Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
142 - Pemotretan.


__ADS_3

Selang beberapa lama, polisi pun datang...


"Di mana perampok itu?"


"Dia di sini. Saya menahannya di sini, Pak Polisi." Jawab Raisa


Polisi pun melepaskan ikatan tali pada pria yang Raisa ikat sebelumnya, lalu membawanya ke mobil. Salah satu polisi menetap di dalam toko...


"Apa ada korban yang terluka? Saya dengar dia membawa senjata tajam saat beraksi, di mana senjata itu?"


"Dia membawa pisau tadi, itu di sana. Tidak ada yang terluka, namun sepertinya banyak yang syok atas kejadian ini. Toko pun tidak mengalami kerusakan apa pun." Jawab Raisa


"Untung ada Nona pemberani ini menyelamatkan kami semua, toko saya jadi aman karenanya." Pemilik toko pun angkat bicara.


"Atas kejadian hari ini, saya mohon pada para petugas untuk meningkatkan patroli di sekitar wilayah ini, takut ada kejadian lain yang terulang kembali. Sebisa mungkin itu jangan sampai terjadi lagi." Ucap Raisa


"Baik. Kami akan memberikan laporan pada atasan dan akan mulai patroli bergilir mulai sore nanti. Karena semua sudahbaik-baik saja, kami pamit dulu. Permisi..."


"Terima kasih atas kerja sama Anda sekalian."


Polisi pun pergi untuk mengurus penjahat tersebut untuk memasukkannya ke dalam di balik jeruji besi.


Seorang berjas putih pun memasuki pintu masuk toko...


"Saya melihat ada mobil polisi di depan tadi. Apa yang terjadi?" Ujarnya bertanya.


"Untung ada Dokter datang... Tolong periksa Nona ini, tadi dia sempat melawan penjahat yang membawa pisau. Bisa saja ada luka yang tidak terasa..." Ibu pemilik toko langsung menghampiri seorang Dokter yang datang sebagai pelanggan untuk meminta bantuan darinya.


"Raisa!?"


Raisa tersenyum canggung. Pasalnya Dokter yang datang adalah Dokter yang menangani konsultasinya hari ini...


"Dokter, sedang istirahat?" Tanya Raisa berbasa-basi untuk menyapa.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu melawan penjahat bersenjata tajam?!" Tanya Dokter


"Saya ke sini untuk membeli kue dan ada penjahat yang datang, jadi saya bantu menghalaunya." Jawab Raisa


"Yang benar saja! Kamu baru saja dinyatakan sembuh dan terbebas dari perban setelah patah tulang, tapi kamu bisa-bisanya melawan penjahat di sini? Sini, biar kamu saya periksa!" Ujar Dokter


Dokter pun menarik Raisa untuk duduk dengannya untuk diperiksa...


"Kenapa kamu melakukan hal berbahaya seperti itu? Nekat sekali kamu!" Ujar Dokter


"Tapi, saya baik-baik saja dan tidak terluka. Saya tidak mungkin diam saja saat ada penjahat di depan mata, terlebih lagi dia mengancam nyawa seorang anak kecil untuk dijadikan sandera. Saya tidak bisa membiarkan bahaya seperti itu terjadi." Ucap Raisa


"Peduli terhadap sesama memang boleh, tapi keselamatan diri itu yang utama." Kata Dokter


"Seperti Anda yang seorang Dokter memiliki rasa kemanusiaan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang, ini adalah rasa kemanusiaan yang saya miliki." Ucap Raisa


"Raisa, memang orang yang baik hati, tapi sebagai Dokter saya tetap khawatir dengan kondisi kesehatan pasien saya. Kalau seperti ini, bisa-bisa kamu diobservasi ulang. Ayo, kita periksa lagi di rumah sakit." Ujar Dokter


"Dokter, kan, sudah memeriksa saya di sini. Saya juga tidak apa-apa, tidak terluka, dan baik-baik saja. Jadi, lakukan saja pemeriksaan menyeluruh dalam tiga atau lima hari lagi seperti kata Dokter sebelumnya. Mari, kita bertemu lagi saat itu, ya." Tutur Raisa


Raisa pun bangkit mendekati meja kasir untuk mengambil pesanan kue miliknya.


"Maaf, saya mau mengambil pesanan saya tadi." Kata Raisa


"Ngomong-ngomong, Nona... Apa Nona kenal Dokter yang datang itu?"


