Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
162 - Tempat Tersembunyi.


__ADS_3

Raisa bersama yang lainnya juga para warga berondong-bondong mendatangi tempat tinggal Tuan Philip yang diduga menjadi tersangka atas hancurnya hutan bambu.


Selama di perjalanan, Raisa meminta para warga untuk tetap tenang agar semua proses berjalan lancar tanpa harus menimbulkan keributan yang tidak perlu.


Di perjalanan pula, Raisa mengirim pesan dengan sihir transmisi suara pada Ian.


"Ian, kami semua bersama para warga akan mendatangi kediaman Tuan Philip. Dalang dari kerusakan hutan," pesan Raisa


"Ya, Raisa! Aku pun sudah menemukan orang yang kabur tadi di sebuah rumah besar dan bertemu majikannya yang ia


sebut dengan Tuan Besar. Mungkin orang yang ditemui dan yang disebut Tuan Besar itu adalah Tuan Philip yang kau maksud," balas Ian


"Dimengerti! Tetap tunggu di sana dan berjaga-jagalah," balas Raisa sebelum akhirnya memutuskan sihir transmisi suara yang dimulainya.


 


"Kita sudah sampai! Ini kediaman Tuan Philip!"


"Kita harus memanggil Tuan Philip ke luar dari rumahnya!"


"Tuan Philip, ke luar kau sekarang juga!"


Sosok pria tua bersama orang yang sebelumnya kabur dari kerumunan warga ke luar dari kediaman besar itu.


"Ada apa ribut-ribut begini!?"


"Wah, aku kedatangan banyak tamu, ternyata! Ada apa kalian semua datang ke kediamanku? Ya, walau kediamanku ini besar, tapi mungkin tidak akan cukup untuk menampung dan menjamu kalian semua di dalam ...."


"Tidak perlu basa-basi lagi! Cepat akui kesalahanmu yang membawa petaka bagi kami semua!"


"Kesalahan apa yang kalian maksud? Aku tidak mengerti! Selama ini aku hanya diam di rumah ...."


"Jangan bicara omong kosong lagi! Itu dia! Dia pasti orang suruhanmu! Tadi dia kabur begitu saja dari kerumunan warga setelah bukti ada di depan mata! Kaburnya orang suruhanmu menandakan kau memang bersalah!"


"Sudah kubilang, bukti itu telah direkayasa! Bukti itu palsu! Jangan percaya dengan mereka!"


"Bukti apa yang kalian maksud? Kesalahan apa yang telah kuperbuat? Aku tidak tahu apa-apa!"


"Jangan pura-pura lagi! Orang suruhanmu pasti sudah memberi tahu padamu setelah dia kabur tadi! Tanggung jawablah atas kerusakan hutan yang kau buat! Roh hutan sendiri yang telah memberi tahu semua buktinya pada kami! Kau harus dihukum! Kalian semua harus dihukum!"


"Sepertinya kalianlah yang sedang bicara omong kosong di sini sekarang. Aku tidak tahu jika ada kerusakan hutan atau apa pun! Kalau memang ada buktinya, tunjukkanlah buktinya padaku!"


"Maafkan aku, DEWI! Aku tidak bisa ke luar atau menunjukkan bukti itu lagi sekarang. Tempat ini terlalu jauh dari hutan, aku benar-benar lemah tak bertenaga sekarang." Roh pelindung hutan itu bicara dari dalam diri Raisa.


"Aku mengerti. Tidak apa, kau istirahatlah saja di dalam diriku." Batin Raisa yang tersampaikan pada Roh pelindung yang berada di dalam dirinya.


Di saat keadaan mulai tidak baik, Ian muncul entah dari mana di kediaman tersebut.


"Bukti yang diperlukan pasti ada di sekitar sini! Saat aku menemukan orang yang kabur tadi, dia dan Tuan Philip sedang membicarakan tentang tempat tersembunyi yang tidak akan ditemukan siapa pun! Di situlah buktinya berada! Asalkan kita bisa menemukan tempat tersembunyi itu," ungkap Ian


"Tempat tersembunyi apa lagi yang kau maksud? Aku benar-benar tidak mengerti! Siapa lagi pemuda satu ini? Dia bagian dari komplotan kalian?"


"Ini gawat! Ada yang mendengar pembicaraanku dengan Tuan Besar!"


