Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
123 - Jalan Setapak.


__ADS_3

"Baik! Mulai sekarang namamu adalah Tristan!" Kata Raisa


Raisa terlihat sangat senang saat bertutur kata dan mengajak Tristan bicara, walau ia hanya bisa ber-monolog karena kuda putih yang baru saja diberi nama itu pastinya tidak bisa membalas perkataannya. Raisa tidak merasa lelah atau malu walau bagaikan hanya melakukan pembicaraan satu arah...


Melihat kedekatan Raisa dengan kuda putih jantan itu, kepala pengurus vila menjadi resah karena ada tanda-tanda seseorang yang akan berkuda di sana, khawatir akan ada insiden seperti di masa lalu yang hampir memakan korban...


"Tuan Muda, haruskah membiarkan teman Tuan Muda berkuda di area sini? Bagaimana kalau insiden yang hampir terjadi di masa lalu malah terjadi saat ini?" Bisik kepala pengurus vila yang bertanya dengan khawatir.


"Kau masih saja khawatir tentang itu. Tenang saja, Raisa itu pemula yang ahli!" Pelan Dennis


"Berapa kali Nona Raisa belajar caranya berkuda?" Tanya kepala pengurus vila


"Yang kutahu hanya sekali." Jawab Dennis


"Sudah kuduga! Menjadi ahli padahal masih pemula itu mustahil!" Kata kepala pengurus vila


Setelah terus berbincang satu arah dengan Tristan si kuda putih, Raisa berhasil mengambil hati kuda itu dengan mudah sampai sifat dan sikapnya terus berubah merendah seperti mengizinkan Raisa menunggang di atas punggungnya.


"Aku boleh naik?" Tanya Raisa


Seolah mengerti dan memberi Raisa izin, kepala kuda putih itu mengangguk dan mengeluarkan suara khasnya.


"Kalau begitu, terima kasih!" Kata Raisa


Raisa pun bergerak naik ke atas punggung kuda putih nan gagah itu...


"Di mana arena berlatih berkuda di sini?" Tanya Raisa


Dennis melirik ke arah kepala pengurus vila, dilihatnya kepala pengurus vila itu membuang wajah ke sembarang arah karena enggan memberi tahu dan tidak ingin adanya seseorang yang berkuda di sana...


Dennis hanya menggelengkan kecil kepalanya melihat sikap kekanakan kepala pengurus vilanya hanya karena merasa khawatir.


"Ingatanku mengenai tempat-tempat di sini memang terasa samar, tapi biarkan aku yang menunjukkan jalannya padamu ke sana. Kalau tidak salah ingat, ke sebelah sini... Ayo, Raisa! Ikuti aku." Ujar Dennis


Raisa pun mengarahkan kendali kuda untuk melaju perlahan dan mengikuti Dennis dari belakang...


Melihat Tuan Muda-nya sendiri yang nenuntun jalan, kepala pengurus vila itu malah bertambah khawatir. Ia pun mengikuti arah perginya Dennis dan Raisa serta kuda putih tersebut...


"Tuan Muda Dennis, biar saya saja yang menunjukkan jalannya." Kata Kepala pengurus vila setelah mengejar perginya Tuan Muda-nya.


"Bagus, kalau begitu! Kau lanjutkan tunjukkan jalannya dari sini." Ucap Dennis


"Mohon bantuannya, Tuan kepala pengurus." Sopan Raisa


"Kalau begitu, dari awal saja Tuan kepala pengurus itu menunjukkan jalannya." Ucap Ian yang melihat kebimbangan kepala pengurus vila.


"Dia hanya khawatir yang berlebihan." Kata Aqila


"Ayo, kita ikuti mereka! Aku ingin lihat Raisa yang menaklukan arena berlatih kuda lagi." Ujar Morgan


"Aku selalu percaya Raisa pasti bisa!" Yakin Rumi


Yang lainnya pun berbondong-bondong mengikuti arah pergi Dennis dan yang lain satu persatu...


"Raisa, di sinilah area berlatih kuda!" Kata Dennis


Raisa melihat tempat di hadapannya yang benar-benar luas. Di salah satu tempat berlatih berkuda adalah arena pacu kuda dengan banyak rintang dan tantangan yang disediakan untuk menghadang laju kuda.


"Aku dan Tristan sungguh boleh berlatih berkuda di sini, Dennis?" Tanya Raisa


"Tentu saja! Tempat ini memang dirancang khusus untuk berlatih berkuda." Jawab Dennis


"Untuk pemula seperti Nona Raisa, mungkin sebaiknya berlatih di lapangan perputaran terlebih dulu sebelum memasuki arena pacu yang banyak rintangannya. Ini baik untuk mencegah adanya korban terluka seminimal mungkin." Ucap kepala pengurus vila


Raisa pun membungkukkan tubuhnya untuk berbisik pada Tristan, si kuda putih yang ia tunggangi itu.


