Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 164 - Janin Kembar.


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam ruang pemeriksaan, setelah mengatakan keluhan, Raisa pun diperiksa oleh Dokter sambil berbaring di atas pembaringan.


"Sepertinya Ibu Raisa salah memilih poliklinik tujuan hari ini. Harusnya Anda berdua pergi ke poli kandungan."


Raisa dan Rumi langsung terperangah sekaligus terkejut begitu mendengar penuturan dari Dokter tersebut.


"Apa maksud Dokter, istri saya kini sedang mengandung?" tanya Rumi


"Saya hanya bisa mengatakan bahwa sedang ada yang tumbuh dan berkembang di dalam perut Ibu Raisa yang lebih tepatnya di dalam rahim."


Usai diperiksa oleh Dokter, Raisa bangkit dan beralih dari pembaringan untuk kembali duduk di kursi di samping Rumi dan di hadapan sang dokter. Tampak wanita cantik itu mulai terus menyentuh perutnya yang masih datar.


"Maaf, jika saya bertanya seperti ini, tapi apa Dokter tidak salah memberi diagnosa?" tanya Raisa


"Nah, karena satu alasan itu dan hal lainnya ... untuk itu saya sarankan Anda berdua untuk memeriksakannya ke Dokter kandungan. Akan saya beri rujukannya."


"Tapi, apa bagian pendaftarannya masih buka pada jam segini, Dok?" tanya Raisa lagi


"Saya juga kurang tahu soal itu, tapi semoga saja masih buka."


Dokter pun memberikan kertas formulir rujukan ke poliklinik kandungan dan Rumi langsung mengambil kertas tersebut.


"Terima kasih, Dokter," ucap Rumi


"Ya, sama-sama."


Raisa dan Rumi pun bangkit dan beranjak bersama ke luar dari ruang pemeriksaan tersebut.


Raisa hanya terdiam. Sepertinya wanita cantik itu lebih pada merasa khawatir karena masih belum ada kejelasan tentang apa yang tumbuh dan berkembang di dalam perutnya, lebih tepatnya pada bagian rahimnya.


Melihat raut tegang dan khawatir pada wajah sang istri, Rumi pun langsung menggenggam tangan wanita cantik yang berada di sisinya itu untuk menyalurkan rasa ketenangan pada istri tercinta.


Merasakan sentuhan lembut yang menenangkan pada permukaan kulit tangnnya, Raisa langsung menoleh ke arah sang suami yang tepat berada di sisinya.


"Tenang saja, Sayang. Semoga ini adalah kabar baik untuk kita," kata Rumi


Raisa hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.


Melihat sang adik dan adik ipar ke luar dari ruang pemeriksaan, Raina bersama Arka dan Farah langsung menghampiri pasangan suami istri itu.


"Bagaimana hasilnya? Apa kata Dokter di dalam tadi?" tanya Raina


"Raisa dapat rujukan untuk ke Dokter kandungan, Kak," jawab Rumi


"Apa itu artinya Raisa hamil juga?" tanya Arka


"Masih belum pasti, Kak," jawab Raisa


"Apa maksudnya itu?" tanya Farah


"Itu artinya Onty Icha belum selesai diperiksanya dan harus periksa ke Dokter lain lagi," jelas Raisa


"Gak apa-apa. Ya, semoga aja kali ini jadi kabar baik," kata Raina


Raisa pun hanya mengangguk kecil. Sama seperti Farah yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ya udah, ayo kita langsung daftar lagi aja. Sebelum bagian pendaftarannya tutup," ujar Raina


Mereka pun kembali beralih menuju ke bagian pendaftaran rumah sakit tersebut.


"Ada yang bisa kami bantu? Mau daftar lagi ke poliklinik lain?" tanya staf rumah sakit bagian pendaftaran yang sama saat tadi Raisa mendaftar untuk periksa ke poliklinik doktee umum.