"Saya pasien yang konsultasi dengannya hari ini." Jawab Raisa


"Ya ampun, Nona sedang sakit? Jadi, apa Dokter itu sudah memeriksa Nona lagi? Nona, kan, habis dalam bahaya. Apa ada yang terluka?"


"Tidak apa, saya baik-baik saja." Jawab Raisa


"Ini satu set kue pesanan Nona. Kalau begitu, kue hari ini gratis. Karena ada kejadian hari ini, Nona tidak perlu bayar." Pemilik toko tersebut menyerahkan plastik berisi sekotak kue pada Raisa.


"Tidak bisa begitu, saya akan bayar. Bibi sudah memberi potongan harga 50% pada semua pelanggan lain sebagai ganti karena mereka merasa syok atas kejadian hari ini, setidaknya saya harus bayar." Ucap Raisa sambil merogoh isi dompetnya.


"Pelanggan yang lain memang merasa syok, tapi Nona adalah penyelamat toko ini. Ini sangat pantas."


"Yang lain merasa syok, tapi saya tidak, jadi harus bayar. Sedangkan, saling menolong itu adalah tugas sesama manusia, jadi terima bayaran ini dan ambil saja sisa kembaliannya yang hanya sedikit itu." Ujar Raisa menyerahkan uang pembayaran dan mengambil pesanan kue miliknya.


"Bibi, pesan yang biasa, ya." Kata Dokter usai menerima telepon.


"Baik. Mohon tunggu sebentar."


"Raisa, kamu yakin tidak mau periksa ke rumah sakit lagi? Bisa saja ada suatu kondisi di dalam tubuhmu yang tidak diketahui setelah melawan penjahat sebelumnya." Ujar Dokter menawarkan pemeriksaan pada Raisa.


"Dokter, ini pesanannya."


Setelah menerima pesanan, Dokter pun membayar...


"Dokter, sangat perhatian dengan pasiennya ya?"


"Raisa, ini adalah pasien saya yang baru sembuh dari patah tulang akibat kecelakaan. Saya sebagai Dokter tentu khawatir setelah mendengar cerita Bibi tadi." Ungkap Dokter memberi penjelasan pada Bibi pemilik toko kue.


"Waduh! Kalau begitu, kenapa Nona tidak ikut kata Dokter untuk periksa di rumah sakit saja?"


Raisa tersenyum lembut...


"Dokter, juga suka kue di toko ini, ya? Saya lihat Dokter sepertinya pelanggan yang sudah cukup mengenal toko ini, dengan Bibi pemilik toko juga." Ujar Raisa


"Saya hanya membelikan kue untuk Ibu saya, dia yang memesan kue ini. Kembali ke topik sebelumnya, jadi kamu ikut saya ke rumah sakit untuk diperiksa, kan, Raisa?" Ujar Dokter


"Seperti janji sebelumnya, saya akan kembali ke rumah sakit dalam tiga atau lima hari lagi. Terima kasih karena Bibi dan Dokter sudah peduli pada kondisi saya, tapi saya baik-baik saja. Saya bisa melawan dan membantu menghalau penjahat tadi adalah bukti bahwa seratus persen saya sehat bugar." Ucap Raisa


"Nona, saya yang harus berterima kasih. Terima kasih banyak atas bantuan hari ini. Tapi, bukannya akan lebih aman kalau diperiksa saja, dengan begitu saya juga tidak akan kepikiran dan merasa bersalah."


"Jangan dipikirkan dan merasa bersalah. Maaf, tapi saya harus segera pulang. Ibu saya sudah menunggu di rumah. Permisi." Kata Raisa


Dengan senyuman hangatnya, Raisa pun berbalik dan ke luar dari toko kue tersebut.


..."Berhadapan dengan penjahat mungkin memang hal nekat. Tadi bukannya aku tidak takut saat kejadiaan terjadi, tapi aku pun merasa aneh! Kenapa tubuhku seperti sudah terbiasa bereaksi seperti tadi, seolah sudah sering berhadapan dengan banyak penjahat lain sebelumnya." Batin Raisa...


...


"Bu, Raisa, pulang..." Ujar Raisa yang baru saja kembali pulang dan masuk ke dalam rumah.


