
Kini, Raisa sedang bicara dengan roh hewan pelindung hutan bambu yang sebelum mati merupakan sosok seekor panda dewasa untuk mencari solusi supaya kehidupan hutan dan desa kembali stabil.
"Aku tahu dan sangat mengerti jika kau marah, tapi bisakah kau berdamai dengan para manusia dan berhenti mengirim pasukan roh atau monster yang menyerang ke dalam desa?" tanya Raisa
Begitu membicarakan manusia, roh pelindung tersebut kembali marah dan menjadi roh kegelapan!
"TIDAK BISA!! Para manusia itu telah merusak dan menghancurkan hutan tempatku tinggal dan kujaga kelestariannya. Tidak hanya itu, mereka juga memburu para hewan dan mengambil anak-anakku yang berharga! Takkan kumaafkan!
Kau adalah DEWI! Harusnya kau mengerti penderitaanku dan memang harus begitu. Tapi, kenapa kau malah membela para manusia yang telah membuat kesengsaraan pada hutan kami?!!"
"DEWI yang kau katakan hanyalah kekuatan yang diturunkan padaku, aku yang sesungguhnya adalah manusia biasa seperti mereka yang kau benci. Aku mengerti perasaanmu, tapi aku hanya ingin mencari solusi atas semua yang telah terjadi.
Aku akan menghukum pelaku di balik kerusakan hutan, bicara pada manusia lainnya untuk tidak ikut berbuat kerusakan di hutan dan melakukan penghijauan di hutan ini. Aku akan menjamin tidak ada lagi hutan yang rusak atau hancur dan kehidupan hutan akan kembali damai seperti dulu," tutur Raisa
"Untuk apa itu semua jika tidak ada yang bisa melindungi kelestarian hutan ini dan anak-anakku juga sudah mati?!!"
"Walau kau sudah tidak lagi hidup seperti dulu, rohmu tetap bisa menjaga kelestarian hutan ini. Bukankah itu cukup? Bukankah yang kau inginkan sesungguhnya adalah hutan ini bisa kembali menghijau dan berada dalam damai seperti dulu?" ujar Raisa bertanya.
"Itu BENAR! Tapi, bagaimana jika pelaku di balik kerusakan hutan itu kembali ke sini dan melakukan hal yang sama nantinya?"
"Akan kupastikan itu tidak akan terjadi! Selain menghukum mereka, aku akan mengasingkan mereka dari desa ini dan mereka takkan pernah kembali lagi," kata Raisa
Roh kegelapan pelindung hutan kini kembali tenang.
"BAIKLAH! Aku setuju! Tapi, kau harus menepati perkataanmu, DEWI!"
"Tentu saja! Ada beberapa hal lagi yang membutuhkan bantuanmu, wahai roh pelindung. Untuk menghukum para pelaku di balik kerusakan hutan ini, tolong tunjukkan dan beri tahu padaku siapa saja pelaku itu ... bisakah kau?" ujar Raisa bertanya.
"TENTU SAJA! Lihatlah baik-baik, DEWI!"
Roh pelindung hutan pun menjukkan sesuatu seperti hologram ghaib yang merekam semua kejadian kerusakan hutan serta pelaku yang melakukannya.
"Tidak bisa dimaafkan!"
"Ini seperti pemb*nta*an! Walau itu hanya hewan dan tumbuhan, mereka melakukannya secara gila-gilaan. Sangat kejam!"
"Aku sudah mengerti! Terima kasih sudah menunjukkan itu semua pada kami walau kau masih merasaan sakitnya saat kejadian terjadi. Sekarang, maukah kau ikut dengan kami untuk menghukum orang-orang yang bersalah itu, wahai roh pelindung?" ujar Raisa bertanya.
"Baiklah, aku akan ikut!"
"Serahkan padaku, Tuan!"
Roh pelindung hutan bambu itu bergerak merasuk dan menyatu pada tubuh Phoenix. Setelah itu, Phoenix terbang ke atas tubuh Raisa, lalu bergerak turun merasuk dan menyatu ke dalam diri Raisa~
"Aku menyatu ke dalam tubuhmu, Tuan. Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Raisa memang berkata demikian, tapi ia berusaha keras untuk menahan panasnya api yang merasuk pada tubuhnya bersamaan dengan menyatunya Phoenix ke dalam dirinya.
"Kau yakin baik-baik saja, Raisa?" tanya Rumi
Raisa mengangguk pelan.
