
Setelah menahan rasa canggung dengan terus berdiam diri di dalam kamar masing-masing, akhirnya setelah makan siang semua pun berkumpul bersama. Saling bercerita dan mendengar cerita. Tanpa membedakan, semua saling melengkapi kebersamaan...
"Kak Raina, Farah mana? Masih belum bangun tidurnya?" Tanya Raihan
"Iya, masih tidur. Kalau terus tidur nyenyak begitu biasanya Farah bangun waktu udah sore, nanti baru lanjut tidur lagi kalau udah malam." Jawab Raina
"Oh, ya, Raisa... Kakak udah tahu soal inti kekuatan sihir kamu yang berlambang Bunga Teratai Putih dari Ibu, tapi sebenarnya apa arti dari lambang itu sih? Kok kamu bisa bilang kekuatan itu punya arti yang murni?" Tanya Raina
"Ya, emang itu artinya. Bunga Teratai Putih sebagai inti kekuatan sihir memiliki arti kekuatan yang murni. Yang berarti kekuatan ini murni untuk hal baik, seperti untuk menolong. Punya kekuatan ini pun niatnya harus benar-benar murni tanpa kejahatan, sekalinya punya niat jahat sedikit aja sewaktu menggunakan kekuatan sihir ini bisa berakibat fatal bagi pengguna sihir ini. Salah-salah jika sudah dikuasai amarah jahat saat menggunakan sihir bisa saja berakibat pada kematian, makanya harus pandai menjaga dan mengontrol emosi. Bagi sebagian orang lambang Bunga Teratai Putih ini juga punya arti yang kurang baik, bukan arti yang jahat juga sih. Sebenarnya banyak orang yang iri melihat pemilik sihir seperti ini, jadi sejak dulu pemilik sihir ini sering menutupi identitasnya dengan penyamaran sampai orang-orang yang mengincar kekuatan ini sering menyebut pemilik sihir ini sebagai ahli penyamaran. Sebenarnya pemilik sihir ini bukan maunya juga melakukan penyamaran, tapi kalau bukan dengan cara menyamar akan lebih banyak orang yang memburu kekuatan pemilik sihir ini." Jelas Raisa
"Kalau begitu, kamu harus terus berhati-hati saat sedang menggunakan sihir, Raisa. Jangan sampai membuat orang mengincarmu." Ucap Pak Hilman
"Pantas aja tadi Raisa bertanya apa akan ada saudara-saudaranya yang akan benci atau iri saat mengetahui dialah yang mewarisi bakat sihir leluhur ini. Ternyata anakku sudah tahu semuanya juga takut ada orang yang jadi akan mengincar dirinya." Batin Bu Vani
Menjelaskan sejauh ini, Raisa melihat Ibu nya terus terdiam. Raisa mengetahui jika dang Ibu sebenarnya terus merasa khawatir, tapi memilih untuk menyembunyikan rasa khawatirnya itu.
Raisa pun tersenyum lembut...
