Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 158 - Rasa Khawatir yang Berlebih.


__ADS_3

Raisa tersenyum ke arah sang suami. Wajah yang tampan itu benar-benar dirindukan olehnya saat berada di Negeri Rembulan yang merupakan tempat asing baginya saat dipaksa ikut pergi oleh Sang Dewa, Arion, sebelumnya. Hidupnya yang sungguh penuh drama nembuatnya tidak menyangka bisa melihat wajah tampan milik sang suami lagi.


Benar-benar suaminya dan bukan wajah Sang Dewa, Arion yang mirip dengan wajah sang suami. Melainkan wajah milik pria bernama Rumi Ryan yang terkesan dingin, namun penuh kelembutan dan cinta kasih di kedua matanya. Wajah pria yang sangat dicintai dan mencintainya.


Raisa merasa beruntung masih punya dan diberi kesempatan untuk bertemu orang-orang yang mengasihinya. Wanita cantik itu pun tersenyum dengan lembut.


"Sebenarnya aku masih makan sesuatu yang lain saat terkurung di istana Arion kemarin," ungkap Raisa


"Makanan apa yang kau makan? Bukankah kau sendiri tadi yang bilang hanya minum air putih karena takut diracun?" tanya Rumi


"Aku bukan makan sesuatu dari istana itu, melainkan makan sesuatu milikku sendiri," jawab Raisa


"Kau masih sempat membawa suatu makanan? Apa itu?" tanya Rumi


"Sesuatu yang spesial pemberian dari dirimu. Makanya, aku selalu membawanya saat pergi ke mana pun," jawab Raisa


Menggunakan kemampuan miliknya, Raisa mengeluarkan sesuatu dari ruang penyimpanam sihir. Makanan berbungkus, yaitu cokelat.


"Kau masih belum menghabiskannya dan selalu membawanya ke mana pun kau pergi?" tanya Rumi


"Tentu saja. Aku ingin selalu mengingat kebersamaan denganmu, makanya aku terus menghemat saat memakannya. Aku menyelimuti cokelat ini dengan sihir elemen es agar bisa bertahan lama tanpa meleleh dan menyimpannya di dalam ruang penyimpanan sihir," ungkap Raisa


"Aku memakan cokelat pemberian darimu sedikit demi sedikit saat sedang sendiri. Meski merasa agak sedih karena rindu dirimu, aku masih bisa merasa senang karena teringat momen kebersamaan kita yang lebih manis dari pada rasa cokelat ini. Kau harus mencobanya lagi," sambung Raisa


Raisa pun membuka bungkus cokelat pada tangannya, memotong, dan menyuapi cokelat tersebut ke dalam mulut sang suami. Lalu, Raisa menarik kembali tangannya dan menjilat jemari tangannya yang terdapat jejak bekas cokelat yang tadi digenggam olehnya.


Melihat itu, Rumi langsung menarik tengkuk sang istri untuk mendaratkan ciuman pada bibir wanita cantik itu. Rumi berbagi potongan kecil cokelat yang berada di dalam mulutnya dengan sang istri melalui ciumannya yang bahkan mengalahkan rasa manis dari cokelat yang dibagikan dari mulut ke mulut itu.


Cokelat yang secara perlahan meleleh di dalam mulut menambah rasa manis pada ciuman kedua insan pasangan suami istri itu.


"Sungguh, rasanya benar-benar ... sangat manis," ungkap Rumi sambil mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya.


"Makanya aku sangat menyukainya dan tidak ingin menyia-nyiakannya," sahut Raisa sambil tersenyum yang tak kalah manis dari rasa cokelat.


Perkataan Raisa terdengar ambigu. Seolah tidak tahu objek mana yang sedang dibicarakan olehnya. Entah itu cokelat atau sang pemberi cokelat tersebut yang sangat disukai dan tidak ingin disia-siakan olehnya. Atau mungkin yang sedang dibicarakan oleh Raisa adalah ciumannya dengan sang suami.


"Aku juga sama ... pemberian darimu juga selalu kubawa ke mana pun saat aku pergi menjalankan misi," kata Rumi


Rumi mengambil tas pinggang miliknya yang sering dibawa ke mana pun. Pria itu mengeluarkan gulungan kertas sihir dari dalam tas tersebut dan dengan kemampuan sihir miliknya, ia mengeluarkan setangkai bunga mawar merah dari dalam gulungan kertas sihir miliknya.


