
Pada akhirnya, Raisa pun bertekad! Dengan perasaan yang campur aduk tak karuan, ia membuka kunci yang selama ini tutup rapat. Memberitahukan rahasianya yang selama ini ia jaga rapat!
Membongkar semuanya~
Menahan ketegangannya, dengan perasaan antara cemas, takut, dan merasa bersalah... Ia kini mengungkapkan yang telah terkubur dalam dirinya. Bersamaan dengan memberitau kemampuan sihirnya, ia pun mengungkapkan kegelisahan yang menerpa dirinya. Ketakutan yang mendera jiwanya!
Takut melukai, takut dijauhi, takut anggapan buruk...
Semua perasaan itu ia keluarkan melalui kata-kata.
Raisa mencurahkan segalanya bersamaan menitiknya air dari sudut matanya...
Ia menunduk, suaranya terdengar bergetar, dan ia menghapus air matanya yang terjatuh.
Lalu, ia mengangkat pandangannya dan tersenyum manis semampunya~
"Maaf ya~ Emang ga seharusnya aku rahasiain ini, aku salah! Aku cuma mau nunggu waktu yang tepat sampai sihirku terkendali dengan kondusif. Toh, sekarang aku juga udah ngasih tau kalian perihal ini kan... Kakak sama Adek ternyata mampu ngebongkar rahasia besarku juga ya..." Ucap Raisa dengan bersikap setenang dan seceria mungkin.
"Kakak ga tau tentang ini. Rahasia sihir kamu atau perasaan kamu... Kalo aja kakak tau, mungkin kamu...- Kamu juga sih, kenapa pake dirahasiain segala coba? Kita semua kan keluarga, ga mungkin kan sampe ngebully kamu, bahkan mungkin kamu ga perlu terlalu kesusahan terutama sama perasaan tertekan kamu itu. Kamu juga tau kan, kalo curhat itu bisa bikin perasaan lega..." Oceh Raina
"Hehe... Iya juga ya, Kak. Setelah rahasia terbongkar ga ada beban lagi, malah jadi enakan rasanya. Makasih ya." Ujar Raisa
"Kok malah kamu yang bilang, makasih? Lagi pula, kayak sama siapa aja..." Kata Raina
"Kalo menurutku, kekuatan kakak keren banget lho! Ngapain juga pake merasa takut segala?!" Puji Raihan dengan sumringah. Merasa senang memounyai kakak yang spesial berbeda dari yang lainnya...
"Yaudah, sekarang masalahnya udah selesai. Lanjutin lagi makannya. Pecahan gelasnya biarin aja dulu. Nanti kalo Ibu udah selesai makan, Ibu yang beresin. Kalian hati-hati aja, jangan sampai kena atau nginjek belingnya." Ujar Bu Vani
Mereka semua pun melanjutkan aktivitas makan malamnya...
Raisa mengerahkan ulang sihirnya, mengangkat(?) air yang menggenang dan membuangnya ke dalam washtafel yang berada tak jauh dari meja makan hanya dengan melenggangkan tangannya~
"Sihir itu... Keren!" Gumam Raihan
"Jadi, sebenarnya dua minggu kemarin kamu ke mana? Nginap di rumah Uwa Aida cuma alasan kamu untuk nutupin rahasia kamu kan?" Tanya Raina
"Perjalanan ke dunia lain di dimensi yang berbeda untuk menyelamatkan sebuah desa." Jawab Raisa dengan gampangnya.
"Apa lagi itu?! Sihir aja udah keren, lah ini... Dunia lain? Alam arwah dunia ghaib kah?" Celetuk Raihan menebak-nebak secara asal.
"Pfftt~ Bukanlah! Mereka juga manusia sama kayak kita. Dunia mereka ada di dimensi yang lain. Ini semacam perjalanan ala Doraemon*! Tapi, mayoritas orang-orang di sana juga punya kekuatan sihir." Jelas Raisa
*Doraemon adalah kartun animasi anak-anak yang menceritakan banyak fantasi belaka.