"Tempat itu tersembunyi dengan baik! Mereka pasti tidak akan bisa menemukannya! Pasti begitu!"


"Aku mengerti sekarang! Terima kasih, Ian! Kau sudah sangat membantu," ucap Raisa


"Kau bisa menemukan tempat tersembunyi itu, Raisa?" tanya Devan


Raisa mengangguk kecil.


"Aku akan mencobanya! Semuanya, tolong berikan aku ruang," ucap Raisa


"SEMUANYA, Tolong menjauh sedikit!" teriak Morgan


Semua orang pun menjauh untuk memberi Raisa lebih banyak ruang~


Raisa berlutut di tanah dan salah satu tangannya menyentuh permukaan tanah.


Mata Raisa terpejam dan fokus menggunakan sihirnya~


Setelah itu, Raisa bangkit berdiri lagi.


"Aku menemukan sebuah tempat yang mencurigakan di sekitar sini," kata Raisa


"Di mana itu?" tanya Chilla


Raisa menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan sepasang sayap di balik punggungnya.


"Kalian semua, ikuti aku," kata Raisa


Dengan sayap sihirnya, Raisa terbang perlahan agar yang lain dapat leluasa mengikutinya dengan berjalan kaki.


Raisa pun berhenti dan mendarat di depan sebuah bangunan sederhana di kediaman tersebut.


Tak lama berselang kerumunan orang tiba di tempat yang sama dengan Raisa.


"Apa tempat tersembunyi itu ada di dalam sana?"


Wajah orang suruhan Tuan Philip mulai kembali menegang, namun Tuan Philip malah terlihat sangat tenang.


"Apa tempat yang kau curigai itu adalah tempat ini? Kalau begitu, kalian periksa saja ke dalam!"


"Kalau begitu, akan kami bongkar perbuatan busukmu dan menjatuhimu hukuman setelah ini!"


"Silakan masuk dan periksa ke semua sudut di dalam!"


Beberapa orang pun masuk untuk melakukan penggeledahan, namun setelah itu mereka ke luar lagi dengan wajah muram.


"Tidak ada apa pun yang mencurigakan di dalam. Ini hanya gudang biasa."


"Setelah kupikir-pikir tempat ini terlalu sederhana untuk dijadikan tempat persembunyian."


"Apa mungkin kau sudah salah, Raisa?" tanya Aqila


Raisa terdiam dengan tenang.


"Sudah kuduga akan jadi seperti ini! Tidak ada perbuatan busuk yang kulakukan dan tudak ada tempat tersembunyi seperti yang kalian katakan!"


"Apa mungkin Raisa yang salah memperkirakan tempat atau Ian yang salah mendengar ucapan mereka berdua? Tapi, firasatku ucapan Raisa dan Ian sama-sama benar," ujar Rumi


"Kalian saja yang bodoh! Mana ada tempat tersembunyi atau persembunyian yang tidak dijaga oleh siapa pun! Di kediamanku tidak ada tempat seperti itu!"


"Benar juga!"


"Apa kita sudah salah menuduh orang?"


Semua orang pun menatap Raisa dan Ian secara bergantian.


Sedangkan Tuan Philip memperlihatkan ekspresi penuh kemenangan setelah banyak orang tidak mendapatkan bukti di kediamannya.


"Aku yakin mendengar mereka membicarakan itu! Dan aku yakin, tebakan Raisa pasti benar! Mungkin kalian kurang detail saat mencari, biar aku yang memeriksa ke dalam! Mungkin ada suatu sudut atau apa pun yang dapat membawa kita ke tempat tersembunyi itu," ucap Ian


Ian hendak masuk ke dalam bangunan yang dipakai sebagai gudang tersebut, namun Raisa menahannya.

__ADS_1


"Kau benar, Ian! Tidak ada yang salah dari ucapanmu, tapi kau harus tenang. Memang tidak ada penjagaan atau orang yang berjaga di sini. Karena tempat tersembunyi itu bukan ada di gudang ini, tapi tepat di bawah gudang ini ... alias berada di bawah tanah," ungkap Raisa


"Omong kosong macam apa itu!?!"


"Kalau begitu, kita harus mencari sesuatu yang bisa membawa kita ke bawah tanah! Itu mungkin ada di dalam gudang ini!"