"Ayo, kita ke luar dari hutan ini! Kita bawa saksi dan bukti kuat untuk menghukum pelaku kekejaman pada hutan bambu," kata Raisa
Aqila dan Rumi pun mengangguk mengerti.
Mereka bertiga pun berjalan ke luar dari pedalaman hutan bambu tersebut.
Dalam perjalanan ke luar dari pedalaman hutan, Raisa mengirimkan pesan suara melalui sihir transmisi suara.
"Ian, keadaan hutan sudah aman! Para roh dan monster sedang dalam gencatan senjata dan tidak akan menyerang desa. Untuk langkah selanjutnya, mintalah bantuan Tuan Derril bersana Chilla untuk mengumpulkan semua warga desa di tengah-tengah desa. Kami juga akan segera datang ke sana," pesan Raisa
"Baik, aku mengerti!" balas Ian
Setelah Ian membalas pesan suara Raisa, sihir transmisi suara pun terputus!
...
Di luar hutan, Devan dan Morgan terus menunggu. Keduanya terlibat pertengkaran kecil. Terlihat Devan sedang menahan Morgan menggunakan jurus sihir pengendali bayangan.
"Sudah lebih dari tiga jam kau menahanku seperti ini, Devan! Apa kau tidak lelah? Kalau terus begini tenagamu akan terus terkuras habis! Lepaskan saja sihirmu pada tubuhku," ujar Morgan membujuk Devan untuk melepaskan jeratan sihirnya.
"Tidak akan! Kalau kulepas yang ada kau malah berlari masuk ke dalam hutan. Kita berdua harus tetap di sini seperti kata Raisa," tolak Devan
"Apa kau tidak khawatir setelah mendengar suara-suara tadi? Kita harus menyusul mereka ke dalam hutan," cemas Morgan
Devan terdiam karena sebenarnya ia juga merasa khawatir dengan ketiga temannya yang masuk ke dalam hutan dan tak kunjung muncul kembali ke luar.
"Kutahu kau juga khawatir. Makanya, cepat lepaskan aku dan kita periksa ke dalam hutan," ucap Morgan
"Lepaskan saja dia, Devan!"
Begitu suara sahutan terdengar, Devan dan Morgan menoleh ke arah hutan. Devan pun melepaskan pengaruh jeratan sihir pengendali bayangannya pada Morgan~
Aqila, Rumi, dan Raisa telah ke luar dari dalam hutan bambu.
"Kami kembali!" seru Aqila
"Kenapa kalian lama sekali? Hari sudah hampir sore, tahu!" oceh Morgan yang langsung menghampiri Aqila begitu jeratan sihir Devan padanya telah terlepas.
"Apa yang terjadi selama kalian di dalam hutan sana?" tanya Devan
"Panjang ceritanya! Ayo, kita kembali ke desa! Mungkin yang lain sudah menunggu di sana," ujar Raisa
"Yang lain maksudmu, Chilla dan Ian?" tanya Morgan
"Tidak hanya mereka berdua, tapi semua warga desa. Aku sudah mengirim pesan dan meminta Ian untuk mengumpulkan semua warga ke tengah desa untuk menyelesaikan masalah kali ini," jawab Raisa
"Jelaskan yang benar dong! Aku tidak mengerti," pinta Morgan
"Kita bicara sambil jalan saja," kata Aqila
Selama perjalanan Rumi-lah yang menjelaskan inti dari semua yang terjadi di dalam hutan bambu.
"Raisa, seorang DEWI?"
"Burung Api Legendaris membantu kalian setelah berhadapan dengan Raisa?"
Di tengah desa, semua warga sudah berkumpul.
"Kita sudah sampai," kata Raisa
"Kalian sudah kembali ... " sambut Chilla
"Aku sudah mengumpulkan semua warga dengan bantuan Tuan Derril seperti yang kau minta, Raisa. Selanjutnya, bagaimana?" ujar Ian bertanya.
__ADS_1
Melihat Aqila, Morgan, Devan, Rumi, dan Raisa telah kembali, para warga langsung menghampiri mereka dan menyernu mereka dengan banyak pertanyaan.
"Itu mereka datang!"
"Apa benar semua masalah sudah selesai?"
"Apa monster-monster itu sudah pergi?"
"Apa desa kami sudah aman?"
"Ayo, beri tahu kami!"
"HARAP SEMUANYA UNTUK TENANG!!"
"Kami datang untuk membantu memecahkan masalah yang terjadi di Desa Bambu dan mencarikan solusinya. Kami susah berhasil menemukan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi dua bulan terakhir dengan beberapa syarat!"
"Apa para monster hutan itu meminta semacam persembahan, pengorbanan, tau tumbal?"
