Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
32 - Dunia Ini Dalam Bahaya!~


__ADS_3

Usaha Raisa kembali berhasil...


Menyelamatkan beberapa karyawan pada sebuah lingkungan kantor yang terperangkap karena ulah pelaku sihir pengendali pikiran yang jahat itu.


Semua orang yang berhasil terselamatkan merasa harus berterima kasih dan menanyakan siapa Raisa.


Raisa pun berpikir, bagaimana ia menyampaikan siapa dirinya tanpa membongkar identitasnya...


Putri Burung Teratai Putih...?


Itu menandai dirinya yang dilengkapi sihir sepasang sayap burung dan topeng dengan gambar teratai putih kecil yang melambangkan kekuatan sihirnya...


"Putri Burung Teratai Putih~ Kami tidak keberatan menyebutnya, Anda adalah penyelamat kami. Terima kasih banyak..."


Raisa tersenyum lembut~


Ia lega orang-orang itu nenerima nama konyol rangkaiannya itu...


"Kakak, aku tunggu di suatu tempat. Pergilah ke manapun, aku akan menemuimu." Bisik Raisa sangat pelan pada kakak iparnya, Kak Arka.


"Baiklah, aku pergi..." Pamit Raisa. Alias Putri Burung Teratai Putih~


Raisa pun kembali terbang ke angkasa langit yang luas~


•••


Arka menuju tempat tersembunyi di sekitaran kantornya. Ia berlarian menuju ke sana dan berhenti karena nafasnya yang tersenggal...


"Dia minta kakak iparnya menunggu. Tapi, di mana tempatnya dia ga jelas... Gimana aku atau dia saling bertemu kalau lokasi tempatnya aja kita ga saling tau tepatnya. Huh!" Gerutu Arka


Saat itu juga, Raisa datang mendarat di dekatnya...


Arka melihat keajaiban itu sekali lagi. Rasanya ia masih tak menyangka, cerita yang dianggap bualan yang mustahil yang dilontarkan oleh sang istri ternyata adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang dirahasiakan, itulah tepatnya.


Dan lagi, ternyata ia bisa melihat kenyataan yang mencengangkan itu secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.


Adik iparnya benar-benar mempunyai keahlian yang sangat spesial dan ajaib!


"Kamu... Kamu beneran, Raisa!?" Tanyanya takjub masih tak percaya.


"Stt~ Pelanin suaranya... Jangan sampai ada yang tau. Walaupun ini tempat yang tersembunyi, kita harus tetap hati-hati." Ucap Raisa masih lengkap dengan penyamarannya.


"Gimana kamu bisa tau Kakak ada di sini?" Tanya Arka dengan suara yang lebih pelan.


"Aku melihat arah ke mana Kakak pergi dari balik awan di atas sana." Jawab Raisa dengan santai.


Arka berdecak kagum. Adik iparnya mampu membicarakan hal yang mungkin tak diterima oeang biasa begitu saja dengan entengnya...


"Kamu ngapain minta untuk ketemu?" Tanya Arka


"Jemput Kakak. Nganterin Kakak pulang ke rumah, biar lebih cepat. Ayo, ga usah nunggu lama lagi!" Ujar Raisa langsung menarik tangan Kak Arka dan menggenggamnya dengan erat.


Raisa pun langsung membawa Kakak iparnya terbang bersamanya. Arka membekap mulutnya dengan sebelah tangannya yang lain karena sebelumnya Raisa sudah mewanti-wanti memintanya untuk tak bersuara juga jangan sampai melepaskan genggaman tangannya dengan adik iparnya itu.


Ini pengalaman pertama baginya yang dibawa terbang begitu saja. Sebenarnya dirinya adalah pribadi yang penakut, ia sendiri pun mengakuinya. Namun, kali ini dia mencoba lebih berani karena bagaimana pun ia percaya bahwa sang adik ipar takkan mungkin membahayakan dirinya.


"Kamu ngapain malah nganter Kakak pulang? Katanya kamu mau ngejar dan melacak pelaku sihir jahat yang udah ngendaliin pikiran temen kerja Kak Arka tadi itu?" Tanya Arka yang memberanikan diri di tengah penerbangannya.


"Supaya lebih cepat dan terjamin aman. Kakak di rumah udah khawatir nunggu dari tadi." Jawab Raisa


"Kamu sih gampang aja bilang aman. Apa kamu ga tau, jantung Kakak kayak udah mau loncat dari awal tadi!?" Cemas Arka dengan nasibnya.


