
Karena terus berada dalam perjalanan panjang di dalam kereta, beberapa penumpang pun memilih untuk tidur. Termasuk Raisa yang sangat nyaman tidur sambil bersandar pada bahu tegap milik Rumi. Rumi pun merangkul pinggang istrinya yang tertidur di sampingnya itu.
Saat ini Rumi sedang mengusik tidur Raisa dengan membelai lembut pipi, mencolek pelan hidung, dan mengguncang kecil tubuh istrinya yang tertidur itu untuk membangunkannya. Raisa pun merasa terusik dan mulai membuka kedua matanya perlahan sambil sesekali mengerjapkannya.
"Raisa, kita sudah mulai memasuki wilayah Negara Salju, Sayang. Pakailah jaket luarmu supaya tubuhmu menjadi lebih hangat," ujar Rumi sambil menyerahkan sebuah jaket panjang yang masih dalam kondisi terlipat rapi pada Raisa.
"Kita sudah sampai, rupanya ... " kata Raisa
Raisa pun membenarkan posisi duduknya dengan menegakkan tubuhnya. Wanita itu mengambil jaket panjang miliknya dari tangan Rumi, lalu memakainya.
"Kau juga pakailah jaket panjang milikmu, Rumi," kata Raisa
Rumi mengangguk dan langsung memakai jaket panjang miliknya yang sudah dibawa dan disiapkan oleh sang istri.
Saat ini Raisa dan Rumi sama-sama sedang memakai setelan kemeja panjang berwarna putih yang dilapisi sweater tebal nan panjang dan celana panjang. Raisa memakai sweater berwarna hijau dan Rumi memakai sweater berwarna biru. Lalu, karena telah memasuki wilayah bersuhu rendah keduanya kembali melapisi tubuh dengan jaket panjang nan tebal yang berukuran hingga sebatas betis. Jaket milik Raisa berwarna coklat susu, sedangkan jaket milik Rumi berwarna biru donker.
Begitu bangun dari tidurnya, Raisa menyadari hari sudah mulai gelap memasuki malam hari. Karena posisi duduknya berada di dekat jendela, Raisa bisa melihat pemandangan sekitar yang tertutup salju putih yang semakin tebal begitu memasuki wilayah dengan suhu rendah itu. Berada di wilayah paling utara, nafas Raisa mulai mengeluarkan kepulan asap menandakan suhu sekitarnya yang rendah dan kehangatan yang mulai menipis.
"Kita akan segera turun dari sini begitu keretanya berhenti di stasiun sebentar lagi," kata Rumi
Rumi pun memakaikan sepasang sarung tangan di masing-masing tangan Raisa dan juga syal pada leher istri cantiknya itu.
"Kau juga pakai punyamu. Kan, aku sudah siapkan untukmu juga," ujar Raisa
"Aku tidak perlu. Hanya akan menghambat pergerakanku jika memakainya," ucap Rumi
"Tapi, di sini sangat dingin. Kau bisa sakit," kata Raisa
"Aku tidak akan sakit agar tidak menyusahkanmu," kata Rumi
"Mana bisa kau berkata semudah itu ... " protes Raisa
"Lagi pula, daya tahan tubuhku sangat kuat. Hawa panas atau dingin tidak akan membuatku kesulitan atau menggangu atau juga menyakitiku dan juga ada kau yang bisa menghangatkan tubuhku," bisik Rumi dengan nada suara menggoda di akhir kalimatnya.
Memang benar jika suhu dingin di daerah utara itu tidak akan menyakiti Rumi. Bahkan jika tidak ingin menuruti istrinya, Rumi adalah tipe orang yang tidak ingin repot dengan memakan pakaian berlapis-lapis seperti saat ini.
Di tengah suhu dingin itu, wajah Raisa memerah seperti kepanasan setelah mendengar bisikan sang suami padanya. Semakin hari suaminya itu semakin pandai menggoda saja.
"Terserah kau saja," pasrah Raisa yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi setelah Rumi bersikeras bahkan hingga menggunakan trik untuk menggodanya.
"Padahal saat hampir terbakar di Desa Lumpur, kau sangat kesakitan akibat hawa panas itu," sambung Raisa yang bergumam seraya mendumel pelan.
