Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
164 - Menjenguk Para Korban.


__ADS_3

Semua anak masih saja merasa takjub dan terperangah melihat bulan buatan.


"Kak Raisa! Benarkah cahaya bulan ini tidak akan pernah padam?"


"Bulan ini hanya benda tiruan buatan, tapi kalian menganggapnya seperti bulan sungguhan, ya ... " gumam Raisa


"Benar, cahaya bulan itu tidak akan pernah padam. Kecuali, jika aku mati atau kemampuan sihirku menghilang," jawab Raisa


"Kalau begitu, tidak usah khawatir! Karena Kak Raisa orang yang hebat, pasti tidak akan terjadi apa-apa."


"Ya. Semoga saja," pelan Raisa


Raisa tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, tapi setelah ia menjawab pertanyaan anak tadi, semua temannya menatap ke arahnya.


"Ya! Karena hari sudah malam ... ayo, semua masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur," ujar Raisa


"Yah~ Tapi, kami masih ingin melihat cahaya bulannya."


"Bulan itu adalah hadiah untuk kalian semua yang ada di sini. Tidak akan kuambil dari kalian lagi, jadi kalian bisa melihatnya kapan saja sepuasnya sampai kalian bosan. Tidak bisa malam ini, besok pun bisa! Tapi, kalian tetap harus tidur," ucap Raisa


"Benar. Jadi, sekarang kalian harus tidur," ujar Aqila


"Ayo, masuk ke kamar, semuanya ... " kata Chilla


Semua pun menurut, masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur.


Saat Raisa hendak masuk ke dalam kamar bersama Aqila, Chilla, dan para anak perempuan. Rumi menghampirinya dan menahannya sebelum masuk ke dalam kamar. Raisa pun menoleh ke belakang.


"Ada apa, Rumi?" tanya Raisa


"Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja," jawab Rumi


"Tunggu sebentar," kata Raisa sambil mengangguk.


"Anak-anak, aku ingin mengambil minum dulu ke dapur sebentar. Kalian tidur saja duluan, tidak perlu menunggu kakak," ucap Raisa yang masuk ke dalam kamar sebentar untuk memberi penjelasan pada anak-anak perempuan panti asuhan.


"Baiklah."


"Jangan terlalu lama, ya, Kak. Kak Raisa juga harus segera tidur."


"Siap," kata Raisa


Raisa pun kembali pada Rumi.


"Kalau begitu, kita bicara di dapur saja," ujar Rumi


Raisa mengangguk setuju.


Keduanya pun beranjak menuju ke dapur.


"Kau bisa katakan yang ingin kau bicarakan," kata Raisa sambil menuang air ke dalam sebuah gelas di dapur.


"Akan selalu bercahaya dan hanya ada satu untuk semua orang. Arti bulan bagi kehidupan! Kau sengaja bilang seperti itu supaya aku juga bisa mendengarnya, kan? Karena kau tahu aku selalu merasa diriku rendah karena merasa diriku ini lebih mirip dengan bulan dari pada matahari," ujar Rumi


"Kau bisa menduganya dan itu memang benar. Selain memiliki srti seperti itu, Bulan itu tidak selamanya diliputi dan tenggelam dalam kegelapan, tapi juga dikelilingi kehangatan dari orang-orang yang membutuhkan dan senang melihatnya. Karena bulan tidak selamanya hanya sendirian, tapi juga ditemani oleh banyak bintang di sekelilingnya. Tidak hanya matahari, bulan juga bisa menerangi banyak hal dengan cahayanya, begitu juga kau. Kau hanya tidak tahu betapa istimewanya dirimu dan betapa berharganya dirimu bagi orang lain. Jadi, lain kali saat kau merasa tidak percaya diri, ingatlah perkataanku ini... Rumi kau juga memiliki keistimewaanmu tersendiri yang tidak kau sadari yang hanya bisa dilihat oleh orang lain. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri," tutur Raisa


..."Akhirnya kata-kata ini tidak hanya ada dalam benakku saja, tapi juga kusampaikan pada Rumi," batin Raisa...