"TIDAK! Para monster adalah makhluk hidup sama seperti kita. Mereka membutuhkan tempat untuk tinggal dan makanan untuk makan. Penyebab mereka datang menyerang desa adalah mereka marah karena hutan tempat mereka tinggal dan mencari makan dihancurkan oleh sekelompok orang! Mereka hanya tidak ingin itu terulang lagi ...."
"Kalian bicara apa? Kami tidak pernah menghancurkan hutan! Karena beberapa dari kami juga bergantung pada hutan itu untuk mencari nafkah! Hutan itu selalu kami jaga!"
"Kenyataannya itulah yang terjadi dan sebab mereka melalukan protes dengan menyerang desa! Kalian ingat saat kesulitan yang terjadi dua bulan lalu sampai membuat kalian harus masuk hutan untuk mencari persediaan pangan untuk seluruh desa? Saat itu, tanpa kalian tahu ada sekelompok orang yang menjarah hasil hutan secara gila-gilaan! Memburu, mengambil, dan membunuh banyak sekali hewan di sana! Di pedalaman yang dianggap sakral bagi penghuni hutan, tempat itu sekarang sangatlah suram karena kerusakan ada di mana-mana! Para hewan yang telah lama menjaga kelestarian hutan menjadi marah! Tak hanya itu mereka juga terbunuh hingga berubah menjadi roh kegelapan yang selama ini memimpin penyerangan ke dalam desa!"
"Hewan menjadi roh? Itu terdengar sangat konyol!"
"Tidak masuk akal! Kami tidak mungkin merusak hutan yang juga sama pentingnya bagi kami!"
"Apa kalian punya bukti atas ucapan kalian?"
"Apa buktinya kalau ada dari kami yang merusak hutan?"
"YA! Mana buktinya?!"
"Kami butuh bukti!!"
Saat itulah, Raisa maju ke depan!
"Jika kami memiliki bukti itu, apa kalian mau percaya? Dan menghukum orang-orang yang bersalah atas kerusakan hutan?" tanya Raisa
"Tentu saja! Orang-orang yang merusak hutan jelas sekali bersalah dan kami akan menghukum mereka!"
"Itu pun kalau kau punya bukti yang jelas dan nyata!"
"Harap kalian menepati ucapan kalian. Karena aku punya buktinya di tanganku! Perhatikan baik-baik," ucap Raisa
Raisa mengangkat satu tangannya dan melakukan sihir elemen api. Muncul api dari tangannya~
"Aku memanggilmu, Helio!"
Dari api sihir pada tangan Raisa, dengan ajaibnya ke luar sosok Burung Api Legendaris ... Phoenix bernama Helio!
Semua orang terkejut! Termasuk juga teman-teman Raisa yang tidak menyangka dengan apa yang mereka saksikan bahwa Raisa dapat memanggil makhluk lrgenda itu dengan sangat mudah.
AHH!!
"Apa itu?!"
"Ada burung yang muncul dari api!"
"Burungnya besar sekali!"
"Apa yang bisa dilakukan monster burung ini?"
"MANUSIA B**D*B! Kalian menghancurkan hutan kami yang berharga! Aku akan melahap kalian dendan apiku untuk menghukum kalian!"
"Monster itu bisa bicara!"
"Tenanglah, Helio! Tidak semua yang ada di sini bersalah dan bertanggung jawab atas kerusakan hutan. Menghukum orang pun harus adil agar tetap tercipta kedamaian..." Ujar Raisa
"Kalau begitu, aku akan memanggil roh pelindung hutan ke sini!"
Dari tubuh Phoenix yang penuh dengan api, asap mengepul ke luar dan berubah menjadi sosok roh pelindung hutan!
"Tadi monster api sekarang roh kegelapan?!"
"Perbuatan kalian sangat kejam karena telah menghancurkan rumah kami dan mengambil anak-anakku!"
"Roh kegelapan ini dulu adalah hewan pelindung hutan saat masih hidup dan telah mati terbunuh karena perburuan. Dia adalah saksi sekaligus korban dari kerusakan yang terjadi di pedalaman hutan bambu," ungkap Raisa
"Kalian lihatlah perbuatan kejam yang telah dilakukan sesama kalian pada rumah kami yang berharga!"
Roh kegelapan pelindung hutan itu menampilkan semacam hologram ghaib seperti yang telah ditunjukkan pada Raisa, Rumi, dan Aqila di dalam hutan sebelumnya.
"Hutannya benar-benar hancur!"
