
Raisa dan Rumi terus berjalan pulang dengan tangan tang saling bertautan. Namun, baru saja mereka merasa senang saat bersama, setelah ini mereka berdua harus berpisah karena tinggal di rumah yang berbeda...
"Rasanya tak ingin berpisah denganmu! Sebentar lagi kau juga akan pulang kembali ke duniamu, masa sekarang pun kita sudah harus berpisah juga. Bagaimana kau malam ini kita tidur bersama saja di salah satu rumah? Di rumahku atau di rumahmu!?" Ujar Rumi
"Tidak boleh, tidak bisa! Bukankah sudah kubilang tadi, hal seperti itu tidak boleh terhadi dan dilakukan atau diulangi lagi?!" Tolak Raisa melarang.
"Benar-benar tidak boleh, ya? Kukira boleh saja jika aku meminta izin dulu denganmu. Padahal saat kau berada di rumah sakit setelah ada pertarungan besar di sini, aku menemanimu di rumah sakit siang dan malam. Setelah aku terkena racun pun kau menginap di rumahku untuk menjagaku." Kata Rumi yang masih ingin terus bersama Raisa
"Itu, situasinya beda lagi. Saat itu, aku maupun kau sedang sakit dan kita berperan sebagai orang yang menjaga orang yang sakit saat itu saja. Mengertilah... Aku tumbuh dengan peraturan seperti ini di dalam diriku, ini hal yang tidak boleh dilanggar. Lelaki dan perempuan tidak boleh tinggal di bawah satu atap yang sama jika bukan satu keluarga." Ucap Raisa
"Tapi, Morgan pernah punya saudara angkat lelaki yang bukan keluarga kandung. Padahal adiknya adalah perempuan dan mereka tinggal di rumah yang sama..." Ungkit Rumi sebagai contoh alasannya.
"Aku tidak tahu peraturan budaya di sini seperti apa, tapi itu tetap berbeda. Morgan san adiknya memiliki keluarga, yaotu orangtuanya, orang dewasa yang mengawasi anak-anaknya dan si anak angkat tersebut. Hal seperti itu bisa saja diperbolehkan." Jelas Raisa
Rumah Rumi dan Raisa sudah mulai terlihat dari jalan yang dilewati mereka berdua...
..."Sebenarnya, aku pun tak ingin cepat-cepat berpisah denganmu. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi ketentuan yang tidak boleh dilanggar!" Batin Raisa...
"Jadi, kali ini kita benar-benar berpisah sampai di sini saja? Kalau begitu, biarkan aku mengantarkanmu sampai depan rumahmu." Ujar Rumi
"Haruskah aku mengizinkanmu? Nanti kau malah tidak mau pulang ke rumahmu sendiri, lagi..." Ragu Raisa mempertimbangkan.
Jika, dari jalan yang sedang mereka tempuh... Rumah Rumi memang lebih dekat dari pada rumah Raisa, walau hanya berjarak tiga rumah lainnya saja. Hanya segini saja, mereka berdua sudah tidak mau dipisahkan... Bagaimana jika mereka kembali tinggal di dunia yang berbeda dimensi? Itulah yang selalu jadi pertimbangan Raisa sebelum ia mengakui jika ia juga sama-sama memiliki rasa suka dengan Rumi.
"Benar! Aku tidak mau berpisah denganmu untuk sekarang ini..." Kata Rumi
"Tidak boleh begini! Bagaimana jika kuperbolehkan kau mampir ke rumahku sebentar saja?" Ujar Raisa
"Bolehkah? Benarkah?!" Tanya Rumi memastikan dengan perasaan senang di hatinya.
"Ya. Aku akan mengajakmu makan malam di rumahku karena kau pasti akan melupakannya bahkan tidak peduli lagi dengan pola makanmu, padahal kau masih belum makan malam. Tapi, hanya untuk itu saja, hanya sebentar saja! Itu pun kalau kau mau... Mau tidak, sebentar saja mampir ke rumahku? Janji, akan langsung pulang dan hanya mampir sebentar saja. Tapi, kalau kau tidak mau... Ya sudah, lupakan saja tawaran dariku ini!" Tawar Raisa
"Mau, aku mau! Aku janji hanya mampir untuk makan malam sebentar denganmu di rumahmu dan setelah itu aku akan langsung pulang ke rumahku sendiri! Jangan kau tarik lagi tawaranmu untukku, ya..." Terima Rumi dengan cepat.
Raisa terkekeh kecil dengan respon Rumi yang dianggapnya menggemaskan itu...
"Baiklah. Ayo, mampir ke rumahku dulu!" Kata Raisa
Rumi merasa senang mendapat tawaran yang menurutnya sangat bagus dari Raisa. Setidaknya, ini bisa sedikit memperpanjang waktu kebersamaannya dengan gadisnya itu karena ia tak ingin benar-benar cepat berpisah dengan gadis yang mencuri hatinya itu...