"Bicara memang mudah, padahal kau sendiri juga kurang percaya diri," gumam Rumi


"Seperti itukah diriku di matamu?" tanya Rumi


"Tentu saja," jawab Raisa sambil mengangguk.


Raisa pun menenggak air minum yang telah dituangkannya ke dalam gelas.


"Lalu, apa maksudmu dengan cahaya bulannya akan padam saat kau mati atau kemampuan sihirmu menghilang?" tanya Rumi


Raisa langsung menoleh seusai meminum air karena pertanyaan Rumi.


"Itu tidak akan terjadi, kan, Raisa?" tanya Rumi lagi dengan wajah cemasnya.


Raisa tersenyum, lalu menundukkan pandangannya.


"Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti," jawab Raisa dengan santai.


Tangan Rumi terulur menyentuh tangan Raisa.


"Raisa, berjanjilah padaku! Setelah ini kau tidak perlu lagi melindungi orang lain, kau hanya perlu fokus dan lindungi dirimu sendiri. Kumohon ... " pinta Rumi sambil menggenggam erat tangan Raisa yang disentuh olehnya.


..."Kenapa Rumi memintaku hal seperti ini? Apa dia juga punya firasat yang sama denganku?" batin Raisa bertanya-tanya....


Raisa menghela nafas pelan.


"Aku tidak bisa berjanji, Rumi. Maaf," kata Raisa


"Sebagai gantinya, aku berjanji tidak akan mati! Sudah pernah kubilang, kan, setidaknya aku tidak akan mati di sini, jadi aku akan tetap hidup," lanjut Raisa


"Sepertinya, Raisa, sudah memutuskannya sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi akan jadi apa aku tanpamu nanti?" natin Rumi


Tangan Rumi masih menyentuh tangan Raisa walau tak lagi menggenggamnya.


"Kau sendiri yang bilang, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, tapi kenapa kau malah menjanjikan hal yang lebih sulit dari pada melindungi sendiri? Semuanya adalah hal yang tidak pasti. Kau sendiri juga yang bilang, cahaya bulannya akan padam bila kau mati. Itu juga akan terjadi padaku! Hidupku tidak akan berarti jika kau tiada," ujar Rumi


"Aku sudah bertekad dan ini adalah tekadku! Tapi, kau tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa," kata Raisa


Rumi menatap Raisa yang tersenyum.


Rumi sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, namun hatinya masih gelisah dan membuatnya kepikiran.


Dalam keadaan membingungkan itu, tubuh Rumi tergerak dan matanya terpejam. Lelaki itu mendekati Raisa sampai bibirnya menyentuh bibir gadis yang bersamanya itu.


Hangat dan lembut~


Raisa terdiam tak berbuat apa-apa. Seolah membiarkan Rumi berbuat sesukanya.


Dari sentuhan kecil sampai ia sedikit menekannya. Saat Rumi hendak memperdalam ciumannya, ia tersadar!


Rumi pun langsung bergerak mundur.


"Maafkan aku, Raisa! Aku sungguh... Secara tidak sadar. Tubuh ini bergerak begitu saja. Maafkan kelancanganku ini!" ucap Rumi

__ADS_1


Keadaan menjadi canggung. Namun, Raisa tidak berniat untuk menyalahkan Rumi.


"Uhm~ Tidak apa, Rumi. Aku juga bisa mengerti," kata Raisa


"Tidak! Kau pasti tidak menyukainya!" bantah Rumi


Suasana pun menjadi hening~


"Aku sudah tidak punya hubungan seperti itu dengan Raisa. Raisa sudah memutuskan hubungan denganku, aku bahkan meminta agar bisa memeluknya untuk terakhir kali waktu itu. Aku ini ceroboh sekali! Kenapa tubuh ini bergerak dengan sendirinya dan aku tidak bisa menahan diri?! Sungguh bodoh!" batin Rumi yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Hari sudah malam. Aku akan mengantarmu sampai depan kamar jika kau sudah selesai di sini," ujar Rumi mengalihkan suasana.


