
Setelah mengakhiri permainannya, Rumi mengelap bibir Raisa yang basah karena ulahnya. Raisa pun memukul ringan dada Rumi.
Namun ...
"Ekhem!"
Mendengar ada suara, Raisa dan Rumi saling membenarkan posisi dan berdiri tegak dengan sedikit jarak.
Rumi bersikap tenang seperti biasa. Namun, tidak dengan Raisa. Raisa sibuk merapikan pakaian dan rambutnya yang agak berantakan.
Di dalam hatinya, Raisa merasa tidak adil karena hanya tampilan dirinya saja yang menjadi berantakan, sedangkan Rumi tidak. Tampilan Rumi masih rapi. Itu pasti karena Rumi memeluk Raisa dengan sangat erat dan menahan tangannya tadi. Jadi, hanya tampilannya saja yang berantakan.
..."Bibi Rina pasti berpikir macam-macam setelah melihat kami. Ini semua karena Rumi," batin Raisa....
"Ya, rapikanlah penampilanmu, Raisa. Kau berantakan," kata Nona Rina
Raisa menjadi gelagapan dan merapikan tampilannya dengan cepat.
"Maaf." Hanya satu kata itu saja yang mampu Raisa ucapkan karena masih berusaha menjaga sikapnya alih-alih tampilannya yang berantakan.
"Rina, kau sudah lama berada di sana?" tanya Rumi
"Tidak. Aku baru saja ke luar dari kamarku karena mendengar seperti ada keributan kecil. Lalu, aku melihat ada kalian berdua," jelas Nona Rina
"Lagi pula, yang benar saja ... kalian berdua bertengkar di lorong dekat kamarku," sambung Nona Rina
Raisa terkesiap. Ia tidak tahu kalau ia dan Rumi sudah berada dekat dengan kamar Nona Rina.
..."Bibi Rina memang baru ke luar dari kamarnya, tapi kalau kamarnya saja dekat dari sini, apa Nona Rina telah mendengar semua pertengkaran kami?" batin Raisa...
"Raisa, baru kedua kalinya datang ke sini. Kau pasti masih tidak ingat letak banyak ruang di sini, tapi masa Rumi tidak memberi tahu padamu kalau kamarku sudah sangat dekat dari tempat kalian berdua bertengkar?" tanya Nona Rina
Raisa menggeleng pelan.
"Apa kau ingin bertengkar supaya terdengar oleh orang lain terutama olehku, Rumi?" tanya Nona Rina lagi.
"Siapa juga yang ingin bertengkar dan masalahnya terdengar olehmu? Masalah tempat bukan kesengajaanku," ujar Rumi
"Karena Rina sudah ada di sini dan kamarnya sudah dekat, aku tinggal saja, ya. Raisa, istirahatlah dengan baik. Rina yang akan mengantarkanmu ke kamar tamu," sambung Rumi
Rumi lebih dulu beranjak pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Raisa bersama Nona Rina di sana seolah lari dari masalah dan tanggung jawabnya. Rumi tidak pernah seperti itu sebelumnya dan itu membuat Raisa kesal karena merasa malu pada Nona Rina.
Rumi melangkah pergi melewati Nona Rina begitu saja.
"Eh ... seenaknya saja kau lari dari masalah, Rumi. Lagi-lagi tidak seperti biasanya," kata Nona Rina
..."Benar sekali," batin Raisa...
Dulu Rumi memang pernah menjadi orang yang suka lari dari masalah dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara yang ekstrim. Namun, itu jauh sebelum bertemu dengan Raisa bahkan sebelum bertemu dengan Morgan. Tidak sangka, sifatnya itu kembali lagi setelah waktu berlalu sangat lama.
Raisa yang merasa kesal karena Rumi meninggalkannya tanpa memperbaiki keadaan seolah dari masalah dan tanggung jawab pun akhirnya mengeluarkan sihir kecil berupa petir dan menyambarkannya ke arah kaki Rumi. Namun, tidak terkena. Hanya saja, Rumi merasa terkejut.
Raisa memang tidak berniat menyakiti Rumi dan hanya ingin membuat Rumi sedikit sadar akan kesalahannya. Namun, karena melihat Rumi yang seolah tidak merasa bersalah, Raisa terus menyambarkan petir kecil dari jari telunjuknya pada kaki Rumi.