"Wah... Pasti keren banget deh!" Kata Raihan
"Udah dulu ceritanya. Abisin dulu makannya, ceritanya dilanjut nanti aja." Ujar Pak Hilman
•••
Keesokan harinya...
Pagi di hari pekan terasa menyegarkan.
Raisa terbangun untuk melakukan aktivitas dengan ceria. Walaupun ia masih bingung bagaimana berhadapan dengan kedua saudara kandungnya setelah rahasianya terbongkar. Namun setidaknya, mereka merespon dengan baik setelah mengetahui rahasianya.
Raisa pun hanya bisa berpositif thinking dan memulai harinya dengan melangkahkan kakinya ke luar dari kamarnya...
.
.
.
Tanpa diduga, ternyata aktivitas di rumahnya lancar seperti biasanya. Sejauh yang dilewatinya, tidak ada yang membahas soal sihirnya.
Walaupun, Raisa sedikit merasa risih karena tatapan kedua saudaranya yang terus menelisik, menatapnya dengan intens saat berpapasan. Namun, itu tak benar-benar mengganggunya.
Setelah menjelang siang, rumah kembali kedatangan tamu. Ternyata yang datang adalah Arka. Suami Raina sekaligus kakak ipar Raisa dan Raihan, juga menantu lelaki pertama keluarga Atmawidjaya.
"Pih, kangen ga nih sama anaknya? Farah seneng banget loh pas liat kamu dateng." Ujar Raina
*Pih adalah panggilan singkat Raina pada suaminya. Pih alias. Papi. (Mami-Papi)
Raina menghampiri Arka dengan menggendong Farah setelah melihat obrolan sang suami dengan Ayah-nya telah rampung.
"Tentunya, kangen banget lah..." Kata Arka, Suami Raina.
"Yaudah... Kalo gitu, aku nitip Farah sama kamu ya. Jagain, ajak main, ngapain kek. Aku mau ngobrol dulu sama Adikku. Kemarin ngobrolnya belum puas..." Ucap Raina yang langsung menyerahkan Farah ke pangkuan suaminya.
"Siap, Bu Bos! Farah sama Papi, ya..." Ujar Arka yang memeluk putrinya dengan gemas~
__ADS_1
"Pi-Apih... Ain! (Pi-Papi... Main!)" Oceh Farah mengajak Sang Ayah bermain bersama.
"Wokeh, Bos cilik! Kita main apa nih?" Kata Arka
"Farah, yang anteng sama Papi dulu ya, Sayang. Mami tinggal sebentar ya." Ujar Raina
-
-
-
Raina yang mencari-cari Raisa malah bertemu dengan Raihan, adik lelakinya.
"Han, kamu liat Kak Raisa ga? Tau dia di mana?" Tanya Raina
"Kayaknya sih di halaman belakang. Lagi Ibu suruh siram tanaman karena tadi Ibu sempet lupa nyiramin." Jawab Raihan
"Halaman belakang... Pas banget, kalo gitu! Ikut bareng sama kakak, yuk." Ujar Raina
"Mau ngapain deh?" Tanya Raihan
"Ikut ajalah... Dijamin, pasti seru!" Kata Raina
°
°
°
Raina pun menyeret(?) tangan Raihan untuk ikut bersamanya menemui Raisa.
Mereka berdua pun langsung menuju halaman belakang...
"Raisa? Sasa, Sayang..." Panggil Raina, menyerukan nama Sang Adik.
"Kakak, ada apa nih? Kalo manggilnya begitu pasti ada maksud tersembunyi. Dateng bareng Raihan lagi." Ucap Raisa langsung bisa sedikit menebak maksud Sang Kakak.
"Ga tau nih, Kak Raina... Aku juga ga tau mau apa, pake nyeret aku ikut ke sini segala." Ujar Raihan yang masih belum mengerti maksud kakak pertamanya.