"Saya dapat rujukan untuk ke poli kandungan. Apa masih bisa mendaftar?" Raisa balik bertanya.


"Kebetulan sekali. Masih ada kuota sebelum pendaftaran untuk hari ini ditutup. Atas nama Nyonya Raisa Putri, ya?"


"Benar. Lalu, apa bisa daftar untuk dua orang? Saya ingin kakak saya juga ikut mendaftar untuk cek di sini," ujar Raisa bertanya.


"Mohon maaf, tapi pendaftaran untuk ke poliklinik kandungan hari ini dibatasi dan hanya tersisa kuota untuk satu orang karena Dokter kandungan yang bertugas untuk pemeriksaan hari ini akan ada jadwal untuk operasi caesar sebentar lagi. Jadi, mau tetap mendaftar atau tidak?"


"Begitu, rupanya. Ya sudah ... kalau begitu, saya daftar sendiri saja atas nama saya, Raisa Putri," jawab Raisa


"Baik. Atas nama Raisa Putri ke poliklinik kandungan, ini kuitansinya. Silakan, poliklinik kandungan ada di sebelah kanan sana." Staf tersebut menunjuk ke arah lorong sebelah kanan.


"Baik. Terima kasih," ucap Raisa

__ADS_1


"Terima kasih kembali."


Usai kembali mendaftar ke poliklinik kandungan dengan menggunakan akses jaminan kesehatan, Raisa pun beranjak menuju ke tempat pemeriksaan poliklinik kandungan bersama sang suami, kakak, kakak ipar, dan keponakan perempuannya.


"Padahal selagi periksa ke poli kandungan, aku mau Kak Raisa juga ikut cek kehamilan juga," ucap Raisa


"Udahlah, yang penting kamu dulu aja yang periksa. Kakak biasanya gak periksa di sini, jadi biar ceknya nanti aja, lagi pula masih belum waktunya cek lagi," ujar Raina


"Padahal aku mau tahu jenis kelamin adiknya Farah,"kata Raisa


"Omong-omong, pendaftaran langsung tutup setelah aku daftar barusan, itu berarti dapat giliran terakhir. Semoga aja gak lama, ya," sambung Raisa


Saat semua orang yang melalukan pemerikasaan di poliklinik kandungan telah usai dan pergi, Raisa pun langsung mendekat ke ruang pemeriksaan bersama sang suami. Sama seperti sebelumnya, Raina, Arka, dan Farah pun hanya menunggu sambil duduk di kursi tunggu.


"Pasien terakhir, Raisa Putri, ya? Silakan masuk."


"Baik. Terima kasih," ucap Raisa


Raisa pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan bersama sang suami yang senantiasa setia menemaninya.


"Pasien rujukan dari poliklinik dokter umum, ya? Nyonya Raisa Putri. Jadi, apa yang bisa saja bantu? Apa sudah tahu apa yang mau diperiksa?" tanya Dokter kandungan.


"Kami juga ingin tahu kepastiannya, Dok. Dokter yang sebelumnya bilang, ada sesuatu yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim istri saya dan menyuruh kami untuk memeriksakannya ke sini," jelas Rumi


"Baik. Kalau begitu, pemeriksaan kali ini harus mengambil langkah scan USG. Mari, Nyonya Raisa, ikut saya dan silakan berbaring dulu."


Raisa pun ikut beralih mengikuti sang dokter dan berbaring di atas pembaringan seauai arahan yang diminta. Tentu saja, Rumi juga ikut beranjak untuk tetap berada di dekat sang istri sambil terus memantau dan menyimak hasil pemeriksaan yang dijelaskan oleh dokter di sana.


"Maaf, ya ... mari, kita singkap dulu pakaiannya."


Dokter pun menyingkap pakaian Raisa untuk mengoleskan semacam gel khusus pada permukaan kulit perut wanita cantik itu sebelum melakukan pemeriksaan USG.