Menyadari Raisa yang marah, Rumi terus menghindar dari sambaran petir Raisa.
"Ampun, Sayang. Maafka aku," ucap Rumi
Setelah mengucap ampun dan maaf dan melihat kilatan mata Raisa yang marah, Rumi langsung mempercepat langkahnya untuk melarikan diri.
__ADS_1
Menurut Raisa, Rumi yang melarikan diri terlihat lucu karena sebelumnya tidak pernah sekali pun seperti itu. Melihat itu, Raisa terkekeh pelan. Namun, karena Nona Rina memperhatikannya, Raisa pun menghentikan tawa kecilnya.
"Sungguh menakjubkan bisa melihat Rumi yang melarikan diri seperti itu karena Raisa. Benar-benar momen langka," batin Nona Rina
Raisa pun menghampiri Nona Rina.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Rumi sampai jadi berubah seperti itu?" gumam pelan Nona Rina yang bertanya-tanya sambil menatap ke arah Raisa.
"Maaf karena telah membuatmu menyaksikan tingkah kami yang seperti tadi, Bibi Rina," kata Raisa sambil tersenyum.
"Tidak apa, aku malah merasa terhibur melihat tingkah kalian berdua. Ayo, kau akan memakai kamar tamu di sebelah kamarku saja. Kau sudah sangat dekat," ujar Nona Rina yang mengajak Raisa menuju dan masuk ke dalam kamar tamu untuk beristirahat.
"Kau bisa menggunakan kamar ini dengan bebas," kata Nona Rina
"Terima kasih," ucap Raisa
Raisa pun duduk di tepi ranjang di dalam kamar tersebut.
"Ada masalah apa antara kau dan Rumi sampai-sampai kalian berdua bertengkar dan bermesraan di lorong kamar-kamar?" tanya Nona Rina yang ikut duduk di tepi ranjang.
"Tidak ada. Hanya pertengkaran kecil biasa," jawab Raisa sambil tersenyum malu-malu.
..."Sejak kapan Bibi Rina melihatku dan Rumi di lorong tadi sampai dia bilang kami bermesraan? Apa dia melihat kami berdua berciuman? Semoga saja tidak," batin Raisa...
Nona Rina menatap Raisa karena tahu ada yang sedang gadis itu sembunyikan darinya. Namun, Nona Rina tidak bisa memaksa Raisa untuk bicara.
"Bibi, ada yang ingin kutanyakan denganmu," kata Raisa yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Katakan saja pertanyaanmu." Nona Rina langsung mempersilakan Raisa untuk bertanya.
"Saat baru masuk ke kediaman, tadi aku melihat Tuan Garry dan Tuan Johan ingin pergi. Sebenarnya mereka berdua pergi ke mana?" tanya Raisa
"Aku hanya tahu alasan mereka berdua pergi, tapi aku tidak tahu ke mana mereka berdua akan pergi," ujar Raisa
Raisa tahu Tuan Garry membawa Tuan Johan untuk bersembuyi. Alasannya adalah karena kutukan yang ada di tubuh Tuan Johan sudah mulai muncul tanda-tanda lepas kendali karena sudah mendekati malam bulan purnama.
Kutukan tersebut diciptakan dan diterapkan oleh Tuan Rommy pada tubuh Tuan Johan. Awalnya kutukan tersebut berfungsi untuk mendatangkan kekuatan ekstra dan memperpanjang usia serta awet muda. Namun, karena kutukan adalah sesuatu yang terlarang, itu memiliki efek samping. Efek samping yang dirasakan Tuan Johan adalah kesadarannya diambil alih oleh kekuatannya sendiri dan jadi hilang kendali. Tak hanya pada kesadarannya, kutukan itu pun memiliki efek samping pada tubuhnya. Setiap lepas kendali, tubuh Tuan Johan berubah menjadi monster seperti beruang dengan kulit sekeras baja.
Setiap lepas kendali, Tuan Johan akan menggila. Karena tidak ingin melukai orang, setiap tanda-tanda kutukannya akan lepas kendali, Tuan Johan akan pergi bersembunyi di tempat sunyi ditemani oleh Tuan Garry.