"Kita kan jarang ngumpul... Ayolah, ngobrol bareng tiga bersaudara." Ujar Raina
"Nyiram tanamannya udah selesai?" Tanya Raina berbasa-basi.
"Udah nih..." Jawab Raisa dengan singkat.
"Soal kemampuan sihir kamu... Kasih tau dan tunjukin ke kita dong!" Pinta Raina
"Ah, udah ketebak deh! Jadi, kakak penasaran?" Ujar Raisa
"Eh, bener tuh! Aku juga mau tau... Mau liat!" Kata Raihan dengan antusiasnya.
Raisa pun menaruh kembali selang air yang telah dipakainya ke tempat semula.
"Aku juga belum bisa ngontrol kekuatanku sepenuhnya. Ada sih beberapa sihir yang aku kuasain. Aku juga bisa sedikit hipnotis! Kalian mau coba? Jadi kan, rahasiaku ga akan bocor ke orang lain." Ucap Raisa sembari menyeringai jahil.
"Hipnotis!? Ga ah, ga keren! Kakak mau apa ngehipnotis aku? Mau bikin aku hilang ingatan jadi kayak orang gila? Jahat banget sih!" Tolak Raihan dengan asumsinya yang berlebihan.
"Hehe, becanda! Aku emang bisa hipnotis tapi ga bakal lakuin itu kalo ga benar-benar terdesak sama orang jahat. Sihir apa yang bakal aku tunjukin ya..." Raisa nampak menimbang-nimbang.
Raisa nampak berpikir. Lalu, senyuman jahil kembali mengembang di bibirnya.
"Kemarin, kalian lihat sihir pengendali airku. Gimana kalo kita mulai dari itu? Raihan, kamu jadi asistenku ya. Biar kayak program sulap di TV gitu..." Ujar Raisa
"Oke, aku siap!" Antusias Raihan yang tak tau rencana jahil kakak keduanya itu.
"Kak Raina menjauh sedikit ya." Pinta Raisa. Raina hanya menurut, menjauh dari sisi Raihan.
Raisa melihat sekeliling...
Selang atau keran air, ia tak membutuhkannya lagi!
Raisa pun menggerakkan tangannya dengan lembut dan lihai~
Raisa menggunakan sihirnya, mengangkat(?) air dari permukaan tanah yang becek dan menyemprotkannya ke tubuh Raihan. Raihan pun basah kuyup karenanya~
"Ah, kok aku disiram sih?! Aku kira ga bakal kayak gini..." Protes Raihan
Raisa dan Raina sama-sama terkekeh geli...
"Maaf deh! Ini kan percobaan. Aku bisa keringin lagi kok, tenang aja... Ini sihir air~ Satu kemampuan aku!" Ucap Raisa
__ADS_1
"Yaudah, keringin aku! Keren, dapet pengeringan pribadi otomatis!" Girang Raihan
"Ini sihirku yang lain... Pilih jasa pengeringannya! Kamu pilih kiri atau kanan?!" Ujar Raisa
Raisa mengeluarkan sihirnya...
Ia menjentikkan jari di tangan kirinya, lalu memunculkan Api! Seperti pematik api...
Lalu, menjentikkan jari di tangan kanannya dan memunculkan Angin~ Putaran anging kecil memutar di atas jemarinya...
"Mau pilih kering karena dikelilingi hembusan Api atau hembusan Angin?" Tanya Raisa lagi.
Raisa menyeringai seram!
Raihan pun bergidik ngeri~
"Kakak mau aku mati kebakar!? Pasti, aku pilih Angin..." Jawab Raihan
"Aku kan cuma nanya sekalian tunjukin sihirku..." Kata Raisa
Raihan pun bersiap menutup mata. Hidung dan mulutnya pun ia tutupi dengan telapak tangannya.
Raisa pun menggerakkan tangannya dengan gerakan memutar. Lalu, hembusan Angin berputar mengitari tubuh Raihan~
Pakaian yang dikenakan Raihan sampai terangkat terbang akibat sihir Raisa. Dan, akhirnya tubuh Raihan pun kering!
