
Setelah sampai, Raisa merapikan semua barang bawaannya dan mengirimkan transmisi pada semua temannya, memberi tahu bahwa ia telah datang. Usai melakukannya, Raisa pun membersihkan seisi rumahnya karena sudah lama ditinggal, lalu beristirahat di sofa.
Awalnya, Raisa beristirahat sambil membaca buku. Kemudian karena merasa lelah setelah bersih-bersih rumah, Raisa pun berbaring asal di atas sofa. Ia pun memejamkan matanya...
Sayup-sayup, Raisa mulai memasuki alam mimpi~
Namun, ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu utama rumahnya...
Tok-tok-tok!
Raisa pun kembali tersadar dari tidurnya~
"Tunggu sebentar!" Ujar Raisa
Raisa pun berjalan untuk membuka pintu utama rumahnya...
Kriiet~~
Begitu pintu terbuka, tampak ada seorang lelaki yang sudah merentangkan kedua tangannya...
"Selamat datang, Raisa!" Sambutnya dengan gembira.
Ia adalah lelaki yang berjanji akan menyambut Raisa dengan gembira saat datang ke dunia mereka. Tak lain dan tak bukan adalah Rumi, kekasih hati Raisa!
Raisa tersenyum lembut saat menerima sambutan hangat itu~
GREP!
HUGS~
Raisa berhambur ke dalam pelukan kekasih tampannya dengan penuh gembira.
"Padahal harusnya aku yang menyambutmu, kan, kau yang datang ke rumahku." Ujar Raisa
"Tapi, kaulah yang datang berkunjung ke sini. Senang bertemu denganmu lagi, Sayangku!" Ucap Rumi
"Aku juga sangat senang!" Kata Raisa
Raisa mendongak dan menatap Rumi tanpa melepas pelukannya...
"Kau jadi lebih sering memanggilku dengan sebutan sayang... Apa perasaanmu padaku sebegitu besarnya sampai kau tidak tahan untuk berkata-kata manis?" Ujar Raisa bertanya.
"Benar! Perasaanku sangat besar sampai meluap-luap sampai tak tertahankan lagi! Aku juga sudah sangat merindukanmu!" Ucap Rumi
"Bohong! Jangan-jangan, kata-kata manismu hanya sekadar rayuan belaka? Kau hanya sedang menggombal, kan?" Cecar Raisa menggoda Rumi.
"Tidak! Ini karena aku sangat mencintaimu, Raisa~" Bantah Rumi seraya mengeratkan kembali pelukannya pada Raisa.
Muah~~
Tak lupa, Rumi pun mengecup manis pipi lembut Raisa...
Raisa mengikik geli karena tingkah manja Rumi.
"Hihihihi~ Sudah... Ayo, masuk dulu! Tidak mungkin kita terus berada di ambang pintu seperti ini, kan?" Ujar Raisa
"Baiklah." Patuh Rumi
Rumi pun ikut masuk bersama Raisa ke dalam rumahnya.
"Kau duduk saja dulu. Aku akan ambilkan minum sebentar." Ucap Raisa
"Merepotkanmu, Raisa." Kata Rumi yang kenudian duduk di sofa.
"Meski pun kau pacarku, kau juga tamuku sekarang." Ujar Raisa yang beranjak menuju dapur.
Tak butuh waktu lama, Raisa kembali dengan dua gelas minuman pada masing-masing tangannya. Ia menaruh gelas itu di meja, lalu berakhir duduk di samping Rumi...
"Minumlah dulu, Rumi..." Kata Raisa
"Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi yang langsung meneguk minuman buatan sang pacar.
Raisa menatap Rumi yang sedang berada di sampingnya...
"Apa sepulang dari misi kau langsung datang ke sini?" Tanya Raisa
"Kenapa? Apa tubuhku bau?" Tanya balik Rumi sambil mengendus-endus bagian tubuhnya sendiri.
"Kau khawatir berbau badan tak sedap saat mengunjungi pacarmu, tapi aku malah khawatir denganmu yang harusnya istirahat namun malah datang ke sini. Apa kau tidak merasa kelelahan?" Ujar Raisa
"Aku tidak lelah kok, lagi pula kau adalah obat lelahku. Kau belum menjawab pertanyaanku, apa tubuhku bau?" Kata Rumi yang masih mengkhawatirkan soal bau badannya.
"Tidak kok, tapi tubuhmu mengeluarkan aroma yang khas dengan dirimu. Aku tidak menganggap itu bau, aku suka aroma khas dari tubuhmu." Ucap Raisa
"Begitukah? Raisa, apa aku boleh meminjam kamar mandimu?" Ujar Rumi bertanya.