"Katanya, kau adalah kuda putih jantan paling tangguh yang ada di sini. Kau ingin bermain denganku di arena pacu yang banyak tantangan dan rintangan atau hanya melakukan beberapa putaran di lapangan? Kau pilihlah dan bawa aku ke tempat yang kau inginkan untuk kita bermain..." Pelan Raisa memberikan pilihan pada kuda putih tunggangnya.


Kuda putih itu langsung mengikik dan berjalan membawa Raisa masuk ke arena pacu. Tristan seolah merasa hebat dan ingin menunjukkan kemampuannya.


"Ahaha, Tristan sendiri yang membawaku ke sini! Tuan kepala pengurus, tenang saja karena semua akan baik-baik saja!" Ucap Raisa


"Hei, Tristan! Ayo, tunjukkan kemampuanmu pada semuanya bahwa kau yang paling tangguh! Dan, ingat jangan sampai menjatuhkanku karena itu juga bisa membuatmu gagal dan mengurangi poinmu. Jadi, kita harus bekerja sama!" Bisik Raisa pada kuda putih tersebut.


Setelah berbisik seperti itu, Raisa memulai aksinya. Raisa memacu kuda putihnya dengan mengguncangkan tali pengendali dengan kencang. Tristan pun mulai berlari dengan kencangnya...

__ADS_1


"Nona Raisa!" Cemas Kepala pengurus vila sambil berteriak.


Dengan harap-harap cemas, kepala pengurus vila itu menanti Raisa untuk segera berhenti bersama Tristan.


Bersama Tristan, berada di atas punggungnya, Raisa mengitari arena pacu kuda dan melewati banyak rintangan di sana.


"Nona, tolong cepat berhenti! Di depan sana, rintangannya akan semakin sulit untuk dilewati. Berhentilah sebelum semakin berbahaya!" Teriak kepala pengurus vila


"Kuharap Tuan kepala pengurus tidak pingsan melihat aksi Raisa yang gila." Kata Chilla


Tak mengindahkan peringatan dari kepala pengurus vila, Raisa malah semakin memacu Tristan untuk semakin cepat berlari. Kepala pengurus vila menoleh pada Dennis yang ada di sisinya, namun Dennis tersenyum tanpa merasa khawatir sedikit pun. Mata kepala pengurus mengedar sekelilingnya, namun tidak ada ekspresi cemas pada teman-teman Tuan Muda-nya kecuali satu orang, yaitu Amy.


"Nona Amy, tolong buat Nona Raisa berhenti! Nona Raisa teman Nona Amy juga kan, Nona Amy pasti juga khawatir melihat Nona Raisa itu sekarang." Ucap Kepala pengurus vila menghampiri Amy untuk membujuknya meminta Raisa berhenti.


"Tuan, aku juga sama takutnya dengan Anda, tapi tidak dengan Raisa yang sedang memacu kuda di sana. Yang membuat Raisa berhenti hanya keinginannya sendiri. Kami atau pun Anda hanya bisa menyaksikannya sendiri sampai dia mengakhiri permainannya sendiri." Ucap Amy


"Tuan, Anda tenang saja dan lihatlah sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa di sini seperti yang Anda khawatirkan itu, semua akan baik-baik saja." Ujar Devan


Tidak berhasil! Walau sudah membujuk seorang dari teman Raisa pun, benar yang dikatakan Amy. Raisa tidak akan berhenti tanpa ada keinginan dari dirinya sendiri. Semua teman yang lainnya pun tidak ada yang menampakkan wajah dengan ekspresi khawatir dan tetap tenang dalam damai. Sementara itu, kepala pengurus vila harus berpacu dengan rasa khawatirnya yang berlebihan dan hanya bisa menunggu dalam diam dan ketegangan diri.


Kembali pada Raisa, Tristan terus membawa Raisa dan hampir menyelesaikan satu arena pacu dengan tanpa hambatan. Hampir semua rintangan yang dibuat berhasil ditakhlukan! Kurang dari setengah putaran lapangan pacu kuda itu, Raisa dan Tristan akan berhasil menakhlukan tanah penuh rintangan pada lapangan arena pacu tersebut. Tristan benar-benar pelari cepat, terbukti saat hampir mendekati garis akhir arena pacu tersebut...


"Yes, berhasil!" Seru Raisa saat telah mencapai titik aman garis akhir arena pacu setelah melewati rintangan terakhir.


"Seperti biasa. Raisa bisa dengan sukses melakukan sesuatu." Kata Sandra


"Ya, dia selalu dengan mudah melakukan apa pun. Aku juga ingin menjadi serba bisa seperti dirinya, bikin orang lain iri saja." Ucap Wanda


"Melakukan banyak hal dengan mudahnya, siapa juga yang tidak merasa iri." Kata Marcel


"Tapi, mau bagaimana pun dia adalah orang biasa yang terlihat seperti biasa-biasa saja. Membuat orang terheran-heran sekaligus terkagum-kagum. Menakjubkan!" Ujar Billy


Dennis langsung menghampiri Raisa yang masih berada di atas kuda...