"Iya, Pak. Aku selalu hati-hati kok. Makanya, di sini aku selalu pakai penyamaran saat sedang menggunakan sihir. Kejadian sewaktu datang ke vila ini sih pengecualian, tapi lain kali aku pasti selalu ingat untuk lebih hati-hati lagi kok." Ucap Raisa
"Gimana kamu bisa tahu tentang sihir yang tiba-tiba kamu miliki padahal sihir adalah hal yang mustahil di sini, Raisa?" Tanya Arka
"Dari mimpi! Setelah pertama kali tiba-tiba aku bisa menggunakan sihir, sebenarnya malam harinya aku bermimpi aneh. Di dalam mimpi itu aku sendiri berdiri di tengah-tengah kolam dangkal. Karena lemah terhadap dingin aku tenggelam begitu saja, lalu entah bagaimana aku bisa sadar setelah lama tenggelam seolah ada kekuatan yang menuntun supaya aku bisa menyelamatkan diri. Kolam itu seperti tempat uji nyali, aku terus berusaha supaya bisa selamat, aku malah kembali ke tempat semula dan tiba-tiba saja muncul bunga teratai putih tepat di depanku, ukurannya besar dan bercahaya. Bunga itu cantik, aku berusaha menggapainya setelah berhasil menyentuhnya seperti ada yang merasuk ke dalam diriku. Dengan ajaibnya, bunga itu bicara! Dia menjelaskan semuanya dan mengungkapkan siapa sebenarnya aku ini. Ternyata itu adalah inti kekuatan yang menuntunku untuk bicara dengannya, dengan yang berada di dalam diriku sendiri. Bunga Teratai Putih itulah lambang dari kekuatan sihir milikku. Mimpi yang aneh, tapi ajaib bukan? Setelah mimpi itu dan aku menyadari takdir spesial ini, aku terus bermimpi tentang hal ajaib lainnya. Yaitu, mimpi tentang dunia lain tempat semua temanku ini tinggal di dimensi yang berbeda. Semua mimpi itu seperti takdir yang menuntun ke jalan yang seharusnya memang terjadi, aku pun bertemu dengan mereka semua. Dan di sewaktu saat aku memberikan semua temanku koneksi dengan lambang inti sihirku supaya aku bisa mendeteksi keadaan mereka. Mereka semua punya lambang inti sihirku di setiap telapak tangannya seperti yang pernah aku bilang sebelumnya." Ungkap Raisa
"Lambang Bunga Teratai sihir yang kamu bilang itu, yang kamu kasih ke semua teman dan juga kamu taruh di rumah berfungsi seperti pendeteksi. Maksud sebenarnya bagaimana sih?" Tanya Bu Vani
"Mereka dan rumah kita yang aku beri lambang itu terhubung langsung dengan sihirku yang berarti terhubung langsung denganku. Aku bisa mengetahui keadaan mereka, seperti jika mereka dalam bahaya aku bisa tahu dan jadi bisa langsung mencari dan menolongnya. Di rumah juga begitu, kalau rumah kita sedang dalam bahaya seperti ada pelaku kejahatan di sana aku bisa langsung tahu." Jelas Raisa
"Seperti aku yang pernah terluka di tempat yang jauh, Raisa langsung bisa menemukanku dan menolongku. Saat itu kebetulan Raisa baru saja tiba untuk berkunjung dan berlibur di dunia kami." Ungkap Rumi
"Sepertinya aku juga harus kasih tanda ini untuk orang-orang rumah ya? Biar jadi adil kan... Ayo, coba tunjukkan satu tangan kalian." Ujar Raisa
"Harus banget ya? Kalau ternyata di antara kita cuma dapat luka kecil dan langsung terhubung ke kamu, kan kamu sendiri yang bakal repot harus langsung cari keberadaan kita, Raisa." Tolak halus Raina
"Sepertinya cara kerjanya tidak begitu deh? Kami juga sering sekali mendapat luka kecil saat berlatih di dunia kami, tapi tanda pendeteksi itu tidak muncul karena hal kecil seperti itu kok." Ucap Morgan
"Yang Morgan bilang, benar! Tanda ini tidak bekerja saat seseorang mendapat luka kecil, tapi akan langsung bekerja saat seseorang terluka atau mendapati hal yang sampai tahap membahayakan dan berbahaya. Dan juga, tanda ini bukan hanya terhubung denganku saja, tapi kalian yang punya tanda dariku ini juga bisa saling terhubung. Namun, bedanya kalau aku bisa langsung tahu siapa yang sedang dalam bahaya itu karena akulah pusat kekuatan ini berasal, sedangkan yang lain masih harus mencari tahu sendiri siapa orang yang dalam kondisi bahaya itu." Jelas Raisa
