
Setelah bersembunyi selama tiga hari di rumah Sanari, Raisa memutuskan untuk kembali muncul ke peradaban seperti biasa semula.
"Aku tidak bisa terus seperti ini, jika hanya diam, sepertinya aku hanya akan semakin tidak bisa melupakan rasa sakit hati dan perasaan bersalah ini. Aku harus mencari kegiatan untuk menyibukkan diri dan harus ke luar dari tempat persembunyian ini," gumam Raisa
Selama tiga hari bersembunyi di rumah Sanari, Raisa terus berdiam diri. Sesekali pergi ke luar dari persembunyian hanya untuk membeli makanan, itu pun harus menggunakan sihir transparasi wujud agar tidak mudah ditemukan orang lain. Ia sangat ketat dalam bersembunyi dan berhasil sukses bersembunyi selama tiga hari lamanya~
Namun, setelah tiga hari bersembunyi, Raisa sudah tidak bisa tahan lagi...
Raisa pun ke luar. Tempat yang pertama ia tuju adalah tempat penerimaan misi, pusat panggilan misi, dan kantor pemimpin desa!
Tujuannya pergi ke tiga tempat berbeda itu sama saja. Raisa memohon untuk diberikan dan diikut sertakan dalam misi, apa pun itu, walau yang tersulit atau hal yang paling mudah sekali pun.
"Apa pun misinya, kau tidak masalah?" tanya Tuan Nathan
Raisa mengangguk.
"Apa alasanmu melakukan ini?" tanya Tuan Nathan, Pemimpin Desa.
"Aku ingin menyibukkan diri," jawab Raisa
Saat ini, Raisa berada di kantor pemimpin desa. Demi ingin menyibukkan diri, Raisa sampai mengganggu Tuan Pemimpin Desa di tengah pekerjaannya yang menumpuk untuk memohon diikut sertakan atau diberikan misi.
"Jika, ingin menyibukkan diri biasanya orang tersebut sedang dalam masalah. Apa kau juga demikian? Lalu, apa masalahmu?" tanya Tuan Nathan
"Em~ Hanya ada sedikit masalah pribadi," jawab Raisa dengan sungkan.
"Apa masalahmu bersangkutan dengan Rumi, pacarmu?" tanya Tuan Nathan
"Kenapa Tuan bisa menduga jika masalahku ada sangkutannya dengan Rumi? Pertemanan kami masih baik-baik saja," ujar Raisa tidak menjawab dengan jelas.
"Bukan maksudku ingin ikut campur, tapi kudengar dari Morgan. Rumi sepertinya sedang murung karena tidak bisa bertemu denganmu," ungkap Tuan Nathan
"Aku mengerti maksud Tuan baik, mengkhawatirkanku, tapi kami baik-baik saja," ucap Raisa
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, tapi untuk saat ini tidak ada misi untukmu. Akan langsung kuberi kabar jika ada misi yang cocok untukmu," ujar Tuan Nathan
"Baik. Maaf, sudah mengganggu. Apa pun misinya, tolong panggil saja aku. Aku pamit dulu. Permisi," kata Raisa
"Tidak apa. Silakan saja."
Raisa pun beranjak ke luar dari ruangan tersebut.
"Memang dasar, anak muda! Ada saja masalahnya. Tapi, saat aku menyinggung Rumi sebagai pacarnya, dia malah bilang pertemanannya baik-baik saja. Pertemanan. Teman bukan Pacar! Apa mereka berdua sudah putus?! Apa pun itu, aku tidak berhak ikut campur," gumam Tuan Nathan
...
Setelah memohon dan meminta misi, namun tidak ada misi untuknya... Raisa pun memilih untuk pulang ke rumahnya yang sudah tiga hari ditinggalkannya~
"Aku sudah memutuskan untuk kembali, jadi tidak masalah jika ada orang yang mengenaliku dan bertemu saat ini juga. Tapi, bagaimana jadinya jika aku bertemu Rumi, ya? Pasti ekspresinya itu lucu sekali setelah tiga hari tidak bertemu," gumam Raisa yang sedang dalam perjalanan.
Mulutnya memang bicara seperti itu, namun benaknya masih sangat jelas mengingat saat tiga hari yang lalu melihat kemarahan dan ketidak-relaan Rumi saat diminta untuk putus. Hatinya juga masih saja diselimuti rasa bersalah.