"Kakak tenang aja ya. Selain menjamin kakak lebih aman karena ga bakal diganggu pelaku sihir jahat itu, aku bawa kakak terbang sampai dari balik awan kok. Jadi ga bakal ada yang sadar kakak dibawa terbang sama aku." Ucap Raisa


"Tolong deh, ga usah kamu jelasin seberapa tinggi kamu bawa Kakak terbang. Kakak makin takut nih! Emang kamu ga merasa kalo tangan Kakak udah gemeteran dan berkeringan dingin begini?" Ujar Arka


"Makanya, harap tenang. Jangan banyak gerak yang berlebihan." Kata Raisa


•••


Akhirnya, Raisa mendarat bersama Kakak iparnya di halaman rumahnya...


Saat itu, situasi di lingkungan sekitar rumahnya terlihat sepi. Nampaknya semua orang berdiam diri di rumah dan mengunci rumahnya rapat-rapat. Mengingat cuaca buruk akhir-akhir ini dan juga berita-berita menganehkan yang baru saja terjadi yang informasinya mereka dapatkan dari televisi ataupun benda pribadi berupa batangan genggaman yang sering disebut HandPhone itu...


Saat melihat sesuatu yang muncul di halaman rumahnya, orang rumah langsung menghampiri untuk segera mengecek.


Raisa melihat, Kakak perempuannya ke luar dari rumahnya...


"Kak Raina, aku udah antar Ka Arka ke rumah dengan selamat ya..." Kata Raisa yang masih teguh dengan penyamaran yang dipakainya.


Lalu, dilihatnya kedua orangtuanya ikut ke luar rumah. Sementara terlihat adik lelakinya mengintip dari dalam rumah sambil menjaga keponakan cantik kecilnya itu...


"Raisa! Kamu Raisa, kan?" Ujarnya nampak mencemaskan putrinya.


"Raisa, itu kamu?" Tanyanya


"Bu, Pak, tolong tenang ya. Suara kalian itu loh... Jangan khawatir sama aku. Tapi, aku harus pergi lagi." Ucap Raisa dengan suara pelan.


Mendengar dan melihat anaknya akan kembali pergi, Sang Ibu mencekal tangan sang buah hati. Mencegahnya untuk pergi...

__ADS_1


Raisa merasakan tangan yang mencekalnya bergetar menahan kepergiannya. Ia pun menatap seorang yang sangat berjasa atas hidupnya itu dengan sendu... Lalu, tatapan sendu itu berganti dengan tatapan penuh keyakinan dan percaya diri. Juga senyuman lembut yang mengembang pada bibirnya~


"Mau pergi ke mana kamu dengan penampilan seperti ini, Nak? Jangan ke mana-mana lagi ya, udah masuk rumah aja. Ibu khawatir sama keadaanmu, dari tadi Ibu ga bisa berhenti mikirin kamu terus." Ucap Ibu Vani, Ibu kandung Raisa.


"Kamu kenapa berpenampilan begitu?" Tanya Bapak Hilman dan Raina bersamaan.


"Ini wujud transformasi sihirku. Aku harus pergi menyelamatkan dunia ini. Mencegah pelaku sihir lain berbuat kerusakan lagi. Ada orang yang datang ke wilayah sini dengan kemampuan sihir sepertiku dan belakangan ini terus berbuat jahat mengendalikan pikiran orang, menanamkan sihirnya pada korban untuk membuat kehebohan yang berbahaya bagi orang lainnya. Aku harus menghentikan pelaku sihir berbuat begini... Kalau bukan aku, siapa lagi? Kalau aku ga bertindak, sampai kapan kekacauan ini terus berlangsung? Hanya aku yang bisa melakukan sihir yang sama, jadi harus aku yang maju untuk menghentikan ini semua." Jelas Raisa


"Semuanya tenang aja, aku jamin ga akan terjadi hal yang buruk padaku. Aku akan baik-baik aja... Aku akan pulang setelah masalah selesai. Tapi, selama itu aku akan sulit dihubungi. Jadi, tolong kalian semua percaya sama aku. Dan tolong rahasiain identitasku yang seperti ini, ya." Ucap Raisa


"Apa benar kamu bakal baik-baik aja? Kamu sendiri bilang, ini bahaya. Kenapa harus kamu yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi ini?" Tanya Bu Vani dengan kekhawatirannya.


Raisa menggenggam tangan Ibu yang mengkhawatirkannya itu...