Raisa pun ikut merasa senang! Karena ia pun sama seperti Rumi yang tak ingin berpisah terlalu cepat setidaknya untuk sekarang ini. Jadi, ia beralasan menawarkan untuk mampir ke rumahnya untuk sekadar makan malam bersama agar Rumi tak lagi melupakan makannya.
Mereka berdua pun akhirnya menempuh jalan bersama menuju ke rumah Raisa. Rumi terus tersenyum kecil di saat-saat kebersamaan mereka di waktu yang tipis itu...
Setibanya di rumahnya, Raisa pun mempersilakan Rumi untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamunya.
"Kau duduk dan tunggu dulu di sini. Aku akan membuat makan malamnya di dapur." Ucap Raisa
Rumi pun terduduk di sofa dan melihat punggung gadis tersayangnya beranjak pergi menuju dapur...
Di dapur, Raisa langsung melihat persediaan bahan makanannya yang masih tersedia. Saat melihat bahan-bahan yang ada, ia memutuskan untuk membuat Steak Ayam Saus Barbekyu.
Saat membiarkan rendaman dada ayam fillet di dalam saus tiram dan air, Raisa beralih memotong sayuran untuk direbus dan kentang untuk digoreng. Dan saat itu, Rumi datang menghampirinya di dapur.
"Kenapa datang? Kenapa tidak tunggu saja di depan?" Tanya Raisa
"Aku mampir ke rumahmu kan agar bisa lebih lama saat bersamamu. Kalau aku menunggu di tempat lain, maka percuma saja." Jawab Rumi
"Bilang saja, supaya nanti kau bisa cepat pulang dan meninggalkanku." Ledek Raisa bercanda untuk menggoda Rumi.
"Raisa, kau marah denganku ya? Kau tidak suka aku ada di sini?" Tanya Rumi
Dilihatnya lelakinya itu berekspresi menggemaskan dengan mata yang berbinar seolak sedang membujuk dan minta diberi kasih sayang...
..."Niatku kan hanya bercanda. Kenapa jadi dia yang begitu sensitif? Dasar, Rumi! Ingin bermanja-manja ya? Menggemaskan sekali!" Batin Raisa...
"Tidak kok, aku hanya bercanda. Boleh saja, kau melihatku di sini. Tapi, jangan menggangguku memasak!" Ucap Raisa
"Baiklah. Aku takkan mengganggu, justru ingin membantu. Adakah yang bisa kubantu?" Ujar Rumi
__ADS_1
"Ingin membantu? Kalau begitu, tolong potongkan wortel dan buncisnya. Potong tipis, tapi sebelum itu dicuci dulu. Kau juga harus mencuci tanganmu dulu" Kata Raisa
"Baik." Paham Rumi
Setelah cukup merendam ayam di dalam saus, Raisa memanaskan ayam tersebut di atas teflon. Setelah disisihkan, ayam kembali diolesi dengan bumbu rendaman, lalu panggang kembali sampai matang. Setelah matang dan diangkat, Raisa beralih menggoreng kentang.
"Selain ini, apa yang perlu kubantu lagi?" Tanya Rumi
"Kau memotongnya cukup cepat juga. Potongannya tipis juga rapi. Sepertinya kau berbakat dalam memasak, Rumi!" Puji Raisa
"Setelah sayuran, tolong cincang bawangnya sampai halus. Seperti ini..." Pinta Raisa sembari memberi sedikit contoh mencincang halus bawang kepada Rumi.
"Aku mengerti!" Kata Rumi yang terus memerhatikan contoh dari Raisa.
Setelah kentang goreng matang dan diangkat, Raisa kembali beralih merebus sayuran, yaitu wortel dan buncis hasil potongan Rumi.
"Setelah ini, apa lagi?" Tanya Rumi
"Sudah cukup! Tinggal membuat sausnya." Kata Raisa
Setelah selesai merebus sayuran. Raisa beralih untuk membuat saus barbekyu... Yaitu, dengan menumis bawang, kecap manis, lada, saus tomat, dan saus tiram, juga tambahkan minyak wijen. Memasaknya hingga harum~
Setelah semua matang, Raisa mulai menyusunnya di atas piring. Letakkan ayam, tata kentang goreng dan sayuran. Lalu, tuangkan siraman saus barbekyu. Steak Ayam Saus Barbekyu pun telah siap dihidangkan! Tak lupa juga membuat minumannya, yaitu es sirup jeruk. Juga, tak tertinggal menyiapkan air mineral...