"Kalau begitu, lebih merepotkan dong? Saat kita tahu ada yang terluka atau dalam kondisi bahaya, tapi kita masih harus cari tahu sendiri siapa orang itu sambil terus merasa khawatir?" Ujar Arka
"Sepertinya aku juga baru menyadari bahwa betapa merepotkannya cara kerja tanda ini!" Gumam Devan
"Sepertinya kami tidak perlu pendeteksi ini. Kami malah takut merepotkan kamu dan bikin kamu khawatir berlebihan sama kami yang ada di sini. Lagi pula, tingkat bahaya di sini sepertinya lebih rendah dari pada di dunia yang penuh ilmu sihir itu. Jadi, kami tidak terlalu membutuhkannya. Jangan khawatir, Raisa sayang, kami di sini pasti baik-baik aja." Ucap Bu Vani
..."Sebenarnya, karena kalian yang di sini tidak memiliki ilmu sihir-lah yang membuatku khawatir. Kalau mereka yang di dunia yang banyak ilmu sihir sih masih bisa saling membantu dengan kemampuan sihir mereka saat terjadi hal yang membahayakan ketika aku tidak ada, tapi kalian yang di sini tidak punya kemampuan seperti mereka di sana itulah yang membuatku khawatir. Kalau misalkan ada orang dari dunia sihir itu yang menerobos dimensi dan masuk ke dunia ini seperti yang pernah terjadi sebelumnya dan orang-orang itu mengincar kalian karena aku, bagaimana? Bagaimana kalau saat itu aku tidak ada untuk melindungi orang-orang yang kusayangi di sini?" Batin Raisa...
"Padahal aku udah siap untuk nerima tanda itu, tapi kayaknya emang gak perlu-perlu banget sih!" Kata Raihan
"Ahaha, ya udah. Kalau kalian merasa gak terlalu butuh juga gapapa. Aku gak maksa kok." Ucap Raisa
"Padahal menurut kami tanda ini sangat berguna loh. Setidaknya kami bisa tahu ada yang sedang membutuhkan bantuan kami, kami hanya perlu sedikit lebih mencari tahu saja." Ungkap Aqila
"Tidak apa. Pendapat orang kan berbeda. Dunia ini kan tempat tinggalku, aku akan lebih sering berada di sini untuk tahu langsung keadaan keluargaku, tidak ada tanda dariku juga tidak masalah. Tapi, untuk kalian semua yang tinggal di dunia yang berbeda denganku jangan harap aku menghapus tanda itu dari kalian. Kalian harus tetap memilikinya dan tidak boleh menolak atau membantah!" Ujar Raisa
"Mode galakmu muncul lagi, Raisa. Seperti kata Aqila, kami membutuhkan tanda darimu ini untuk saling terhubung. Untuk masalah mencari tahu itu tidak masalah bagi kami, kami juga punya kemampuan lebih untuk menangani hal itu. Kami sering kali berjauhan saat menjalankan misi, adanya tanda darimu ini sangat efektif bagi kami untuk bisa cepat saling membantu satu sama lain. Seperti katamu juga, pendapat orang memang berbeda-beda." Ucap Ian
"Kau bijak menilai situasi juga rupanya, Ian." Kata Chilla
"Kalau kami, kami sangat berterima kasih karena adanya tanda darimu ini, Raisa." Ujar Amy
"Aku merasa sepertinya sudah menjadi tugasku memberikan kalian tanda itu dan memastikan kalian tetap aman. Jadi, tak perlu sungkan." Kata Raisa
"Padahal sepertinya Raisa sangat khawatir pada keluarganya di sini." Batin Rumi
"Udah jam segini, aku mau cek Farah dulu di kamar." Kata Raina
Raina pun beranjak menuju kamarnya untuk memeriksa putrinya yang sedang tertidur. Tak butuh waktu lama, Raina kembali berkumpul dengan membawa Farah di dalam gendongannya dengan mata yang masih sedikit sayu khas orang baru bangun tidur.
__ADS_1
"Oh, Farah-nya udah bangun ya..." Ujar Raisa
"Iya, nih. Pas kakak masuk, Farah udah lagi duduk di atas kasur. Untung dia gak nangis pas lihat gak ada Mami-nya atau merasa asing sama sekitar." Ucap Raina
"Mih, ini di mana sih? Kok bukan di lumahnya Nenek Kakek?" Tanya Farah yang baru tersadar dengan berbedanya suasana tempatnya saat ini.