"Ya, baiklah. Ayo, kembali ... " kata Raisa


Keduanya pun berjalan meninggalkan dapur dengan sibuk memikirkan hal yang berbeda masing-masing.


..."Aku tidak akan menyalahkanmu, Rumi. Karena dulu aku pernah melakukan hal yang sama denganmu saat menciummu pertama kali, bahkan aku yang memulainya lebih dulu. Kau mungkin lupa, tapi aku bisa mengerti perasaanmu yang seolah tergerak sendiri itu. Aku juga bukan tidak menyukainya ... " batin Raisa...


Raisa memandang tangannya sendiri yang tadi sempat digenggam oleh Rumi. Tangannya juga terangkat menyentuh bibirnya yang dicium oleh Rumi. Semua ingatan bersama lelaki itu kembali terlintas dan terus membekas dalam pikirannya.


Di depan pintu kamar tidur perempuan, Raisa berbalik sebelum masuk.


"Aku akan pergi setelah kau masuk ke dalam kamar," kata Rumi


Raisa mengangguk.


"Kau tidak perlu merasa bersalah padaku karena hal tadi," ujar Raisa


"Itu tidak akan terjadi lagi. Aku janji," ucap Rumi


"Sekarang, masuklah. Dan sampai jumpa besok," lanjut Rumi


"Hmm~ Sampai besok, Rumi," balas Raisa lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


Setelah pintu kamar tertutup rapat, baru Rumi pergi dari sana untuk menuju ke kamar para lelaki.


•••


Keesokan harinya.


Semua berjalan dengan semestinya dan seperti biasa. Pagi hari, menyiapkan makanan dan sarapan bersama.


"Selamat pagi, semuanya!" sapa Raisa dengan ceria.


"Selamat pagi, Kak Raisa!"


Seperti biasa, Raisa dan Aqila membantu mempersiapkan sarapan bersama para pengurus panti.


Rumi memperhatikan Raisa yang tersenyum cerah dengan riang gembira. Seolah tidak terjadi apa-apa semalam.


Semua pun sarapan bersama.


"Semalam kami sudah diberi hadiah. Apa kakak-kakak semua sudah akan pergi?"


"Masih ada yang harus kami selesaikan di sini, tapi mungkin kami sudah tidak akan lama lagi berada di sini," jawab Raisa


"Anak-anak di sini saja tidak rela kau pergi, Raisa. Apa lagi aku! Aku tidak bisa bayangkan jika kau menghilang dari sisiku. Pasti rasanya sangat menyakitkan dan sangat menyesakkan! Tapi, kau bersikap seolah tidak akan terjadi apa-apa," batin Rumi


...


"Katanya, kalian masih harus menyelesaikan sesuatu? Apa itu? Bukankah semua masalah sudah selesai?" tanya Tuan Derril


"Kami memutuskan untuk mengunjungi orang-orang yang menjadi korban penyerangan roh dan monster sebelumnya. Bisakah Tuan mengantarkan kami ke tempat mereka berada?" ujar Aqila bertanya.


"Para korban itu, mereka di tempatkan di satu tempat yang sama, kan?" tanya Devan


"Ya, ada satu tempat penampungan bagi para korban di desa ini. Mereka semua ada di sana, saya bisa mengantar kalian ke sana. Kapan kalian ingin pergi?" ujar Tuan Derril bertanya.


"Sekarang saja! Lebih cepat lebih baik," kata Ian


"Baiklah. Kalian bersiaplah, saya akan antar kalian ke pusat pengobatan di desa," ucap Tuan Derril


Setelah semua siap, Tuan Derril mengantar mereka semua menuju ke pusat pengobatan desa.


Setibanya di sana, Tuan Derril tidak langsung membawa mereka masuk. Ia lebih dulu mengobrol singkat dengan seorang yang berjaga di luar tempat itu. Lalu, mereka pun masuk ditemani oleh Tuan Derril.