"Silakan saja." Singkat Raisa menjawab.
Raisa terkekeh kecil melihat kekhawatiran Rumi akan aroma tubuhnya sendiri. Menurut Raisa, itu adalah bagian dari tingkah imutnya yang manis.
..."Aroma tubuhmu itu seksi, Rumi!" Batin Raisa...
Rumi yang meminjam kamar mandi di rumah Raisa, tak lama kemudian pun kembali dan duduk persis di samping Raisa seperti sebelumnya. Sikapnya sedikit lebih kikuk dan Raisa nenyadari itu...
"Rumi, apa kau menggunakan parfum yang ada di kamar mandiku?" Tanya Raisa
"Maaf, harusnya aku tidak menggunakan barang milikmu apa lagi tanpa izin darimu." Kata Rumi
Raisa terkekeh pelan...
Lalu, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Rumi~
"Aku tidak marah atau mempermasalahkan itu. Rumi, aku menyukai keseluruhan yang ada pada dirimu dengan apa adanya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun jika bersama diriku dan jadilah dirimu sendiri. Aku tidak pernah menganggap aroma khas di tubuhmu itu bau, bahkan menurutku aroma dari tubuhmu itu sedikit... seksi~" Ungkap Raisa. Ia membisikkan kata seksi di telinga Rumi dan kembali bersandar pada bahu pacarnya itu.
Raisa melirik wajah Rumi sekilas~ Ingin tahu bagaimana reaksi lelaki tampan itu...
Wajah Rumi memang selalu berekspresi datar mau bagaimana pun mendapat godaan, tapi Raisa tahu dengan jelas... Di wajah datarnya itu, Rumi sebenarnya sedang tersipu juga merasa senang dengan kata-kata yang Raisa ungkapkan mengenai dirinya.
Kini giliran Rumi yang menatap wajah Raisa yang sedang bersandar mesra di bahunya...
Raisa tampak memejamkan matanya dengan nyaman~
"Kau pasti lelah setelah melintasi ruang dimensi, ya, Raisa... Harusnya aku tidak datang untuk mengganggumu seperti sekarang ini." Ujar Rumi
"Dari dulu, aku selalu tidur siang jika tidak ada kegiatan lain. Sepertinya kebiasaan itu terbawa sampai ke sini. Aku tidak lelah, hanya perlu memejamkan mata sebentar seperti ini..." Kata Raisa
"Tidak bisa seperti ini!" Gumam Rumi pelan.
Rumi langsung beralih menggendong tubuh Raisa (ala bride style). Raisa yang terkejut langsung membuka kedua matanya dengan lebar...
"Aku tidak apa, Rumi. Kau bisa turunkan aku..." Kata Raisa
__ADS_1
"Kalau kau ingin tidur, tidurlah dengan nyaman di atas kasur. Aku akab membawamu ke dalam kamar tidur." Ujar Rumi
Rumi pun langsung menuju kamar tidur Raisa dengan menggendong gadis itu dalam pelukannya...
"Sepertinya aku sudah tidak bisa membantah atau pun menolak perkataanmu lagi, kan... Kau pasti tetap bersikeras padaku." Ucap Raisa yang akhirnya hanya bisa bersandar pada dada Rumi yang menggendongnya dengan mesra.
Masuk ke dalam kamar tidur, Rumi pun langsung merebahkan tubuh Raisa di atas kasur yang empuk.
"Tidur beristirahatlah di dalam kamarmu. Aku akan pulang dan menutup pintu depan rumahmu." Ujar Rumi
"Saat pulang ke rumahmu, kau juga beristirahatlah dengan baik. Kau pasti lelah sepulang dari misi hari ini." Ucap Raisa
"Baiklah. Aku pergi, ya." Kata Rumi sambil membelai lembut rambut halus Raisa dan berakhir mengecup mesra kening gadisnya itu.
Rumi pun beranjak ke luar dari rumah Raisa, tak lupa menutup pintu utama rumah pacarnya itu.
•••
Keesokan harinya...
Di pagi hari, Raisa sudah siap menunggu di depan rumah Rumi. Begitu Rumi ke luar dari rumahnya, Raisa melambaikan tangannya dan tersenyum hangat...
"Hai, Rumi~ Selamat pagi!" Sapa Raisa
"Raisa... Kau ada di sini?" Ujar Rumi bertanya.