"Selamat, Raisa! Kau berhasil melalukannya!" Kata Dennis


"Terima kasih. Ini menyenangkan, aku menikmatinya berkat kau." Ucap Raisa


Rumi pun menghampiri Raisa, tak ingin kalah dengan Dennis.


"Apakah menyenangkan?" Tanya Rumi


"Apakah boleh?" Rumi merasa tertarik menaiki kuda berdua bersama dengan Raisa untuk lebih mendekatkan hubungan antar keduanya.


"Tanyalah padanya. Izin yang kau butuhkan dari Tristan bukan dariku." Kata Raisa


Rumi melihat ke arah kuda putih yang Raisa naiki, ia ingat Tristan adalah nama yang Raisa berikan untuk kuda putih itu. Namun, tanpa berbicara apa pun Rumi langsung menaiki punggung Tristan tanpa mendapatkan izin darinya. Rumi naik dan duduk tepat di belakang Raisa pada punggung kuda putih tersebut.


"Hei, kenapa kau langsung naik?" Tanya Raisa


"Aku tidak pandai bicara sepertimu, kau saja yang bicara dengan Tristan untuk mendapatkan izin untukku, lagi pula aku sudah naik dan duduk di sini." Jawab Rumi


"Haish... Dasar, kau ini!" Omel Raisa


Raisa pun langsung menunduk dan membujuk kuda putih itu untuk memberi izin dinaiki oleh dua orang, yaitu bertambah dengan Rumi di atasnya. Raisa merasa hal ini perlu dibicarakan agar Tristan tidak mengamuk karena hal yang kemungkinan tidak disukainya dan tetap dalam kondisi stabil, walau kuda putih itu tidak menanggapinya secara langsung. Dan karena Raisa yang turun tangan untuk bicara, Tristan tetap bersikap baik dan stabil.


"Apa merepotkan bagimu untuk bicara dengannya dan mendapatkan izin untukku?" Tanya Rumi


"Tidak, aku hanya ingin kau juga memiliki hubungan yang baik dengan siapa pun termasuk dengan seekor kuda, sama sepertiku. Kenapa? Apa kau sedang merasa cemburu lagi?" Ujar Raisa dengan memelankan intensitas suaranya pada pertanyaan di kalimat terakhir.


"Hmm, sedikit." Kata Rumi


"Kau ini kenapa jujur sekali sih?" Tanya Raisa, terheran.


"Karena tidak ada yang perlu aku sembunyikan darimu." Jawab Rumi


Raisa langsung terdiam. Tak seperti dirinya yang menyembunyikan sesuatu dari Rumi, sebaliknya Rumi tidak seperti itu. Terhadap dirinya, Rumi selalu terbuka dan jujur tanpa ada yang ditutupi. Raisa tidak menyangka akan seperti ini.


"Dennis, apa ada suatu tempat untuk kami berkeliling sambil menunggang kuda? Tidak apa kan jika aku membawa Rumi bersamaku juga?" Tanya Raisa pada Dennis.


"Vila ini tidak seistimewa itu, tapi ada jalan setapak yang bisa kau lewati untuk mengelilingi vila ini. Di sekelilingnya hanya ada pepohonan, kau tidak akan tersesat jika menggunakan jalan itu untuk berkeliling." Jelas Dennis


"Itu sudah cukup bagus." Kata Raisa


"Tunggu! Apa aku boleh ikut Raisa menunggang kuda? Kau belum menjawab pertanyaan Raisa yang ini..." Ujar Rumi

__ADS_1


"Tentu saja, boleh. Kau tidak perlu mempermasalahkan soal itu." Kata Dennis


"Bagaimana, Tristan? Kau masih sanggup untuk berkeliling, bukan? Tenang saja, hanya perlu berjalan santai. Dennis, kami pergi dulu ya. Kami akan segera kembali ke sini." Ujar Raisa


"Sampai jumpa lagi, semuanya. Aku pergi bersama Raisa." Kata Rumi


Dennis hanya mengangguk kecil seiring kepergian kuda putihnya bersama Raisa dan Rumi. Sementara yang lain hanya diam melihat Raisa dan Rumi pergi bersenang-senang.


"Enak sekali mereka bisa bersenang-senang." Kata Aqila


"Kalian juga ingin berkuda seperti Raisa? Aku akan membawa kalian melilih kuda. Jika mau ikuti aku saja, aku juga ingin memilih kuda baru untukku sendiri." Ujar Dennis


"Aku akan ikut denganmu, Dennis!" Kata Morgan


Dennis bersama Morgan dan yang lainnya yang memiliki niat ingin berkuda langsung menuju ke kandang kuda ditemani juga oleh kepala pengurus vila.