Apa yang baru saja dipikirkan, benar saja terjadi saat itu juga!
Aqila membenarkan kacamata yang selalu dipakainya.
"Ada apa, Aqila? Kau merasa kacamatamu bermasalah?" tanya Morgan
"Tidak. Aku baru saja melihat seseorang yang kukenal! Bukankah itu, Raisa," ungkap Aqila
Rumi yang memang selalu bersama dengan Aqila dan Morgan pun langsung terkesiap! Rumi pun mengikuti arah pandang Aqila... Dan, ia pun menangkap sosok yang terkasih di matanya! Rumi pun langsung bergegas menghampiri sosok yang ia rindukan itu~
"Benar! Eh, Rumi! Tunggu kami," kata Morgan yang terkejut saat Rumi langsung berlarian pergi.
Saat sudah dekat dengan sosok tersebut, Rumi langsung mencekal tangannya guna menghentikan langkahnya. Juga seolah menahannya agar tidak menghilang lagi dari pandangannya~
"Raisa ... " panggil Rumi dengan sangat hati-hati.
Sosok itu berbalik dan membalas menyerukan namanya juga...
"Rumi?!" responnya kali ini lebih terlihat ke arah keterkejutan.
Aqila dan Morgan menyusul Rumi menghampiri Raisa~
Raisa pun tersenyum lembut.
"Raisa, kau habis dari mana saja?" tanya Aqila
"Aku habis menemui Ayah Morgan di kantornya," jawab Raisa dengan mudah.
"Maksud Aqila, selama tiga hari tidak terlihat kau ke mana saja?" tanya Morgan
"Mengasingkan dan menenangkan diri," jawab Raisa
"Kau ini... Apa maksudmu? Menghilang selama tiga hari untuk mengasingkan dan menenangkan diri, lalu setelah muncul kau malah menemui Ayahku lebih dulu? Tidak tahu kah kau, kalau Rumi terus mencarimu sampai kelelahan? Lalu, untuk apa kau menemui Ayahku?" tanya Morgan
Rumi tampak resah menunggu Raisa menjawab pertanyaan Morgan. Masalahnya, Rumi tidak memberi tahu soal putusnya hubungan mereka pada orang lain karena masih belum bisa menerima keputusan saat itu. Namun, apakah Raisa akan mengungkapkan itu semua sekarang?
"Oh! Itu ... begini, aku mengasingkan dan menenangkan diri untuk melupakan pikiran tentang pekerjaan yang mungkin menumpuk di duniaku sana. Untuk melupakan pikiran tentang semua itu, aku butuh menyibukkan diri. Makanya, aku bepergian sendirian karena setelah pernah pergi bersama Rumi aku masih juga kepikiran. Lalu, karena bepergian sendiri pun tidak juga bekerja, jadi aku menemui Tuan Nathan untuk meminta misi padanya langsung hari ini. Setelah menyibukkan diri untuk melupakan masalah pekerjaan dengan jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran tidak berhasil, jadi kupikir melupakan masalah pekerjaan dengan pekerjaan lain mungkin berhasil, tapi ternyata tidak ada misi untukku. Sebenarnya, aku bisa saja langsung kembali ke duniaku membereskan pekerjaanku di sana supaya tidak kepikiran, tapi aku masih mau ada di sini, jadilah seperti sekarang ini.
Lalu, aku juga sudah bilang pada Amy ingin menikmati waktu bepergian sendiri. Jadi, kukira walau pun Rumi sempat mencariku, dia tidak akan membuang-buang waktunya lagi untuk mencariku sampai kelelahan. Apa penjelasan ini cukup?" ungkap Raisa
"Tapi, kau baik-baik saja, kan? Soalnya, kau bilang belum terlalu hafal tempat-tempat di sini?" tanya Aqila
"Karena kalau pergi dengan orang lain sepertinya aku akan terus tidak bisa hafal, makanya aku ingin menghafal tempat-tempat di sini dengan mengunjunginya langsung sendirian. Dan seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja," jawab Raisa
"Kalau dari penjelasanmu, memang sepertinya lebih baik kau kembali saja ke duniamu untuk menyelesaikan pekerjaanmu. Baru kau tidak akan kepikiran lagi," ucap Morgan
"Morgan, sepertinya ucapanmu menyiratkan sesuatu. Apa aku langsung kembali ke duniaku sekarang saja?" ujar Raisa bertanya sambil tersenyum kecut.