Raisa pun mengambil setangkai bunga mawar merah yang sudah agak layu dari tangan sang suami.


"Sepertinya kau merawat bunga mawar merah ini dengan baik," kata Raisa


"Sepertinya malah sebaliknya. Bahkan bunga mawar merah itu sudah mulai layu," sahut Rumi


"Aku ini punya kemampuan sihir tetumbuhan, aku bisa merasakan kau merawat bunga mawar merah dengan baik selama ini, meski kau jadi kurang memperhatikannya di akhir-akhir waktu ini," ujar Raisa


"Memang benar. Suatu saat aku terus merasa gelisah dan hanya terus menatap bunga mawar merah itu tanpa bisa merawatnya dengan baik. Mungkin saat itu kau sudah dibawa pergi dengan paksa opeh Arion hingga aku merasakan firasat yang tidak enak," jelas Rumi


"Bunga mawar merah ini memang agak layu, tapi kau tidak perlu khawatir karena ada aku," kata Raisa


Setangkai bunga mawar merah yang berada di dalam genggaman tangan Raisa langsung segar kembali padahal sudah mulai agak layu. Tentu saja, itu karena perbuatan wanita cantik yang menggunakan kemampuan sihir miliknya yang mampu memulihkan kondisi kesegaran setangkai bunga mawar merah tersebut.


"Bunga mawar merah itu sudah kembali segar seperti semula. Meski begitu, kau pasti lebih suka serangkai bunga lavender pemberian dari Ian yang sudah jelas masih sangat segar dan baru dari pada hanya setangkai bunga mawar merah yang sudah sempat layu karena aku tidak merawatnya dengan baik," ujar Rumi


"Itu ... keduanya jelas berbeda. Setangkai bunga mawar merah ini adalah pemberian dariku yang penuh cinta kasih untukmu, sedangkan serangkai bunga lavender itu pemberian dari Ian untukku yang baik untuk pemulihan. Dari kedua jenis bunga yang kusebutkan, sudah sangat jelas aku hanya menyukai dirimu yang memiliki rasa cinta yang besar untukku," ucap Raisa sambil tersenyum dengan sangat manis.


"Tentu saja, itu sudah sangat jelas ... bahwa aku sangat mencintaimu," ungkap Rumi


"Aku juga sangat amat mencintaimu," balas Raisa


Rumi pun langsung mendekat ke arah Raisa. Sambil merengkuh pinggang ramping dan menarik tengkuk sang istri, Rumi mulai kembali mengajak istri tercinta untuk berciuman. Tentu saja, Raisa membalas ciuman sang suami dengan senang hati.


Baik Rumi atau pun Raisa, saling merindukan satu sama lain hingga sama-sama terbuai dalam cumbuan masing-masing.

__ADS_1


Cukup lama keduanya berciuman, Rumi pun kembali menarik diri untuk melepaskan ciumannya dan berakhir menundukkan kepalanya sambil bersandar pada pundak sang istri.


"Gawat, aku nyaris tidak bisa menahan diri. Padahal kau masih harus istirahat lebih banyak lagi," gumam pelan Rumi yang masih dapat terdengar oleh sang istri.


Raisa terkekeh pelan sambil membelai pipi sang suami.


Rumi pun menegakkan posisi tubhnya dan beringsut bangkit berdiri.


"Tidak bisa seperti ini. Aku akan menaruh mangkuk kotor ini ke dapur dulu, lalu aku akan menaruh bunga ke dalam vas," kata Rumi yang langsung bergerak sesuai rencana dan perkataannya.


Rumi pun beralih menuju ke dapur untuk menaruh mangkuk kotor ke tempat pencucian piring, lalu mengambil vas sederhana untuk meletakkan serangkai bunga lavender dan setangkai bunga mawar merah bersama yang kemudian ditaruh pada bingkai jendela.


Lalu, Rumi beranjak naik ke atas ranjang dan duduk di samping sang istri untuk menemani istri tercinta. Sambil merengkuh pinggang sang istri, Rumi menarik kepala Raisa agar bisa bersandar pada dada miliknya.