"Harap hati-hati, Tuan Muda." Pesan Kepala pengurus vila setelah Dennis dan teman-teman selesai memilih kuda.


"Aku tahu kau khawatir, Paman. Terima kasih. Kau tenang saja, aku hanya akan santai sambil berkuda, tidak akan sampai seperti Raisa. Jadi, tidak akan ada apa-apa." Ucap Dennis


Selesai memilih kuda, Dennis dan yang lain langsung menuju tempat berlatih berkuda.


"Tuan Muda, memang bukan anak kecil lagi. Semoga baik-baik saja." Gumam Kepala pengurus vila


...


Raisa dan Rumi sedang berkeliling di jalan setapak menunggangi kuda. Keduanya sangat santai duduk di atas kuda sambil menikmati pemandangan yang ada dan waktu kebersamaan mereka.


"Kita ini sedang menikmati waktu liburan saat sedang senggang. Ini adalah vila milik keluarga Dennis... Bisakah kau terus baik-baik berteman dengan Dennis? Kau tidak perlu ketus dengannya, Rumi." Ujar Raisa mengajak bicara.


"Pertemanan kami baik-baik saja. Aku tidak ketus. Memangnya aku begitu?" Kata Rumi


"Memangnya kau tidak nenyadarinya? Aku bisa tahu dari nada bicaramu padanya. Sebenarnya, apa yang membuatmu begitu?" Tanya Raisa


"Kau kan tahu alasan dari sikapku yang seperti itu. Bisakah kau tidak membicarakan hal lain saat kita sedang bersama seperti ini?" Ujar Rumi


Satu tangan Rumi bergerak melingkar pada pinggang ramping Raisa~


Raisa sedikit terkejut dengan tingkah Rumi yang seperti anak manja itu...


"Lalu, apa lagi yang harus dibicarakan?" Tanya Raisa


Raisa hendak menoleh ke arah Rumi di belakangnya, namun saat kepalanya menoleh ternyata wajah Rumi sedang berada di sisi wajahnya sampai hampir membuat bibir Raisa bersentuhan dengan pipi milik Rumi kalau saja Raisa tak segera menjauhkan wajahnya dengan cepat saat menyadari kedekatan posisi wajah mereka berdua.


"Bicarakan saja tentang kita berdua." Jawab Rumi yang lalu menjatuhkan dagunya pada pundak Raisa dan menempelkan pipi mereka sampai saling bersentuhan.


Tangan Raisa pun bergerak menyentuh kepala Rumi di belakangnya dan mengusapnya pelan.


"Hal apa tentang kita yang bisa dibicarakan?" Tanya Raisa


"Entahlah, ada banyak hal. Seperti... Aku mencintaimu!" Jawab Rumi


"Kalau itu sih, kita sudah sama-sama tahu..." Kata Raisa sambil terkekeh kecil.


Satu tangan Rumi yang lain bergerak melingkari pada pinggang ramping Raisa dan beralih memeluknya dengan erat serta membenamkan wajahnya di pundak Raisa. Lagi-lagi, itu membuat Raisa terkejut.


"Bisakah kau tidak membuatku terkejut? Akan gawat jika Tristan ikut terkejut sepertiku. Kau tidak ingin jalan-jalan santai kita berubah jadi petaka kan?" Ujar Raisa menegur kelakuan Rumi.


"Tentu saja, tidak. Aku ikut ke sini untuk menikmati waktu kita bersama. Tapi, aku hanya-"


"Hanya apa?" Bingung Raisa karena Rumi menggantungkan ucapannya.


Kedua tangan Rumi yang memeluk erat pinggang Raisa tiba-tiba teralihkan memberhentikan laju kuda dengan menarik tali kendali. Tentu saja, itu membuat Raisa merasa heran dengan tingkahnya kali ini.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau memberhentikan laju kudanya?" Tanya Raisa


"Raisa, kali ini aku benar-benar sangat merindukanmu saat menunggu kedatanganmu kali ini." Ucap Rumi tanpa menjawab pertanyaan dari Raisa.


Raisa menoleh ke belakang, kali ini ia benar-benar menatap Rumi dengan seksama. Mata dari wajah tampannya benar-benar menyiratkan rasa rindu yang tertahan.


"Apa aku kurang memberimu rasa nyaman? Kau merasa ada yang salah denganku? Katakan saja... Jangan cuma aku yang suka mengeluh tentang sikapmu, kau juga boleh melakukan hal yang sama." Ujar Raisa


"Tidak seperti itu, aku hanya ingin kita dekat seperti ini. Aku sudah lama menahan rasa ini... Bolehkah aku menciummu, Raisa?" Kata Rumi


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2