"Fuuuhh~ Angin topan! Akhirnya berakhir, kering deh..." Ceria Raihan
"Jadi, kamu bisa sihir air, api, dan angin... Hebat!" Gumam Raina
"Iya, keren!" Takjub Raihan
"Kamu bisa ngeluarin api dari tubuh, angin juga... Tapi, pas sihir air, asalnya kayaknya dari bawah. Dari mana?" Ujar Raina
"Itu sihir pengendali! Itu 3 elemen yang kubisa. Api, berasal dari pernapasan, lalu sesuka hati bisa dikeluarkan dari mana. Tangan, kaki, mulut atau hembusan nafas. Kalo, Angin... Angin sama aja udara. Kareba banyak udara atau angin di sekeliling kita, aku bisa mengendalikannya. Aku juga bisa langsung mengeluarkan dari tubuh, seperti halnya api tadi. Lalu, Air. Kalo ada sumber di sekitar, itu lebih mudah untuk dikendalikan. Tadi aku ngambil air dari permukaan tanah yang belum sepenuhnya terserap ke dalam tanah terus menyiramnya ke tubuh Raihan. Aku juga bisa ngeluarinnya langsung dari tubuh, seperti halnya api dan angin. Tapi, kalo keluar langsung dari tubuh itu butuh latihan keras sampe bisa nguasainnya, butuh konsentrasi tinggi." Ungkap Raisa
"Ih, dari permukaan tanah! Berarti air tadi kotor dong? Iyuuh~" Ujar Raihan
"Enggak kok. Aku ngambil benar-benar airnya doang, jadi itu bersih. Kecuali air yang benar-benar tercampur sempurna sama zat lain, baru itu kotor. Tapi, pasti jelas kelihatan dari warna. Kalo kotor, pasti warnanya beda. Tapi, kamu lihat sendiri tadi... Air itu jernih, bening! Lagi pula, udah dikeringin pake angin juga kan..." Jelas Raisa
"Apa ada sihir lain yang kamu bisa?" Tanya Raina
Raisa nampak berpikir. Sihir apa lagi yang akan ditunjukkannya...
Lapu, mata Raisa melihat suatu benda!
"Hmm... Han, rambut kamu kayaknya udah panjang ya? Mau kakak bantu potonggin rambut kamu ga?" Ujar Raisa bertanya
Dengan kejahilannya... Raisa mengangkat suatu benda yang terdapat di halaman belakang rumahnya itu.
Itu~
Adalah...
GUNTING RUMPUT!!!
Dengan sihirnya, Raisa mengangkat benda berbahaya berukuran besar itu ke atas kepala adik lelakinya.
Seolah-olah akan memangkas rambut sang adik menggunakan benda tersebut!
"Ka... Kak! Kakak, jangan main-main deh~ Batalin sihirnya, Kak Raisa! Buang jauh-jauh!! Aku ga bisa gerak sembarangan nih. Yang dilakuin dari tadi ga ada yang beres, ah! Udahan ah, kalo begini... Aku ga mau lagi!" Ucap Raihan. Antara memohon, marah, dan kesal jadi satu! Ia kerahkan semua dalam kata-katanya.
Raihan mematung seketika! Tubuhnya pun bergetar hebat~
Nyawanya dipertaruhkan dalam praktek sihir sang kakak!
Raisa tertawa melihat ekspresi adiknya. Raina hanya diam, menyaksikan. Seolah tau, adik perempuannya tak mungkin mencelakai nyawa sang adik lelaki.
"Ahahaha~ Kali ini juga becanda kok! Maaf deh udah buat adikku tersayang jadi takut..." Ujar Raisa yang langsung melempar gunting rumput itu ke arah lain. Menaruhnya ke tempat semula.
Mata Raihan masih terpejam ketakutan...
.
.
.
•
Bersambung...
__ADS_1