"Rumi, kau tolong bawakan minumannya ya. Aku akan bawakan makanannya!" Ucap Raisa
"Baiklah." Kata Rumi
Raisa dan Rumi pun membawa masing-masing nampan dengan bawaan yang berbeda. Mereka membawanya ke ruang tamu untuk makan bersama di sana...
Setelah menaruh apa yang dibawa di atas meja, keduanya pun duduk di sofa. Mereka berdua pun makan malam bersama...
"Makanlah, Rumi. Semoga kau suka dan sesuai dengan seleramu." Ujar Raisa
"Apa pun yang kau berikan, aku selalu menyukainya. Selamat makan, Raisa!" Ucap Rumi
"Makanan yang kita buat ini, di duniaku diberi nama steak ayam saus barbekyu. Tidak perlu nasi lagi, karena sudah ada kentang goreng sebagaisumber karbohidrat." Ungkap Raisa
"Aku membuat penyimpanan pendingin lain, yaitu kotak pendingin es. Setiap dua atau tiga kali sehari, aku mengecek dan menambah kembali balok es yang sudah cair. Ini dapat mempermudahku, karena aku tak mungkin langsung membeli lemari pendingin. Penghasilanku di sini belum cukup sampai bisa membelinya." Jelas Raisa
"Kau pandai sekali mengakalinya. Kau adalah ahlinya dalam hal ini!" Sanjung Rumi
"Tentu saja! Kita harus mempermudah hidup dan diri kita sendiri, jangan hanya merasa susah atau terus mengeluh pada keadaan. Lagi pula, di sini aku hanya berkunjung sebentar. Bahan makanan yang kusimpan pun tidak banyak, jadi cukup membuat kotak pendingin es saja sebagai pengganti penyimpanan bahan makanan." Ucap Raisa
"Kembalilah lusa ke duniamu, jangan besok! Untuk besok habiskanlah waktumu bersamaku seharian..." Pinta Rumi
"Lalu, bagaimana dengan teman yang lain? Jika, mereka bertanya kenapa kita hanya asik berdua saja? Kau akan menjawab apa?" Tanya Raisa
"Kita selalu menghabiskan waktu beramai-ramai. Mereka tidak perlu tahu, aku akan memberi alasan yang bagus pada mereka semua nantinya. Itu aku saja yang akan pikirkan." Kata Rumi
"Maksudmu, kita tak perlu beritahu yang lain kalau kita menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman, begitu?" Tanya Raisa ingin memastikan.
"Apa harus memberitahukannya? Menurutku, sikap kita akan sama, saling berbaik hati dan saling perhatian meski mereka tahu atau tidak. Apa kau ingin mereka semua tahu? Ya sudah, tinggal beritahu saja..." Ujar Rumi
"Tidak, terserah kau saja. Tidak beritahu mereka juga tidak apa. Lebih baik biarkan saja..." Kata Raisa
..."Kukira Rumi akan ingin memperjelas hubungan di depan semua teman yang lain. Aku pun sebenarnya, tak ingin yang lain ada yang tahu tentang kita... Jadi, lebih baik seperti ini. Bagus, tidak perlu beritahu siapa pun. Cukup kita berdua saja!" Batin Raisa yang masih ragu dengan suatu alasan dalam hubungannya dengan Rumi....
"Berjanjilah akan bersamaku selama seharian besok!" Pinta Rumi
"Aku ingin, tapi tergantung pada situasi yang terjadi besok." Kata Raisa
"Kalau begitu, aku yang akan memastikan jika besok kau hanya akan berdua denganku! Kau hanya perlu ikut denganku, Raisa." Ujar Rumi
"Baiklah, aku akan ikut denganmu!" Setuju Raisa
Mendengar Raisa menyetujui keinginannya, Rumi merasa sangat senang! Ia tak tahu, sebenarnya Raisa masih saja ragu menjalin hubungan yangebih dengannya...
..."Aku ingin bersama dan menjalin hubungan yang lebih dengan Rumi, tapi tak ingin ada orang lain yang tahu. Bukankah sama saja kalau aku ini egois? Tidak tahu mana yang benar yang harusnya kupilih! Untuk saat ini aku benar-benar hanya ingin menjalaninya saja..." Batin Raisa...
Saat makan malan bersama selesai, Rumi pun jadi terlihat sedikit lesu. Namun, ia tak ingin menunjukkannya pada Raisa dan hanya tersenyum kecil sebisanya. Ini karena setelah makan usai, ia harus segera kembali pulang... Kalau bisa, ia mau waktu berjalan lambat saat sedang bersama Raisa. Ia tak ingin terpisahkan dengan Raisa, gadis yang disukainya!
__ADS_1
Rumi pun bangkit berdiri hendak pergi meninggalkan rumah Raisa menuju pulang ke rumahnya sendiri... Raisa pun ikut berdiri ingin mengantar kepergian Rumi sampai pintu utama rumahnya saja.
