Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 165 - Mendapat Banyak Ucapan Selamat.


__ADS_3

Di dalam mobil saat perjalanan kembali menuju ke rumah, Raisa terus memandangi hasil cetak pemeriksaan USG yang awalnya berada pada Rumi sambil terus tersenyum. Pria tampan itu juga ikut melihati sosok 2 dimensi calon bayinya pada selembar kertas di samping Farah. Karena keponakan perempuan istrinya itu duduk di tengah antara dirinya dan sang istri. Sedangkan Raina dan Arka duduk di kursi mobil bagian depsn, tentunya dengan Arka yang mengendarai mobil tersebut.


"Onty, Uncle, dedek bayinya ada dua, ya? Dua-duanya masih kecil banget," ujar Farah yang ikut melihat hasil cetak pemeriksaan USG seperti pasangan suami istri yang kini sedang berbahagia itu.


"Benar, Farah ... " kata Rumi


"Di apotek tadi selain tebus vitamin dari resep dokter, kamu juga beli susu ibu hamil sama test peck, ya, Raisa? Test peck-nya buat apa lagi? Kan, kamu udah terbukti dan dinyatakan hamil sama dokter?" tanya Raina


"Gak apa-apa, Kak. Aku cuma mau buat bukti lain dan lebih meyakinkan lagi aja," jawab Raisa


"Oh, buat kamu posting di media sosial ... begitu, ya?" tanya Arka


"Salah satunya ... seperti itulah, Kak," jawab Raisa


Sungguh seperti suatu penantian yang sangat berharga, akhirnya Raisa bisa mengandung juga. Wanita cantik itu merasa sangat bahagia yang kini hatinya merasa sedang berbunga-bunga.


"Jadi, bukan tanpa alasan Dokter memanggilku dengan sebutan Ibu Raisa. Ternyata sebenarnya aku tengah mengandung. Aku benar-benar tidak menyangka dan ternyata rasanya sebahagia ini," batin Raisa


Saat sampai di rumah, setelah Rumi dan Farah beranjak ke luar dari mobil, suami tampan Raisa itu menunggu dan membantu wanita cantik itu hingga turun dari mobil. Bahkan pria itu juga terus berada di samping Raisa seolah menjaga dan membantu memapah sang istri yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Rumi, aku ini hanya sedang hamil, bukan habis terluka parah. Kau tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini," ucap Raisa setelah duduk di atas sofa.


"Kau harus ekstra berhati-hati dan dapat penjagaan penuh yang sangat baik," kata Rumi


"Suami kamu pengertian dan perhatian banget, sih, Raisa. Gak kayak seorang suami yang bahkan reaksinya biasa aja pas dengar istrinya hamil anak pertama. Sikapnya malah sebodo teuing," ujar Raina yang sedang menyindir sang suami.


"Tapi, kan, aku udah selalu turuti apa pun yang kamu mau, Mih ... " sahut Arka yang menyadari dirinya dapat sindiran pedas dari sang istri.


"Kalau cuma itu aja gak cukup, tahu! Kamu bahkan selalu berisik saat ibu hamil butuh banyak ketenangan!" seru Raina


"Kalau itu, sih ... emang sifat turunan keluarga," jujur Arka


"Itu buat aku jadi merasa kesal," kata Raina


"Ya, Papi itu sangat menyebalkan," sahut Farah


Raisa hanya bisa terkekeh kecil menyaksikan pertengkaran keluarga kecil kakaknya itu.


"Omong-omong, Raisa ... kamu ini agak aneh, deh. Padahal kamu bisa merasakan ada roh kecil yang hidup di dalam perut Kakak, tapi masa kamu gak sadar atau merasakan roh yang hidup di dalam perut kamu sendiri? Usia kehamilan itu udah ada jantung yang hidup dan berdetak, kan?" tanya Raina


"Benar, Kak. Saat pemeriksaan tadi, kami juga sudah sempat mendengar detak jantung kedua janin," jawab Rumi


"Iya, benar juga. Mungkin karena memang ini baru pertama kali terjadi hingga aku jadi tidak bisa menyadarinya secara langsung," ujar Raisa


"Gak apa-apa. Jadi, dengan begini kabar baik ini terkesan jadi lebih spesial seperti sebuah kejutan yang istimewa," kata Arka


"Emangnya kamu sama sekali gak sadar dengan satu pun tandanya, Raisa? Seperti telat datang bulan, begitu?" tanya Raina


"Enggak, Kak. Siklus aku emang gak selalu teratur," jawab Raisa


"Padahal tandanya gak cuma itu aja. Seperti mungkin kamu yang jadi lebih manja atau kalian berdua yang jadi lebih mesra, bahkan Kakak aja udah sempat curiga. Pas lihat kamu hampir pingsan tadi pagi, nafsu makan kamu yang bertambah, saat kamu gak habisin susu yang kamu minum, dan minta Rumi yang habisin susunya. Itu semua juga merupakan suatu pertanda awal kehamilan," ujar Raina


