita periksa lagi, takutnya dia mencari tahu lebih banyak dan mengetahui sesuatu secara gak sengaja atau malah kita yang keceplosan." Jelas Raisa


"Begitu, ya." Gumam Bu Vani


"Ibu, gak usah khawatir. Aku udah sembuh dan sangat sehat sekarang. Aku lapar, juga mau siapin makan buat teman-teman yang datang. Ibu, bantu aku, ya..." Ujar Raisa


"Iya, deh. Kamu mau makan apa?" Tanya Bu Vani


"Yang ada aja, Bu. Yang simpel juga." Jawab Raisa


Dibantu Bu Vani, Raisa pun menyiapkan makan. Setelah itu makanan pun dibawakan ke tempat teman-teman menunggu.


"Kalian sudah lapar, kan? Makanannya sudah siap, tadi aku sekalian menyiapkannya di dapur. Maaf, kalau lama." Ujar Raisa sambil membawa sebakul nasi.


"Tidak apa, itu bisa dimengerti. Yang penting sekarang aku sudah bisa makan!" Kata Chilla


"Raisa, di sini aja. Tunggu sana teman-teman kamu sambil temani semuanya. Biar Ibu aja yang bawakan makanannya ke sini. Cuma sedikit kok, sebentar aja." Ucap Bu Vani sambil membawakan salah satu lauk yang telah disiapkan sebelumnya.


"Kalau begitu, tolong, ya, Bu." Kata Raisa


Bu Vani pun mengangguk kecil.


Raisa pun duduk bersama yang lain menunggu makanan disiapkan...


"Ibuku sudah tahu kalau ingatanku tentang kalian yang pernah hilang sudah kembali, tapi Ibu tidak tahu kalau aku sakit kepala saat berusaha mengingatnya. Jadi, tolong kalian rahasiakan itu, ya. Aku tidak ingin membuat Ibuku jadi khawatir berlebihan." Ucap Raisa


"Aku ingin menanyakan satu hal. Apa Bibi tahu kalau kau berpacaran dengan Rumi?" Tanya Chilla


Raisa terdiam sambil menunjukkan cengir kuda...


"Melihat reaksimu, sepertinya Bibi tidak tahu." Kata Morgan


"Kau merahasiakannya dari Bibi, Raisa?" Tanya Ian


"Orangtuaku agak ketat tentang hubungan asmara anak-anaknya. Waktu masa-masa kakakku juga begitu, jadi aku hanya diam sementara ini. Tolong maklumi aku, ya." Jelas Raisa


"Tidak apa. Yang penting hubungan orangtuamu tetap terjalin baik, begitu juga dengan hubungan kita." Ucap Rumi


"Sepertinya Raisa memang merahasiakannya dari semua orang." Kata Devan


Perkataan Devan membuat Rumi diam-diam memikirkannya. Rumi pun menatap Raisa yang berada di sampingnya. Raisa pun ikut menoleh ke arahnya dan menatapnya. Lalu, tersenyum manis padanya~


Tangan Rumi pun tergerak untuk menggenggam tangan Raisa...


"Rumi, aku masih malu soal yang tadi. Bisakah kau bersikap biasa dan sewajarnya saja?" Bisik Raisa sambil melepas genggaman tangan Rumi.


"Baiklah." Kata Rumi


"Oh, iya... Hanya kalian berenam saja yang datang, mana yang lain? Apa mereka semua sibuk?" Tanya Raisa


"Ya, begitulah. Mereka ada panggilan tugas, jadi hanya kami yang ke mari." Jawab Morgan


"Sudah kuduga, sih." Kata Raisa


Bu Vani pun kembali membawakan makanan lainnya. Mereka pun mulai makan bersama...


"Selamat makan!"