"Menurut penjaga di luar tadi ... saat kalian sudah menyelesaikan puncak masalah yang terjadi tentang kerusakan hutan, kebanyakan korban yang tak sadarkan diri langsung sadar begitu saja. Kini kebanyakan dari mereka hanya tinggal memulihkan diri dengan baik saja. Namun, ternyata masih ada beberapa orang yang tak sadarkan diri. Mau bagaimana pun perawatannya, kondisi mereka tetap saja begitu, tidak membaik juga tidak memburuk," ungkap Tuan Derril


"Kenapa bisa begitu, ya ... " heran Chilla


"Raisa, apa kau tahu penyebab kondisi seperti itu bisa terjadi?" tanya Ian


"Mungkin, aku punya perkiraanku sendiri. Akan kujelaskan di dalam nanti, setelah melihat kondisi para korban," jawab Raisa


Saat masuk, ruangan di dalam ternyata seperti Instalasi Gawat Darurat dari suatu rumah sakit. Yaitu, ruangan yang menampung semua penderita di satu tempat dan diberi penanganan seadanya. Karena Desa Bambu hanya desa kecil tanpa ada tempat pelayanan seperti Rumah Sakit, yang ada hanya pusat pengobatan yang mengobati dan merawat pasien dengan cara yang sangat sederhana.


Benar saja, kebanyakan pasien di sana sudah bisa duduk dan bersandar di atas pembaringan masing-masing. Dengan para wali yang mengurus mereka dan para sukarelawan yang membantu perawatan mereka.


"Perhatian, semuanya! Bantuan yang datang dari Desa Daun yang berhasil mengatasi sumber permasalahan di Desa Bambu kita ini datang menjenguk hari ini!"


"Selamat pagi, semuanya!" sapa Aqila dengan ramah.


"Syukurlah, kalian datang! Kami kira kalian sudah pergi dari desa kami ini ...."


"Tolong kami!"


"Tolong sembuhkan keluarga kami yang sedang menderita di sini."


"Kami mohon!"


Para wali pasien menyerbu mendatangi Raisa dan teman-teman untuk memohon bantuan mereka.


"Harap tenang, semuanya! Kami akan membantu sebisa kami. Beri kami sedikit waktu untuk berunding cara penanganan terbaik. Silakan tunggu, kami akan menghampiri satu per satu dari kalian semua " ucap Morgan


Semua pun kembali membubarkan diri.


"Setelah melihat kondisi para korban, apa yang kau sadari atau kau perkirakan tentang kondisi mereka? Apa yang menyebabkan mereka ada yang tersadar dan ada yang tidak?" tanya Devan


"Sepertinya dugaanku benar. Mereka seperti ini karena terkena pengaruh dari roh kegelapan, ini seperti Aqila yang pernah terpengaruh waktu itu. Yang terjadi pada Aqila karena langsung ditangani, maka pengaruhnya langsung hilang.


Yang terjadi pada para korban di sini, karena mereka dibiarkan tanpa tahu cara penanganannya mereka yang terpengaruh akan mengalami tidur panjang sampai pengaruh itu berhasil dilepaskan. Bagi sebagian yang sudah sadar itu karena kita semua sudah berdamai dengan para roh kegelapan, jadi pengaruhnya hilang begitu saja diwaktu yang bersamaan tepat saat semua masalah kemarin sudah terselesaikan," jelas Raisa

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak sadarkan diri? Kenapa mereka tidak sadar kalau seharusnya mereka sudah sadar saat kita semua sudah berdamai dengan para roh kegelapan?" tanya Ian


"Aku tadi belum selesai menjelaskan. Mereka yang tidak sadar karena memang tidak bisa sadar. Keadaan seperti ini disebabkan karena roh kegelapan telah mempengaruhi kesadaran mereka terlalu dalam hingga tidak bisa hilang pengaruhnya, kecuali mendapat penanganan serius, penanganan seperti ini cukup sulit atau mungkin akan sangat sulit.


Keadaan seperti ini juga bisa saja karena mereka yang terpengaruh ini merasa terlalu marah pada roh kegelapan yang memengaruhi mereka hingga roh tersebut merasakan kemarahan mereka hingga muncul aura negatif yang pekat hingga roh itu benar-benar terkunci bersamaan kesadaran mereka yang terus menghilang," ungkap Raisa


"Lalu, apa yang harus kami lakukan? Katakan saja, Raisa ... " ujar Rumi


"Aqila dan Ian, bantu pulihkan para korban yang sudah sadar. Yang lain, bantu ambilkan apa pun keperluan mereka, seperti obat, air, atau perban, dan lain-lain. Aku akan coba menangani korban yang masih belum sadar," ucap Raisa memberi tugas pada masing-masing temannya.