Dulu periode lepas kendalinya kutukan Tuan Johan tidak dapat diprediksi dan bisa lepas kendali kapan saja. Namun, sejak obat penawar untuk kutukan tersebut diciptakan, periode lepas kendali kutukan Tuan Johan hanya akan terjadi saat malam bulan purnama.
"Garry menemani Johan bersembunyi di goa buatan di perbatasan Desa Daun dan dekat Desa Kabut, Negara Air," ungkap Nona Rina
"Hingga saat ini aku masih tidak mengerti dengan alasan Paman Rommy menciptakan kutukan seperti itu," ucap Raisa nerasa heran.
"Dulu, kami, terutama Tuan Rommy memang sering berbuat nekat dengan sesuatu yang terlarang. Alasannya demi mendapat kekuatan," jelas Nona Rina
Raisa juga tahu, selain pada Tuan Johan, Tuan Rommy juga menciptakan kutukan serupa dengan efek samping yang berbeda pada tubuh Logan dan Rumi. Namun, kutukan pada tubuh Logan sudah dihilangkan karena tujuan Tuan Rommy menerapkan kutukan itu pada Logan sudah tercapai.
Logan adalah manusia buatan pertama yang diciptakan oleh Tuan Rommy. Meski pun terlihat sempurna, masih banyak kekurangannya. Karena itulah Tuan Rommy menciptakan kutukan dan menerapkannya pada tubuh Logan agar manusia buatan pertamanya itu patuh atas segala perintahnya sampai Tuan Rommy berhasil menciptakan manusia kedua yang sempurna.
Setelah manusia buatan kedua tercipta dengan sempurna. Logan lebih dulu memastikan dan membantu manusia buatan itu menjadi sempurna, barulah Tuan Rommy menghilangkan kutukan pada tubuh manusia buatan pertamanya. Dari situ, Rumi ada dan tercipta. Dan sampai saat ini kutukan pada tubuh Rumi masih ada.
Rumi memiliki tujuan dan efek samping kutukan yang berbeda. Tuan Rommy menciptakan kutukan pada Rumi agar manusia buatan keduanya itu tidak bisa melukai atau bahkan sampai membunuh orang yang harus dilindunginya. Dengan kata lain Rumi harus menjaga keselamatan seseorang. Dan efek samping kutukan itu adalah jika Rumi melanggar tujuan kutukannya dan melukai atau bahkan sampai membunuh orang yang harusnya dilindunginya, maka kutukan itu akan bekerja dan membuatnya mati dalam sekejap mata dengan meledakkan jantungnya sendiri.
Tujuan awal Tuan Rommy menciptakan manusia buatan adalah demi untuk membalas budi pada Tuan Nathan yang membebaskannya dari hukuman kejahatan yang mengharuskannya dieksekusi mati. Lalu, karena merasa punya hutang nyawa, Tuan Rommy mulai menciptakan manusia buatan.
Manusia buatan pertama diciptakan dengan tujuan awal untuk melindungi Tuan Nathan sendiri. Namun, karena Tuan Nathan sendiri sudah sangat dan jauh lebih hebat, Tuan Rommy pun mengurungkan tujuan awal manusia buatan pertamanya dan beralih menciptakan manusia buatan kedua yang lebih sempurna dengan tujuan untuk melindungi anak dari Tuan Nathan, yaitu Morgan.
__ADS_1
Oleh karena itu sampai sekarang Rumi masih terus melindungi Morgan dan menyelamatkannya dari segala macam bahaya.
Meski tercipta dengan peraturan seperti itu, Tuan Rommy ingin Rumi menjadi patuh atas keinginannya sendiri. Sejak itulah Rumi mulai mendekati Morgan dan berteman dengannya untuk menyelidikinya, apakah Morgan pantas untuk dilindungi? Setelah berteman cukup dekat, Rumi merasa Morgan memang pantas dilindungi. Rumi pun terus hidup dengan mempertahankan kutukan di tubuhnya karena merasa tidak ingin sampai melanggar peraturan dari Tuan Rommy untuknya.
Kerabat Tuan Rommy yang tidak memiliki kutukan adalah Nona Rina dan Tuan Garry.