Tuan Philip dan bawahannya sama-sama menegang dan mulai memperlihatkan kegelisahannya sekarang!


"Tidak perlu mencari lagi! Aku bisa langsung membawa kita semua ke tempat tersembunyi itu di bawah tanah," ucap Raisa


"Bagaimana caranya?" tanya Chilla


"SEMUANYA, Tolong menjauh," teriak Raisa


Semua orang pun menjauh dari Raisa.


Raisa pun menggerakkan tangannya dan menghentakkan kakinya.


Saat itu juga, tanah terbuka dan muncul tangga menurun ke bawah tanah.


Raisa telah membuka jalan ke tempat tersembunyi di bawah tanah~


"Ayo, masuk! Hati-hati banyak orang yang berjaga di bawah sana," kata Raisa


Raisa hendak masuk lebih dulu, namun Rumi menahannya.


"Biar kami, para lelaki yang lebih dulu masuk ke sana." Ucap Rumi


Mulai dari Rumi, Morgan, Devan, lalu Ian. Mereka lebih dulu masuk yang lainnya masuk secara bergiliran.


Benar saja banyak orang yang berjaga di sana. Dan para lelaki yang lebih awal masuk telah menangani penjagaan di sana sampai mereka semua tumbang!


"Benar saja ada tempat tersembunyi di bawah sini!"


"Sudah kuduga, ucapan Raisa pasti benar," kata Rumi


"Aku menyadari sesuatu. Ada beberapa penjaga yang merupakan ahli sihir, aku mengetahuinya saat kami melawan mereka tadi," ucap Devan


"Mereka menyembunyikan semua di tempat ini dengan sangat rapi," kata Morgan


Di dalam sana banyak terdapat tanaman obat berharga, batang pepohonan, sayur-sayuran, buah-buahan segar, juga banyak hewan buruan dari hutan yang di kurung sana.


Semua pasti hasil dari yang mereka rampas dari dalam hutan!


"Lihat, ini! Aku menangkap dua orang yang berusaha kabur!" seru Chilla yang muncul sambil mencengkram belakang kerah dari Tuan Philip dan orang suruhannya!


"Coba jelaskan semua ini! Kau sudah tidak bisa mengelak lagi, Tuan Philip," ucap Aqila


Tuan Philip dan orang suruhannya hanya bisa menunduk.


"Kalian semua yang ada di sini akan disidang dan dijatuhi hukuman " ucap Raisa


"Ian, aku masih butuh bantuanmu! Yang lain, tolong cari orang yang tersisa yang ada di kediaman ini! Karena semuanya akan ikut diadili dan diselidiki lebih jauh lagi jika ada kemungkinan keterlibatan atas kerusakan hutan," lanjut Raisa


"Baik, aku mengerti!" kata Devan


"Kami akan mencari ke seluruh kediaman ini," ucap Morgan


"Beberapa dari kami akan ikut!"


Devan dan Morgan juga Rumi bersama beberapa warga pun pergi memeriksa ke seluruh tempat yang ada di kediaman Tuan Philip untuk mencari jika ada orang yang masih ada di sana.


Semua penjaga yang berada di bawah tanah serta TuanPhilip dan orang suruhannya telah diikat dan ditahan di suatu sudut di bawah tanah tersebut.


"Kau butuh bantuan apa lagi, Raisa?" tanya Ian


"Entahlah, tapi kalau masalahnya besar seperti ini mungkin Ayahku akan langsung mengerahkan pasukannya datang ke sini. Kita hanya tinggal menunggu," ucap Ian


"Kalau begitu, bisakah meminta bantuanmu untuk menghubungi Ayahmu?" tanya Raisa


"Kenapa jadi aku? Katanya, kau yang mau melakukannya!" protes Ian


"Setelah dipikir-pikir aku terlalu malas menjelaskan semua situasi rumit di sini. Aku minta bantuanmu, ya, Ian ... " ucap Raisa


"Sudah kuduga, ini tidak semudah kau hanya bertanya padaku, tapi meminta bantuanku langsung menghubungi ke Desa Daun," kata Ian


"Ayolah, aku mohon ... aku akan bantu berbagi tenaga sihir denganmu," mohon Raisa


"Ini bukan masalah tenaga sihir yang tidak cukup! Baiklah, aku akan melakukannya ... " pasrah Ian setelah melihat wajah memelas Raisa.