"Itu sungguhan!"
"Tidak mungkin!"
"Itulah yang sebenarnya telah terjadi di pedalaman hutan," ungkap Raisa
"PENIPU!"
"Dia merekayasa buktinya!"
"Roh itu yang memperlihatkan buktinya, bukan aku! Aku tidak menipu siapa pun," kata Raisa
"Dia berbohong!"
"Apa kau punya bukti kalau aku berbohong? Semua orang juga tahu, menuduh tanpa bukti adalah dusta dan fitnah! Aku membawa kunci saksi korban untuk kubuktikan pada semuanya, tapi apa kau punya bukti jika aku berbohong!?" Tanya Raisa
"Kau adalah ahli sihir! Bisa saja kai mengada-ngada bukti itu dengan sihirmu! Kau mengendalikan roh dan monster agar patuh denganmu sampai memberikan bukti palsu!!"
"Bisa saja, kau bilang? Jadi, tuduhanmu hanya asumsi belaka tanpa adanya bukti? Kaulah yang mengada-ada," ujar Raisa
Orang-orang pun mulai bingung. Tapi, teman-teman Raisa tahu bahwa semua bukti itu benar adanya!
"Jadi, siapa yang benar dan bohong?"
"Raisa mengatakan yang sebenarnya, dia berkata jujur tanpa mengada-ngada," bela Rumi
"Ya, kami berdua ikut saat penyelidikan ke dalam hutan. Roh dan monster yang kalian bilanglah yang bersedia mengatakan yang sebenarnya," ucap Aqila
"Hee! Kalian semua berteman, tentu saja kalian saling berkomplot!"
"Kau terus menyangkal bukti yang ada dan sudah diperlihatkan... Apa kau sebebarnya adalah pelaku yang menghancurkan hutan itu?" Ulujar Morgan bertanya.
__ADS_1
"Mana mungkin!"
"Mana mungkin! Itu adalah kalimat tidak lengkap yang ada kelanjutannya! Kalimat lengkapnya seharusnya adalah Bagaimana mungkin kau tahu itu?! Kau mulai gelisah, peluh mulai membasahi wajahmu, tubuhmu menegang dan sedikit gemetar, bola matamu bergerak ke sana ke mari. Kau sedang ketakutan rahasiamu terbongkar," tutur Ian
"Itu tandanya kau yang berbohong! Kau sedang mengkal dan mengada-ada," kata Chilla
"TIDAK!!"
"Kau tidak sendirian saat melakukannya! Di mana komplotanmu? Siapa yang menyuruhmu?" introgasi Devan
"Kubilang bukan aku!"
Orang yang sudah terpojok itu melemparkan sesuatu ke tanah dan sekeliling pun di penuhi oleh asap~
Uhuk... Uhuk!
"Itu bom asap!"
"Dia kabur!"
"Itu menandakan dia bersalah! Dia adalah salah satu pelaku!"
"Bagaimana ini? Tidak ada yang melihat ke mana perginya!"
"Kita semua harus menghukumnya!"
"TETAP TENANG, SEMUANYA!!"
"Ian, cari dan kejar orang tadi! Kami akan menyusul setelah ini," bisik Raisa
"Baiklah. Aku pergi dulu," kata Ian
Ian pun memisahkan diri dari kerumunan dan mencari orang yang melarikan diri tadi dengan menggunakan sihir pelacak miliknya.
"Orang tadi berada di desa ini. Kalian semua pasti mengenalnya, kan?" tanya Raisa
"Dia jarang terlihat, mungkin dia juga orang baru di sini."
"Kalau begitu, mungkin ada orang yang mempekerjakannya di sini," tebak Aqila
"Itu pasti orang yang menyuruhnya dan dalang dari kehancuran hutan," celetuk Morgan
"Wahai roh pelindung, tolong tunjukkan lagi pada kami orang-orang yang melakukan kerusakan pada hutan," pinta Raisa
"Baiklah ...."
Roh pelindung hutan kembali menunjukkan kejadian saat sekumpulan orang memperlakukan hutan dengan kejam! Saat itu juga, Raisa menambahkan sihirnya agar apa yang ditunjukkan oleh roh pelindung dapat terlihat semakin jelas dan besar~
"Coba perhatikan orang-orang itu! Pasti ada salah satu dari mereka yang kalian kenal! Atau dengarkan apa yang mereka bicarakan! Mungkin saja mereka menyebut nama seseorang yang menyuruh mereka," ucap Raisa
"Sepertinya satu, dua orang itu terlihat tidak asing ...."