"Ini di vila tempat liburan, sayang. Kita semua di sini mau liburan ramai-ramai bersama. Farah mau kan nginep di sini?" Kata Raina
"Semuanya di sini? Bareng-bareng gak ada yang pulang ninggalin Falah kan?" Tanya Farah
"Iya, semuanya bareng-bareng di sini. Nanti pulangnya bareng-bareng, semuanya juga nginep di sini." Jawab Raina
"Ya udah, aku mau inep di sini." Kata Farah
"Tumben nurut. Biasanya rewel minta pulang." Ujar Arka
"Makanya, kamu juga jangan bahas soal pulang di depan Farah dong! Gimana sih!?" Tegur Raina
"Kok tiba-tiba kita ada sini ya? Kapan kita ke sininya, Mih?" Tanya Farah
"Tadi Farah tidur, jadi gak tahu kalau kita pergi ke sini." Jawab Raisa
"Naik apa ke sininya, Onty?" Tanya Farah
"Pakai sulapnya Onty Raisa dong! Keren kan, Farah?" Ujar Raihan
"Kita semua sengaja pergi pas Farah tidur supaya dia gak banyak nanya tentang itu, kok kamu malah kasih tahu sih, Raihan!" Sebal Raina
"Ehehe, maaf, kak. Lupa!" Kata Raihan
"Sulap? Kok aku gak dibangun? Aku kan juga mau lihat sulap!" Kesal Farah dengan protesnya.
"Sudahlah, kak. Gapapa, sudah terlanjur dikasih tahu juga. Bukannya Farah gak dibangunin, sayang. Tapi, tadi Farah nyenyak banget tidurnya sampai Farah gak sadar kalau tadi Aunty yang gendong Farah pas ke sini." Ujar Raisa
"Onty gendong aku? Aku gak tahu, tadi ngantuk banget sih!" Kata Farah
"Mau main sama Onty!" Rengek Farah
"Makan dulu baru main ya, nanti sambil makan kan bisa sambil main sama Onty juga." Bujuk Raina
"Iya, Farah makan dulu. Nanti kita main bareng sama teman-teman Onty juga." Ujar Farah
"Ya udah deh." Patuh Farah
"Kalau begitu, kita ambil makannya dulu yuk, sayang." Kata Raina
Raina pun mengajak Farah bersamanya menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Setelah itu, Farah makan sambil bermain dengan Raisa dan semua temannya. Hari ini Farah sangat lengket dengan Raisa, apa pun ingin dilakukannya bersama Onty kesayangannya itu.
Malam harinya...
Di waktu makan malam, Bu Weni dan Pak Danu kembali datang ke vila untuk menyiapkan makanan.
Usai makan malam semua terus kembali berkumpul untuk saling mengenal dengan proses pendekatan satu sama lain antara keluarga Raisa dan teman-temannya. Semua saling bercengkrama sambil bermain karena bagaimana pun ada seorang anak kecil di antara mereka semua yaitu Farah dan Raihan.
Sampai waktu untuk tidur, Farah masih saja bermain dengan Om, Onty, dan teman-temannya.
"Farah, bobok yuk, sayang. Udah malam nih, besok main lagi sama Om, Onty, dan semuanya juga." Ajak Raina
"Aku masih mau main, Mih." Tolak Farah
"Farah, nurut sama Mami ya. Bobok dulu, besok kita ngumpul dan main bareng lagi." Bujuk Raisa
"Tapi, aku masih mau sama Onty aja." Kata Farah
"Kok begitu? Kan ada Mami Papi, bobok yuk, sayang." Ujar Arka
Farah menggeleng kecil sembari memeluk tubuh Raisa dengan cukup erat menandakan tak ingin berpisah.
