
Usai berbincang bersama teman-teman, Raisa dibawa untuk nencoba hidangan yang tersedia oleh Rumi.
Setelah mengambil makanan ringan dan minuman jus buah, Raisa dan Rumi pun mencari tempat duduk. Makanan dan minuman diletakkan di atas meja dan keduanya duduk di atas kursi.
Kini Raisa dan Rumi hanya berdua. Semua teman telah memberi kesempatan agar mereka bisa menikmati waktu berdua saja.
Keduanya pun makan dan minum sambil berbincang ringan.
"Selagi ada di sini, makanlah yang banyak. Seperti yang kau lihat, di sini ada banyak makanan," ujar Rumi
"Entahlah. Aku sedang tidak terlalu nafsu makan," kata Raisa
"Memangnya kenapa? Apa kau sedang sakit atau merasa ada sesuatu yang terasa tidak enak?" tanya Rumi
"Tidak. Mungkin waktunya, ini masih cukup pagi. Hari ini aku sudah makan, jadi aku masih belum terlalu berselera untuk makan lagi," jawab Raisa
"Kau selalu saja berkata seperti itu. Aku curiga sebenarnya kau hanya ingin menjaga bentuk tubuh. Tidak boleh seperti itu," ujar Rumi
"Tidak kok. Ini sungguh hanya kebiasaanku saja," kata Raisa
Raisa pun menyendok makanan ringan ke dalam mulutnya. Itu adalah dessert manis yang membuat Raisa yang memakannya pun jadi ikut tersenyum manis karena rasa dari makanan tersebut.
Rumi tersenyum saat melihat Raisa merasa senang dan menikmati acara pernikahan kedua temannya yang dihadirinya itu.
"Raisa, bagaimana perasaanmu setelah datang ke acara pernikahan Aqila dan Morgan hari ini? Apa lagi kudengar, kau juga ikut saat memilih dekorasi tempat ini, kan?" tanya Rumi
"Aku merasa senang bisa ikut andil dalam kebahagiaan dua teman kita yang menikah hari ini. Apa lagi semua orang juga terlihat bahagia saat datang ke acara pernikahan ini. Rasanya aku juga ikut merasa bahagia," jelas Raisa
"Kau sendiri ... bagaimana perasaanmu setelah datang ke acara pernikahan Aqila dan Morgan hari ini, Rumi?" tanya Raisa melanjutkan.
"Selain aku yang merasa ikut bahagia atas pernikahan Morgan dan Aqila hari ini, aku juga merasa iri dengan mereka berdua. Seperti kata teman-teman tadi yang mengira kita berdua yang akan pertama menikah, aku sempat berharap kita berdua bisa lebih dulu menikah dari pada Morgan dan Aqila. Tapi, itu hanya bisa jadi harapan yang telah pupus dan kandas," ungkap Rumi
Raisa yang terus tersenyum dari tadi, kini senyumannya berubah menjadi senyum canggung. Dalam hatinya, gadis cantik itu merasa tidak enak karena menjadi alasan di balik pupus dan kandasnya harapan baik milik Rumi. Meski sejujurnya ia pun juga sama sedihnya seperti lelaki tampan yang dicintainya itu.
"Kau berharap kita berdua bisa menikah lebih dulu?" tanya Raisa mengulang ucapan Rumi untuk sekadar ingin meyakinkan.
Rumi pun mengangguk untuk menjawab.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak ingin menikah denganku, Raisa?" tanya balik Rumi
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja kukira kau belum berpikir sampai ke sana," jawab Raisa
"Kenapa kau mengira seperti itu? Bahkan dulu aku sudah pernah membahas dan bertanya tentang masalah anak padamu. Hanya saja saat mengetahui Morgan dan Aqila lebih dulu mewujudkan pernikahan, aku malah merasa iri dan sempat tidak ingin membahas tentang ini dulu," ujar Rumi
"Apa itu sebabnya kau sempat berkelakuan aneh dan bersikap kekanak-kanakan bahkan juga bicara melantur waktu itu?" tanya Raisa lagi.
"Ya. Karena merasa iri sesaat aku jadi seperti kehilangan akal. Jika diingat lagi aku jadi merasa malu," jawab Rumi
"Tapi, waktu masih panjang. Kita masih bisa mewujudkan pernikahan yang tak kalah membahagiakannya dari pada ini," sambung Rumi
"Kau benar," kata Raisa sambil menunjukkan senyuman penuh harap.