"Mungkin satu-satunya hawa panas yang tidak membuatku kesakitan adalah hawa panas dari tubuhmu saat kita olahraga malam. Itu justru membuatku ketagihan seolah menjadi candu bagiku," goda Rumi berbisik lagi.
"Berhentilah bicara sambil menggodaku seperti itu! Nanti ada orang yang dengar," bisik Raisa penuh dengan penekanan.
Rumi tersenyum kecil. Sepertinya menjadi kesenangan baru baginya saat melihat istri cantiknya itu jadi salah tingkah.
Baru kali ini Raisa merasa gerah saat berada di tempat bersuhu rendah. Wanita itu bahkan mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah seolah sedang mengipasi dirinya sendiri dan jangan tanyakan lagi, tentu wajahnya masih merona merah.
Rumi pun menangkup wajah Raisa dan menatap lekat rupa cantik istrinya itu.
"Sini ... biar kulihat baik-baik. Aku harus menjagamu agar tetap hangat dan tidak kedinginan. Jadi, langsung katakan padaku jika kau sudah merasa kedinginan meski sedikit saja," ujar Rumi
"Aku mengerti. Sudahlah, Rumi. Kau tidak perlu berlebihan seperti ini juga," kata Raisa yang menjauhkan kedua tangan Rumi dari wajahnya.
Saat itu, akhirnya kereta pun berhenti di stasiun yang berada di Negara Salju.
"Sudah waktunya kita untuk turun. Ayo," kata Raisa yang langsung bangkit dan hendak menjauh dari Rumi yang menyebabkan debaran abnormal pada jantungnya itu meski hanya sesaat saja.
__ADS_1
Karena duduk di dekat jendela, untuk bergegas pergi, Raisa harus melewati posisi duduk Rumi. Namun, saat itu dengan cepat Rumi mencekal tangan Raisa untuk menahan langkah kaki istrinya itu.
"Kau harus ingat untuk tidak jauh-jauh dan selalu berada dekat denganku," kata Rumi mengingatkan sang istri.
Benar, itulah perjanjiannya. Kalau ingin Rumi menyetujui Raisa ikut dalam misi baru kali ini yang berlokasi di wilayah bersuhu rendah yang menjadi kelemahan Raisa, wanita itu tidak boleh pergi jauh darinya dan harus selalu berada di dekatnya.
Rumi pun bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu ke luar dari gerbong kereta sambil menggenggam tangan Raisa yang berjalan di belakangnya dengan sangat erat. Yang awalnya wajah pria itu penuh dengan niat menggoda, kini telah berubah menjadi serius. Serius dalam arti ingin memproteksi dan menjaga sang istri di wilayah bersuhu rendah itu.
Semua penumpang pun beranjak turun dari dalam kereta, termasuk teman anggota misi lainnya.
"Ternyata sudah malam saja, ya ... " kata Chilla
"Kita harus segera menuju ke Desa Es. Apa ada yang tahu arah jalannya ... kita harus ke mana?" tanya Sanari
"Aku tahu. Ikuti aku saja ... lewat sini," jawab Devan
"Sesampainya di Desa Es nanti, kita cari penginapan dulu saja untuk menginap malam ini. Besok baru kita mulai menjalankan misinya," sambung Devan
"Tapi, bukankah orang-orang yang banyak menghilang itu kejadiannya terjadi saat malam hari?" tanya Ian
"Monster misterius juga dikatakan sering muncul saat malam hari," imbuh Amon
"Kita baru saja sampai setelah melakukan perjalanan panjang, setidaknya kita istirahat dulu malam ini saja. Di pagi hari esok, kita bisa kumpulkan dulu infomasi dari warga sekitar. Jangan terlalu terburu-buru," ujar Devan
"Ya. Lebih baik seperti itu saja," kata Rumi
Raisa hanya terdiam. Entah karena merasakan sesuatu atau kedinginan atau mungkin juga karena satu tangannya yang digenggam oleh Rumi dengan sangat erat. Bahkan tangannya dan tangan Rumi yang menggenggamnya dengan erat itu dimasukkan ke dalam salah satu saku jaket tebal milik Rumi agar terasa lebih hangat lagi. Raisa terus merasa jantungnya berdebar secara tak menentu.