"Cepat pulih, Sayang ... " kata Rumi


"Lalu, kalau aku sudah pulih memangnya kau mau apa?" tanya Raisa


"Tidak ada. Kepulihanmu adalah kebahagiaan untukku," jawab Rumi


"Kukira kau akan menjawab bahwa kau jadi tidak perlu lagi menahan diri. Atau sebenarnya jawabanmu tadi juga tersirat makna seperti yang kukatakan barusan?" tanya Raisa lagi.


"Jangan menyindirku seperti itu dong," kata Rumi


Raisa pun terkekeh kecil. Baru kali ini Raisa melihat sang suami tampak kikuk karena berusaha menahan diri untuk tidak memangsa(?) dirinya dengan alasan agar bisa beristirahat dengan baik lebih lama lagi.


•••


Keesokan harinya.


Seperti biasa, Raisa dan Rumi terbangun dari tidur sambil saling berpelukan satu sama lain di pagi hari.


"Selamat pagi, Istriku sayang!" seru Rumi sambil tersenyum tipis.


"Hmm ... selamat pagi juga, Suamiku," balas Raisa dengan kedua mata yang masih sesekali mengerjap pelan.


"Gawat, aku malah merasa malas untuk bangun. Tidak biasanya aku seperti ini," gumam pelan Raisa yang masih mampu terdengar oleh sang suami.


"Aduh ... istriku ini jadi merasa malas, ya. Tidak apa kok kalau sesekali bangun siang. Kalau kau ingin, lanjutkan saja tidurmu," ujar Rumi yang semakin memeluk sang istri dengan lebih erat.


Rumi juga membelai rambut dan kepala sang istri dengan lembut. Namun, tiba-tiba saja Raisa membebaskan diri dari pelukan sang suami dan langsung beringsut bangkit dari posisi tidurnya.


"Tidak bisa. Di saat seperti ini aku justru tidak boleh merasa malas dan harus segera mandi," kata Raisa yang langsung beranjak turun dari atas ranjang.


Rumi merasa senang saat melihat sang istri kembali bersemangat. Pria itu pun tersenyum kecil.


"Jangan mandi terlalu lama seperti kemarin," kata Rumi


"Aku tidak bisa berjanji soal itu, Sayang. Maaf," sahut Raisa sambil tersenyum simpul.


Raisa pun beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Seperti biasa, Rumi menunggu sang istri hingga selesai mandi.


Sudah cukup lama Rumi menunggu. Sudah 40 menit, namun Raisa masih belum juga ke luar dari kamar mandi. Rumi pun berjalan mendekat ke arah kamar mandi.


Tok-tok-tok.


Rumi pun mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, apa kau masih belum selesai mandinya?" tanya Rumi dari luar kamar mandi.


"Belum, Sayang, sebentar lagi. Kau jangan masuk ke dalam. Aku akan segera selesai dan ke luar," jawab Raisa dari dalam kamar mandi.


Rumi pun kembali menunggu. Selang 10 menit, Raisa pun ke luar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya.


Raisa tersenyum kecil saat mendapati sang suami menunggu di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Aku tahu, banyak yang bilang bahwa waktu mandi perempuan itu memang lama, tapi kau tidak biasanya seperti ini. Sebenarnya apa yang membuatmu berlama-lama di dalam kamar mandi hingga hampir satu jam lamanya?" tanya Rumi


"Aku hanya mandi, Sayang ... hanya membersihkan seluruh tubuhku," jawab Raisa


"Apa lagi yang perlu kau bersihkan hingga memakan waktu yang sangat lama? Kau itu sangat bersih, Sayang ... putih dan mulus," ujar Rumi sambil bergerak memeluk sang istri dari arah belakang.


"Sudah, jangan menggodaku seperti jtu. Lebih baik kau jug mandi, sana ... " kata Raisa yang melepaskan pelukan sang suami dan mendorongnya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Baiklah. Aku akan mandi sekarang," patuh Rumi yang lalu langsung menurut masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri seperti kata sang istri.


Seperti biasa, Raisa akan mengenakan pakaian dan juga memilihkan pakaian untuk sang suami.


Tak butuh waktu lama, Rumi pun ke luar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi usai membersihkan diri.


"Lihatlah, aku sudah selesai mandi dan tidak perlu memakan waktu yang lama," kata Rumi


Namun, tidak ada sahutan dari Raisa. Wanita cantik itu terdiam dalam posisi duduk di tepi ranjang sambil melihat ke arah luar jendela. Tatapan mata Raisa sangat lurus dan tampak kosong.