"Kok lama pulangnya?" Tanya Bu Vani


"Aku, kan, udah ngabarin mau mampir ke toko kue. Karena penasaran sama rasa kuenya yang katanya enak, aku jadi mau gak mau ngantre di sana padahal lagi ramai-ramainya." Jawab Raisa tanpa memberi tahu insiden yang terjadi di toko kue tersebut karena tidak mau membuat Sang Ibu khawatir tentangnya.


"Terus, apa kata Dokter tadi? Gimana kondisi tangan kamu?" Tanya Bu Vani


"Ibu, lihat! Aku udah boleh lepas perban, tapi tiga atau lima hari lagi aku diminta periksa ke rumah sakit lagi. Kata Dokter, mau lihat apa udah gak ada resiko sama sekali kalau aku lepas perban. Begitu..." Jelas Raisa menjawab.

__ADS_1


"Syukurlah, kalau begitu. Berarti kamu masih harus jaga pergerakan tangan kamu, ya?" Ujar Bu Vani bertanya.


Raisa mengangguk...


"Sekarang, kita coba cicip kuenya bareng-bareng yuk, Bu. Aku ambil piring dulu di dapur." Kata Raisa


Raisa pun beranjak ke dapur untuk mengambil piring, lalu memakan kue yang baru saja dibelinya bersama Bu Vani.


•••


Keesokan harinya...


Seperti yang pernah dikatakan sebelumnya, hari ini Raisa memiliki janji dengan kedua temannya. Maura dan Nilam.


Hari ini adalah jadwal mereka membuat rekaman untuk konten terbaru. Maura dan Nilam pun datang menjemput Raisa di rumahnya bersama Andien dan Hasna yang katanya ingin ikut melihat proses pembuatan konten. Kelima gadis ini pun pergi bersama ke suatu tempat.


"Hari ini kita mau buat rekaman, kan? Kalian mau bawa aku ke mana kali ini?" Tanya Raisa


"Kamu juga bakal tahu nanti." Kata Nilam


"Kali ini, Andien dan Hasna, yang milih tempatnya. Jadi, kamu ikut aja." Ujar Maura


"Ini masih rahasia!" Kata Andien


"Karena kalau gak rahasia bukan kejutan namanya!" Ucap Hasna


"Kalian berdua bilang ini rahasia, tapi kayaknya cuma aku yang gak tahu di sini. Maura dan Nilam pasti udah tahu duluan, kan?" Ujar Raisa bertanya.


Keempat gadis selain dirinya pun tersenyum penuh arti...


"Ya sudah, aku ikut rencana kalian aja deh!" Kata Raisa


"Dijamin kamu bakal suka dan gak akan kecewa!" Ucap Andien


"Oke, aku menantikannya!" Riang Raisa


Akhirnya, mereka berlima pun sampai di suatu tempat...


"Tempat ini... Studio?" Bingung Raisa


"Iya, kali ini kita bakal bikin konten di sini." Kata Maura


"Tapi, ini, kan, studio foto. Kita mau bikin rekaman konten atau mau pemotretan?" Tanya Raisa


"Nah, itu dia! Kita bakal tentuin konsep konten kita nanti saat di dalam. Mau bikin video cover lagimu seperti biasa atau bikin video tentang pemotretan untuk konsep baru. Kalau bisa kedua-duanya, sih, lebih bagus!" Ujar Nilam


"Kita udah bayar sedikit uang sewa di studio ini. Mau ada atau enggaknya pemotretan di dalam, kita juga bisa pakai studio ini." Ucap Andien


"Segela sewa tempat emang gak apa? Apa gak terlalu berlebihan cuma untuk bikin konten sederhana? Kelihatannya studio ini masih baru..." Tanya Raisa


"Itu bukan masalah, biaya sewanya murah kok. Kamu jangan kaget pas lihat siapa pemilik studio ini nantinya, ya..." Ucap Hasna


"Emang kenapa? Apa orangnya adalah lelaki tampan?" Tanya Raisa


"Masalah itu, sih, tergantung penilaian masing-masing." Kata Andien


Kelima gadis itu pun berjalan masuk ke dalam studio tersebut.


"Permisi. Kami udah sewa studio ini. Apa ada orang?"


"Ternyata, gak ada orang. Apa karena kalian udah sewa studionya?" Gumam Raisa


Mereka berlima pun menghampiri sumber suara tersebut...


