Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
110 - Berhasil Membalas!


__ADS_3

"Maafkan aku, Raisa. Kumohon jangan diamkan aku seperti ini." Mohon Rumi


"Kau berkata seperti itu, tapi kau sendiri tak tahu apa kesalahanmu?" Ujar Raisa dengan nada dingin.


"Aku memang tidak mengerti alasan di balik kemarahanmu. Jadi, kumohon katakanlah agar aku bisa memperbaikinya." Ucap Rumi


"Aku tidak suka!" Ketus Raisa dengan tegas dan cepat.


"APA?!" Kaget Rumi


Jika sampai kemarahan Raisa membuatnya jadi tidak suka pada Rumi lagi... Apa yang akan dilakukan lelaki itu? Apa yang akan Rumi perbuat untuk membuat Raisa tidak lagi marah padanya? Apa usahanya nanti akan membuat Raisa menerimanya kembali dan memaafkannya? Yang sudah pssti, Rumi takut akan kemungkinan terburuk yang akan menimpa hubungannya dengan Raisa. Yang jelas, Raisa sudah menjadi sebagian dari kehidupan Rumi. Kini, Raisa telah menjadi separuh jiwa Rumi...


"Apa maksudmu, Raisa?" Tanya Rumi dengan sangat hati-hati agar tidak sampai menyinggung perasaan Raisa jika sampai salah bicara, takut menambah kemarahan Raisa padanya.


Rumi mengharapkan jawaban yang baik-baik dari Raisa yang juga tetap baik untuk kelangsungan hubungan mereka berdua. Rumi pun menatap Raisa dengan penuh harap dan rasa cemas...


"Aku tidak suka dengan sikapmu! Kau pernah berkata akan memenuhi keinginanku, menuruti kataku, dan lebih dulu meminta izinku. Untuk apa pun itu... Tapi, selain memenuhi keinginanku, kau tidak melakukan seperti katamu yang lain. Kau sering masuk ke dalam kamarku tanpa izin, kau juga sering menciumku tanpa izin dariku bahkan walau aku sudah berusaha menolak. Lalu, mana katamu yang ingin melakukan apa pun dengan seizinku? Saat aku menyadari itu semua sekarang, itu membuatku jadi tidak suka! Kau membuat posisiku jadi sulit dan tertekan. Baru sekarang aku menyadarinya dsn apa yang harus kulakukan? Kurasa, menjauh darimu adalah jawaban dan pilihan yang terbaik saat ini. Jadi, kumohon kerja sama darimu untuk tidak muncul atau berada di dekatku untuk sementara waktu ini. Aku masih harus menenangkan diri dan berpikir untuk hubungan kita ke depannya..." Ungkap Raisa


"Tidak, Raisa... Jangan seperti ini! Aku tidak bisa berjauhan denganmu, aku sudah cukup menahan rindu saat tak bisa melihatmu saat kita berada di dunia yang berbeda. Kumohon jangan mendorong diriku untuk menjauh darimu. Aku sudah tahu salahku, biarkan aku memperbaikinya ya... Jangan berkata seperti itu, biarkan aku tetap berada di dekatmu." Ucap Rumi memohon.


"Inilah salah satu alasanku tidak suka dengan sikapmu. Kau terlalu lemah padahal aku hanya meminta hal yang tidak sulit. Aku hanya minta waktu untuk sementara sendiri untuk menenangkan diri dan berpikir, tapi kau sudah memohon sampai seperti ini dan membuatku juga menjadi lemah dan tidak tega denganmu. Bagaimana aku tidak tertekan kalau begini? Bagaimana jika aku meminta permintaan yang jauh lebih sulit dari pada ini?" Ujar Raisa


"Tidak, Raisa. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu, tapi aku pun tidak bisa jika seperti ini." Kata Rumi


Ekspresi wajah Rumi saat ini tertekuk karena sangat sedih mendengar perkataan yang Raisa ucapkan, kata demi kata... Mungkin juga, Rumi sudah hampir ingin menangis saat ini. Saking merasa sedihnya...


"Sudahlah, Rumi... Mungkin permintaanku kali ini juga bisa untuk membuatmu belajar menahan diri dan bersabar. Jangan mencegahku dan lepaskan aku!" Ucap Raisa


Raisa berbalik dan mencoba melepaskan cengkraman tangan Rumi pada tangannya...


Bukannya melepaskan, Rumi malah mengeratkan cengkramannya pada lengan Raisa.