"Kenapa, memangnya tidak boleh?" Tanya balik Raisa
"Bukan begitu! Padahal aku yang mau menjemputmu lebih dulu." Jawab Rumi
"Toh, hanya kebetulan saja hari ini aku ke luar rumah lebih dulu dari pada kau. Sesekali seperti ini tidak apa, kan... Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih dulu, itu saja." Ujar Raisa
"Lain kali, biar aku yang lebih dulu menjemputmu, ya." Ucap Rumi
"Baiklah, terserah dirimu saja." Kata Raisa
Rumi pun menggenggam tangan Raisa dan keduanya pun berjalan bersama...
Keduanya dalam perjalanan hendak berkumpul dengan teman lainnya. Di tengah jalan, keduanya bertemu dengan Amy, Sandra, dan Wanda.
"Yo! Rumi, Raisa~" Sapa Wanda
"Hai!" Sapa balik Raisa
"Jadi, kabar kalau kalian berpacaran itu benar, ya?" Tanya Sandra sambil menunjuk kedua tangan Raisa dan Rumi yang saling bergandengan.
Belum sempat menjawab, mereka suda dihebohkan dengan Amy yang tiba-tiba memeluk Raisa dengan sangat erat sambil menangis. Perlakuan Amy membuat tautan tangan Raisa dan Rumi terlepas begitu saja~
"Amy, bagaimana kabarmu? Dan, ada apa denganmu sekarang?" Tanya Raisa
"Huhu... Aku baik. Tidak, aku tidak baik-baik saja!" Jawab Amy
"Kenapa?" Tanya Raisa lagi.
"Selain aku merindukanmu... Raisa, kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau pacaran dengan Rumi? Tidak, kau tidak boleh pacaran dengan siapa pun! Kau hanya boleh jadi milikku!" Ujar Amy menjawab.
Raisa terkejut sekaligus bingung bagaimana harus merepon Amy yang memproteksi dirinya. Ia juga tidak enak dengan Rumi yang sudah ia sadari pasti lelaki itu sedang menahan api cemburu dalam dadanya...
Raisa pun tertawa canggung.
"Hahahaha. Tidak perlu seperti ini, Amy. Kita semua, kan, tetap berteman baik." Ucap Raisa
Raisa tidak bisa menjawab dan hanya dibuat bingung bagaimana cara memperlakukan Amy yang bertingkah manja padanya itu.
"Aku berbeda! Aku adalah teman sekaligus pacar Raisa!" Kata Rumi yang langsung bergerak menggenggam tangan Raisa dengan protektif seolah sedang menyatakan kepemilikannya.
"HUWAAA~~ Ada yang merebut Raisa dariku! Aku tidak rela!" Rengek Amy sambil mempererat pelukannya pada Raisa.
Amy pun melirik ke arah Rumi, ia mendapat tatapan tajam dari lelaki yang mengaku sebagai kekasih Raisa yang seolah sedang mengatakan...
"Cepat lepaskan pelukanmu dari pacarku!"
Merasa terintimidasi, Amy kabur begitu saja dan bersembunyi di balik tubuh Wanda.
"Lelaki yang sedang cemburu itu menakutkan!" Pelan Amy
Begitu Raisa lepas dari jeratan Amy, Rumi pun tersenyum kecil.
"Apa yang kau takutkan, Amy? Rumi hanya sedang bergurau denganmu..." Ujar Raisa
Yang dimaksudkan masih saja hanya tersenyum penuh arti...
"Kalau begitu, tadi aku juga hanya bergurau. Jangan marah, Rumi..." Kata Amy
"Aku tidak bilang kalau aku marah kok." Sahut Rumi yang bisa diartikan 'tidak bilang bukan berarti tidak demikian'.
"Sudahlah. Ayo, kita lanjut jalan lagi. Yang lain pasti sudah menunggu di tempat kumpul." Ucap Wanda
"Ya. Ayo, jalan bersama-sama." Kata Raisa
Mereka berlima pun berjalan bersamaan menuju tempat kumpul biasa.
Amy masih saja mencuri kesempatan berjalan di sisi Raisa yang lain karena sisi satunya sudah ditempati oleh Rumi...
"Jadi, kau benar berpacaran dengan Rumi, Raisa?" Tanya Sandra lagi.