"Hari ini gak ada jadwal pemotreran lain di sini?" Tanya Hasna


"Gak ada. Semua model yang ada di sini lagi pada ambil hari libur mereka. Hari ini kalian bebas pakai tempat ini. Dan, Selamat Datang!" Jawabnya sambil menyambut kedatangan kelima gadis itu.


Raisa melihat lelaki yang sedang memegangi kamera miliknya. Lelaki yang tidak terasa asing, namun Raisa masih mencoba mengingat siapa lelaki teesebut...


"Halo, Raisa! Udah lama gak ketemu, ya... Kenapa lo tatap gue begitu? Jangan bilang lo lupa sama gue yang super ganteng ini?" Sapanya dengan penuh percaya diri.


"Bukannya gua udah kasih tahu lo waktu sewa tempat ini? Raisa sempat hilang ingatan karena kecelakaan." Ujar Andien


"Iya, gue ingat. Becanda kok, cuma basa-basi doang! Gue turut prihatin, ya, Raisa." Katanya


"Aku udah baik-baik aja kok sekarang. Aku ingat! Kamu, Daffa, kan? Kita pernah sekelas waktu SMP dulu! Lama gak ketemu... Apa kabar?" Ujar Raisa


"Wah, ternyata lo gak lupa sama gue! Gue juga baik kok." Ucapnya, Daffa. Teman sekelas Raisa, Andien, dan Hasna sewaktu SMP dahulu.


"Nah, Daf! Ini teman Raisa, Maura dan Nilam. Teman Raisa berarti teman kita juga, kan?" Ujar Hasna memperkenalkan Maura dan Nilam pada Daffa.


"Halo, Maura, Nilam!" Sapa Daffa


"Salam kenal!" Serempak Maura dan Nilam.


"Nah, kalian mau apa ubtuk konten kalian di sini?" Tanya Daffa


"Lu ada saran gak biar konten Raisa kali ini jadi lebih menarik?" Tanya balik Andien


"Gue udah lihat! Konsep konten Raisa itu cover lagu, kan? Gimana kalau buat yang beda kali ini?" Ujar Daffa


"Bikin apa, tuh?!" Penasaran Maura


"Begini... Sebenarnya gue ada job pemotretan, tapi karena model gue lagi libur semua... Gimana kalau Raisa yang jadi modelnya?" Saran Daffa


"Jadi, model dadakan begitu ada syaratnya, kan?" Tanya Raisa


"Gak juga kok. Proses pemotretan juga bisa divideokan untuk konten baru Raisa, cuma sebelum hasil pemotretan ini gue publikasikan, konten tentang pemotretan belum boleh dipublikasi. Itu aja, sih." Jawab Daffa


"Emang kalau Raisa jadi model lu, hasil fotonya mau dipublikasi di mana dan kapan?" Tanya Andien


"Ini untuk majalah remaja xxx dan termasuk situs webnya. Masalah waktu publis, kalau gak butuh banyak edit bisa publis 2 minggu lagi dan paling lama sebulan kemudian." Jawab Daffa


"Tentang publikasi juga termasuk syarat, kan? Tapi, aku juga gak yakin bisa, aku kan gak ada pengalaman jadi model." Ujar Raisa


"Gak susah kok. Jadi model itu cukup cuma diam dengan sedikit gaya terus dipotret. Kalau masih kaku, gue bisa arahin lo kok, Sa." Ucap Daffa


"Tapi, bukan buat foto yang aneh-aneh, kan?" Tanya Raisa untuk meyakinkan.


"Tenang aja, semua pemotretan di sini legal bukan untuk majalah dewasa juga, kan, gue sendiri fotografernya." Jawab Daffa


"Emang kamu gak mempekerjakan fotografer lain, Daff?" Tanya Hasna


"Studio ini masih merintis, jadi baru ada gue satu-satunya fotografer di sini." Jawab Daffa


"Kamu mau aja, Raisa. Ini bisa bikin kamu semakin terkenal." Bujuk Maura

__ADS_1


"Sebenarnya gue dapat job ini termasuk dadakan, sih. Tengat waktu serah hasil fotonya juga termasuk mepet, jadi gak sempet cari model baru selagi model gue pada cuti. Waktu dengar Raisa mau datang, gue berharap banget gue juga punya kesempatan rekrut Raisa jadi model dadakan baru. Raisa, juga udah cukup dikenal karena suka buat konten cover lagu. Ayolah, Sa, hitung-hitung lo bantu gue. Nanti lo juga dapat bayaran sebagai model kok." Ucap Daffa