Untung saja pada pemeriksaan hari ini, Raisa mendapatkan dokter yang bertugas untuk memeriksa adalah dokter wanita. Raisa khawatir Rumi akan merasa keberatan jika mendapat dokter pria untuk memeriksanya karena sifat sang suami yang pencemburu.


Usai mengoleskan gel khusus, lalu dokter pun menempelkan alat yang memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi yang bernama transducer pada bagian perut dan digerakkan untuk menangkap hasil pemeriksaan yang akan direkam dan diubah menjadi gambar yang ditampilkan pada layar monitor.


Sambil melihat hasil pemeriksaan di layar monitor, Dokter tersebut mencoba terus berkomunikasi dengan Raisa.


"Nyonya Raisa, kapan terakhir kali datang bulan?"


"Begitu, rupanya. Memang benar, ada yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim Ibu Raisa."


"Sebenarnya apa itu, Dok?" tanya Rumi


"Di dalam adalah janin yang diperkirakan usianya sudah 7 minggu dan seperti yang terlihat pada layar monitor, ada dua kantung yang artinya janin kembar. Selamat, ya ... sebentar lagi Anda berdua akan menjadi orangtua, Ibu dan Ayah." Dokter menjelaskan sambil tersenyum kecil.


Raut wajah Raisa dan Rumi yang berharap cemas akan penantian mulai berubah sumringah karena bahagia. Pasangan suami istri itu sama-sama tersenyum dan sesekali saling bertukar pandang.


"Ini serius, kan, Dok?" tanya Raisa dengan tatapan penuh rasa haru.


"Ya, benar. Kedua janin tumbuh dengan baik dan sehat. Lalu, bisa dilihat, kedua janin sudah mulai membentuk tangan dan kaki. Lingkaran besar sebagai tempat untuk mata, hidung, mulut, telinga, dan tenggorokan juga sudah lebih dulu terbentuk. Keduanya memang tumbuh dan berkembang bersama. Namun, karena ini adalah janin kembar, maka massa atau berat janin juga ikut terbagi menjadi dua hingga masing-masing janin akan tampak lebih kecil dari kehamilan janin biasa, tapi tidak perlu khawatir karena ini merupakan hal yang normal."


"Apa pada waktu ini masih belum bisa melihat jenis kelamin janinnya, Dok?" tanya Rumi


"Benar, Pak. Masih belum memasuki fase tersebut, tapi janin sudah memiliki roh dan jantung yang telah berdetak. Apa Anda berdua mau mendengar suara detak jantungnya?"


"Ya, Dok. Kami berdua mau mendengarnya," jawab Raisa


"Bisa. Kalau begitu, mari kita dengarkan bersama detak jantung janin. Kita mulai dari kantung janin sebelah kanan dulu, ya."


Lalu, Dokter pun mengarahkan dan mengatur pemeriksaan untuk mendengar detak jantung janin satu per satu. Setelah diatur, detak jantung janin pun mulai terdengar. Suaranya seperti saat ada orang yang sedang melakukan tendangan kecil pada suatu permukaan benda.


Jantung Raisa dan Rumi juga ikut berdetak bahkan bergetar karena mendengar suara tanda kehidupan dari makhluk kecil yang mulai tumbuh di dalam rahim wanita cantik itu.


"Nah, ini adalah suara detak jamtung janinnya, ya, Bu, Pak. Lalu, coba kita lihat dan perbesar bagian wajahnya juga. Ini dia ... ada dua lubang untuk mata, hidung, ini satu mulut, dan telinganya. Kedua janin sama besarnya dan masing-masing ukuran panjangnya masih hanya 1 cm."


Rumi pun mennyentuh dan menggenggam erat tangan sang istri karena perasaan bahagianya.


"Apa hasil USG-nya mau dicetak?"