"Makanannya hanya sederhana ini aja. Harap maklum, ya." Ujar Bu Vani


"Tidak apa, Bibi. Kami sudah merepotkan." Kata Aqila


"Makanannya enak, Bibi. Terima kasih!" Ucap Chilla


"Syukurlah. Kalian makanlah, kalau kurang bilang aja. Nanti Bibi ambil lagi di dapur." Kata Bu Vani


"Baik!"

__ADS_1


...


Saat malam tiba, Raisa mengajak teman-temannya untuk pergi bersamanya...


"Raisa, kau mau membawa kami ke mana? Ke tempat makan, ya?" Tanya Chilla


"Kalian ingat temanku, Maura dan Nilam? Aku mau bertemu dengan mereka. Biasanya sih memang bertemu di tempat makan." Jawab Raisa


"Kenapa kami harus ikut saat kau bertemu teman-temanmu?" Tanya Devan


"Aku tidak bisa mengantar dan membukakan teleportasi ke vila untuk kalian menginap di sana hari ini juga, memangnya kalian mau kutinggal di rumahku saat aku tak ada? Lalu, memangnya kalian tidak mau akrab dengan teman-temanku juga? Kalian semua sama-sama temanku, aku berharap kalian bisa akrab." Ujar Raisa


"Aku ingin bertemu dengan Maura dan Nilam. Merekalah yang ada saat kau sakit, aku bisa tahu keadaanmu saat itu dari mereka." Ucap Rumi


"Ya, kau tidak bisa lagi merahasiakan sesuatu dari kami jika kami sudah bertanya pada teman-temanmu. Teman-temanmu pasti lebih berkata jujur pada kami!" Kata Morgan


"Apa teman-temanmu kali ini juga tidak tahu kalau kau berpacaran dengan Rumi? Kau tidak merahasiakannya pada mereka juga, kan?" Tanya Ian


"Hmm... Sepertinya mereka tahu." Jawab Raisa


"Apa maksudmu dengan 'sepertinya'?" Selidik Chilla


"Aku hanya ingat pernah cerita kalau aku nenyukai Rumi pada mereka." Ungkap Raisa


"Kau masih belum mengingat semuanya, Raisa?" Tanya Aqila


"Bukan. Hanya saja terlalu banyak ingatan yang tumpang tindih, aku tidak bisa mengingat semuanya sekaligus begitu saja. Ah! Maura dan Nilam sudah memutuskan untuk bertemu di mana. Ayo, ikuti aku! Kita ke sini..." Ujar Raisa


---


"Jadi, kamu udah ingat semuanya lagi, ya, Raisa?" Tanya Nilam


Raisa dan teman-temannya sudah sampai di tempat makan. Mereka sudah bertemu dan duduk bersama dengan Maura dan Nilam di sana. Mereka pun makan bersama sambil berbincang-bincang...


"Ya, begitu aku bertemu mereka, ingatanku kembali sepenuhnya." Jawab Raisa sambil mengangguk kecil.


"Ajaib! Tapi, kamu gak bilang mau ngajak mereka ke sini... Aku jadi kaget!" Ujar Maura


"Dari pada aku tinggal mereka di rumah waktu aku pergi, sekalian aja... Hitung-hitung aku ajak jalan-jalan." Ucap Raisa


"Apa pun itu, senang ketemu kalian lagi!" Kata Nilam


"Senang juga bertemu, Maura dan Nilam!"


Maura dan Nilam menatap lelaki yang berada di samping Raisa dan terus memandangi Raisa yang berada di sampingnya. Mereka ingat ia adalah Rumi, pacar Raisa...


"Udah lama gak ketemu, kayaknya Raisa dan Rumi makin gak mau berjauhan, ya? Hubungan kalian selengket itukah?" Ledek Maura bertanya.


"Iya. Rumi sampai gak mau melepas pandangannya dari kamu, lho, Raisa!" Goda Nilam


"Maura, Nilam!" Tegur Raisa yang malu-malu.