"Kau bilang akan sulit memberi penanganan pada korban yang masih tidak sadarkan diri, apa kau tidak perlu bantuan?" tanya Aqila


"Setidaknya jumlah mereka jauh lebih sedikit dari pada korban sadar yang butuh pemulihan, jadi biar mereka aku saja yang tangani. Fokuslah! Kalau ada kesulitan, tanya saja padaku," jawab Raisa


"Kau juga, Raisa. Kalau perlu bantuan, panggil saja kami," kata Rumi


Raisa mengangguk mengerti.


Semua pun menjalankan tugas masing-masing sesuai arahan dari Raisa.


Aqila dan Ian membantu pemulihan pasien yang telah sadar. Baik nemulihkan luka atau memulihkan tenaga mereka. Morgan, Rumi, Devan, dan Chilla membantu mengambilkan keperluan para pasien, berupa obat, air, perban, dan lain-lain.


Sedangkan Raisa menghampiri para korban yang masih terbaring tak sadarkan diri untuk mencoba memeriksa dan memberi penanganan pada mereka.


"Nona, tolong kami!"


"Anak-anak saya belum juga sadarkan diri."


"Suami saya juga!"


"Kakak dan adik saya juga ...."


"Kenapa hanya mereka berlima yang belum sadar sedangkan yang lain sudah?"


"Mohon untuk tenang dulu, ya. Jangan sampai mengganggu ketenangan pasien walau sedang tidak sadarkan diri," ucap Raisa


"Jadi, mereka masih bisa diselamatkan? Mereka masih bisa bangun lagi, kan?"


"Saya akan berusaha membuat kelima pasien kembali sadar. Bisa beri tahu saya, bagaimana kondisi pasien sejauh ini?" ujar Raisa bertanya.


"Sebenarnya kondisi mereka sama saja dengan yang lain pada awalnya. Mereka semua jatuh pingsan tak sadarkan diri setelah mencoba melawan para roh dan monster. Tapi, mereka tertidur cukup lama tanpa pernah bangun selama dua bulan. Kemarin, semuanya pada akhirnya menunjukkan tanda-tanda membaik dan saat yang lain sadar dari tidur panjang hanya mereka berlima yang tidak terbangun atau bergersk sama sekali. Seperti kondisi mereka menetap hanya sampai di situ."


Raisa mencoba mengecek nadi salah satu pasien.


"Kalau kondisi mereka berlima sama ... bisa tolong ambilkan sebaskom air? Masing-masing satu baskom untuk satu pasien. Setelah itu saya akan coba penanganan untuk menyadarkan mereka," pinta Raisa


"Baik, kami semua akan ambilkan airnya."


"Saya akan menjaga mereka berlima selama Anda semua mencari dan mengambilkan air. Tenang saja, tidak perlu terburu-buru," kata Raisa


Sementara para wali pasien mencari dan mengambil sebaskom air, Raisa menunggu sambil menjaga kelima pasien.


Saat itu, Rumi datang menghampiri.


"Kau ada kesulitan, Raisa? Kenapa tidak meminta bantuan saja?" tanya Rumi


"Aku bahkan belum memulai. Hanya perlu air untuk memberi penanganan, para wali pasien bersedia bekerja sama, jadi tidak perlu cemas," jswab Raisa


"Kau juga ... kenapa tidak membantu yang lain malah datang ke sini?" lanjut Raisa bertanya.