"Yeay! Kau yang terbaik!" girang Raisa


Ian pun terduduk dalam posisi seperti meditasi dan ia mencoba melalukan sihir transmisi suara jarak jauh dengan bantuan Raisa yang mentransfer tenaga sihirnya pada Ian, sambil keduanya memejamkan mata.


Ian melacak keberadaan Ayahnya, Tuan Aiden, untuk menjelaskan masalah dan situasi di Desa Bambu serta meminta bantuan untuk mengerahkan pasukan untuk segera membawa dan menahan para pelaku.


Ian pun membuka matanya setelah selesai berkomunikasi dengan Ayahnya, begitu pula Raisa.


"Ayahku bilang, tidak bisa sekarang karena hari sudah mulai malam. Dia berjanji akan datang besok pagi," ucap Ian


"Begitu, ya ... kalau begitu, malam ini kita harus berjaga di sini," kata Raisa


"Kalau tahu begini, harusnya sekalian besok saja menghubungi Ayah," dumel Ian


"Setidaknya kita sudah berusaha dan sudah ada kejelasan. Kerja bagus, Ian! Terima kasih banyak," ucap Raisa


"Ya. Sama-sama," balas Ian


Saat itu juga, tubuh Raisa terasa aneh! Dari dalam tubuhnya ke luar kepulan asap yang berubah menjasi sosok kegelapan dari roh pelindung hutan~


"Wahai roh, kenapa kau ke luar begitu saja? Ada apa?" tanya Raisa


Roh itu tidak menjawab dan pergi sesuka hatinya.


"Tuan, maafkan aku! Roh pelindung hutan-lah yang memaksa ingin ke luar ...."


"Tidak apa, Helio. Aku yang akan mengurus ini."


Raisa pun mengejar ke mana roh pelindung itu pergi. Roh itu masih berada di tempat tersembunyi yang berada di bawah tanah tersebut. Hanya saja, roh itu seperti sedang mencari sesuatu.


"Sebenarnya, apa yang sedang kau cari? Wahai, roh pelindung hutan ... " heran Raisa


"Ada apa, Raisa?" tanya Aqila


"Kenapa roh kegelapan hutan itu muncul lagi?" tanya Chilla


"Roh itu seperti sedang mencari sesuatu?" bingung Ian bertanya.


Sampai akhirnya, roh pelindung hutan itu berhenti di depan kurungan besi berukuran sedang. Roh itu menunjukkan kecemasan sekaligus kelegaan setelah melihat ke dalam kurungan besi itu.


Raisa pun mendekatinya dan ikut melihat ke dalam kurungan besi tersebut~


"Ini adalah ... sepasang anak panda! Mereka adalah anak roh pelindung hutan semasa roh itu hidup! Induknya memang sudah mati dan menjadi roh, tapi kedua anaknya masih hidup," ungkap Raisa


"Tapi, kondisi kedua anak panda ini memprihatinkan sekali! Banyak luka di tubuh keduanya," ucap Ian

__ADS_1


"Mereka yang memburu kedua anak panda ini hanya tahu menangkap, tapi tidak tahu cara merawat dan memulihkan luka. Ini namanya penyiksaan," ucap Chilla


Sosok roh pelindung hutan itu kembali marah dan menjadi begitu pekat! Raisa pun mencoba menenangkannya kembali.


"Tenanglah, wahai roh pelindung! Dua anakmu masih hidup! Dia bisa melanjutkan melindungi hutan bambu itu seperti kau semasa hidup ... " ujar Raisa


"Bagaimana kedua anakku ini akan bisa melindungi hutan jika kondisi mereka penuh luka seperti ini?!! Ini ulah para manusia kejam itu! Akan kuhabisi mereka semua!!"


"Kami akan menyembuhkan kedua anakmu! Dan seperti janjiku, kami akan melakukan penghijauan di pedalaman hutan yang telah hancur! Hutan akan kembali menghijau dan akan ada dua anakmu yang melindungi hutan! Bukankah harapanmu untuk menciptakan kembali kehidupan hutan yang damai akan terwujud? Serahkan saja pada kami! Kami akan menepati janji kami," tutur Raisa


Amarah roh pelindung hutan itu akhirnya mereda dan kembali tenang~


"Akan kupercayakan nasib kehidupan hutan dan hidup kedua anakku padamu, DEWI! Sekarang aku sudah bisa tenang!~~"


Roh pelindung hutan itu lenyap dan perlahan menghilang begitu saja.