"Apa tidak ada cara untuk menghilangkan kutukan itu? Atau ... kenapa Paman Rommy tidak menghilangkan kutukan itu saja? Bukankah tujuannya memasang kutukan itu sudah tercapai?" tanya Raisa
"Kalau memang bisa, apa kau mau menghilangkan kutukan itu, Raisa?" tanya balik Nona Rina
"Kenapa tidak Paman Rommy saja yang menghilangkan kutukan yang dia ciptakan sendiri? Tidak ... ya. Aku merasa aku bisa menghilangkan kutukan itu hingga lenyap sepenuhnya tanpa efek samping," ujar Raisa
"Siapa yang ingin kau hilangkan kutukannya? Johan atau Rumi?" tanya Nona Rina lagi karena hanya tersisa dua orang itulah yang masih memiliki kutukan di tubuhnya masing-masing.
"Keduanya. Tapi, aku butuh izin dari Paman Rommy. Bagaimana pun juga dialah yang menciptakan kutukan itu. Bibi Rina, apa kau bisa membantuku? Bisakah kau meminta izin pada Paman Rommy untukku agar aku bisa menghilangkan kutukan yang dia ciptakan itu?" tanya balik Raisa
"Kenapa tidak kau sendiri saja yang minta izin langsung dari Tuan Rommy?" tanya balik Nona Rina lagi.
"Aku merasa tidak berani," jawab Raisa sambil menunjukkan cengir kuda.
"Kalau itu kau, mungkin Tuan Rommy akan memberi izin dan memperbolehkanmu," ujar Nona Rina
"Baiklah. Akan kuusahakan meminta izin dari Tuan Rommy untukmu," sambung Nona Rina
"Kau yang terbaik, Bibi Rina!" sorak Raisa
"Kalau sudah ada kabar tentang izin ini ... entah itu memang diizinkan atau tidak, tolong segera beri tahu aku, ya, Bibi," sambung Raisa
"Baiklah," kata Nona Rina
Raisa merasa tidak bisa diam saja karena tahu efek samping dari kutukan itu. Tuan Johan akan sangat menderita. Dan, Rumi ... meski efek samping lain dari kutukannya masih belum muncul sampai sekarang, Raisa tetap merasa khawatir. Maka dari itu, Raisa merasa harus menghilangkan riwayat kutukan tersebut.
..."Rumi memang masih belum merasakan efek samping lain dari kutukan yang ada di tubuhnya. Dia memang tidak mungkin menyakiti atau bahkan sampai membunuh Morgan, tapi bagaimana jika dia malah jadi harus membunuh orang demi melindungi Morgan atau kehilangan nyawanya sendiri demi melindungi Morgan karena adanya kutukan itu? Jangan sampai hal seperti itu terjadi. Aku tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada Rumi. Karena itu aku harus menghilangkan kutukannya," batin Raisa...
Membayangkan dan memikirkan akan ada hal buruk yang terjadi pada Rumi saja sudah membuat Raisa bergidik ngeri.
"Oh, iya. Bibi Rina, apa yang kau inginkan sebagai balasan telah mau membantuku meminta izin pada Paman Rommy dalam hal menghilangkan kutukan ini?" tanya Raisa
"Itu tidak perlu, tapi kalau memang harus meminta sesuatu ... akan kupikirkan dulu dan beri tahu permintaanku padamu nanti," jawab Nona Rina
"Baiklah," setuju Raisa
Raisa memang mampu menyetujui apa pun demi untuk memastikan Rumi selalu baik-baik saja.
"Pembicaraan kita sudah selesai. Kalau begitu, aku tinggal, ya. Kau istirahatlah dengan baik, Raisa," ujar Nona Rina
"Baiklah. Terima kasih banyak, Bibi Rina," ucap Raisa
"Sama-sama," balas Nona Rina
"Kalau ada perlu apa-apa, kau cari saja aku. Kamarku tepat di samping kamar ini," sambung Nona Rina
Raisa pun mengangguk tanda mengerti sambil tersenyum tipis.
Nona Rina pun ke luar dari kamar tamu yang Raisa gunakan. Tak lupa Nona Rina juga menutup pintu kamar tamu tersebut sampai rapat saat ke luar dari sana.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...