"Ibu kan udah janji. Bilang, bakal percaya sama aku. Ini udah jadi tugasku, Bu. Aku bisa menghentikan ini. Terus kenapa aku ga boleh berbuat baik untuk menyelamatkan orang? Ibu bukan orang yang seperti itu kan? Tunggu aku di rumah ya, Bu. Doain aku, aku tau doa Ibu itu pasti terkabul kayak obat ampuh. Mujarab!" Ujar Raisa


Benar!


Sebelumnya Ibu pernah harus mengendalikan perasaannya untuk tak khawatir berlebihan dan janji untuk percaya pada kemampuan yang dimiliki anaknya yang spesial.


Memangnya, Ibu mana yang tak khawatir?


Tapi, bagaimana pun dia harus bisa menepati janjinya. Dia harus yakin jika memang putrinya memiliki takdir spesial yang berbeda...


Berbeda dengan Ibu, Bapak dan Kakak perempuannya terlihat lebih mendukung dan merelakan tindakan dan takdirnya yang berbeda itu. Mereka percaya bahwa anggota keluarga yang satu ini memang spesial dan mengemban tugas yang lebih dari pada orang lainnya. Walaupun mereka memang khawatir, mereka bisa menunggu dengan keyakinan teguh di dalam hati mereka.


"Aku pergi ya..." Kata Raisa


Raisa meremas jemari tangan Sang Ibu, mencoba memberika lekuatan untuknya untuk lebih percaya padanya. Lalu, Raisa melepaskan tangan Sang Ibu...


Dan, Raisa pun kembali terbang menjelajah langit. Mencari pelaku sihir jahat itu...


Saat berusaha terus mencari si pelaku, Raisa berhenti di antara awan-awan putih kegelapan itu tanpa mendarat. Ia tetap mengepakkan sayapnya di angkasa.


Raisa memfokuskan sihirnya, mendeteksi energi yang menyebar luas. Melacak energi sihir si pelaku yang sempat ia temukan saat menolong rekan kerja kakak iparnya tadi.


Mata Raisa terpejam lebih konsentrasi...


Ia menemukannya!


GAWAT!


Si pelaku lagi-lagi ingin menanamkan sihirnya melalui kemampuannya mengendalikan pikiran orang lain dari jarak jauh. Ia kembali merencanakan sesuatu dengan menjadikan orang lain sebagai boneka aksinya. Ini akan membahayakan orang lain lagi!


JENG~


Matanya pun membulat sempurna!


...'Kalau terus menerus seperti ini, bisa gawat! DUNIA INI DALAM BAHAYA!!' Batin Raisa...


Tak bisa terus diam hanya menyaksikan...


Raisa bergegas terbang turun untuk menangani situasi genting tersebut.


AAAAHHHHH~


AARRRGGGHHHH!!


Sudah berusaha secepat mungkin untuk mendarat, Raisa tetap kalah cepat dengan pelaku yang telah menargetkan sasaran empuknya pada orang-orang yang menjadi korbannya.


Tiga orang telah dirasuki pikirannya dengan sihir pengendali pikiran. Melalui sihir ysng merasuki pikirannya, orang-orang itu ditanamkan energi sihir yang membuat mrreka dapat menggunakan sihir seperti pelaku yang telah mengendalikan pikiran mereka.


Ketiga orang itu mengamuk!


Membuat takut serta membahayakan orang lain di sekitar mereka yang sibuk berlalu-lalang untuk kembali pulang ke rumah...


Raisa datang mendarat di lokasi itu untuk menyelamatkan orang-orang tak bersalah.


Orang-orang di sekitar berhamburan berlarian menyelamatkan diri dan ada pula yang memekik minta tolong!


Tiga orang yang terpengaruh itu terus mengamuk dengan sihir pengendali tanah dan air yang bersumber dari si pelaku yang mengendalikan mereka.


Tanah berguncang hebat~


Bebatuan besar nan tajam bermunculan dari tanah•••


Air BAH menerjang menenggelamkan orang-orang lain di sekitar~~


Raisa hadir di tengah itu semua...


Ia menstabilkan kembali tanah yang tak beraturan. Membelah air BAH yang menenggelamkan orang-orang dan memancarkannya ke langit, membuat air itu berjatuhan seperti hujan. Ia pikir ini lebih baik dari pada banjir besar yang menenggelamkan.