"Kau sudah mendengar kabarnya dan itu benar. Cukup bertanyanya, Raisa, mungkin masih malu-malu." Jawab Rumi
"Tapi, aku masih ingin dengar langsung dari Raisa, tahu!" Kata Sandra
"Apa yang ingin kau dengar, sudah kau dengar dari orang lain dan aku tidak bisa membantah itu." Ucap Raisa
"Jadi, Raisa memang masih malu-malu, ya..." Ujar Sandra
"Sudahlah, Sandra. Untuk apa kau masih saja menggoda orang yang malu-malu." Kata Wanda
Sesampainya di tempat makan yang sudah jadi seperti tempat kumpul itu, mereka berlima masuk bersama. Semua teman lainnya sudah sedang memakan makanan mereka. Setelah mendapat tempat duduk, kelimanya pun memesan makanan untuk mereka juga.
Raisa memakan kentang gorengnya setelah datang bersama burgernya.
"Kenapa kau tidak memakan burger lebih dulu, Raisa? Apa kau menunggu ingin Rumi mrnyuapimu seperti dulu?" Tanya Morgan
"Aku makan kentang goreng lebih dulu karena lebih mudah memakannya. Lagi pula, cara makanku apa harus orang lain yang menentukan? Cara makanku, ya, terserah padaku!" Jawab Raisa
"Katanya, kau dan Rumi berpacaran? Kalau begitu, selamat untuk kalian!" Ujar Dennis
"Ya, selamat! Semoga hubungan kalian selalu terjalin dengan baik!" Ucap Marcel
"Rumi dan Raisa hanya berpacaran, untuk apa kalian berlebihan memberi mereka selamat?" Ujar Billy
"Benar! Apa kalian tidak bisa bersikap seperti biasa saja?!" Protes Raisa
__ADS_1
Tuk... Tuk!
Rumi mencolek lengan Raisa dengan lembut. Raisa pun langsung menoleh secara spontan~
"Apa kau masih kesulitan makan burger seperti dulu? Kalau begitu, biar aku yang menyuapimu seperti dulu juga..." Ujar Rumi menawarkan diri dan sudah bersiap menyuapi Raisa dengan burger di tangannya.
"Bagaimana kami bisa bersikap seperti biasa jika sikap kalian di depan kami saja sangat menunjukkan keromantisan seperti ini?" Timpal Ian
Raisa menghela nafas pelan~
"Rumi, biarkan aku makan burger milikku nanti saja. Jangan buat mereka semakin meledek kita!" Tolak Raisa
"Aku sudah terlanjur memegang untukmu. Jangan pikirkan atau dengarkan mereka, buka saja mulutmu dan makan dengan tenang." Ucap Rumi
Raisa benar-benar tidak bisa menolak perlakuan manis Rumi. Akhirnya, Raisa hanya bisa menuruti kemauan Rumi... Membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rumi~
"Yang punya cinta, dunia serasa milik berdua!" Ketus Devan
"Yang tidak punya cinta, hidup bagai sengsara di neraka! Makanya, carilah cinta kalian! Kalau aku sih masih menunggu cintaku datang dengan sendirinya... Yang penting bagiku aku bisa puas makan banyak, maka hidupku terasa penuh cinta!" Oceh Chilla
"Perlu tahu saja! Hidupku dan diriku itu milikku sendiri, tidak peduli siapa pun pacarku!" Ungkap Raisa
"Apa kau marah denganku atau dengan teman-teman, Raisa?" Tanya Rumi
"Tidak marah, hanya memberi penegasan saja." Jawab Raisa
"Kalau begitu, lanjutkan makanmu..." Kata Rumi yang lanjut menyuapi Raisa.
Rumi terus menyuapi Raisa dan Raisa menerima suapan itu sampai burger miliknya habis...
"Terima kasih, Rumi." Ucap Raisa
Rumi hanya tersenyum manis sebagai balasan~
"Lain kali, biarkan aku makan sendiri. Kalau tidak aku tidak mu makan di sini lagi bersama kalian semua!" Tegas Raisa
"Jangan marah, Raisa. Kita semua teman..." Kata Aqila
"Benar, kita semua teman! Tapi, kenapa yang lain hanya terus meledek aku dan Rumi, tapi Aqila dan Morgan, tidak?" Ujar Raisa
"Aqila, Morgan, kalian berdua juga pacaran, kan?" Lanjut Raisa bertanya.
Aqila langsung tertunduk diam...
Semua mata pun langsung tertuju pada Aqila dan Morgan~
"Heee! Raisa, bagaimana kau tahu!?" Pekik Morgan
"Dasar, Morgan, bodoh! Ceroboh!" Gumam Aqila mengumpat.
"Jadi, itu benar?! Wow!" Ujar Chilla cukup terkejut.