"Kalau kamu merasa Raisa hamil, kenapa kamu gak bilang aja?" tanya Arka


"Karena aku gak mau Raisa dan Rumi jadi banyak berharap karena kalau ternyata dugaan aku salah, jadi terasa menyesakkan nantinya," jawab Raina


"Itu juga yang buat aku gak mau terlalu berharap. Aku takut sakit hati saat tahu kalau ternyata aku gak hamil," kata Raisa


"Lalu, satu lagi ... karena kamu lagi hamil, untuk sementara waktu jangan tidur di kamar yang ada di lantai atas dulu. Naik turun tangga emang bagus untuk kesehatan pada umumnya, tapi sepertinya itu beresiko untuk ibu hamil. Apa lagi hamil muda, gak ... mau itu hamil muda atau hamil tua tetap aja berbahaya," ucap Raina


"Benar juga. Aku tidak memerhatikan sampai ke arah sana. Untung saja Kak Raisa memberi tahukan soal itu," kata Rumi


"Kalau begitu, percuma saja dong ... aku pilih beli rumah tingkat memang karena mau tidur di kamar yang ada di lantai atas," ujar Raisa


"Kau harus menurut, Sayang. Ini demi kebaikanmu dan anak kita juga," sahut Rumi


"Aku ingin tetap pakai kamar yang ada di lantai atas. Itu adalah kamar utama, ada kamar mandi di dalam kamar tidurnya, jadi tidak perlu repot ke luar dari dalam kamar segala jika ingin ke kamar mandi. Kalau bukan saat muda bisa pakai kamar di lantai atas, lalu kapan lagi? Kalau sudah tua makin sulit naik turun tangga karena sudah renta. Kalau tidak sekarang, maka pas hamil besar anak kembar ini makan sulit karena perut buncit," ucap Raisa


"Jangan mempersulit, Sayang. Mengingat kau yang jatuh tadi saja sudah membuatku sangat takut. Untung saja aku bisa menangkaomu tadi," ujar Rumi


"Seperti kau yang menangkapku dengan menggunakan sihir, aku juga bisa menggunakan sihir untuk naik tangga agar tidak menjadi sulit," kata Raisa


"Sebisa mungkin jangan gunakan kemampuan sihir saat hamil. Nanti kau bisa cepat merasa lelah, tidak baik," larang Rumi


"Atau kau bisa memapahku saat berjalan naik tangga. Aku hanya akan tidur di lantai atas saat kau ada di rumah," nego Raisa


"Meski begitu, aku tidak selalu di rumah. Kita ambil jalan aman saja," keukeh Rumi


"Tidak tahu, ah! Aku sudah merasa kesal saat kau bersikap berlebihan padahal aku hanya sedang hamil. Sekarang kau membuatku bertambah kesal dengan melarangku tidur di lantai atas. Aku merajuk saja," rengek Raisa yang kemudian menangis.


"Jangan nangis dong, Onty ... " bujuk Farah


"Sabar, ya, Rumi ... ibu hamil emang lebih mudah jadi sentitif," kata Raina

__ADS_1


"Kalau kau tidak masalah untuk kugendong setiap ingin naik turun tangga, maka kita bisa tidur di kamar lantai atas," ujar Rumi


"Harusnya kau tidak berdebat dan mempermasalahkan hal ini denganku sekarang. Kau membuatku merasa malu dengan menangis seperti ini," kata Raisa


"Sudah, berhenti menangisnya. Sekarang, apa ada yang kau inginkan?" tanya Rumi


"Aku mau makan es krim," jawab Raisa dengan cepat


"Jangan terlalu sering makan atau minum sesuatu yang dingin dulu, ya, Sayang. Apa kau tidak bisa menggantinya dengan yang lain?" tanya Rumi


"Padahal aku juga belum makan es krim pada minggu ini. Ya sudah, aku mau gulali kapas. Tidak bisa diganti dengan yang lain lagi," jawab Raisa


"Mana ada yang jual permen gulali di waktu pagi seperti ini. Mau dicari juga harus cari ke mana?" tanya Raina


"Tidak apa, Kak. Aku akan mencarinya sampai dapat," kata Rumi


"Aku tahu pedagang yang jual gulali dari pagi. Ayo, biar aku antar," ujar Arka


"Jadi, merepotkan ... tapi, terima kasih," ucap Rumi


"Masih terlalu awal untuk bilang terima kasih. Kita bahkan belum pergi," kata Arka


"Farah, sini ... peluk Onty dong," pinta Raisa


Farah pun mengangguk dan langsung mendekat ke arah Onty-nya dan memeluk sambil menghapus sisa air mata wanita cantik itu dengan masing-masing satu tangannya.