"Ini bukan masalah bisa jadi terkenal atau dapat bayaran. Tapi, okelah! Aku mau coba, kayaknya bakal seru dan aku bakal suka. Aku juga mau kok bantu kamu, Daff. Tenang aja, selagi aku masih bisa, mah. Tapi, kamu bantu kasih aku arahan juga, ya." Ujar Raisa


"Siplah, beres! Makasih ya, Raisa." Kata Daffa


"Belum juga mulai, masih terlalu awal bilang terima kasih." Kata Raisa


"Kalau begitu, buat konsep pemotretan kali ini lo bisa pakai baju di ruang ganti di gantungan sebelah kanan. Ruang gantinya ada di sebelah kiri sana, di sana juga termasuk ruang make-up." Ujar Daffa


"Kalau begitu, aku yang bakal rekam proses pemotretan sekaligus make over-nya." Kata Nilam


"Kami semua bantu Raisa ganti baju dan make-up dulu, ya." Kata Maura


"Oke, gue tunggu di sini, ya!" Paham Daffa


Raisa pun dibantu keempat teman gadisnya untuk memilih baju dan berdandan untuk sesi pemotretan. Raisa menjadi sedilit gugup karena baru pertama kali mencoba hal baru seperti ini.


"Wah, kamu cantik banget, Raisa!" Puji Hasna


Raisa tersenyum lembut...


"Aku juga suka sama hasilnya, aku terlihat sangat berbeda dari biasanya, seperti bukan aku saja. Terima kasih, ya! Ini berkat kalian semua!" Ucap Raisa


"Kamu asalnya emang udah cantik kok, cuma kali ini lebih terpancar dan bersinar aja." Kata Maura


"Raisa, lihat sini dulu dong!" Pinta Nilam yang sudah merekam Raisa.


Raisa pun menoleh ke arah handicam yang digunakan Nilam sambil tersenyum kecil...


"Halo! Aku jadi malu dan gugup, nih!" Kata Raisa


"Gak usah gugup, Sa. Cukup seoerti biasa aja, kamu pasti bisa kok. Semangat, ya!" Ucap Andien


Raisa pun mengangguk...


Raisa pun kembali bersama keempat teman gadisnya menemui Daffa untuk memulai sesi pemotretan.


"Raisa, udah siap, nih!" Kata Andien


"Oke! Wah, lo jadi tambah cantik aja, Sa." Ujar Daffa


Raisa tersenyum malu-malu...


Kembali bertemu dan melihat Daffa setelah sekian lama membuat Raisa merasa seperti ada sesuatu yang aneh. Entah apa yang dirasakannya itu.


..."Aku ingat pernah menyukai Daffa dulu. Namun, pada akhirnya kami hanya berteman karena aku tidak bisa mengungkapkan rasa sukaku. Melihat dan bertemu dia lagi setelah sekian lama membuatku merasa aneh dan bingung. Perasaan ini... Aku yakin aku sudah melupakan rasa sukaku padanya sejak lama, tapi aku malah seperti merindukan orang lain saat mengingat rasa sukaku dulu padanya. Ini adalah rasa suka pada orang lain yang amat dalam dan aku jadi sangat merindukannya. Apa aku sedang menyukai seorang lelaki atau malah sedang memiliki hubungan spesial dengan seorang lelaki? Tapi, siapa? Aku tidak bisa mengingatnya! Rasanya menyesakkan!" Batin Raisa...


Raisa pun memegangi dadanya yabg terasa sesak dan terdiam...


"Lo gugup, Raisa? Santai aja! Ini mudah kok." Ujar Daffa


"Iya, aku agak gugup. Aku harus berdiri di mana? Di sini? Begini?" Ujar Raisa


Daffa mengira Raisa yang memegangi dada karena sedang gugup dan pada akhirnya lamunan Raisa tentang perasaannya yang berkecamuk pun terbuyarkan...


"Ya, di situ. Bagus, begitu! Oke! Gue mulai pemotretannya, ya... Santai aja, tenang... Senyum sedikit dan lihat ke sini. 1, 2, 3!" Daffa pun memberi Raisa aba-aba.


Cekriik!