"Ya, Dok. Tolong cetak semua bagian kedua janinnya," jawab Rumi


"Baik. Ini hasil cetak USG-nya biar dipegang sama suaminya dulu, ya, Bu. Pemeriksaan USG-nya sudah selesai. Setelah ini, mari kita kembali duduk dulu."


Monitor langsung menge-print selembar kertas gambar USG 2D dan Dokter pun memberikan hasil cetak pemeriksaan tersebut pada Rumi. Lalu, membersihkan kembali gel yang masih tersisa yang tadi dioleskan pada perut Raisa. Setelah itu, Dokter kembali duduk di kursinya dan diikuti oleh pasangan suami istri yang kini tengah berbahagia itu.

__ADS_1


"Ini saya kasih resep untuk vitamin ibu hamil dan saya sarankan untuk mengonsumsi susu ibu hamilnya juga untuk menutrisi janin di dalam kandungannya." Dokter kembali memberikan selembar kertas. Kali ini itu adalah resep yang diberikan pada Raisa.


"Hal apa saja yang harus diperhatikan untuk istri saya yang sedang hamil ini, Dok?" tanya Rumi


"Ini adalah hal umum yang sering kali jadi pertanyaan. Yang harus diperhatikan, tentu saja adalah kondisi ibu karena bisa memengaruhi kondisi janin di dalam kandungan. Usahakan agar istri Anda selalu dalam keadaan hati, fisik, serta mental yang bagus, alias tidak boleh stress atau banyak pikiran, tidak boleh merasa lelah. Lalu, karena Ibu Raisa juga seorang artis, untuk saat ini tolong jangan memakai sandal atau sepatu yang memiliki hak tinggi."


"Dengarkan kata Dokter, Sayang," kata Rumi


"Ya, aku mengerti. Aku juga sangat jarang memakai sepatu yang tinggi karena memang terasa tidak nyaman. Tapi, Dok, saya belum pernah sekali pun merasa mual atau muntah dan berat badan saya juga bahkan tidak bertambah," ujar Raisa


"Itu adalah hal yang wajar. Pada waktu ini memang terkadang berat badan ibu hamil belum menunjukkan peningkatan karena janin pun masih sangat kecil bahkan terkadang ada yang malah tidak nafsu makan karena mual dan muntah yang mengakibatkan berat badan malah menurun drastis. Ada juga yang tidak mengalami mual dan muntah atau mungkin suami atau anggota keluarga lain yang akan mengalami gejala seperti ibu hamil, tapi ibu hamil itu sendiri tampak biasa saja. Karena memang gejala kehamilan itu tidak semua sama pada setiap orang. Tidak perlu khawatir karena ini bukan hal yang beresiko."


"Apa saja pantangan lainnya untuk ibu hamil, Dok?" tanya Raisa


"Jangan minum alkohol dan jika sakit, pastikan mengonsumsi obat dari resep dokter khusus untuk ibu hamil. Jangan menghirup asap, terutama rokok. Jangan terlalu banyak makan yang terasa asam, asin, makanan bersantan, buah mentah, dan minuman berkafein. Lalu, ini untuk Anda berdua ... pada masa trimester pertama ini, tolong pastikan untuk jangan berhubungan suami istri dulu untuk kebaikan dan kesehatan janin."


Sebenarnya hal-hal yang dikatakan oleh Dokter tentang ibu hamil, Raisa sudah mengetahui semuanya karena sudah mendapat pengalaman saat sang kakak hamil anak pertama. Namun, wanita cantik itu ingin lebih memastikannya lagi dan mungkin ingin lebih dapat meyakinkan diri sendiri bahwa kini dirinya sedang berbadan dua bahkan tiga karena janin yang di dalam kandungannya berjumlah 2.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak," ucap Rumi


"Saya dengar setelah ini Dokter akan segera menangani operasi caesar, semoga berjalan lancar, ya, Dok. Sekali lagi, terima kasih," ucap Raisa


"Ya, semoga Ibu dan kedua janin juga selalu dalam keadaan sehat dan kehamilan berjalan lancar hingga proses persalinan nanti. Dan terima kasih kembali."