"Roh itu tidak kembali ke dalam tubuhmu. Ke mana dia pergi, Raisa?" tanya Chilla


"Dia sudah tenang sepenuhnya, Tuan. Mungkin dia kembali ke tempat persemayamannya di pedalaman hutan bambu!"


"Aku mengerti, Helio!"


"Entahlah, aku pun tidak tahu pasti. Tapi, mungkin saja dia kembali ke tempat persemayamannya di suatu tempat di pedalaman hutan karena sekarang dia sudah bisa tenang sepenuhnya setelah mempercayakan kelangsungan hidup hutan pada kita," jawab Raisa atas pertanyaan Chilla.


"Sekarang aku butuh bantuan kalian berdua untuk menyembuhkan kedua anak panda yang terluka ini, Aqila, Ian. Dan mungkin juga menyembuhkan seluruh hewan yang diburu dan ditangkap ke sini! Karena mereka akan kembali dilepas liarkan ke dalam hutan secepatnya," ucap Raisa melanjutkan.


"Baiklah ... " pasrah Ian


"Ya, aku akan membantumu, Raisa," kata Aqila


Karena selain dirinya dari amggota tim yang dikurim ke Desa Bambu, hanya Aqila dan Ian yang bisa menggunakan sihir medis, Raisa pun meminta bantuan keduanya untuk menyembuhkan para hewan buruan yang terluka.


Selama satu jam lebih, Raisa, Aqila, dan Ian mengobati dua anak panda bersama-sama. Untuk hewan lainnya, ketiganya melakukan secara perorangan mengobati satu hewan.


"Kebanyakan hewan yang diburu adalah hewan kecil dan lucu. Mereka pasti berpikir hewan-hewan ini mudah untuk dijinakkan dan dipelihara manusia. Kalau seperti ini, populasi hewan di hutan bambu benar-benar akan punah," ucap Chilla


"Kau benar, Chilla! Kondisi seperti ini sungguh sangat memprihatinkan " jata Aqila


"Mereka melakukan perburuan besar-besaran seperti ini tidak ada orang yang tahu, ternyata mereka juga menyewa ahli sihir untuk melakukannya. Ini semua sudah direncanakan," ucap Ian


"Hmm~ Aqila, Ian, kalau kalian berdua lelah, istirahatlah. Aku yang akan melanjutkan menyembuhkan hewan lainnya," kata Raisa


"Tidak apa, Raisa. Kami akan membantumu sampai selesai," ucap Aqila


"Ya. Kami masih belum lelah," kata Ian


Saat itu, Devan, Morgan, Rumi, dan beberapa warga kembali dengan membawa lima orang yang ditemukan di kediaman tersebut yang telah diikat.


"Kami hanya menemukan lima orang ini setelah mencari ke semua tempat di kediaman ini," ucap Morgan


"Ya. Ikat saja dan awasi terus mereka semua," kata Aqila


"Lepaskan kami! Kami tidak bersalah! Kami tidak melalukan apa pun dan tidak tahu apa pun! Ini tidak adil!"


"Justru kami sedang mencari keadilan! Semua orang yang berada di bawah tanah sini tadi juga mengatakan hal yang sama, tapi kalian semua akan diperiksa oleh pihak yang berwajib besok! Jadi, persiapkan diri kalian karena kalian tidak akan bisa menyembunyikan apa pun! Jadi, tetaplah tenang dan jangan buat keributan," ucap Raisa


"Mereka akan ditahan di sini sementara dan kami yang akan menjaganya. Untuk sebagian warga desa, bisakah kalian ikut berjaga di sekitar kediaman ini juga di beberapa titik penting di desa? Ini untuk mencari dan menemukan jika kemungkinan ada orang mencurigakan lainnya yang masih belum ditangkap. Jika, ada orang yang mencurigakan lainnya tolong tangkap dan laporkan atau bawa ke sini segera! Ini bagi yang mau dan bisa saja juga kalau kalian tidak keberatan.