Satu tangan Raisa sudah bersiap melakukan sihir tekeportasi dan membuka portal sihir... Namun, tindakannya itu langsung dicegah oleh Rumi yang langsung menggenggam tangannya itu dengan cepat!
"Jangan ... jangan pergi," larang Rumi
Setelah hanya sempat memanggil Raisa tanpa bicara apa-apa lagi, kini Rumi angkat bicara untuk melarang Raisa pergi. Awalnya Rumi hanya menggenggam satu tangan Raisa untuk menghentikan langkahnya, namun sekarang Rumi tengah menggenggam kedua tangannya. Itu menandakan bahwa Rumi sangat tidak menginginkan kepergian gadis itu.
"Hei, bukan maksudku menyuruhmu pergi saat ini juga. Aku hanya asal bicara saja, aku pun tidak ingin kau cepat-cepat pergi. Terlebih lagi sepertinya Rumi sama sekali tidak menginginkan kepergianmu. Maaf, aku sudah sembarangan bicara," kata Morgan
"Dasar, bodoh! Sudahlah, ayo kita pergi saja! Sepertinya ada sesuatu yang ingin Rumi bicarakan berdua dengan Raisa... Kami pergi dulu, ya. Nikmati waktu mengobrol kalian," ujar Aqila
Aqila pun menarik Morgan untuk segera pergi bersamanya~
Setelah Aqila dan Morgan pergi, barulah Rumi menunjukkan ekspresi murung dan khawatirnya pada Raisa.
"Kalau dari penjelasanmu, berarti yang waktu itu bohong, kan? Kau hanya bergurau ingin putus denganku, kan, Raisa?" tanya Rumi
Raisa terdiam tidak menjawab apa pun. Saat itu jugalah Rumi baru mengerti.
__ADS_1
"Jadi, penjelasanmu tadi itu yang bohong, ya? Kau hanya butuh alasan untuk Morgan dan Aqila. Jadi, kau sungguh ingin putus denganku? Tapi, kenapa? Aku masih tidak bisa mengerti! Kau bahkan menutupinya dari orang lain," ujar Rumi bertanya.
"Karena aku tahu, kau yang lebih dulu tidak memberi tahu mereka selama aku menghilang. Lebih baik kau saja yang beri tahu mereka," jawab Raisa
"Aku tidak ingin memberi tahu mereka sama sekali, biarkan saja mereka tidak tahu," kata Rumi
Raisa pun perlahan melepaskan genggaman tangan Rumi dari kedua tangannya~
"Biar pun mereka tidak tahu atau yang mereka tahu kita tetap pacaran, biar pun kau tidak ingin memberi tahu mereka dan tidak ingin mengerti alasanku mengajakmu putus, keputusanku tetap sama. Tidak akan ada yang berubah," ucap Raisa
DEG!
Rumi tercengang mendengarnya.
"Lalu, selama tiga hari ini kau ada di mana? Bepergian itu benar-benar hanya alasanmu saja, kan?" tanya Rumi sambil menunduk lesu.
"Kau sudah banyak bertanya, jadi untuk yang satu ini rahasia," jawab Raisa
Tak disangka, Raisa menolak memberi tahu Rumi keberadaannya selama tiga hari belakangan ini.
Saat Rumi menegakkan kembali kepalanya, dilihatnya Raisa sedang tersenyum ringan~
"Baiklah. Seperti ini pun tidak apa, tapi berjanjilah untuk tidak menghilang dan pergi dariku lagi, Raisa. Kumohon ... " ujar Rumi meminta.
"Kita hanya putus, bukan bermusuhan. Untuk apa aku pergi darimu? Lagi pula, kita, kan, masih berteman," ucap Raisa
"Benar! Berjanjilah untuk tetap berteman denganku," pinta Rumi
"Baiklah, aku berjanji," kata Raisa
"Bolehkah aku memelukmu, Raisa? Sekali ini saja," pinta Rumi lagi.
Raisa menghela nafas pelan~
Namun, Rumi langsung memeluknya. Kalau saja, Raisa tidak menjaga keseimbangannya. Mungkin saja sekarang keduanya sudah terjatuh.
"Terima kasih sudah kembali! Syukurlah, saat melihatmu, aku lega sekali," kata Rumi
"Tenanglah, Rumi. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi, aku janji! Ya, kecuali saat aku harus kembali ke dunia asalku," ucap Raisa sambil menepuk-nepuk pelan punggung Rumi.