"Baiklah... Jika, kau ingin diberi waktu untuk sendiri sementara ini. Tidak apa, tapi kumohon jangan mencoba berpikir untuk hubungan kita ke depannya. Maksudku, jangan pernah ragu akan perasaanku dan jangan memutuskan hubungan kita ini. Jika, untuk sementara aku masih bisa menahannya, tapi tidak bisa lebih dari ini lagi." Ujar Rumi


"Sungguh? Kau bisa yakin?" Tanya Raisa


Raisa tersenyum tanpa berbalik untuk melihat Rumi...


"Iya. Raisa, kau tersenyum?" Jawab Rumi yang lalu terheran dengan tingkah Raisa yang tiba-tiba tersenyum.


Pfft!


Raisa menahan tawa kecilnya dengan sebelah tangannya...


Raisa pun berbalik dan terkekeh kecil~


"Kau tertawa?" Bingung Rumi


"Lihatlah, ekspresimu itu! Sangat panik dan lesu... Aku hanya bercanda. Aku mengerjaimu, tahu!" Ucap Raisa mengungkapkan akalnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Rumi


"Kau sudah terkena! Sudah kubilang bukan? Aku mengerjaimu, aku hanya bercanda. Aku tidak sungguh-sungguh marah padamu. Maaf ya, sudah membuatmu sedih. Kau juga pasti sangat kesal." Ujar Raisa


"Syukurlah... Syukurlah, jika kau tidak marah padaku. Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi


Rumi menundukkan pandangannya yang mungkin sedang berusaha untuk mengatur kembali perasaannya setelah campur aduk barusan.

__ADS_1


Raisa tersenyum hangat dan meraih tangan Rumi yang masih mencengkram kuat lengannya untuk digenggamnya. Raisa mengusap pelan tangan Rumi dengan lembut untuk menyalurkan perasaan tenang dan meredakan perasaannya yang kacau...


Raisa sangat mengerti perasaan Rumi. Rumi bahkan tidak berbalik marah padanya dan malah mengucap syukur setelah tahu Raisa tak marah padanya. Itu artinya perasaan Rumi pada Raisa sangatlah dalam~


"Maafkan aku yang sudah merencanakan ini. Aku tidak marah padamu kok. Tapi...! Walau pun aku menerima semuanya tentang dirimu, sebenarnya aku memang kurang suka dengan sikapmu yang berbanding terbalik dengan katamu yang mau melakukan apa pun dengan seizinku. Memang tidak sampai membuatku tertekan sungguhan, tapi aku tetap kurang menyukainya. Aku harap kau bisa mengerti maksudku melakukan rencana ini, yaitu untuk membuatmu sedikit sadar bahwa aku memiliki sedikit ketidak-nyaman dengan sikapmu yang kusebutkan tadi. Aku hanya ingin meluruskan semua ini dengan cara memasukan bumbu gurauan denganmu. Ya, walau caraku yang jujur ini memang terbilang kelewatan. Aku juga ingin membalas sikap jahilmu sebelumnya. Aku juga tidak suka sikap jahil itu ada pada dirimu! Akhirnya, aku berhasil membalasmu! Haha... Sekali lagi, maafkan aku ya, Rumi." Ungkap Raisa dengan sejujurnya.


"Aku mengerti! Tidak apa, aku memang jadi mengerti perasaanmu juga jika seperti ini. Ternyata, hubungan kita memang benar-benar pengalaman pertama bagiku. Aku jadi sedikit kelewatan menyampaikan perasaanku padamu tanpa memikirkan keseluruhan perasaanmu sampai membuatmu kurang nyaman saat menerima perasaanku yang berlebihan itu. Aku minta maaf padamu ya, Raisa..." Ucap Rumi


"Sudahlah, bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga salah di sini. Aku juga minta maaf padamu. Aku juga bisa menerima dan mengerti jika kau tidak bisa memaafkanku kali ini. Tidak memaafkanku juga tidak apa..." Ujar Raisa


"Tidak, aku memaafkanmu kok. Tapi, untuk kali ini... Bisakah aku menciummu? Tidak! Bolehkah, Raisa?" Rumi mengganti katanya dari bisakah menjadi bolehkah untuk meminta izin dari Raisa terlebih dulu.


"Eit, sekarang ini kau sedang langsung mengambil kesempatan saat ini juga setelah kejadian tadi itu ya?" Tanya Raisa


"Tidak, bukan begitu! Tidak boleh ya?" Kata Rumi


"Kau sekarang ini pasti sangat kacau ya, Rumi?" Raisa mencoba mengerti perasaan Rumi setelah usai mengerjainya tadi.