Untuk yang lainnya, kalian bisa pulang ke rumah masing-masing. Dan satu hal lagi, kalian tidak perlu khawatir lagi karena sekarang para roh dan monster tidak akan menyerang desa lagi, tapi kalian tetap harus menjaga kedamaian dan kelestarian hidup hutan juga. Lalu, besok kita masih harus melakukan sesuatu, jadi mohon bantuannya untuk kalian semua," ujar Raisa melanjutkan.


"Baik, kami mengerti!"


"Kami semua akan saling berbagi tugas!"


"Kalian jangan khawatir! Kalian datang untuk membantu desa kami, sudah sepantasnya kami juga ikut andil demi keamanan dan kedamaian desa kami."


"Ya, justru kami sangat berterima kasih! Karena berkat kedatangan dan bantuan kalian, desa kami jadi kembali tenang dan tidak ada lagi hal yang membahayakan!"


"Benar!"


"Terima kasih banyak!"


"Tidak perlu sungkan. Ini juga sudah tugas kami untuk membantu. Karena kalianlah yang mengirim permintaan bantuan ke Desa Daun dan memanggil kami," ucap Raisa


Setelah itu, semua sibuk pada tugas masing-masing.


Raisa dan teman-teman berjaga di sekitar tempat persembunyian di bawah tanah demi memastikan keamanan orang-orang yang ditahan serta barang hasil buruan.


Sedangkan, beberapa warga telah setuju untuk berjaga di beberapa titik penting kediaman Philip dan sekitar desa untuk mencari dan menemukan kemungkinan orang mencurigakan atau pelaku lainnya.


Hari pun semakin gelap karena memang seperti itulah suasana malam.


Raisa terduduk diam di suatu tempat. Rumi menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Sudah malam, kenapa kau masih belum tidur? Padahal seharian ini kau terus menggunakan tenaga sihirmu, saat hari berakhir pun kau bahkan masih mengerahkan tenagamu untuk menyembuhkan para hewan yang telah diburu. Apa kau tidak lelah?" ujar Rumi bertanya.


"Swdikit lelah, tapi aku belum bisa tidur," jawab Raisa


"Apa karena suasana di bawah tanah sini?" tanya Rumi


"Entahlah," singkat Raisa menjawab.


"Atau ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rumi lagi.


"Aku hanya sedang berpikir. Apa keputusanku meminta para warga untuk berjaga di beberapa tempat itu tidak berlebihan? Mereka memang tidak protes atau mengajukan keberatan, tapi aku jadi tidak enak dan kepikiran," ujar Raisa


"Keputusanmu sudah benar. Kau seharusnya senang karena mereka mau ikut membantu," kata Rumi


"Aku memang merasa lega saat mereka mau ikut membantu tanpa ada penolakan, tapi hatiku malah jadi merasa bersalah," ungkap Raisa


"Kau tidak salah, itu hanya perasaanmu saja. Semua orang di sini baik dan mau bekerja sama. Kita semua diuntungkan, jadi tidak perlu khawatirkan hal seperti itu," ucap Rumi


"Ya, mungkin kau benar. Mungkin akulah yang terlalu berlebihan memikirkannya," kata Raisa


"Mungkin kau merasa khawatir berlebihan karena kelelahan setelah memikirkan dan melakukan semua hal hari ini. Maka, istirahatlah dan lepaskan semua kekhawatiranmu. Lalu, tidurlah, maka saat terbangun besok kau akan kembali bersemangat lagi," tutur Rumi


"Baiklah, aku akan tidur sekarang," patuh Raisa


"Ya, kau bisa tenang karena masih banyak orang lain yang berjaga di sekelilingmu," kata Rumi


Raisa pun memejamkan matanya dan mulai tertidur.


"Raisa, sudah tidur?" tanya Morgan


Rumi mengangguk pelan.


"Raisa terlalu merasa khawatir karena ini pengalaman pertamanya memimpin sebagai ketua tim, padahal dia sudah berusaha keras dan semuanya berjalan lancar karenanya," Ucap Devan


"Devan, benar! Aku setuju Raisa bisa memimpin tim dengan baik, hanya saja dia masih kurang percaya diri," kata Ian


"Ya, tapi aku selalu percaya pada Raisa ... " ungkap Rumi


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2