..."Lagi pula, aku merasa aku masih harus berada di sini untuk waktu yang lebih lama," batin Raisa...
"Kau tidak akan kembali ke duniamu sekarang, kan?" tanya Rumi yang langsung melepaskan pelukannya pada Raisa.
Raisa menggeleng...ll
"Lalu, sekarang kau mau ke mana?" tanya Rumi
"Aku hanya akan pulang ke rumahku di sini. Sudah tiga hari kutinggal, pasti sudah kotor lagi," jawab Raisa
"Mau kuantar?" tanya Rumi
"Tidak usah. Aku bisa sendiri," jawab Raisa cepat dalam menolak.
"Ya, sudah ... " pasrah Rumi
Raisa pun berjalan menuju rumahnya.
"Kan, tadi sudah kubilang, aku bisa sendiri. Kenapa kau masih mengikutiku?" ujar Raisa yang bertanya saat menyadari Rumi berjalan tak jauh darinya seperti sedang membuntutinya.
"Aku hanya ingin pulang memeriksa Mika di rumah. Dia juga jadi menghilang, sepertinya dia pun ikut mencarimu selama kau menghilang," jawab Rumi
Raisa tahu, memeriksa Mika si kucing peliharaan hanyalah alasan Rumi. Namun, Raisa hanya membiarkannya saja.
"Seperti ini pun aku sudah cukup puas! Yang penting aku bisa terus melihatmu, Raisa. Sepertinya aku bisa bertahan," batin Rumi
..."Tenang saja, aku tidak akan pergi lagi! Karena aku pun masih mencintaimu, Rumi. Hanya saja lagi-lagi ini yang terbaik untuk kita berdua," batin Raisa...
...
Di dekat rumah Rumi terlihat Mika yang sedang duduk termenung di sana...
"Itu dia, Mika!" seru Raisa
Melihat Rumi dan Raisa datang mendekat, Mika bangkit menghampiri keduanya~
"Sepertinya Mika menyadari kau akan datang, makanya dia menunggu di sini," ujar Rumi
"Benarkah kau menungguku pulang, Mika? Atau itu hanya alasan Rumi saja?" Raisa mengajak bicara seekor kucing sambil berjongkok.
Mika sangat akrab dengan manusia dan kini sedang menggosok-gosok tubuhnya pada kaki Raisa. Raisa pun membelai lembut bulu halus Mika.
"Katanya, Rumi mengkhawatirkanmu, Mika. Sudah dulu, ya. Aku harus pulang. Dadah, Mika! Dah, Rumi~" ujar Raisa
Raisa bangkit berlalu menuju rumahnya meninggalkan Mika yang berada digendongan Rumi.
"Aku pasti bisa berteman dengannya, kan, Mika? Yang penting dia tidak pergi menjauh atau meninggalkanku lagi. Melihat wajah dan senyumannya saja sudah cukup! Benar, kan, Mika?" gumam Rumi yang mengajak Mika bicara dalam gendongannya.
Begitu masuk ke dalam rumah, Raisa menutup pintu dan bersandar di baliknya..l
Raisa menutup matanya untuk melupakan lelah hatinya. Ia juga menghela nafas panjang~
..."Memintanya untuk tetap berteman setelah putus, memikirkan diriku sendiri yang merasa cemas berlebihan tanpa memikirkan perasaannya. Bukankah aku ini sangat egois?! Masih pantaskah untukku berkata aku mencintainya? Aku kacau sekali," batin Raisa yang meneteskan air mata....
Raisa menghapus air matanya dan berusaha tegar. Ini keputusan yang dipilih sendiri olehnya, ia harus bisa melewati semuanya.
Raisa pun mengalihkan pikirannya yang kacau dengan bersih-bersih rumah~
•••
Keesokan harinya.
Di pagi hari Raisa sudah bersiap untuk memeriksa misi untuknya. Ia bertemu Aqila, Morgan, dan Rumi.
"Apa kalian ingin memeriksa panggilan misi? Aku ikut," ujar Raisa
"Baiklah, ayo ... " kata Aqila
Raisa pun berjalan di samping Aqila dan bukan lagi di samping Rumi~
"Sudah cukup lama sejak terakhir kali mendapat misi, semoga kita dapat misi bersama lagi kali ini," ucap Aqila
"Ya, semoga saja. Misi apa pun aku tetap akan melakukannya," kata Raisa
"Tumben sekali kalian tidak berjalan berdampingan? Kau sudah bicara dengan Raisa kemarin, Rumi? Pembicaraan kalian lancar, kan?" tanya Morgan
__ADS_1
"Ya, kami sudah bicara kemarin dan berjalan lancar," jawab Rumi sambil mengangguk kecil.