__ADS_1
"Gimana kalau Farah bobok sama Aunty aja? Udah malam juga, udah waktunya untuk bobok. Mau gak bobok bareng Aunty?" Ujar Raisa
"Sama Onty? Mau!" Girang Farah
"Farah kan udah main terus seharian ini sama Onty, boboknya sama Mami Papi aja, besik baru main lagi sama Onty. Kasihan Onty-nya capek mau bobok juga, sayang." Bujuk Raina
"Sudahlah, kak. Biar malam ini Farah tidur sama aku, berdua di kamar. Kamar yang aku pakai juga cukup besar, jadi gapapa." Ucap Raisa
"Udah gapapa, biar Farah sama Raisa aja. Jadi adiknya Farah bisa on the way." Bisik Arka
"Kamu ngomong apa sih? Gimana kalau mereka dengar!" Tegur Raina berbisik.
"Sudah, Kak Raina dan Kak Arka istirahat duluan aja. Habis ini aku langsung bawa Farah tidur di kamar kok." Ucap Raisa
"Farah benar gak mau sama Mami Papi? Ya udah, Farah boleh bobok sama Onty tapi jangan nakal ya. Titip Farah ya, Sa." Ujar Raina saat melihat anaknya tetap melekat dengan Raisa.
"Siap, kak! Dadah dulu dong sama Mami Papi." Kata Raisa
Farah pun melambai pada kedua orangtuanya. Raina dan Arka pun membalas lambaian tangan sang anak.
"Kayaknya kamu udah jadi idolanya Farah sejak dia tahu kamu bisa sulap, Raisa." Ujar Arka
"Haha, iya mungkin kali." Kata Raisa
"Mami Papi tinggal ya. Ingat jangan nakal, nurut sama Onty ya, sayang." Ucap Raina
Farah pun mengangguk.
Raina dan Arka pun melenggang pergi nenuju kamar mereka meninggalkan anaknya untuk dititipkan dengan Raisa. Untung saja di usianya kini, Farah tidak lagi meminum ASI dengan Mami-nya. Jadi, kemungkinan akan rewel pun hanya ada sedikit saja.
"Sebelum bobok Aunty biasanya minum susu dulu. Farah mau juga gak, nanti kita bikin susu sama-sama. Kita bikin minuman buat semuanya, Raihan kamu bantu juga ya." Ucap Raisa
"Mau dong, Onty. Susu!" Kata Farah
"Iya, aku bantu." Patuh Raihan
"Sepertinya kamu akan kesulitan, biar aku bantu juga ya, Raisa." Ucap Aqila
"Aku juga mau bantu!" Sambar Amy
"Aku juga akan membantu." Kata Rumi
"Ya sudah. Amy, Aqila, Rumi, Raihan, bantu aku. Yang lain mau dibuatkan minuman apa, bilang saja." Ujar Raisa
Setelah yang lain menitip pesanan untuk dibuatkan, Amy, Aqila, Rumi, dan Raihan pun membantu Raisa di dapur karena Raisa harus sambil menggendong Farah.
Setelah semua minuman telah dibuatkan, Raihan, Raisa, dan Farah diminta untuk menuju kamar mereka lebih dulu. Masalah membawa semua minuman yang sudah disiapkan itu, biar jadi urusan Amy, Aqila, dan Rumi saja.
"Kalau begitu, mohon bantuannya ya." Ujar Raisa
"Tidak masalah. Kalian tidur saja lebih dulu." Kata Amy
"Ya, kasihan Farah sudah malam begini masih tidur. Biar kami yang bawakan munuman lainnya pada teman yang lain." Ucap Aqila
"Kalau begitu, aku duluan ya, semuanya. Udah ngantuk nih." Kata Raihan yang langsung berlalu pergi.
"Selamat malam, Raisa. Tidur yang nyenyak, Farah. Sampai jumpa lagi besok." Ucap Rumi
"Selamat malam. Terima kasih, semuanya. Aku dan Farah duluan ya. Sampai besok..." Ujar Raisa
Raisa pun menggendong Farah menuju kamar tidurnya dengan membawa minuman mereka di tangan. Farah memegang botol susunya dendiri dan Raisa membawa gelas susunya dengan satu tangannya. Keduanya meninggalkan Amy, Aqila, dan Rumi di dapur untuk menuju kamar tidur...
.
•
Bersambung...
__ADS_1