Satu tangan Rumi terulur dan bergerak untuk meraih, menyentuh, dan menggenggam satu tangan Raisa dengan erat dan mesra.
"Raisa, sampai kapan pun itu ... kau akan menungguku, kan? Kau akan menerimaku untuk membina rumah tangga yang bahagia nanti, kan? Kau akan selalu bersama dan selamanya denganku, kan, Sayang?" tanya Rumi
"Tentu saja, Rumi ... " jawab Raisa
Senyum Raisa kini berubah menjadi senyum haru yang terasa hangat. Raisa pun membalas genggaman tangan Rumi dan kini keduanya saling bergenggaman tangan dengan begitu mesra.
"Raisa, kau tunggulah aku yang akan datang untuk melamarmu menjadi istriku dan menikahlah denganku," ucap Rumi
"Bagiku sekarang pun ucapanmu terdengar seperti sebuah lamaran yang romantis. Ya. Aku akan selalu menunggumu, Cintaku," ujar Raisa
Rumi tersenyum senang mendengar jawaban dan kata cinta yang ke luar dari bibir cantik milik Raisa. Lelaki tampan itu pun menarik tangan Raisa untuk dikecup lembut dan mesra.
Entah sudah ke berapa kalinya Raisa merasa jantungnya berdebar tak karuan karena lelaki tampan yang ada di hadapannya itu. Apa lagi setiap kata demi kata seolah seperti sebuah lamaran yang terdengar manis dan romantis bagi gadis cantik itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Raisa ... sayangku," ungkap Rumi
"Aku juga ... sangat mencintaimu," balas Raisa
Kini Raisa berusaha menahan tangis harunya. Ia tidak ingin merusak suasana manis kali ini hanya dengan air mata.
Saat berusaha mengabadikan momen manis bagaikan sebuah lamaran kala itu, tiba-tiba saja musik romantis terdengar mengalun dengan merdu dan indahnya.
Saat Raisa menoleh untuk mencari sumber suara indah tersebut, yang dilihatnya malah adalah teman-temannya sedang saling berdansa dengan pasangannya masing-masing. Bahkan terlihat Aqila dan Morgan yang sedang melakukan dansa waltz di tengah-tengah banyaknya pasangan yang berdansa lainnya.
"Mereka semua berdansa? Bahkan Aqila dan Morgan juga? Bagaimana bisa?" tanya Raisa merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.
"Tentu saja, karena tidak ada yang tidak bisa. Saat sedang ikut merencanakan pernikahan Aqila dan Morgan, Ian malah teringat saat melihat kita yang sedang berdansa untuk terapi jalanmu dulu. Ia pun mengusulkan untuk mengadakan dansa bersama dan semuanya pun latihan bersama. Aku yang menunjukkan video dansanya untuk mereka semua pelajari dari ponselku," jelas Rumi
Yang Raisa tahu, di dunia itu tidak ada yang mengetahui soal dansa karena memang belum ada yamg mempopularkannya di sana. Ternyata Rumi-lah yang menunjukkan video dansa atas permintaan dari Ian. Mereka yang memiliki pasangan pun mempelajari caranya berdansa dari video yang ditunjukkan oleh Rumi.
Orang atau pasangan yang tidak berdansa pun tetap ikut meriahkan acara saat itu dengan menari asal namun tetap seirama dengan alunan musik yang diperdengarkan.
"Aku tidak menyangka bisa melihat pemandangan seperti ini di sini," kata Raisa yamg merasa takjub.
"Bagaimana kalau kita ikut dalam pemandangan yang membuatmu takjub itu?" tanya Rumi
Rumi pun bangkit berdiri di hadapan Raisa dan mengulurkan satu tangannya pada gadis cantik itu sambil sedikit membungkuk hormat.
"Bersediakah kau berdansa denganku, wahai Nona cantik?" tanya Rumi menawarkan diri dengan mesra.
"Baiklah. Aku bersedia," jawab Raisa
Raisa pun ikut bangkit berdiri dan menerima uluran tangan Rumi. Gadis cantik itu meraih dan meletakkan satu tangannya di atas telapak tangan terbuka lelaki tampan yang ada di hadapannya.
Rumi pun membawa Raisa ke tempat kerumunan orang-orang yang berdansa. Satu tangan Rumi digunakan untuk merengkuh pinggang ramping milik Raisa dan satu tangan Raisa diletakkan pada bagian belakang pundak milik Rumi, sedangkan satu tangan keduanya saling menggenggam lembut.