Rumi mengangguk pelan...


"Baiklah, kalau begitu... Boleh saja." Kata Raisa


Rumi pun menatap Raisa dengan senyuman lembutnya.


"Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi


Tangan Rumi pun langsung bergerak menarik dan merangkul pinggang Raisa ubtuk lebih dekat dengannya... Satu tangannya yang lain menyrntuh pipi Raisa dengan lembut dan manja~


Tangan Raisa ditaruhnya di pundak Rumi. Dan Rumi pun mulai mendekat dengan aksinya...


CUP!


Raisa dan Rumi pun saling menutup mata untuk merasakan perasaan masing-masing dalam aksi ciuman itu.


Bersatu dengan kecupan, mulai berganti menjadi *******, akhirnya perasaan kacau dari Rumi dan perasaan Raisa yang menerimanya untuk memberi penghiburan membuat keduanya membuka mulut masing-masing dan saling berbagi nafas satu sama lain. Tak hanya itu, Rumi pun mulai mengabsen setiap inci dan mengobrak-abrik isi mulut Raisa dan saling bertukar s*liva.


Tangan Rumi berpindah untuk menekan tengkuk Raisa agar ciuman mereka menjadi lebih dalam dan tak mudah lepas. Keduanya saling berbagi perasaan yang sama tanpa ada yang berbeda sedikit pun!


Ciuman itu bertahan cukup lama hingga keduanya mulai terengah-engah merasakan sensasi yang luar biasa yang telah tercipta. Saat sudah merasa kehilangan oksigen untuk bernafas, Raisa pun mendorong tubuh Rumi untuk menyudahinya...


Kali ini, Rumi pun menerimanya dan langsung menjauh sedikit dari Raisa~


"Huahh... Hhh~ Aku kehabisan nafas!" Pelan Raisa


GREP!


HUGS~


Rumi langsung bergerak mendekap Raisa dan memeluknya dengan sangat erat.


"Terima kasih banyak, Raisa... Kerena kau sudah mau menerimaku, memaafkanku, dan untuk yang barusan tadi itu." Ucap Rumi


"Longgarkan sedikit pelukanmu, aku masih sulit bernafas..." Pinta Raisa


Rumi pun menuruti permintaan Raisa dan melonggarkan pelukannya. Raisa pun langsung membalas pelukan Rumi.


"Maaf, sudah membuatmu merasa sulit dengan rencanaku tadi. Lain kali, cobalah untuk lebih bersabar karena aku tahu kau pasti bisa melakukannya." Kata Raisa

__ADS_1


"Aku mengerti! Aku mencintaimu, Raisa!" Ucap Rumi


Raisa pun melepaskan pelukannya dari Rumi...


"Kau bilang apa barusan? Apa aku tidak salah dengar? Kau mengatakan... Cinta?" Tanya Raisa


Takut salah mendengar, Raisa langsung menanyakannya. Biasanya, Rumi hanya sebatas mengatakan suka atau sayang, tapi kali ini yang didengarnya adalah kalimat CINTA.


"Kau tidak salah dengar. Benar, aku mengatakannya. Awalnya, aku memang menyukaimu dan ingin selalu bersamamu. Makanya, aku langsung ingin memperjelas hubungan denganmu dan akhirnya kita menjalani hubungan ini. Tapi, semakin aku merasakannya, walau hubungan kita masih terbilang baru dimulai... Aku akhirnya sadar, perasaanku terhadapmu tidak lagi sesederhana suka atau sayang lagi. Perasaanku sudah semakin dalam dan telah menjadi cinta padamu. Aku mencintaimu, Raisa. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, aku ingin selalu bersamamu dan tak mau terpisahkan darimu. Hubungan kita ini harus berlangsung hingga selamanya ya, Raisa..." Ungkap Rumi


Selama mendengarkan, Raisa terus terpaku dan hanya terdiam menatap Rumi.


"Kau kenapa, Raisa? Kenapa hanya diam dan menatapku seperti itu?" Tanya Rumi


"Ah, tidak apa. Aku hanya... Senang!" Jawab Raisa


Raisa pun berjinjit untuk memeluk leher Rumi dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu Rumi~


"Aku senang mendengar kalimat itu terucap ke luar dari mulutmu. Aku juga... Mencintaimu, Rumi!" Ucap Raisa


Rumi yang ikut senang mendengar balasan kalimat cintanya pun membalas pelukan Raisa dengan erat...