"Jangan bahas itu lagi! Tadi, bahkan Rumi sudah terang-terangan menggandeng tangan Raisa di depan kami, tapi sepertinya Raisa masih malu." Ucap Chilla


"Raisa, emang tipe orang yang gak percaya diri tentang banyak hal. Makanya dia lebih sering menutupi sesuatu dari orang sekitarnya." Kata Maura


"Awalnya, Raisa, juga rahasiain tentang pacarnya sama kami berdua. Tapi, setelah terus ditanya dan didesak untuk cerita, dia akhirnya mau ngaku tentang apa yang sering buat dia senyam-senyum sendiri." Ucap Nilam


"Tolonglah... Kamu seharusnya gak perjelas tentang hal itu!" Pelan Raisa


Rumi yang terus memerhatikan Raisa dan tak pernah lepas darinya pun tersenyum kecil...


"Raisa, kau tidak perlu terus malu-malu seperti itu. Mereka, maksudku kita semua, kan, teman." Bisik Rumi


"Betul, tuh, Raisa!" Kata Maura dan Nilam secara serempak.


"Tidak tahu, ah!" Sebal Raisa yang akhirnya hanya bisa menyeruput minuman di depannya.


"Mungkin karena, Rumi, yang pertama kali bagi Raisa, jadi malu-malu gitu deh!" Goda Nilam


"Kata siapa?! Sok tahu! Aku- pernah... Pacaran juga sebelumnya kok." Ceplos Raisa yang mau tak mau mengatakannya sampai akhir.


Semua mata pun mendelik menatap Raisa!~


"Yang benar?!"


"Jadi, Rumi bukan yang pertama? Sabar ya, temanku!" Ujar Morgan sembari menepuk pelan punggung Rumi...


"Tapi, siapa...?"


"Buat apa kalian tahu? Toh, itu hanya masa lalu!" Bungkam Raisa


"Aku jadi penasaran, siapa 'cinta monyet'-nya Raisa?" Gumam Nilam


"Cinta monyet? Apa itu?" Tanya Aqila


"Itu sebutan dari cintanya anak-anak yang cuma mau tahu rasanya pacaran. Cuma coba-coba dan gak akan jadi kenyataan!" Jelas Maura


"Tapi, benar kata Raisa! Itu kan hanya masa lalu yang sudah lewat, walau bukan jadi yang pertama, yang penting saat ini dan seterusnya aku dan Raisa-lah yang saling mencintai sampai selama-lamanya..." Ucap Rumi


Mendengar ucapan itu, Raisa langsung menoleh dan menatap Rumi dengan hangat...


Raisa terharu, ia kira Rumi akan mempermasalahkan masa lalunya karena cemburu, tapi ternyata tidak!


Rumi yang senang saat ditatap oleh Raisa secara langsung pun menyatukan keningnya pada milik Raisa untuk memperlihatkan tanda kasihnya.


Keduanya pun tersenyum merasakan cinta satu sama lain~


"Ciie~ Yang belain pacar!" Ledek Maura


"Jadi, Rumi itu tipe orang yang bucin ya?" Goda Nilam


"Apa lagi itu, Bucin?!" Bingung Devan


"Itu singkatan dan sebutan dari seorang Budak Cinta!" Ungkap Nilam

__ADS_1


"Sudah-sudah... Jangan meledek kami lagi! Bahas yang lain saja!" Kata Raisa


"Omong-omong, kenapa formasi kalian gak lengkap? Mana yang lainnya?" Tanya Maura


"Gak semua dari mereka bisa kumpul di hari yang sama. Mereka, kan, juga bekerja." Raisa mengambil alih peran untuk menjawab.