"Omong-omong, Dok ... saya mau berlangganan dengan Dokter di rumah sakit ini. Dokter Litta, menangani pemeriksaan di hari apa saja?" tanya Raisa sambil membaca nama yang tertera pada name tag di pakaian bagian dada Dokter tersebut.


"Mau berlangganan cek kandungan dengan saya, tentu saja boleh. Silakan datang setiap bulannya pada hari kamis. Untuk jadwal cek kandungan selanjutnya, saya aturkan pada tanggal xx bulan berikutnya, ya, Bu, Pak." Dokter bernama Litta itu mengaturkan jadwal pemeriksaan kandungan untuk Raisa pada bulan berikutnya sambil melihat ke arah kalender duduk yang ada di atas meja pemeriksaannya.


"Baik, Dok. Sekali lagi, terima kasih banyak," ucap Raisa


"Sama-sama."


Setelah itu, Raisa dan Rumi pun bangkit berdiri dan beralih ke luar dari ruang pemeriksaan.


Karena pemeriksaan pada bagian polikninik sudah berakhir, maka suasana pun tampak legang pada kursi tunggu di sana. Hanya tampak pekerja dan pengunjung rumah sakit yang berlalu lalang, lalu yang tampak masih menunggu di sana adalah Raina, Arka, dan Farah.


Saat melihat Raisa dan Rumi yang muncul ke luar dari ruang pemeriksaan, ketiga anggota satu keluarga itu pun berjalan mendekat ke arah pasangan suami istri itu.


"Raisa, Rumi, bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?" tanya Raina


"Ini adalah kabar baik sesuai yang kita harapkan, Kak. Kini Raisa sedang mengandung anak kami," jawab Rumi sambil menunjukkan lembar cetak hasil pemeriksaan USG.


"Ini ada dua?" Pasangan suami istri ipar Rumi itu bertanya dengan tatap mata tak menyangka saat melihat hasil cetak pemeriksaan USG.


"Iya, Kak. Janin kembar berusia 7 minggu," ungkap Raisa sambil tersenyum lebar.


"Sekali jadi langsung dapat dua. Hebat," kata Arka


"Wah ... selamat, ya, Raisa, Rumi," ucap Raina


"Yeay! Berarti aku bakal punya 3 adik sekaligus!" seru Farah yang ikut merasa senang.


Tak terasa air mata terjatuh di pipi pada wajah Raisa. Sedari tadi, wanita cantik itu berusaha untuk menahan agar tidak ada air mata pada momen bahagia seperti saat ini, tapi nyatanya air mata tanda kebahagiaan itu tak dapat dibendung lagi dan lolos begitu saja jatuh dan ke luar dari sepasang mata indah miliknya.


"Sayang, kenapa kau malah menangis?" tanya Rumi


"Aku tidak bisa menahannya lagi. Ini adalah air mata ... tangis bahagia," jelas Raisa


Rumi pun merangkul tubuh sang istri dan mengusap air mata yang membasahi wajah milik wanita cantik yang dicintainya dengan ibu jarinya.


"Udah, jangan terlalu banyak menangis karena nanti bisa memengaruhi mental janin," kata Raina


"Sekarang kita harus ke mana? Ada obat yang harus ditebus gak?" tanya Arka


"Ada, Kak. Dokter kasih aku resep vitamin yang harus ditebus," jawab Raisa sambil menghapus air matanya yang terus mengalir ke luar.


"Berarti kita harus ke apotek dulu, ya?" tanya Farah


"Benar sekali, Farah," jawab Rumi


Mereka pun beranjak menuju ke apotek rumah sakit. Usai dari apotek, mereka pun pergi dari rumah sakit untuk kembali menuju ke rumah.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2