"Kak Arka, Rumi, hati-hati di jalan dan cepatlah kembali," pesan Raisa


"Kalau begitu, tunggulah aku kembali. Aku pergi dulu," ujar Rumi yang lalu mengusap puncak kepala dan mengecup kening sang istri.


Rumi pun beranjak pergi bersama Arka untuk mencari dan membeli gulali kapas atas keinginan sang istri yang sedang ngidam.


Sekitar 30 menit kemudian, Rumi dan Arka kembali. Suami Raisa itu membawakan dua bungkus gulali kapas.


"Maaf kalau membuatmu lama menunggu," kata Rumi


"Tidak apa-apa, yang penting kau kembali. Terima kaaih untuk gulali kapasnya dan terima kasih juga untuk Kak Arka yang sudah mau mengantar Rumi pergi," ucap Raisa


Arka hanya tersenyum.


Rumi pun memberikan sebungkus gulali kapas untuk Raisa dan satu bungkus lagi untuk Farah.


"Wah, aku juga dapat. Terima kasih, Uncle Rumi," ucap Farah


"Aku kira kaku beli dua bungkus untuk Raisa dan kamu sendiri, Rumu," kata Arka


"Kamu mengantar doang, tapi gak ingat beli buat anak sendiri," sindir Raina pada sang suami


"Maaf, Mih. Cuma gak kepikiran aja," sahut Arka


Raisa pun langsung membuka plastik pembungkus gulali kapasnya dan melahapnya dengan hati senang.


"Kalau begitu, kami pamit dulu, ya. Mau langsung ke rumah ibu bapak," ujar Raina


"Mau langsung pergi sekarang, Kak? Kan, baru balik habis antar aku ke rumah sakit. Perginya nanti aja, istirahat dulu," kata Raisa


"Mau langsung pergi sekarang aja. Soalnya di rumah ibu bapak nanti gak bisa menginap seperti di sini, sorenya mau langsung pulang ke rumah. Jadi, istirahatnya nanti sekalian pas sampai di sana aja," ucap Arka


"Kalau begitu, tidak bisa menahan kalian lagi. Hati-hati di jalan," ujar Rumi


"Terima kasih karena udah kasih izin untuk kami menginap di sini semalam," ucap Raina


"Terima kasih untuk gulalinya. Nanti Farah makan pas di dalam mobil," ucap Farah


"Harusnya kami yang bilang terima kasih karena udah mau antar kami buat pergi ke rumah sakit tadi. Terima kasih banyak," ucap Raisa


"Kalau begitu, Kakak boleh bilang soal kehamilan kamu ke ibu bapak dan Raihan dong, ya?" tanya Raina


"Ya, silakan aja. Sekalian titip salam untuk ibu bapak dan Raihan juga," jawab Raisa


Raisa pun memasukkan kembali gulali kapas ke dalam bungkus plastiknya, lalu beranjak bersama sang suami untuk mengantarkan kepergian sang kakak, kakak ipar dan keponakan perempuannya dari sana.


Malam harinya, Bu Vani, Pak Hilman, dan Raihan menelepon Raisa dan Rumi via video call untuk memberi selamat pada pasangan suami istri itu atas kehadiran calon bayi kembar yang masih berada di dalam kandungan Raisa.


Namun, kedua orangtuanya itu meminta maaf karena tidak bisa berkunjung karena akan pergi untuk perjalanan bisnis Pak Hilman yang Bu Vani akan ikut menemani, bahkan Raihan pun sedang masa pengambilan nilai mid semester di sekolahnya.


...


"Sayang, akhir bulan nanti kau akan pergi ke Desa Daun karena ada acara pernikahan Ian dan Monica yang harus kau hadiri awal bulan depan nanti, kan? Aku ikut pergi denganmu ya?" tanya Raisa


"Apa tidak terlalu beresiko untukmu pergi melalui portal sihir teleportasi saat kau sedang hamil seperti ini? Apa tidak sebaiknya kau di sini saja?" tanya balik Rumi


"Tidak akan ada yang terjadi padaku, aku akan aman. Lagi pula, aku sudah membayangkan ingin makan banyak pada saat perjamuan di acara pernikahan nanti," jawab Raisa

__ADS_1


"Kalau memang seperti itu, baiklah. Kau ikut saja, tapi saat di sana kau tidak boleh terlalu lelah atau banyak beraktivitas," ujar Rumi


"Benarkah, boleh?" tanya Raisa


"Tentu saja. Aku tidak ingin kau menangis lagi karena aku melarangmu seperti tadi," jawab Rumi


"Aku senang sekali. Terima kasih," ucap Raisa yang langsung berhambur memeluk sang suami.