Tiba-tiba saja Raisa merasa ada bahaya yang mendekat. Saat teman yang lainnya masih belum menyadarinya, Raisa memekik kuat.
"Ada serangan!" teriak Raisa
Dengan satu tangannya, Raisa menggunakan sihirnya untuk menghalau serangan dan mengendalikan semua belati yang mendekat agar tidak mengenai satu pun dari mereka. Namun, ada satu belati yang tidak bisa Raisa kendalikan hingga berhasil menggores punggung tangannya hingga menembus sarung tangannya. Belati itu berbeda bentuk dan ukurannya dari sekian banyak belati sebelumnya.
Melihat belati berhasil melukai istrinya hingga mengeluarkan darah, Rumi langsung menarik tangan Raisa yang terluka itu dengan perasaan cemas.
"Raisa, tanganmu berdarah!" pekik Rumi
"Sayang, bukankah kau bisa mengendalikan senjata? Kenapa belati itu masih bisa melukaimu?" tanya Rumi menambahkan.
"Kau sendiri juga tahu ... sudah kubilang, kemampuanku yang satu ini ada kelemahannya. Makanya, aku tidak bisa mengendalikan belati yang terakhir itu tadi, tapi tidak apa. Aku baik-baik saja," jelas Raisa
Rumi membuka sarung tangan Raisa yang tergores untuk melihat luka di baliknya, tapi ternyata luka di punggung tangan istrinya itu sudah sembuh dan hilang sepenuhnya karena kemampuan sihir medis yang Raisa miliki bisa menyembuhkan luka pada dirinya sendiri.
"Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Lukanya juga sudah hilang," kata Raisa
Raisa pun beralih mengambil belati terakhir yang berhasil melukai tangannya tadi.
"Belati ini satu-satunya yang terbuat dari platinum," gumam Raisa sambil menggenggam belati di tangannya.
"Aku tahu sekarang. Raisa, kemampuanmu bukannya mengendalikan senjata, tapi kau hanya bisa mengendalikan besi. Itu sebabnya kau tidak bisa mengendalikan belati yang terbuat dari platinum itu," ungkap Devan
"Kau bisa menyadarinya juga, Devan. Sebenarnya lebih tepatnya lagi aku bisa mengendalikan semua benda berbahan logam, kecuali platinum. Alasannya karena semua logam itu berasal dari bumi alias elemen tanah yang dijernihkan. Namun, platinum adalah satu-satunya logam paling murni yang terlepas dari kemampuanku untuk mengendalikan bahan logam yang satu ini. Selain itu, bahan titanium juga yang paling sulit untuk dikendalikan karena struktur elemen tanah yang terkandung di dalamnya cukup rumit, tapi meski sulit aku masih bisa mengendalikannya. Kemampuanku adalah mengendalikan logam bukannya senjata dan kelemahan dari kemampuanku yang satu ini adalah bahan platinum," jelas Raisa
"Sekarang sudah terungkap dengan jelas soal kemampuanku yang satu ini. Kalau bisa, jangan beri tahu informasi ini pada yang lain agar tidak ada yang tahu kelemahan tentang kemampuanku yang satu ini kecuali kalian yang ada di sini," sambung Raisa
"Rupanya, begitu. Kenapa kau tidak pernah nemberi tahuku soal ini, Raisa?" tanya Rumi
"Maaf, aku hanya selalu lupa untuk mengatakannya padamu," jawab Raisa
__ADS_1
"Tapi, apa kita benar-benar akan memulai misinya malam ini juga atau kita akan melawan orang yang menyerang kita secara diam-diam saat ini juga?" tanya Raisa menambahkan.
"Tapi, sebenarnya siapa yang menyerang kita secara diam-diam saat kita baru sampai di sini?" tanya Ian
"Entahlah. Mungkin itu warga desa ini yang menjadi begitu waspada pada orang luar seperti kita yang masuk ke wilayah mereka yang sedang dalam musibah," jawab Raisa
"Padahal kita adalah orang-orang yang diminta datang untuk menyelesaikan misi di sini. Kita hanya mengikuti permintaan dan menuruti perintah saja," kata Amon
Saat itulah seseorang muncul dan sepertinya Devan mengenalinya.