Lalu, Rumi dan Raisa pun mulai melakukan gerak dansa sesuai iringan musik yang mengalun dengan merdu dan indah.
Keduanya saling menyesuaikan langkah saat berdansa saling berhadapan, sesekali berputar, dan melangkah mundur, lalu kembali mendekat.
"Dulu kita melakukannya saat kau terapi, terasa sulit karena kau memang sedang belajar kembali berjalan. Sejauh ini, sekarang langkahmu selalu tepat. Tidak perlu khawatir. Aku pun rela terinjak olehmu," jawab Rumi
"Lihatlah ke arah Sanari dan Amon. Mereka berdua hanya latihan sebentar karena Sanari baru kembali saat sudah mendekati hari pernikahan Aqila dan Morgan, tapi mereka berdua bisa berdansa dengan baik," sambung Rumi
"Mereka berdua masih sempat berlatih meski sebentar, tapi kita bahkan belum pernah berdansa lagi setelah terapi waktu dulu," ujar Raisa
"Ya, memang. Tapi, kita jangan mau kalah dari mereka berdua," kata Rumi
Raisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan saat mengetahui sifat Rumi yang tidak mau kalah, tidak seperti biasanya. Jika dipikir-pikir lagi, Rumi bersikap tidak mau kalah hanya soal hubungan asmaranya karena di kehidupan sehari-harinya tidak seperti itu. Entah itu adalah sifat mendomonasi atau bucin akut.
"Dasar, kau ini. Tidak boleh pamer atau ingin menang dalam hal hubungan berpasangan," tegur Raisa
"Omong-omong, aku tidak mau berdansa seperti ini lagi saat kita menikah nanti. Aku memang terlalu cepat memberikan gagasan soal pernikahan kita yang bahkan belum direncanakan, tapi aku tetap tidak mau," sambung Raisa
Rumi tersenyum senang saat mendengar Raisa yang sudah berpikir untuk memberi gagasan tentang pernikahan. Meski memang belum direncanakan, tapi Rumi sudah bertekad untuk segera mewujudkannya.
"Lho, memangnya kenapa?" tanya Rumi
"Aku terlalu malu untuk melakukannya dan menjadi pusat perhatian. Aku tidak sanggup membayangkannya, bahkan sekarang pun aku sedang menahan rasa malu," jelas Raisa
"Padahal kau tidak perlu merasa malu, tapi kalau dipikir lagi ... benar juga, kau tidak boleh menjadi pusat perhatian orang banyak. Hanya boleh aku saja yang memperhatikan dirimu," ujar Rumi
"Mana bisa seperti itu. Saat kita jadi pasangan pengantin seperti Aqila dan Morgan, perhatian semua orang yang datang akan tertuju pada kita," ucap Raisa
"Pokoknya tetap tidak boleh," keukeuh Rumi
"Tapi, saat itu pasti banyak juga yang memperhatikanmu karena wajahmu tampan," kata Raisa
"Apa saat itu aku harus menjelekkan penampilanku sendiri agar tidak jadi perhatian orang banyak dan membuatmu puas karena itu?" tanya Rumi
"Kalau begitu, aku tidak akan merasa puas dan terlebih lagi tidak ingin menikah denganmu karena kau jelek. Aku sangat menyukai wajahmu yang tampan," jawab Raisa
__ADS_1
"Jangan begitu. Aku akan menjaga penampilan terutama wajahku agar kau terus menyukaiku," kata Rumi
Raisa terkekeh kecil.
"Kalau kau tidak ingin berdansa saat kita menikah, tidak apa. Kalau begitu, aku akan bernyanyi saja untukmu saat kita menikah nanti," ujar Rumi
"Bernyanyi? Memangnya kau bisa?" tanya Raisa
"Sekarang memang belum bisa, tapi aku akan berlatih hingga pandai. Kau tunggu saja nanti," jawab Rumi
"Kalau begitu, aku akan sangat menantikan bisa mendengar suaramu saat bernyanyi untukku. Aku percaya kau bisa karena kau selalu pandai melakukan segala hal," ujar Raisa
Raisa tidak menyangka bahwa Rumi dapat mengingat dengan jelas keinginannya yang bahkan tidak diminta secara sungguh-sungguh. Rumi bahkan tampak sangat bertekad untuk newujudkan keinginan Raisa yang ingin mendengar suaranya saat bernyanyi untuk gadis cantik itu.