"Baguslah, kalau begitu," kata Morgan
Saat hendak memeriksa panggilan misi, mereka berempat bertemu dengan Amy, Sandra, dan Wanda.
"Hai, Amy, Sandra, Wanda! Kalian habis memeriksa panggilan misi?" sapa Aqila sambil bertanya.
"Kami baru saja ingin memeriksanya," jawab Wanda
"Kau sudah kembali, Raisa?" tanya Sandra
"Ya, aku baru kembali kemarin," jawab Raisa
"Huhu. Raisa! Syukurlah, kau sudah kembali! Sejak kau berkata ingin pergi, Rumi terus bertanya padaku tentangmu, tapi dia seakan tidak percaya dengan kata-kataku!" oceh Amy yang berhambur memeluk Raisa.
"Sudah-sudah. Dia tidak akan mengganggumu lagi sekarang. Kan, aku ada di sini," ucap Raisa
"Sudah, jangan banyak drama lagi! Ayo kita masuk," kata Morgan
Setelah memeriksa panggilan misi, tidak ada misi untuk Aqila, Morgan, dan Rumi. Tapi, ada satu misi untuk Raisa yang dilakukan hari ini juga dan itu misi bersama Amy, Wanda, dan Sandra!
"Raisa, berhati-hatilah saat kau pergi menjalankan misi," pesan Rumi
"Aku sudah pernah lakulan misi yang serupa bersama Amy, Wanda, dan Sandra juga. Tidak masalah, aku akan baik-baik saja. Tak perlu khawatirkan aku," ucap Raisa
Setelah bersiap, mereka berempat pun sudah akan berangkat. Kali ini adalah misi mengantarkan dan mengawal rombongan pengirim barang.
"Ayo, Raisa!" seru Wanda
"Aku pergi dulu," pamit Raisa
"Berhati-hatilah," pesan Rumi sekali lagi.
Raisa mengangguk, berlalu menghampiri Amy, Wanda, dan Sandra.
"Ayo berangkat," kata Raisa
•••
Baru saja kemarin pulang dari misi, hari ini Raisa sudah memiliki panggilan misi yang baru untuk besok bersama Dennis, Marcel, dan Billy.
"Kau baru saja menyelesaikan misi kemarin, apa tidak kau tolak saja misi besok?" tanya Rumi
"Tidak apa, aku ingin melakukannya. Masih harus menunggu besok untuk berangkat menjalankan misi baru, hari ini aku masih bisa istirahat," jawab Raisa
Kali ini, apa pun keputusan Raisa, Rumi tidak akan banyak bicara. Apa lagi saat ini Rumi sudah tidak punya hak untuk melarang karena hubungan keduanya telah kandas~
Keesokan harinya.
Dari awal mengenal Raisa, Rumi tidak suka saat Raisa menjadi lebih dekat dengan Dennis. Kali ini, Raisa akan menjalankan misi bersama Dennis. Rumi sedikit tidak rela.
"Tenang saja, Rumi. Dari awal aku tidak ada niat merebut Raisa darimu atau memiliki perasaan khusus padanya. Kau tidak perlu merasa cemburu," ucap Dennis seolah tahu Rumi cemburu padanya selama ini.
"Siapa juga yang bilang kalau aku cemburu denganmu," elak Rumi
Benar juga! Yang mereka semua tahu Rumi berpacaran dengan Raisa tanpa tahu keduanya telah putus hubungan.
..."Ternyata, Rumi masih belum memberi tahu yang lain jika kami sudah putus," batin Raisa...
"Ada kami bertiga yang menjaga Raisa, kau tidak perlu khawatir, Rumi," ucap Marcel
"Benar! Kami bertiga akan melindunginya," kata Billy
"Sudah... Kami pergi menjalankan misi dulu," pamit Raisa
Raisa pun pergi menjalankan misi bersama Dennis, Marcel, dan Billy.
•••
Sudah seminggu sejak Raisa menjalankan misi bersama Dennis, Marcel, dan Billy. Sudah tiga hari pula Raisa istirahat dan belum ada misi baru yang memanggilnya.