"Yasha!"
"Devan!"
"Berhenti menyerang! Mereka adalah sekutu! Mereka adalah orang-orang dari Desa Daun, Negara Api yang dipanggil Desa Es kita untuk membantu masalah saat ini." Seorang lelaki itu muncul untuk menyuruh pasukannya untuk berhenti menyerang karena mengenal anggota pelaksana misi yang datang ke sana.
Sepertinya Raisa juga mengenali lelaki tersebut.
"Devan, apa kau mengenal dia?" tanya Chilla
"Sulit untuk dijelaskan," jawab Devan
"Memang sulit untuk dijelaskan, tapi perkenalkan saja ... dia adalah Yasha, Devan pernah bertemu dengannya saat dia datang ke Desa Daun dan selama itu keduanya berteman. Yasha memang orang yang berasal dari Negara Salju," jelas Raisa
"Raisa, kau mengenalnya juga?" tanya Rumi
"Aku hanya sekadar tahu saja," jawab Raisa
Jika Raisa sudah bicara seperti itu, semua pun langsung tahu bahwa Raisa mengetahui fakta yang ia katakan itu lewat penglihatan dalam mimpi ajaibnya. Namun, Rumi jadi tidak suka jika itu adalah fakta tentang seorang lelaki selain teman dekat mereka. Bisa dikatakan Rumi sedang cemburu.
"Apa Nona mengenaliku? Padahal aku merasa kita belum pernah bertemu, tapi aku senang bisa dikenali oleh Nona cantik sepertimu," ujarnya, lelaki bernama Yasha.
"Raisa bukan Nona, tapi Nyonya. Dan istriku memang cantik," ucap Rumi yang langsung merangkul pinggang ramping Raisa seolah mengungkap kepemilikannya atas istri cantiknya itu.
"Pasukanmu sudah melukai istriku, untung saja istriku punya kemampuan medis yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Kalau tidak, aku sudah menuntut pembalasan darimu," sambung Rumi yang lalu memakaikan satu sarung tangan yang sudah tergores belati pada tangan Raisa.
"Rupanya nama Nona cantik ini adalah Raisa. Seperti yang Nona Raisa tadi katakan, namaku adalah Yasha. Aku mewakili pasukanku untuk meminta maaf karena sudah membuat Nona Raisa terluka," ujar Yasha
"Sudahlah ... toh, aku tidak apa dan baik-baik saja," kata Raisa
Bukannya memanggil Raisa dengan sebutan Nyonya seperti yang sudah Rumi tegaskan padanya, Yasha malah bersikeras memanggil Raisa dengan sebutan Nona. Alasannya mungkin karena Yasha suka melihat ekspresi wajah orang yang cemburu karena Rumi jelas memperlihatkan kecemburuannya. Namun, Rumi lebih memilih mengalah dan menahan rasa cemburunya. Alasannya karena Rumi tidak ingin bersikap impulsif hanya karena merasa cemburu karena Raisa pasti tidak akan menyukainya.
Saat itu akhirnya pasukan yang dipimpin oleh Yasha pun muncul.
"Ketua, apa kau yakin jika mereka adalah sekutu?" tanya seorang wakil ketua pasukan tersebut.
"Ya, aku mengenal mereka dan ini adalah temanku, Devan. Kalian tidak perlu bersikap waspada pada mereka. Mereka adalah pasukan misi yang dikirim oleh Desa Daun, Negara Api atas permintaan atasan Desa Es," jelas Yasha
"Kalau begitu, selamat datang di wilayah kami. Negara Salju, Desa Es ... daerah paling utara," sambut seluruh anggota pasukan. Sebut saja Pasukan Burung Hantu.
"Sebelumnya maaf karena kami telah menyerang kalian begitu kalian datang ke wilayah kami. Saat ini kami harus bersikap waspada terhadap siapa pun termasuk juga terhadap orang dari wilayah luar karena krisis yang sedang kami hadapi," ucap Yasha
Di kala musibah yang menimpa Desa Es, Negara Salju memang menjadi lebih ketat dan bersikap waspada pada siapa pun termasuk orang dari luar daerah tersebut.
.
•
Bersambung.
__ADS_1