Musik dansa kini berganti menjadi melodi yamg lebih rendah dan pelan. Iramanya lebih terdengar santai. Saat itu, semua pun merubah gaya dansa.
Para lelaki menaruh kedua tangannya pada kedua sisi pinggang sang gadis. Sedangkan para gagis meletakkan kedua tangannya pada kedua sisi bahu sang lelaki.
Namun, semua pasangan tetap saling menyesuaikan langkah kaki mereka masing-masing satu sama lain.
Raisa dan Rumi pun sama. Keduanya tampak sangat mesra lebih dari pada pasangan lainnya saat Rumi nemperpendek bahkan menghapus jarak antara dirinya dan Raisa dengan menarik pinggang gadis cantik itu hingga kedua tubuh mereka saling menempel.
Saat Rumi menghapus jarak antara mereka berdua, sontak membuat Raisa langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher milik Rumi.
"Ini terlalu dekat. Apa tidak masalah kalau kita seperti ini?" tanya Raisa yang menjadi gugup karena terlalu dekat dengan Rumi dan membuat keduanya mendapat banyak tatapan dari orang lain.
"Tidak perlu memikirkan hal lain. Kau hanya perlu fokus padaku seorang," kata Rumi
Rumi pun menempelkan dahi miliknya pada dahi milik Raisa hingga hidung mereka berdua pun sampai bersentuhan karena saking dekat jarak antara keduanya.
"Lihatlah ... Rumi dan Raisa bahkan terlihat lebih mesra dari pada kita berdua yang jadi pengantin hari ini," kata Morgan
"Hubungan mereka memang sangat baik. Kalau Rumi tidak memberi tahu bahwa mereka berdua sudah putus sejak lama, pasti tidak ada yang tahu jika ada kisah yang rumit di antara mereka berdua," ujar Aqila
Dengan posisi yang sedekat itu, Rumi bisa melihat jelas wajah cantik Raisa yang tampak sedang menahan rasa malunya. Rumi pun tersenyum melihat wajah yang tidak pernah terasa membosankan itu dan justru terasa candu baginya yang dapat membuatnya merasa rindu saat tidak bertemu sebentar saja.
Raisa yang merasa malu pun memilih untuk menyembunyikan wajahnya dan membenamkannya pada dada milik Rumi.
"Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu," kata Raisa
"Tatapan yang seperti apa? Kenapa kau malah menyembunyikan wajah cantikmu?" tanya Rumi yang berpura-pura seolah tidak tahu jika Raisa sedang merasa malu.
"Tidak tahu, ah!" pekik Raisa
Rumi tersenyum melihat tingkah Raisa yang malu-malu.
Saat bersembunyi di dada Rumi, Raisa dapat mendengar dengan jelas suara dan irama dari detak jantung yang keras seolah sedang bergemuruh milik lelaki tampan yang dicintainya itu. Raisa bahkan menempelkan satu telinganya pada dada milik Rumi karena merasa nyaman dengan suara detak jantungnya.
Raisa bahkan sampai memejamkan mata untuk menikmati irama dari detak jantung milik Rumi yang tidak jauh berbeda dengan detak jantung miliknya sendiri. Kini detak jantung keduanya seolah menyatu dan bersatu seolah beriringan seperti irama musik yang merdu.
"Raisa, kau sedang apa?" tanya Rumi
"Santailah. Aku suka dengan suara detak jantungmu dan merasa nyaman saat mendengarnya sedekat ini," ungkap Raisa
Diam-diam pipi Rumi menjadi merah merona. Saat Rumi menahan gejolak aneh itu, telinganya pun berubah menjadi merah.
"Kau curang sekali, Raisa. Bagaimana aku bisa santai kalau begini caranya? Kalau kau terus seperti ini ... huh! Aku jadi merasa gerah," batin Rumi
Saat alunan musik berhenti, dansa pun berakhir.
Saat itu Raisa pun langsung nembuat jarak dengan sedikit menjauh dari Rumi. Rumi pun sudah bisa merasa lega karena perasaan aneh yang dirasakannya bisa segera hilang begitu Raisa kembali mengatur jarak yang pantas dengannya.
Usai pesta yang meriah itu, masih ada acara untuk para anak muda. Semua teman kedua pengantin pun berkumpul untuk saling berbincang hangat dengan kedua tokoh utama hari ini. Yaitu, Aqila dan Morgan.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...