Tak mendapat respon dari sang istri, Rumi pun mendekat ke arah Raisa.


"Sayang ... " panggil Rumi sambil menyentuh pundak sang istri.


Raisa tersentak kaget dan langsung menepis tangan sang suami dari pundaknya.


"Ah, ya ... sa-sayang, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu tadi," ujar Raisa


"Apa yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu jadi melamun seperti tadi?" tanya Rumi


"Tidak ada, bukan apa-apa kok. Pakailah bajumu, aku sudah menyiapkannya tadi," jawab Raisa sambil tersenyum tipis.


Rumi menyadari bahwa senyuman istrinya itu palsu. Memang terlihat tipis, tapi lebih tampak seperti miris. Mungkin Raisa sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Bukannya bergerak mengenakan pakaiannya yang sudah disiapkan oleh sang istri, Rumi malah terduduk di tepi ranjang tepat di samping sang istri.


"Raisa, Sayang ... katakanlah padaku dan jangan kau coba sembunyikan dariku. Ada apa denganmu? Apa kau punya suatu masalah? Atau mungkin kau merasakan suatu firasat yang tidak mengenakkan?" tanya Rumi sambil menyentuh tangan dan menatap wajah sang istri dengan lembut.


Raisa memang berusaha mempertahankan senyumnya. Namun, air malah mengalir ke luar dari sudut matanya dan wanita cantik itu langsung menghapus air matanya itu sambil terus tersenyum.


"Aku tak tahu dan bingung harus mengatakannya seperti apa padamu. Aku ingin berkata bahwa semuanya baik-baik saja, tapi aku tidak merasa seperti itu," kata Raisa


"Apa kau merasa ada yang sakit pada tubuhmu? Katakan saja yang sesungguhnya. Aku tidak pandai menebak isi hati dan pikiran seseorang dan aku juga bukan seorang peramal," ujar Rumi


Raisa terkekeh singkat dan menghela nafas pelan. Kedua tangannya saling meremas tanda cemas.


"Aku sungguh merasa lega karena bisa kembali berkumpul denganmu dan yang lain di sini, tapi sebenarnya aku masih saja merasa takut. Mungkin ini hanya sebatas rasa khawatir yang berlebih. Aku khawatir ... takut kau membenciku," jelas Raisa yang bicara sambil menahan tangis.


"Sayang, itu tidak mungkin. Aku hanya bisa dan tahu cara mencintaimu. Bagaimana bisa aku membencimu? Sebenarnya apa kekhawatiranmu itu?" tanya Rumi


"Aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu dan berkumpul denganmu lagi. Aku merasa bahagia dan seolah ini terasa seperti mimpi. Padahal sebelumnya aku telah ikut dan dibawa pergi dengan paksa oleh Arion. Saat itu, aku sendiri dan kau tidak ada. Aku khawatir kau akan berpikir Arion ... dan aku ... sungguh, Rumi ... tidak terjadi apa-apa antara aku dan Arion. Saat itu aku tidak melakukan apa-apa dengan dia. Aku pikir kau akan membenciku karena hal ini," ungkap Raisa sambil meneteskan air mata.


"Ya ampun, Sayang ... kenapa kau berpikir berlebihan seperti itu? Aku tidak mungkin berpikir sampai seperti itu. Aku percaya padamu. Kau bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan baik karena kau ingin menjaga diri. Tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu," ujar Rumi yang langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya untuk menenangkan istri cantiknya.


"Lebih dari membenciku, aku takut kau merasa aku ini menjijikan dan kotor," kata Raisa yang mulai menangis sesegukan.


"Jadi, apa ini alasan yang membuatmu berlama-lama berada di dalam kamar mandi? Apa kau membersihkan seluruh tubuhmu dalam waktu yang lama karena takut aku merasa kau kotor?" tanya Rumi sambil melepaskan pelukannya dan beralih menatap sang istri dengan serius.


Raisa mengangguk kecil dan tubuhnya mulai bergetar karena terus menangis.


"Aku harus memastikan tubuhku bersih, sebersih-bersihnya dan sangat amat bersih," jelas Raisa


Rumi mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela nafas panjang.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2