"Hanya kami yang sempat untuk datang, karena kami juga terburu-buru atas permintaan Rumi yang ingin cepat bertemu dan memastikan keadaan Raisa." Ucap Morgan


"Benar, nyaris saja terlupa! Kalian ada bersama saat Raisa sakit setelah kecelakaan, kan? Bisa cerita pada kami tentang kondisi Raisa saat itu? Aku benar-benar ingin tahu!" Ujar Rumi


"Oke, aku yang akan cerita soal itu! Raisa tertabrak mobil truk saat itu, lalu dilarikan ke rumah sakit. Setelah sadar di keesokan harinya, selain mengalami amnesia sementara, ada luka di banyak bagian tubuhnya. Kepalanya di perban karena benturan keras, satu tangannya patah, dan satu kakinya terkilir, juga banyak luka lebam." Ungkap Nilam


"Yang ajaibnya adalah kata dokter kecelakaan seperti itu seharusnya mendapati lebih banyak cedera serius, Raisa cukup beruntung hanya terluka seperti itu. Katanya lukanya termasuk ringan." Ucap Maura


"Aku juga ingat, tangan Raisa yang patah juga lebih cepat sembuh sebelum waktunya. Ini ajaib!" Sambung Nilam lagi.


"Bukannya kalian juga pernah bilang bahwa aku ini orang punya keberuntungan? Bahkan aku juga sembuh dengan cepat! Aku baik-baik saja sekarang. Tidak perlu dikhawatirkan lagi..." Ujar Raisa


"Apa yang tidak perlu dikhawatirkan lagi? Kau terluka parah saat itu! Maafkan aku yang tak bisa ada di sampingmu saat itu, Raisa..." Kata Rumi


"Tidak perlu minta maaf, kau juga terluka saat itu. Seperti kau yang tidak mempermasalahkan tentang mantan pacarku di masa lalu, itu juga sudah berlalu, jadi tidak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang adalah baik aku mau pun kau sudah baik-baik saja. Kalian juga sudah datang, dan karena kedatangan kalian ingatanku juga ikut kembali pulih. Aku bahkan berterima kasih karena itu!" Ucap Raisa


"Itu... Tetap saja!" Gumam Rumi


"Jangan salahkan dirimu, Rumi!" Kata Raisa


"Rumi, terluka juga? Apa maksudnya?" Tanya Maura


"Kami sudah memastikannya. Tepat saat Raisa kecelakaan di sini, Rumi juga mengalami musibah di sana yang menyebabkan dia terluka parah." Jelas Devan


"Benar! Nasib sepasang kekasih ini seolah saling berkaitan bahkan untuk hal seperti itu." Kata Ian


"Padahal aku sudah terus berpikir buruk saat Raisa tidak pernah datang ke tempat kami di saat-saat sulit itu, ternyata di sini Raisa juga terluka. Makanya, aku memutuskan ikut datang ke sini untuk memastikan hal ini bersama Rumi dan yang lainnya." Ucap Morgan


"Apa-apaan itu?! Aku juga kesal mengingat kalian tidak pernah datang selama Raisa sakit, tapi aku menahan rasa itu demi Raisa dan juga bisa mengerti pasti ada alasan di balik itu. Aku mengerti Morgan seperti itu karena Rumi teman baikmu, tapi Raisa juga teman baikku bahkan teman baik kalian juga... Apa kalian sama sekali gak kepikiran mungkin aja ada alasan di balik Raisa gak bisa datang ke sana?" Ujar Nilam menggebu-gebu karena kesal.


"Tapi, aku juga sudah minta maaf pada Raisa karena sempat berpikir buruk begitu, tahu!" Kata Morgan


"Baguslah, kalau begitu!" Lega Nilam


"Sudahlah. Aku atau pun Rumi saja tidak mempermasalahkan hal itu, kenapa jadi kalian yang ribut?" Ujar Raisa melerai.