"Eh? Kalian berdua belum memberi tahu pada yang lain? Maaf, aku tidak tahu... Aku kira semua sudah tahu!" Ujar Raisa yang merasa bersalah telah membeberkan rahasia tanpa sengaja.
"Bilang saja kau ingin kami mengalihkan perhatian kami pada Aqila dan Morgan?!" Sambar Ian
"Hei, aku bisa mengerti alasan Aqila dan Morgan tidak mengumumkannya! Mereka tidak mau kalian meledek mereka seperti kalian meledekku dan Rumi! Kalau aku tahu ini masih dirahasiakan, aku tidak akan asal bicara!" Ucap Raisa
"Nyatanya, kaulah yang lebih dulu mengungkap pasangan baru ini, Raisa!" Kata Devan
"Maka dari itu, aku minta maaf." Sesal Raisa
"Sudahlah, Raisa... Salah Morgan juga malah berkata seperti membenarkan ucapanmu. Toh, cepat atau lambat memang akan terungkap." Ucap Aqila
"Benar! Semua juga akan tahu cepat atau lambat..." Kata Morgan
"Diam kau, bodoh!" Tegas Aqila
"Hei, Aqila! Kau jangan marah seperti itu dong..." Bujuk Morgan
"Jadi, itu sebabnya dari tadi kau hanya diam, Aqila? Kau sedang berhati-hati agar hubunganmu dan Morgan tidak terungkap?" Tanya Wanda
"Sepertinya memang begitu!" Sahut Chilla
"Raisa dengan Rumi, dan Aqila dengan Morgan..." Gumam Amy
"Kabar mengejutkan lainnya yang datang hari ini!" Kata Sandra
"Kalau Raisa dan Rumi terlihat lengket dan mesra... Tapi, kenapa Aqila dan Morgan malah terlihat ribut saat pacaran?" Heran Billy
"Sepertinya berbeda orangnya, beda juga tipe pacarannya. Jadi, sejak kapan Aqila dan Morgan mulai berpacaran?" Ujar Marcel bertanya.
"Kami baru memulai, masih belum lama..." Jawab Morgan
"Kalau begitu, selamat untuk Aqila dan Morgan juga!" Kata Dennis
Berkat pasangan baru muncul, Raisa dan Rumi tidak lagi dapat ledekan dari teman-teman. Bahkan sekarang hubungan mereka sudah kembali seperti semula saling bersikap biasa.
Beberapa hari kemudian...
Chilla sedang mengajak Raisa untuk menjelajahi kuliner di Desa Daun berdua saja. Karena yang lainnya sedang sibuk memeriksa panggilan tugas masing-masing. Sedangkan Devan dan Ian yang satu tim dengan Chilla sedang bebas dari tugas. Devan dan Ian memilih untuk berlatih, tapi tidak dengan Chilla...
"Aku sudah janji padamu akan mengundangmu makan ala keluargaku, tapi Mama dan Papaku sedang tiak di Desa Daun sekarang. Jadi, sebagai gantinya kita berkeliling menikmati kuliner di Desa saja. Tidak apa, kan, Raisa?" Ujar Chilla
"Tidak apa, aku tidak masalah jika bersamamu. Karena aku tahu, kalau bersama Chilla, maka tidak diragukan lagi bahwa makanan yang direkomendasikan sudah pasti terasa lezat." Ucap Raisa
"Itu benar! Jadi, kau mau mulai dari mana dulu?" Kata Chilla, kemudian bertanya.
"Kedai di sana ramai sekali. Aku mau lihat makanan apa yang dijual di sana." Kata Raisa sambil menunjuk satu tempat.
"Baik. Ayo, kita ke sana." Setuju Chilla
"Oh, kedai makan ini! Makanan di sini nemang terkenal rasanya yang khas!" Ungkap Chilla saat sampai di depan sebuah kedai makan.
"Benarkah? Aku jadi tak sabar ingin mencoba!" Ujar Raisa
"Tapi, di sini terlalu ramai... Aku lihat di sana ada sesuatu yang kusuka. Kau mau menunggu di sini atau ikut denganku, Raisa?" Ujar Chilla bertanya.
"Aku tunggu di sini saja. Kalau sudah saatnya memesan aku akan pesankan untukmu juga, jadi jangan lupa cepat kembali, ya!" Jawab Raisa
"Kau baik sekali! Baiklah, kau begitu aku ke sana duli, ya..." Kata Chilla
Raisa mengangguk...
Chilla pun berlalu pergi meninggalkan Raisa~
.
•
Bersambung...
__ADS_1