"Sudah banyak membantu yang lain. Aku akan di sini bersamamu untuk menjadi asistenmu. Jika kau butuh bantuan, katakan saja padaku," jawab Rumi


"Raisa, apa kau bisa membantu kami?" tanya Aqila


"Kalian butuh bantuan apa? Katakan saja," ujar Raisa


"Kami butuh semacam obat, tapi obat yang diperlukan tidak ada. Obat ini berupa tanaman yang termasuk langka dan sulit ditemukan. Ada yang menemukan tanaman obat ini di hutan bambu di dekat pedalaman, orang-orang di sini masih terlalu takut untuk masuk hutan lagi," jelas Ian


"Aku mengerti. Apa ada orang yang mengetahui rupa tanaman obat ini? Bawa orang itu padaku untuk menjelaskan seperti apa tanaman obat yang dibutuhkan," ujar Raisa


Ian pun mengangguk mengerti dan langsung mencari orang yang dimaksud Raisa mengetahui bentuk rupa tanaman obat yang dibutuhkan. Sedangkan Aqila menjaga para pasiennya.


"Raisa, Nyonya ini mengatakan jika dia tahu rupa tanaman obat itu," kata Ian yang kembali menghampiri Raisa bersama seorang wanita sukarelawan di sana.


"Nyonya, bisa tolong jelaskan padaku tentang rupa tanaman obat yang dibutuhkan?" pinta Raisa


"Tanaman obat ini terlihat seperti rumput biasa, tapi banyak kegunaannya. Warnanya hijau dengan sedikit campuran warna ungu," jelasnya


"Aku masih belum bisa memprediksi rupa tanaman obatnya jika hanya dengan penjelasan ini. Bisa saja ciri-ciri yang disebutkan merupakan ciri umum dari banyak jenis tanaman. Akan sangat membantu jika kita punya gambaran rupa tanaman obat itu," ucap Raisa


"Sayangnya kami tidak punya itu di sini," katanya


"Memang untuk apa kau membutuhkan gambaran tanaman obat itu, Raisa?" yanya Ian


"Itu akan sangat berguna nantinya," jawab Raisa


"Apa kalian sedang membicarakan tentang gambar tanaman obat yang sedang sangat diperlukan itu? Saya mendengarnya tadi dan saya tahu jenis tanaman obat itu, kebetulan saya juga punya lukisan tanaman obat itu," ucap seorang Paman yang datang menghampiri.


"Itu bagus! Bisa Anda perlihatkan gambarnya padaku, Paman?" ujar Raisa meminta.


Paman itu pun membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah buku.


Saat dibuka, buku tersebut terdapat banyak gambar kumpulan tanaman obat. Salah satunya adalah gambar tanaman obat yang sedang dibutuhkan.


"Dulu, kakek saya suka mengumpulkan tanaman obat dan ini buku miliknya yang berisi banyak gambar tanaman obat dan khasiatnya. Ini dia! Tanaman obat inilah yang sedang sangat dibutuhkan!" ungkap Paman itu.


"Benar ini obatnya! Tanaman obat ini berkhasiat untuk mengembalikan energi dalam tubuh, memperlancar darah, memperkuat tubuh dari dalam, dan banyak khasiat lainnya yang sangat cocok untuk obat pemulihan semua pasien yang ada di sini. Sayangnya tanaman obat ini sudah sangat jarang ditemukan dan hanya ada di pedalaman hutan. Kini kami belum ada yang berani masuk hutan lagi setelah insiden sebelumnya terjadi," sahut seorang Nyonya.


"Sekarang yang dibutuhkan adalah sebidang tanah. Ayo, kita ke luar ... " kata Raisa


"Rumi, aku titip para pasien sebentar. Ada hal yang ingin kuurus lebih dulu," lanjut Raisa berpesan.


Rumi mengangguk mengerti.


"Nona, kenapa pergi? Bagaimana dengan keluarga kami yang menunggu dibangunkan olehmu?"


"Mohon untuk menunggu sebentar saja... Aku akan mendapatkan tanaman obat yang dibutuhkan semua pasien di sini, tanaman obat ini juga akan sangat berguna untuk pasien yang tertidur ini nantinya. Tidak akan lama, aku akan segera kembali," ucap Raisa


Setelah diberi sedikit pengertian, para wali pasien yang sebelumnya diminta untuk mengambil sebaskom air akhirnya membiarkan Raisa pergi.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2