"Memang terkadang teman dekat itulah yang lebih sensitif." Kata Aqila


"Dari pada ribut, jadi untuk apa kita semua berkumpul di sini?" Tanya Ian


"Kami ingin membahas projek kerja menuju terkenalnya Raisa!" Jawab Maura


"Oh, yang Raisa bilang punya kerja sampingan itu, ya?" Tanya Devan


"Tapi, apa maksudnya dengan terkenal? Memangnya Raisa kerja apa?" Tanya Chilla


"Kalian belum dikasih tahu, ya... Dengan hobi bernyanyi, kami merekam video Raisa yang sedang bernyanyi dan mengunggahnya di internet. Video-video itu sudah cukup ramai penontonnya. Dan terakhir kali, kami membuat tema video baru. Bukan video Raisa sedang bernyanyi, tapi video sedang pemotretan. Waktu itu Raisa jadi model dadakan salah satu temannya, sekarang Raisa sudah mulai terkenal!" Ungkap Nilam


"Kalian mau lihat video atau foto pemotretan Raisa? Biar aku tunjukkan, nih!" Ujar Maura memperlihatkan beberapa gambar dari ponselnya.


"Kenapa kau tidak cerita tentang ini pada kami, Raisa?" Tanya Rumi


"Untuk itu aku membawa kalian untuk ikut ke sini. Kalian jadi bisa tahu langsung dari Maura dan Nilam, dua orang di balik layar yang banyak membantuku." Jawab Raisa


"Wah! Apa kau akan jadi artis, Raisa?" Tanya Chilla


"Entahlah. Aku tidak begitu ingin jadi terkenal, apa lagi jadi artis." Jawab Raisa


"Bukan karena kamu gak percaya diri, Raisa?" Tanya Maura


"Walau aku janji untuk jadi lebih percaya diri, jadi artis itu tidak mudah. Menjadi artis berarti harus jadi figur publik. Ada kalanya kegiatan jadi dibatasi, tidak boleh ini dan itu juga harus jaga sikap agar tetap sopan dan menjadi yang patut dicontoh. Kegiatan sehari-hari pun terkadang jadi sorotan, hal bersifat pribadi pun bisa saja dicampuri orang lain. Menurutku itu merepotkan!" Ungkap Raisa


"Benar, itu sangatlah merepotkan!" Kata Devan menyahut.


"Kalau jadi dirimu, aku sangat ingin jadi artis yang terkenal! Aku jadi bisa mengenal banyak artis tampan juga. Itu menyenangkan!" Ucap Chilla


"Bukankah kalian juga pernah mengalami menjadi pengawal artis? Kalian juga pasti sedikit tahu tentang mereka, kan..." Ujar Raisa


"Raisa, kau mengingatkan kami pada pengalaman yang melelahkan lagi!" Gumam Morgan


"Saat itu, yang paling menikmati misi mengawal artis hanyalah Chilla!" Kata Ian


"Kalau kau jadi artis, jangan sampai kau berubah jadi arogan dan meminta hal yang merepotkan, Raisa!" Ucap Morgan


"Tenang saja! Aku bahkan belum benar-benar jadi artis!" Kata Raisa


"Tunggu! Pengawal artis? Sebenarnya kalian kerja apa sih?" Tanya Maura


"Ah! Mereka itu memberi pelayanan dari permintaan yang masuk ke desa di negara mereka berupa keamanan. Peran mereka kebanyakan menjadi seperti pengawal atau polisi, seperti itulah." Jawab Raisa


"Sejak kapan kalian kerja seperti itu?" Tanya Nilam


"Misi pengawalan diberikan sejak kami berusia 15 tahun." Jawab Ian


"Sekarang berapa umur kalian?" Tanya Maura


"Kebanyakan dari kami berusia 19 tahun ini." Jawab Aqila


"Di tempat kami, sejak dini kami dilatih untuk mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Berawal dari misi pencarian hewan peliharaan yang hilang atau membantu kegiatan perkebunan warga di usia kami yang masih 10 tahun. Saat dewasa kami diizinkan memilih pekerjaan yang disukai dan diminati. Ada yang bekerja di perusahaan besar atau tempat penelitian dan lain-lain..." Jelas Rumi


"Kalian hebat!" Kata Nilam yang disahuti dengan anggukan kepala Maura.


Saat itu mereka berkumpul untuk membahas pekerjaan yang lakukan Raisa dan teman-temannya...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2