"Sama-sama. Asalkan kau merasa senang," balas Rumi


"Sekarang, tidurlah ... sudah malam," sambung Rumi


Raisa pun mengangguk di dalam pelukan sang suami dan dengan jahilnya menciumi dada pria tampan itu.


"Sayang, jangan menggodaku. Aku harus banyak menahan diri karena kau sedang hamil muda," kata Rumi


Raisa hanya terkekeh pelan dan langsung memejamkan kedua matanya karena ang suami yang sudah mulai menina-bobokannya dengan membelai rambut dan kepalanya dengan lembut.


•••


@ Acara Pernikahan Monica dan Ian


Saat ini Raisa dan Rumi sedang menghadiri pesta pernikahan antara Monica dan Ian di Desa Daun. Mengenakan busana dengan warna serasi, Raisa memakai gaun panjang berwarna biru langit yang senada dengan warna kemeja sang suami. Wanita itu tampak cantik meski sedang berbadan dua, alias tiga karena sedang mengandung janin kembar yang saat ini usianya sudah memasuki bulan ketiga.


Pasangan suami istri itu kini sedang berada di atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri.


"Monica, Ian, selamat atas pernikahannya, ya. Semoga selalu harmonis dan langgeng sampai akhir," ucap Raisa


Rumi yang sudah lebih dulu memberi selamat kini terus memerhatikan sang istri yang malah mengobrol sangat lama. Pria itu tampak meraaa khawatir karena Raisa telah berdiri dalam waktu yang cukup lama. Suami Raisa itu kini jadi over protektif karena sang istri yang sedang hamil janin kembar.


"Sayang, ayo kita bergabung dengan yang lain. Aku juga sudah merasa lapar," ajak Rumi


"Baiklah. Kalau begitu, aku dan Rumi turun dulu, ya," ujar Raisa


"Ya, terima kasih, Rumi, Raisa," ucap Ian


"Kami akan ikut bergabung nanti," kata Monica


Raisa pun beralih untuk turun dari atas pelaminan bersama sang suami yang terus menggenggam tangannya untuk senantiasa menjaganya.


"Aku tahu tadi itu kau hanya beralasan," kata Raisa


"Mau bagaimana lagi? Kau sudah terlalu lama mengobrol dan berdiri," ujar Rumi


"Memang apa salahnya? Kan, aku tidak memakai sepatu hak tinggi, harusnya tidak masalah dong?" tanya Raisa


"Tetap saja kau bisa saja kelelahan," jawab Rumi


"Kau ini terlalu berlebihan," sahut Raisa


Raisa dan Rumi pun bergabung dengan teman-teman yang lain. Tak lama setelah itu, sang pasangan pengantin baru juga ikut bergabung di sana. Lingkaran pertemanan mereka terasa lengkap. Bahkan ada Yolanda juga yang kini telah resni menjadi istri Devan dan tidak lagi tinggal di Desa Pasir karena telah diboyong oleh sang suami ke Desa Daun. Lalu, sama seperti mereka, Sanari dan Amon juga telah menikah.


Saat mereka semua tiba pada percakapan seputar momongan, Raisa langsung tersenyum dan menyentuh perutnya yang kini sudah mulai sedikit membuncit. Pada kehamilan biasa yang umum, perut akan mulai membesar saat usia kandungan 4 bulan. Namun, karena Raisa hamil janin kembar saat ini perutnya sudah agak membuncit meski baru memasuki kehamilan bulan ketiga. Meski begitu, penampakan perut buncitnya masih tertutupi oleh gaun yang dipakai oleh wanita hamil itu.


"Ya, akhirnya penantian kami terwujud juga. Kini Raisa sedang hamil," ungkap Rumi


"Benarkah itu, Raisa?" tanya Morgan


"Sudah berapa bulan?" tanya Chilla


"Benar. Sudah memasuki usia 3 bulan, janin kembar," jelas Raisa


"Sekali jadi langsung dapat dua!" seru Ian


"Wah ... selamat, Kak Raisa," ucap Monica


"Agak lucu saat aku mendapat ucapan selamat dari orang yang juga sudah kuberi ucapan selamat," kata Raisa


Raisa pun mendapat banyak ucapan selamat dari para temannya di sana.


"Katanya, orang hamil itu gejalanya berbeda-beda. Kalau kau mengalami gejala apa, Raisa?" tanya Sanari


"Kalau aku jadi lebih banyak nafsu makan dan tidak ingin jauh dari Rumi," ungkap Raisa


"Kalau begitu, Rumi makin tambah senang dan sering ada di rumah dong," ujar Amon


Saat itu, Aqila sedikit merasa tertegun. Meski begitu, mereka semua berbincang dengan penuh semangat dan suka cita.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2