"Aku pulang ya, Raisa. Jumpa lagi besok!" Ucap Rumi
"Hmm, baik. Sampai jumpa besok!" Balas Raisa
"Pipi dan di bibir sudah, hanya kurang di kening saja yang belum..." Gumam Rumi
CUP!
Rumi mengecup kening Raisa~
"Kita sudah berciuman, kau juga sudah mencium pipiku. Hanya tinggal perlu mencium kening dan sudah kulakukan juga. Aku pamit!" Pamit Rumi
Rumi pun beranjak berjalan pulang ke rumahnya meninggalkan Raisa yang terpaku di tempat~
Raisa mengerjapkan matanya perlahan untuk menyadarkannya dari lamunan. Ia pun menyentuh keningnya yang diberi kecupan oleh Rumi...
"Jadi, ternyata inilah alasannya kenapa Rumi terus memegangi pipinya setelah kucium tadi... Rasanya istimewa sekali!" Gumam Raisa
Raisa terkikik geli dengan suara kecil seperti orang gila setelah mendapat perlakuan manis dari Rumi. Ia pun menutup pintu utama rumah dan menguncinya, lalu beranjak masuk ke dalam kamar tidurnya dengan tak menghilangkan senyuman di bibirnya saking merasa senang!
"Tidak tahu, ah! Aku bahagia sekali!" Girang Raisa bersamaan dengan merebahkan dirinya di ranjang kasur.
Raisa pun berusaha memejamkan matanya walau belum terlalu ingin untuk tidur. Lama-lama, ia pun terlelap dengan senyuman yang terus mengembang pada bibir manisnya... Terbuai masuk ke dalam mimpi indah sepanjang malam~
•••
Keesokan harinya...
Raisa terbangun di pagi hari yang cerah secerah hatinya dengan senyuman yang merekah indah pada bibir manisnya~
Usai bersiap dengan dirinya, Raisa pun melangkahkan kakinya ke luar dari rumahnya dengan perasaan gembira!
Di tengah perjalanannya menuju tempat berkumpul dengan teman-temannya, Raisa lebih dulu bertemu dengan Aqila dan Chilla...
"Raisa!" Seru Aqila dan Chilla dengan serempak memanggilnya.
Raisa pun melambaikan tangannya dan menghampiri kedua teman cantiknya itu~
"Hai, Aqila, Chilla!" Sapa Raisa
"Wah, ada apa denganmu, Raisa? Apa ada kabar baik? Wajah dan senyumanmu ceria sekali! Kau terlihat sangat senang!" Ujar Aqila bertanya.
"Oh, ya? Benarkah? Sepertinya biasa saja, tuh! Memangnya terlihat seperti apa wajahku ini?" Ucap Raisa balik bertanya.
"Kau seperti dalam perasaan senang karena dapat hadiah atau sedang menanti-nantikan untuk makan banyak!" Ungkap Chilla
"Begitukah?" Tanya Raisa
Bagi Chilla dapat makan banyak sama seperti mendapat door-price! Itu menggambarkan perasaannya yang sangat bahagia. Jadi, seperti itukah perasaan yang terbaca dari wajah Raisa? Padahal ia sudah berusaha bersikap biasa saja dan menyembunyikan kebahagiaannya...
..."Padahal aku tidak ingin menunjukkan perasaan bahagiaku, tapi sepertinya aku tak bisa menyembunyikannya atau tak pandai mengatur ekspresiku. Aku memang sedang bahagia sekali! Apa itu terlalu terlihat dari wajahku?" Batin Raisa...
Ternyata, Aqila dan Chilla dapat menebak dengan sekali melihat ekspresi wajah Raisa! Ternyata, Raisa tak pandai menyembunyikan perasaan bahagianya yang terus membuncah di halam hatinya.
"Padahal besok kau sudah harus kembali pulang ke duniamu. Sesenang itukah kau saat ingin berpisah dengan kami?" Ujar Chilla
"Bukan begitu! Karena ini hari terakhirku, aku jadi tak sabar bertemu dengan kalian semua!" Sangkal Raisa
"Kalau begitu, hari ini kau harus terus bersama kami semua untuk menghabiskan qaktumu yang tersisa bersama-sama!" Kata Aqila
"Eh, tentu saja, dong!" Patuh Raisa
..."Gawat! Padahal aku sudah mencoba berjanji untuk menghabiskan waktuku hari ini bersama dengan Rumi saja. Bagaimana ini?! Aku juga tidak bisa menolak keinginan temanku yang lainnya! Aku berada dalam dilema!!" Batin Raisa...
.
•
Bersambung...
__ADS_1