Orang-orang di sana mencoba mengenali wajah dari sebagian kelompok orang yang merusak hutan. Namun, seberapa banyak tenaga sihir yang Raisa tambahkan untuk menampilkan apa yang ingin roh pelindung perlihatkan pada semuanya, tetap saja tampilan itu tidak bisa terlihat sangat jelas.
"Aku berada jauh dari hutan, kekuatanku semakin berkurang. Apa lagi hari belum malam, tidak banyak sisa tenagaku untuk memperlihatkan kejadian saat itu ...."
"Makanya, aku berusaha menambahkan tenaga sihirku untukmu, tapi tetap saja tidak bisa melihat dengan jelas ... " ujar Raisa
"Kalau begini, Tuan Philip pasti senang dan keinginannya untuk jadi Pemimpin Desa bisa cepat terwujud!" Terdengar suara samar dari rekaman ghaib yang ditunjukkan roh pelindung hutan.
"Itu dia! Mereka orang-orang suruhan Tuan Philip!"
"Siapa itu Tuan Philip?" tanya Chilla
"Karena desa kami desa terpencil di antara dua negara dan masih belum bergabung dengan negara mana pun sebagai bagian dari desa dua negara terdekat, Tuan Philip mengusulkan untuk menjadikan desa ini desa yang berdiri kokoh walau tanpa negara sebagai sandaran dan mencalonkan diri sebagai pemimpin desa. Dia adalah orang terkaya di desa ini," ungkap Tuan Derril
"Jadi, selama ini harta yang digunakan Tuan Philip untuk mencalonkan dirinya sendiri menjadi Pemimpin desa adalah hasil perburuan gelap di hutan bambu! Tidak bisa dibiarkan!"
"Jangan-jangan barang dan makanan yang diberikan pada kami selama musim kemarau yang sulit kemarin adalah hasil penjualan dari buruan hutan?!!"
"Pantas saja para penghuni hutan marah dan menyerang ke dalam permukiman desa!"
"Orang seperti ini harus dihukum demi kedamaian desa!"
"Hukum Tuan Philip!"
"Apa kalian tahu di mana tempat tinggal Tuan Philip?" tanya Devan
"Tentu saja! Ayo, kanmi bawa kalian ke sana!"
"Helio, kembalilah.!" seru Raisa
Setelah Raisa berkata demikian, roh pelindung hutan kembali menyatu pada tubuh Phoenix, lalu Phoenix kembali merasuk ke dalam tubuh Raisa~
Setelah mengetahui siapa dalang dari kerusakan hutan, para warga berbondong-bondong pergi ke rumah tersangka bersama-sama untuk meminta tanggung jawab dan keadilan...
"Tuan ... Tuan Besar!"
"Ada apa kau datang terburu-buru sambil teriak seperti itu?"
"Gawat, Tuan!"
"Apanya yang gawat? Bicara yang jelas!"
"Aktivitas rahasia kita di pedalaman hutan bambu itu sudah terbongkar! Ini semua karena orang-orang yang datang dari Desa Daun itu! Mereka sudah menyelidiki semuanya, mereka sudah dapat bukti bahkan roh dan monster sekarang berpihak pada mereka. Kita pasti tersudutkan! Para warga bahkan percaya pada nereka! Mungkin sekarang para warga sedang menuju ke sini untuk meminta penjelasan dan tanggung jawab!"
"Oh, kita sudah ketahuan, ya ...."
"Tuan, kenapa Anda tenang sekali?"
"Untuk apa harus cemas dan gelisah? Kita bisa menyangkal bukti itu dan bilang itu hanya bukti palsu! Selama mereka tidak bisa nenemukan bukti pasti di tempat kita semuanya pasti aman! Barang-barang hutan itu selain sebagian sudah terjual, sebagian lainnya sudah disembunyikan dengan baik! Tidak ada bukti transaksi karena ini ilegal, tempat persembunyian pun takkan dapat mereka temukan!"
"Ternyata, begitu! Tuan memang cerdas dan hebat!"
"Tentu saja! Kita harus tenang. Kau pasti membuat mereka mencurigaimu karena menunjukkan dirimu cemas dan gelisah. Kalau kau begitu lagi, aku takkan diam saja!"
"Maafkan aku yang sudah ceroboh, Tuan! Aku takkan melakukan kesalahan lagi setelah ini ...."
...
Diam-diam, Ian yang diminta mencari orang yang kabur sebelumnya sudah menemukannya.
"Ternyata mereka semua ada di sini," gumam Ian
.
__ADS_1
•
Bersambung...