Pemotretan pun dimulai...


Raisa membuat beberapa gaya dengan beberapa pakaian untuk set pemotretan pertamanya. Raisa berusaha tenang mengikuti arahan dari Daffa sebagai fotografer-nya, walau sebenarnya ia tidak bisa fokus karena pikiran tentang apa yang telah ia lupakan terus mengganggu.


..."Sepertinya aku juga suka berfoto-foto, juga bersama beberapa orang lain. Saat itu aku sangat bahahia, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas? Sebenarnya apa yang sudah kulupakan itu? Kenapa aku tidak bisa ingat hal yang satu ini padahal sudah banyak sekali hal lain yang sudah kuingat kembali?" Batin Raisa...


Padahal saat baru pulang dari rumah sakit saat itu, Raisa pernah membuka album foto rahasia di dalam ponselnya. Namun, itu pun sudah terlupakan olehnya karena tidak bisa ingat orang-orang yang bersamanya di dalam foto-foto tersebut. Memori tentang mereka seakan-akan menjadi hal rapuh yang telah terkubur sangat dalam. Semakin Raisa ingin mengingatnya, semakin pula ingatan itu tidak bisa kembali. Hanya menyisakan rasa sakit dan rindu karena tidak bisa mengingat semua itu kembali.


Setelah mengambil banyak foto, kali ini adalah sesi foto terakhir dengan pakaian terakhir.


"Nice, Raisa! Semua foto yang diambil bagus-bagus dan menarik. Pemotretannya udah selesai, ya. Lo udah bisa ganti pakai baju lo lagi." Ucap Daffa


Raisa terdiam di tempat. Kepalanya terasa sakit akibat berusaha mengingat hal yang sulit, wajahnya pun mengeluarkan keringat dingin.


"Raisa, kok lo bengong? Kenapa? Pemotretannya udah selesai, lho." Tanya Daffa


Raisa pun tersadar kembali.


"Gak apa kok. Cuma lega aja karena udah selesai pemotretannya." Dusta Raisa


"Oh, iya. Kalau lo mau rekam video cover lagu pakai baju yang ada di sini juga boleh. Kalau lo mau gue juga bisa rekamin videonya buat lo." Ujar Daffa


"Buat video cover lagu, kalau Daffa juga mau rekamin, kita berdua rekam pakai kamera masing-masing aja. Nanti hasil yang paling bagus baru kita pakai untuk di-upload, atau bisa juga edit dua hasil yang beda untuk dijadiin satu video." Ucap Nilam


"Tapi, benar nih aku boleh pakai baju yang ada di sini?" Tanya Raisa


"Ya, boleh kok. Pakai yang mana aja yang menurut lo bagus." Jawab Daffa


Setelah sesi pemotretan, barulah akhirnya Raisa merekam video cover lagu terbaru. Raisa juga meminjam pakaian yang ada di studio foto tersebut untuk videonya kali ini.


Usai merekam video, kelima gadis itu pun pamit hendak pergi dari studio foto milik Daffa. Daffa pun tak melupakan satu hal...


"Sebelum lo pulang, jangan lupa ambil bayaran lo. Makasih ya udah mau jadi model gue hari ini." Ucap Daffa sambil menyerahkan sebuah amplop pada Raisa.


"Eh, gak usah kali. Kayak sama siapa aja, lagi pula kan aku niatnya cuma mau bantu kamu." Tolak Raisa


"Udah, ambil aja! Kalau gak, anggap aja gue gratisin biaya sewa studio karena lo udah bantu gue. Kalian bisa pakai untuk makan-makan setelah dari sini, kan." Ujar Daffa


"Ya udah, aku terima deh. Kalau begitu, terima kasih, Daffa." Kata Raisa yang akhirnya menerima amplop yang diberikan Daffa.


"Santai, Sa. Kita, kan, sama-sama saling bantu." Sahut Daffa


"Kalau begitu, kami semua pamit dulu ya, Daff." Ujar Andien


"Kalau lain kali gue butuh model dadakan lagi, gue bisa minta bantuan lo lagi, kan, Sa?" Tanya Daffa


"Kabarin aja dulu, nanti aku pikir-pikir dulu. Kamu udah simpan nomorku tadi, kan?" Ujar Raisa


"Sip, udah gue save kok!" Kata Daffa


"Pergi dulu, Daff."


"Dah~"


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2