Hari ini, Raisa dipanggil ke kantor pemimpin desa bersama beberapa orang lainnya. Jika sudah dipanggil ke kantor pemimpin desa, biasanya itu adalah misi tingkat tinggi dengan kesulitan tertentu atau misi penting yang darurat.
Di dalam kantor pemimpin desa, selain Raisa masih ada anggota dari dua tim, yaitu Devan, Ian, dan Chilla. Lalu, Aqila, Morgan, dan Rumi.
Mereka menunggu Pemimpin Desa memberi tahu mereka tentang misi apa yang akan diberikan pada mereka bertujuh.
"Kalian semua yang datang di sini akan menjalankan misi yang sama. Kali ini kalian akan ke Desa Bambu yang ada di perbatasan antara Negara Api dan Negara Angin," ungkap Tuan Nathan, Pemimpin Desa.
"Lebih spesifiknya, kami harus ke mana dan melakukan apa?" tanya Devan
"Dilaporkan jika ada serangan monster kegelapan misterius yang menyerang desa tersebut dan banyak anak-anak yang menjadi korban dari serangan monster karena ada sebuah panti asuhan di sana. Jadi, kalian akan menginap di panti asuhan tersebut untuk menyelidiki tentang serangan monster sambil melindungi anak-anak di panti asuhan. Kalian diminta untuk menghentikan serangan monster dan melindungi semua orang di sana. Walau banyak korban selain anak-anak di banyak tempat di sana, prioritas kalian tetap pada panti asuhan karena banyak anak-anak tidak berdaya yang tidak bisa melindungi diri sendiri," jelas Tuan Rafka, Penasehat Pemimpin Desa.
"Harap kalian berhati-hati dan selalu waspada. Karena menurut laporan, monster yang menyerang tidak hanya satu melainkan berjumlah banyak, dan serangan sering terjadi di waktu malam hari," ucap Tuan Nathan berpesan.
"Kapan kami harus pergi pada misi kali ini?" tanya Aqila
"Karena ini tugas yang cukup sulit, lakukanlah persiapan sebelum pergi, dan kalian bisa pergi besok. Harap kalian tiba di tempat tujuan misi kali ini sebelum malam hari tiba, yaitu puncak waktu serangan monster," jawab Tuan Rafka
"Tempat itu dekat karena hanya berada di perbatasan Negara Api dan Negara Angin, kita pasti bisa cepat sampai ke sana," ucap Morgan
"Semoga akan seperti yang kau katakan, Morgan. Karena sepertinya kalian akan menempuh misi yang sulit kali ini. Dan ingat, nama panti asuhan tempat kalian akan menginap adalah Cahaya Kasih. Lakukanlah persiapan sebaik mungkin sebelum keberangkatan kalian besok," ujar Tuan Nathan
"Baik. Kami mengerti," kata Ian
"Kami pamit dulu untuk melakukan persiapan dan makan sepuasnya sebelum berangkat besok," ucap Chilla
Mereka bertujuh pun beranjak ke luar dari ruang kantor pemimpin desa.
Sedari tadi mendengar penjelasan tentang misi yang akan dijalankannya, Raisa hanya diam membisu. Namun, ia sangat mengerti seperti apa misi yang akan dijalankannya beserta resiko yang mungkin dialaminya.
"Raisa, kenapa kau hanya diam saja dari tadi?" tanya Rumi
"Aku hanya memikirkan misi yang akan kita jalani mulai besok. Itu mungkin akan sulit, tapi aku rasa kita bisa mrnyelesaikannya dengan baik apa pun yang terjadi," jawab Raisa
"Apa kau memiliki semacam suatu firasat?" tanya Rumi
"Entahlah, tapi tadi yang hanya diam bukan aku saja, lho! Kau juga sama diamnya sepertiku aaat di dalam kantor pemimpin desa tadi," ujar Raisa
"Itu karena aku sibuk memperhatikanmu yang hanya berdiri diam," jujur Rumi
"Kau ini orangnya pendiam sekali, ya, Rumi ... " kata Raisa
Setelah dari kantor pemimpin desa, mereka bertujuh berkumoul di suatu tempat. Untuk berdiskusi tentang yang mungkin akan mereka lakukan saat menjalankan misi yang dimulai besok hari.
-
__ADS_1
•
Bersambung...