"Aku juga senang! Senang bahwa cintaku terbalaskan. Senang bahwa kau juga punya perasaan yang sama denganku." Kata Rumi


Raisa terus memeluk Rumi. Setelah mendengar pengungkapan cinta untuknya, perasaannya ikut menjadi kacau dan tak karuan.


..."Akhirnya, aku pun mengatakan kalimat cinta ini padamu, Rumi. Setelah apa yang kulakukan kali ini dan saling mengungkapkan cinta kita, selain merasa senang dan lega, aku lebih merasa bersalah padamu. Karena sebenarnya selain ingin membuat rencana mengerjaimu, rencana kali ini juga adalah sebuah percobaan saat kita harus berpisah nantinya. Tapi, jika yang seperti ini saja kau sudah tidak sanggup... Bagaimana jika saat kita harus benar-benar berpisah nanti? Apa seharusnya tadi aku tidak membalas pernyataan cinta dari Rumi? Tidak, jika harus disalahkan... Seharusnya dari awal, aku tidak menerima ajakan menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman ini dengan Rumi. Tapi, yang kurasakan di dalam hatiku adalah ingin menunjukkan perasaanku padanya dan di lain sisi juga ingin membatasi perasaanku ini agar lebih mudah untuk mengakhirinya nanti. Jika sudah seperti ini apa yang harus kulakukan ke depannya? Hubungan ini sudah terlanjur berubah menjadi sangat rumit untuk kami berdua. Untukku dan juga kau, Rumi... Maafkan aku, jika suatu saat nanti kau akan lebih merasakan sakit yang lebih dari pada ini. Jika saat itu tiba, salahkan saja aku! Kau bisa menyalahkanku sesuka dan sepuas hatimu. Aku pun sudah bersiap jika saatnya tiba kau akan berubah jadi membenciku. Sangat-sangat benci pada diriku yang hina ini!" Batin Raisa...


Merasakan kekacauan yang melanda dan berkecamuk di dalam hatinya, Raisa tak bisa menahan untuk tidak menangis. Kini, air matanya pun perlahan langsung menetes dari pelupuk matanya.


Raisa pun merasa harus mengakhiri untuk kali ini dan melelaskan pelukannya dari Rumi.


"Kita sudah terlalu lama di sini dan harus kembali. Kalau tidak, yang lain akan mencari." Kata Raisa


"Kau menangis, Raisa? Kenapa?" Tanya Rumi saat melihat air mata pada pipi Raisa setelah melepaskan pelukan darinya.


"Ah, tidak apa. Ini bukan apa-apa... Aku hanya bahagia! Ini air mata kebahagian. Aku terbawa suasana dan jadi terharu." Jawab Raisa dibumbui kebohongan.


Tangan Raisa pun langsung bergerak menghapus air matanya yang berjatuhan.


"Aku kira kenapa... Tapi, untunglah kau tidak apa-apa." Kata Rumi yang ikut membantu menghapus air mata pada pipi Raisa.


"Salah satu dari kita harus pergi lebih dulu. Kau ke luar saja dulu, aku setelahmu." Ujar Raisa yang sudah kembali tersenyum.


"Kau saja yang duluan, aku masih ada urusan di toilet." Kata Rumi


"Oh, aku mengerti. Kau pasti menggunakan siasat sihir untuk menyelinap masuk ke sini tanpa harus dicurigai orang kan? Ya sudah, aku yang akan ke luar dan pergi lebih dulu. Ingat, untuk menutup kembali pintunya setelah kau ke luar nanti ya." Ucap Raisa


Raisa pun berbalik dan beranjak dari kamar utama tersebut meninggalkan Rumi di dalam sana.


Saat ke luar dari pintu masuk kamar, Raisa kembali membenahi dan menata perasaannya yang sebelumnya merasa kacau. Dan lalu, melangkah pergi dari sana... Kemudian kembali berkumpul dengan yang lain.


Setelah Raisa pergi, kini baru Rumi yang ke luar dan menghampiri ke toilet untuk menemui sosok palsunya yang merupakan sosok ular sihirnya. Jelmaan palsu ular sihirnya itu pun melebur dan berpecah menjadi banyaknya ular berukuran kecil dan langsung kembali menyatu pada Rumi sebagai pemilik sihir tersebut. Setelah sihir kembali ke tubuhnya, Rumi pun langsung berlalu dari sana dan kembali berkumpul dengan yang lainnya juga...


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2