Saat Raisa sibuk dengan usaha memperbaiki kondisi di sana, orang-orang yang terasuki mencari korban baru. Mereka menyebarkan sihir pengendali pikiran yang memengaruhi mereka kepada orang lain.


Ini seperti flu...


Saat seorang bersin, yang lain pun ikut tertular penyakit flu tersebut!


Raisa berhasil mencegah salah satu di antara ketiganya dalam menyebarkan virus sihir pengendali pikiran kepada orang lain...

__ADS_1


Alhasil, terdapat dua korban yang terpengaruh sihir pengendali pikiran. Kelima korban mengamuk!


2 korban baru dan 3 korban awal...


Dan Raisa sedang menghadapi salah satu di antara mereka.


Raisa mencekal tangan salah seorang korban terasuki sihir, mencegahnya melukai orang lain.


Raisa terus mengadu tinju dengan lawannya saat ini. Ia juga terus membatalkan sihir air dan tanah yang dilakukan keempat orang lainnya...


Keseriusan dan tekad terus terpancar dari mata Raisa. Namun, ia juga nampak kewalahan...


Sangat sulit rasanya bagi Raisa mengalahkan kelima orang itu sendirian. Terlebih lagi ia tak ingin melukai mereka yang tak bersalah karena dikendalikan seseorang. Ia merasa serba salah... Ia harus menghentikan semua ini tapi ia juga tak ingin ada orang yang terluka.


Bagaimana ia harus bertindak?


Tanah dan Air adalah elemen yang kuat. Kedua elemen ini kepunyaan si pelaku yang ditanamkan pada target melalui sihir pengendali pikiran.


Walaupun dengan elemen lain, Raisa tak mungkin melukai mereka yang dijadikan boneka.


Satu-satunya cara jika tak ingin melukai orang lain adalah menemukan pelaku dan mengalahkannya!


Rasanya ingin sekali, Raisa melumpuhkan kelima orang itu sementara dan mencari jejak si pelaku. Tapi, jika dilumpuhkan mereka terus bangit dengan cepat dan terus menyerang. Si pelaku benar-benar gesit mengendalikan kelima korban tersebut. Jika, Raisa melumpuhkan mereka dengan usaha yang lebih kuat lagi, yang ada akan membahayakan nyawa mereka karena si pelaku akan terus mengendalikan mereka. Dan saat belum sempat Raisa menemukan pelakunya, kelima nyawa orang itu akan keburu melayang... Dan si pelaku mungkin tidak akan peduli dengan itu dan malah mencari korban baru...


Ini berbeda dengan saat Raisa menolong mereka yang di dimensi lain itu, di sana ia menolong dan banyak pula orang yang berusaha menghentikan pertarungan besar saat itu. Raisa tak bisa jika benar-benar sendirian, ia membutuhkan bantuan!


Daerah pertarungan itu, kini nmmpak sepi. Semua orang yang tak terlibat lebih sudah tak ada lagi. Raisa bisa lebih difokuskan sekarang...


Srek~


Jleb!


Raisa mendapat dua luka tusukn di tubuhnya.


Satu tusukan pisau kecil di perutnya, dan tusukan benda tajam lainnya di lengan kirinya...


AKH...


Raisa melihat ke arah lengan kirinya yang terluka...


Oh tidak!


Itu batang es tajam... Ini bagian sihir air yang dibekukan!


Raisa lemah terhadap dingin...


Dan rasa ddingin itu menusuk hingga ke tulang~


Raisa merasa tangan kirinya mulai mati rasa akibat tusukan es itu...


Tak bisa terus begini...~


Raisa lebih memilih kemungkinan kecil itu dari pada tidak melakukan apapun dan memperburuk keadaan.


Raisa mulai melumpuhkan kelima orang boneka dan bergegas mencari pelaku...


Beberapa kali usahanya gagal dan kembali dapat serangan dari ke lima orang yang dikendalikan itu...


UGH!!~


Raisa melenguh sesaat nampun kembali bangkit berusaha menyerang balik...


TEP...


TAP TAP!


DRAP DRAP!


DRAPP~


Segerombolan orang berjubah hitam berlarian datang mendekat~


...'Ah, itu! Bala bantuan lawan?! Si*l! Orang-orang dari mana lagi yang dia kendalikan? Atau itu teman-temannya? Ada banyak sekali yang datang...!' Batin Raisa...


Salah satu orang dari mereka sedikit menyingkapkan jubah yang menetupi di bagian wajah...


"Raisa~"


"Kalian!?" Pekik Raisa terkejut bukan main...!


.


.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2